
Hari ini adalah pertama kali Senja akan menginjakkan kaki di kantornya dengan status baru. Tak lagi menjadi karyawan biasa seerti sebelumnya, melainkan ia akan resmi mejabat sebagai wakil direktur.
Ya, meskipun kini ia adalah pemilik perusahaan BaileyTex, namun Senja lebih memilih memepercayakan kepemimpinan perusahaan kepada Direktur utama sebelumnya. Ia merasa masih erlu banyak belajar dalam memimpin perusahaan. Jika nanti sudah siap, baru ia akan mengambil alih posisi ceo sekaligus owner perusahaan BaileyTex. Apalagi sekarang Senja sedang hamil, ia ingin lebih fokus terhadap kehamilnnya terlebih dahulu seperti permintaan Elang, yang mengijinkannya tetap bekerja namun harus memprioritaskan keluarga terutama calon anak mereka.
"Sudah siap sayang?" tanya Elang, kepalanya nyembuk dari balik pintu demi melihat penampilan paripurna sang istri yang masih berada di dalam walk in closet.
Senja menoleh lalu tersenyum dan mengangguk, "Bagaimana?" Senja meminta pendapat Elang soal penampilannya pagi itu.
"As always, perfect!" puji Elang sambil terenyum, ia mendekati Senja lalu mengecup keningnya.
"Siap nyonya CEO?" goda Elang, yang membuat Senja mencebik.
"Yuk ah berangkat," Senja menggandeng lengan Elang posesif, "Bantu aku sayang," ucapnya penuh harap.
"Pasti sayang," sahut Elang. Mereka berdua berjalan memuju mobil, dimana Kendra sudah menunggu.
"Lama amat, kita sudah telay bos, mana masih harus nganter nona ke kantornya lagi, makin siang jalanan makin macet. Besok kalau bisa lebih agian lagi deh berangkatnya," sungut Kendra tanpa gentar sedang bicara dengan siapa.
"Udah bosan kerja kamu Kend? Makin hari kok makin los dol aja mulutmu itu, ini bosmu! Suka-suka mau berangkat jam berapa, ada masalah sama hidupmu?" sahut Elang tak kalah ngegasnya sambil mmebukakan pintu mobil untuk Senja lalu menyusulnya masuk setelah Senja.
Kendra hanya bisa cengengesan menanggapi ucapan Elang," Bukan begitu bos. Ini kenapa saya kerjanya jadi sopir juga sekarang, bos ngga bisa nyetir sendiri emang?"
"Protes?"
"Enggak bos, cuma aku tuh lelah. Lelah hati, ngeliat kalian bermesraan terus begitu. Lelah badan juga, harus ini harus itu, kesini kesitu. Habis meeting di sini langsung ke sono. Aku bukan amoeba yang bos membelah diri!" curcol Kendra yang di tanggapi meringis oleh Senja. Sementara Elang cuek, ia sudah terbiasa dengan ocehan Kendra jika laki-laki itu sedang dalam mood kurang baik.
" Jalan aja cepat, daripada ngomel terus tapi nggak jalan malah semakin telat Kend," ucap Elang.
"Gaji dobel ya bos, deal?" Kendra tersenyum penuh arti. Elang mendengus. Kan, ujung-ujungnya makin menyebalkan jika Kendra sudah mengeluh soal pekerjaannya, "Atur sendiri!" ucapnya kemudian yang di balas senyum sumringah secerah mentari pagi itu oleh Kendra.
__ADS_1
🌼 🌼 🌼
Sementara itu di gedung BaileyTex, suasana riuh sedang terjadi, dimana para karyawan sedang berbicara satu sama lain sambil menunggu kedatangan pemilik BaileyTex yang baru. Meskipun orang itu hanya akan mejabat sebagai wakil direktur, namun semua tahu bahwa dia adalah pewaris tunggal perusahaan tempat mereka mencari nafkah. Mereka tetap harus menghormati orang tersebut demi kelangsungan karir mereka di sana.
Rasa penasaran menyelimuti perasaan mereka, seperti apakah sosok yang menurut mereka beruntung tersebut. Mereka semua telah mendengar soal ketemunya penerus BaileyTex yang telah lama hilang, namun tak ada satupun yang tahu siapa orang itu. Ya mereka tahu, ia adalah seorang perempuan.
Begitu sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan perusahaan, mereka semua berbaris rapi untuk melakukan penyambutan kepada calon pemimpin mereka yang baru, termasuk mantan kekasih dan juga mantan sahabatnya, Niko dan Mitha.
Sesampainya di gedung BaileyTex, tempatanya dulu bekerja sebagai karyawan, Senja merasa deg-degan. Bagaimanpun juga, semuanya kini berubah.
Dengan menarik napas lalu mengembuskannya pelan, Senja dengan mantap melangkahkan kakinya memasuki perusahaannya tersebut.
Arlan, selaku direktur yang juga teman Elang menyambut kedatangan mereka secara khusus.
"Selamat datang tuan dan nyonya Erlangga. Selamat atas jabatan barunya nona Senja," ucap Erlan sambil membungkukkan kepalanya sebagai tanda hormat.
"Iya Ar, sampai segitunya melakukan penyambutan, kayak ma siapa aja," imbuh Elang. Arlan tergelak mendengarnya. Ia berbalik menatap sati persatu karyawannya yang masih terkejut, terutama Sarah, Niko dan Mitha. Namun, ketiganya masih diam, menunggu penjelasan dari atasan mereka.
"Baiklah, perhatian semuanya! Ini adalah nona Senja, em... Semua pasti sudah mengenalnya bukan? Ya, dia dulunya adalah karyawan di sini. Tapi, mulai sekarang dia akan menjadi wakil direktur di perusahaan ini. Meskipun wakir direktur, tapi dia adalah pemilik tunggal BaileyTex," jelas Arlan yang di sambut bisik-bisik dari para karyawan.
" Selamat pagi semua, saya harap kita semua bisa bekerja sama dengan baik ke depannya ya," ucap Senja tersenyum ramah kepada para karyawan.
Arlan mengajak Senja dan Elang menuju ke ruangan yang akan Senja tempati.
"Sar, ikut ke ruanganku ya. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu," ucap Senja kepada Sarah yang masih bengong karena tak percaya dengan apa yang terjadi.
Senja melanjutkan langkahnya, ia melewati Niko dan Mitha begitu saja tanpa menoleh.
Kendra yang melihat Sarah masih bergeming, tak mengikuti Senja berdehem di depannya. Seketika Sarah sadar dari lamunannya, "Apa sih?" ucap Sarah menatap kesal keada Kendra.
__ADS_1
"Nggak dengar tadi di suruh ikut nona Senja ke ruangannya? Malah bengong, ngelamunin apa sih? Aku ya?" ucap Kendra narsis.
"Ish narsis, norak. Emang situ siapa? Penting banget di lamunin?" cebik Sarah.
"Wah tanya aku siapa, lupa sama aku? Dasar plin plan, beberapa kali ketemu masa lupa. Makanya simpan di hati biar nggak lupa," goda Kendra.
"Heh selimut! Baik-baik punya mulut, jangan suka buat baperin cewek,"
"Cieeee, baper ya berarti? Eh apa maksudnya selimut? Cieee selimut hatimu ya, ngangetin gitu? Ngarep!" balas Kendra.
"Ck, dasar narsis, situ namanya Kendra kan? Bukannya itu merek selimut!" ucap Sarah tersenyum jahil lalu menyususl Senja.
"Kirain..." Kendra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan ikut menyusul bosnya.
Sementara para karyawan kembali sibuk bergosip, tak sedikit yang iri dengan Senja.
Bagi mereka Senja sangat beruntung, memiliki suami yang tampan, kaya dan bucin di tambah lagi kini ia di nobatkan sebagai pewaris tunggal perusahaan yang bergerak dalam bidang mode dan fashion tersebut.
Niko yang berdiri paling ujung, sejak tadi hanya bisa terdiam dan melongo sambil menatap kepergian Senja. Wanita yang duku ia sia-siakan iti kini betubah seratus delapan puluh derajat dari segi manapun.
Sedangkan Mitha yang berdiri di sampingnya menunjukkan wajah tidak sukanya, "Apaan sih ini, nggak lucu banget! Konyol! Mana bisa dia jadi atasanku di sini! Nggak adil banget!" gerutinya sambil menghentakkan kakinya di lantai.
"Mas ini nggak benar kan, ini cuma mimpi buruk kan? Wanita sia lan itu nggak mungkin jadi pemilik perusahaan kan? Nggak! Ini pasti salah, ini pasti mimpi kan mas?" Mitha terus mengoceh tak terima dengan kenyataan yang ada. Membuat Niko mendengus kesal kearahnya," Diam kamu! Hati-hati kalau bicara, Senja sekarang atasan kita, jaga sikap! Semua juga karena kamu!" ucap Niko kesal lalu petgi meninggalkan Mitha.
"Kok jadi aku sih mas... Mas Niko tunggu! Kenapa? Mas nyesel udah nyia-nyiain perempuan Sia lan itu dulu, iya? Karena sekarang dia udah kaya, iya?" Mitha mengejar Niko yang tampak acuh dan sebal tersebut.
"Diam kamu Mith, jaga bicaramu! Makin hari kamu makin cerewet dan banyak nuntut!" suara Niko terdengar semakin jauh bersamaan dengan pintu ruangannya yang tertutup.
🌼 🌼 🌼
__ADS_1