
Ilham menendang bola ke atas lalu ia membungkuk hingga bola mendarat di belakang lehernya. Perlahan, ia melepas baju tanpa membuat bola terjatuh. Atraksi Ilham, mendapatkan perhatian dari para siswa yang melintas.
"Keren! Tidak mudah melakukan seperti itu!" puji Tiara.
"Setuju. Atlet Sepak Bola yang bukan kaleng-kaleng," sambung Tiara memuji Ilham.
"Tidak, ini hal biasa yang sering gue lakukan. Sekarang kalian lihat ini!" balas Ilham lalu menyundul bola ke atas.
Ilham menyundul bola ke atas sambil mempertahankan keseimbangannya. Aksinya yang Ilham lakukan, tidak mudah dilakukan oleh orang biasa. Melihat Ilham terus melakukannya, membuat Tiara teringat oleh Alex.
"Andai Alex bisa melakukannya, mungkin aku akan kegirangan memanggil namanya," gumam Tiara di dalam hati.
"Sundul!" kata Ilham sambil menyundul ke arah Tiara.
Tiara langsung menyundul bola itu kembali kepada Ilham. Mereka saling membalas sundulan. Ilham merasa, menyundul bola berdua dengan Tiara membuat dunia terasa milik berdua.
Pertama kali dalam hidupnya, dia sangat bersyukur dengan profesi sampingannya sebagai atlet Sepak Bola. Di dalam hati, Tiara berkata bahwa ini adalah metode yang bagus untuk melatih Alex.
Sementara itu, dibalik kerumunan penonton Alexander dan Tamrin melihat semuanya. Kedua mata Alexander tidak berkedip, hati panas dan sakit seperti tertusuk jarum. Tubuhnya terasa lesu dan hampa dari biasanya.
Di saat yang bersamaan, Tiara merasa apa yang Alexander rasakan. Dia menangkap bola tersebut lalu menoleh ke sekitar. Tiara merasa tidak enak, dirinya tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.
Gadis berambut emas itu terdiam, ia berkonsentrasi melacak adanya energi jahat. Namun, tidak ada apapun selain para siswa yang sedang memperhatikannya dan Ilham.
"Sudahlah, Bos. Jangan terlalu lama melihat mereka. Tidak baik untuk kesehatan," kata Tamin.
Mereka berdua, berjalan meninggalkan kerumunan dan mencari tempat sejauh mungkin untuk menenangkan diri. Di waktu yang bersamaan, seorang siswi rambut hitam panjang dan berparas cantik memperhatikan Ilham dan Tiara sejak tadi.
"Gadis itu," kata siswi itu bernama Winda menatap iri.
"Sok cantik. Baru dua minggu, sudah jadi bintang sekolah," balas temannya bernama Kartika.
"Kenapa harus Ilham?"
"Sudah-sudah, ayo kita pergi bisa gila lihatin gadis ganjen itu," ujar Kartika memegang kedua pundak temannya lalu mengajaknya pergi.
Sementara itu di sebuah taman sekolah, Alexander dan Tamrin duduk sebuah kursi panjang tepat di bawah pohon. Tamrin melihat, Alexander terdiam lesu.
__ADS_1
"Tidak ada guna memikirkannya, Bos. Memang rasanya, melihat orang yang kita sukai berdua dan bermesraan dengan lelaki lain. Anggap saja, soal tadi itu sebagai motivasi untuk pertandingan kita nanti."
"Iya, gue tau Tamrin. Rasa cemburu ini benar-benar menyiksa. Melarang pun aku tidak berhak. Gue tidak ingin, status percintaan ini menggangu kebebasan Tiara. Mungkin ini rasanya sisi lain menjalani percintaan."
"Betul, Bos. Saranku sebaiknya Bos percaya sama Tiara. Buang jauh-jauh, pikiran buruk tentang Tiara. Gue yakin, Tiara itu adalah gadis yang setia dan tidak mudah terpikat oleh lelaki lain. Jangan sampai, rasa cemburu dan prasangka buruk menghancurkan percintaan mu sendiri."
"Gila, Tamrin! Gue gak nyangka, elu sebijak ini. Sebelumnya pernah pacaran?"
"Pernah, sama motor Vespa gue di rumah," canda Tamrin.
"Bohong banget! Terus kata-kata elu itu tau dari mana?" tanya Alex lalu Tamrin menjawab, "Dari sinetron Anak SMA kesukaan adik gue. Sebenarnya gue males, cuman setiap kali mau pindah channel adik gue ngancem bakal hapus nama gue dari (Kartu Keluarga)."
"Ha.ha.ha! Kids zaman now banget. Mereka nonton sinetron pacaran sedangkan kita nonton kartun."
"Ha.ha.ha! Bener banget! Zaman benar-benar sudah terbalik!" balas Tamrin.
Berkat Tamrin, sekarang hati Alexander sudah membaik. Di waktu yang bersamaan, Tiara dan Ilham duduk berdua pada sebuah bangku panjang tidak jauh dari lapangan basket. Mereka menunggu Martin dan Bobi sedang membeli minuman. Ilham baru menyadari, sebuah pita rambut merah terpasang dibelakang rambut Tiara.
"Tiara, kamu semakin cantik pakai pita itu," puji Ilham pada pita rambut miliknya.
"Di mana kamu membelinya?" tanya Ilham lalu Tiara menjawab, "Mall Cikini. Sepupuku yang membelikannya untukku."
"Hmm..., begitu rupanya. Padahal, aku ingin membelinya untukmu. Sayangnya, sudah didahului oleh sepupumu. Sepulang sekolah, datanglah ke lapangan sepak bola milik sekolah kita. Kebetulan gue ada kegiatan ekstrakurikuler, sekalian kamu lihat sambil belajar."
"Boleh, nanti sepulang sekolah. Aku dan Wulan langsung pergi ke sana untuk melihat."
"Baguslah kalau begitu. Selesai ekskul, aku antar kamu ke rumahmu."
"Tidak perlu," tolak Tiara lalu Ilham membalas, "Kenapa? Karena orang tuamu? Bukannya, Alexander pernah mengantarmu pulang? Kenapa aku tidak boleh?"
"Keluargaku sedikit rumit. Alexander saja mengantarku sampai depan gang," balasnya berbohong kepada Ilham.
Bel sekolah telah berbunyi, seluruh siswa kembali ke kelas masing-masing. Tiara berdiri dari tempat duduk lalu ia pamit dan berlari kembali ke kelas.
"Mencurigakan. Apapun yang terjadi, gue harus tau rumahnya," ujarnya di dalam hati sambil melihat Tiara berlari kembali ke kelas.
Seluruh siswa telah kembali ke kelas. Pintu kelas terbuka. Pak Dirman, guru Bahasa Indonesia sekaligus Wali Kelas berjalan masuk ke dalam kelas.
__ADS_1
Seluruh murid duduk ditempat masing-masing. Beliau duduk memandang murid-muridnya dengan tatapan serius. Sorot matanya yang serius, membuat para murid bertanya-tanya.
"Bapak bingung, kenapa kalau duduk kalian tidak mau duduk campur? Laki-laki duduk sama laki-laki, bosan saya setiap tahun siswa duduk seperti itu. Setidaknya untuk kelas ini, Bapak mau kalian kompak. Sekarang Bapak tidak mau tau, kalian semua berdiri terus duduknya harus campur berpasangan."
Seluruh siswa di kelas, berdiri lalu berunding untuk duduk bersama dalam satu meja. Sedangkan Alexander, tidak berdiri dan tetap duduk di tempatnya. Bagi Alexander, duduk di belakang merupakan tempat paling nyaman. Selain bisa melihat suasana koridor dan taman sekolah, ia juga bisa merasakan hembusan angin yang sejuk.
Dia menempelkan keningnya di atas meja lalu menyembunyikan wajah dibalik kedua tangan. Seseorang duduk di sampingnya, ia menoleh ke samping penasaran dengan siapa dirinya duduk. Betapa senangnya Alex, melihat siswi yang duduk di sampingnya adalah Tiara.
"Aku kira siapa yang duduk, ternyata bidari."
"Cie!" ucap kompak seluruh kelas.
Alexander tidak menyangka, bahwa apa yang ia ucapkan terdengar satu kelas. Wajahnya memerah, jantungnya berdegup kencang sambil mengubur wajah dibalik kedua tangan. Kemudian dia berdiri, membuatnya menjadi pusat perhatian.
"Bapak tidak menyangka, Ketua Murid di kelas kita pandai menggoda," kata Pak Dirman.
"Enggak, jangan salah paham! Saya gak bermaksud menggoda dan sebagainya!"
"Cie! Cie!" balas seluruh murid di kelas.
Mendengar hal itu wajah Alexander semakin merah. Tiara melihat hal itu langsung tertawa. Dia menempelkan dagunya di atas tangan lalu memandang Alex sambil tersenyum.
Senyuman Tiara kepada Alex, membuat satu kelas semakin heboh. Pada saat itu, Alex tidak tau apakah ia harus senang, sedih atau merasa malu. Semua perasaan itu telah tercampur aduk di dalam dirinya.
Suasana kembali seperti biasa, Pak Dirman mulai mengajar. Alexander terdiam, memperhatikan materi yang sedang dijelaskan oleh Pak Dirman.
Dirinya baru menyadari, bahwa Wulan dan Tamrin duduk di hadapannya. Fajar duduk bersama Nanda dan Dandi duduk bersama Hana.
Alexander melirik ke arah Tiara, dia sedikit terkejut melihat Tiara sejak tadi terus tersenyum memperhatikan dirinya. Perlahan, Tiara menggeser tempat duduknya membuat wajah Alexander memerah dan merasa gelisah.
"Senangnya hatiku, tidak hanya satu rumah dan seranjang yang sama. Sekarang bisa satu meja," ucap Tiara berbisik kepada Alex.
Wajah Alexander semakin merah, jantungnya berdegup kencang dan semakin gelisah ketika mendengarnya. Dia menatap wajahnya lalu menempelkan telunjuk pada bibirnya.
"Sttt!"
Melihat reaksi Alex, membuat Tiara menahan tawa lalu memandanginya dengan gemas. Sebab dia tau, bahwa selama di kelas Alexander selalu memandang keluar. Terkadang dia pun tertidur, terutama mata pelajaran sejarah, matematika dan akutansi dasar.
__ADS_1