
Senja terus berjalan, ia menyusuri jalan yang cukup sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang lewat. Saat berjalan ponselnya bunyi, ia langsung mengangkatnya.
"Senja, aku baru selesai meeting, kau mau aku bawakan apa untuk makan siang?" tanya Elang.
"El...aku tersesat," ucap Senja.
"Apa? Tersesat bagaimana? Kau sedang dimana?" tanya Elang yang terkejut dan langsung panik.
Senja menceritakan secara gamblang apa yang terjadi dan seperti apa tempat ia sekarang berada.
"Ada-ada saja kamu tuh,"
"Kartu yang kamu kasih nggak berguna," protes Senja. Di pasar, naik taksi maupun angkot nggak bisa di gunakan, benda serbaguna apanya," cebiknya masih mengamati kartu kramat bagi perempuan-perempuan matre tersebut.
"Tunggu aku, aku sedang berada tak jauh dari tempat itu. Jangan kemana-mana, aku akan menjemputmu," ucap Elang dan panggilan langsung mati karena ponsel Senja kehabisan baterai.
"Malah mati," gumam Senja menatap layar ponselnya yang mati.
Tiba-tiba langkah Senja terhenti ketika ada mobil berhenti di sampingnya.
"Senja," ucap seseorang dari dalam mobil.
"Anda mengenal saya?" tanya Senja bingung, pasalnya ia seperti baru pertama bertemu orang tersebut.
"Astaga kau lupa? Baru kemarin kita ketemu di club, sekarang kau sudah tang mengenaliku?" ucap Ervan, laki-laki yang berada di dalam mobil.
"Maaf, saya tidak ingat," ucap Senja cuek.
"Kebetulan sekali kita bertemu lagi di kota ini. Kamu mau kemana, kenapa berjalan sendirian di tempat sepi seperti ini?" tanyanya.
"Bukan urusan Anda," sahut Senja yang tak ingin bicara dengan orang asing. Ia kembali meneruskan langkahnya, meninggalkan Ervan yang tersenyum mengamatinya dari belakang.
Langkah Senja kembali terhenti ketika ia berpapasan dengan beberap preman yang menghalangi jalannya.
"Hai nona cantik, sendiri saja. Bisa kami temani?" goda salah satu dari mereka dan langsung di sambut gelak tawa yang lainnya.
"Permisi saya mau lewat," ucap Senja.
Mereka pun saling pandang dan langsung tertawa.
"Sikat aja lah, daripada kelamaan," ucapnya.
"Mau apa kalian?" Senja mundur dua langkah ketika mereka mendekat satu langkah.
__ADS_1
"Serahkan barang-barang milik kamu, dompet, handphone dan kalung yang kamu pakai juga," ucapnya.
"Tidak, aku tidak akan menyerahkan kalung ini, ini satu-satunya peninggalan kedua orang tuaku," tolak Senja.
Alih-alih mundur, preman tersebut malah mengambil paksa kalung yang melingkar di lehernya sehingga putus.
"Kembalikan kalungku!" teriak Senja namin tak di gubris.
"Urus dia," ucap preman itu kepada teman-temannya.
"Kalian mau apa lagi?"
"Kita mau senang-senang hahahaha," tawa mereka bersamaan.
Dug! senja menendang alat vital salah satu dari mereka dan langsung berlari.
"Sial! Kejar," mereka mengejar Senja dan setelah terkejar, salah satu dari mereka mengeluarkan senjata tajam.
"Diam, atau benda ini akan menyakitimu!" teriaknya.
Ervan yang melihatnya seharusnya senang karena istri dari musuhnya sedang dalam.masalah, tapi hati nuraninya berkata lain, ia tak tega melihatnya dan langsung turun dari mobil untuk menolong Senja.
"Jangan ganggu dia!" sarkas Ervan yang langsung melawan mereka.
"Stop, jangan berantem, berhenti!" ingin sekali ia berteriak seperti itu, tapi nyatanya ia tak bisa berkata-kata. Tubuhnya merosot ke jalan, kedua tangannya menutup telinganya, ia terus menggeleng-gelengkan kepalanya, suara erangan-erangan kesakitan terus terngiang di telinganya. Mimpi buruk yang sering ia alami selama ini seakan menorehkan trauma tersendiri baginya.
Elang yang baru saja tiba langsung turun dari mobil.
"Senja," ucap Elang seraya menghampiri istrinya.
"Tolong bantu dia, tolong, aku mohon, bantu dia," ucap Senja tanpa menoleh dan tahu siapa yang memanggilnya begitu Elang mendekat dan ingin menyentuhnya.
"Elang?" Ervan mengernyit begitu melihat orang yang datang membantunya.
"Ervan?" Elang pun tak kalah terkejutnya melihat laki-laki yang sedang melawan para preman tersebut.
Namun, tak ada waktu untuk sekedar say hello atau mengumpat satu sama lain, mereka langsung kembali fokus untuk menghajar preman-preman berbadan besar tersebut.
Satu persatu preman tersebut tumbang, tinggal satu lagi yabg masih Ervan hajar. Elang menoleh ke arah Senja yang masih menggigil ketakutan melihat perkelahian tersebut.
"Senja," Elang mengucap darah di sudut bibirnya dan langsung menghampiri Senja.
"Senja ini aku,"
__ADS_1
"Jangan, jangan sakiti mereka, jangan sakiti mereka, jangan bertengkar, jangan berantem, Senja takut," Senja terus merancau ketakutan.
Mendengar rintihan Senja, membuat Elang merasa tersayat. Ia langsung mendekap tubuh mungil istrinya dari belakang.
"Senja tenanglah, ini aku El, suami kamu," ucap Elang tepat di telinga Senja.
"Ini aku, El. Jangan takut. Aku di sini," ucap Elang.
"El...?" Senja menoleh dan ia menemukan sosok itu, laki-laki yang berjanji akan menjaga dan melindunginya.
Perlahan Senja berdiri di tuntun Elang.
"Iya ini aku El, tenanglah semua baik-baik saja," ucap Elang yang kini menempelkan keningnya di kening Senja.
"El..." Senja langsung menyusup ke dalam pelukan suaminya tersebut. Mencoba menemukan kenyamanan dan kehangatan di sana.
"Jangan berkelahi, jangan bertengkar," ucap Senja terisak.
"Iya, aku tidak berkelahi, tenanglah. Semua baik-baik saja, aku baik-baik saja," ucap Elang menenangkan, ia menangkup kedua pipi Senja dan mengecup keningnya dalam.
"Sebegitu menyakitkankah mimpi itu, hingga menorehkan trauma yang mendalam untukmu?" Elang bertanya dalam hati.
Ervan yang selesai menghajar satu preman terakhir, hanya tersenyum kecut melihat adegan romantis di depannya itu. Di usapnya darah di ujung bibirnya menggunakan jari jempolnya lalu mendekati keduanya.
"Sudah adegan bapernya,"
"Ini kalungnya, putus sih, tapi masih bisa di perbaiki," ucap Ervan menyodorkan kakung milik Senja yang tadi di rampas preman itu.
Elang menerima kalung tersebut.
"Tidak usah bilang terima kasih," ucapnya Ervan dingin.
"Senja, aku pergi dulu, kali kalau jodoh pasi kita akan bertemu lagi," pamit Ervan pada Senja tanpa mempedulikan ekspresi Elang.
"Terima kasih" ucap ucap Elang, meski kata-katanya menyebalkan tapi dia sudah menolong istrinya.
Ervan tak menyahut, ia terus berjalan ke mobilnya.
"Jangan harap bisa menyentuh wanitaku!" seru Elang.
Ervan hanya melambaikan tangannya dan tersenyum tanpa menoleh.
"Kau tak berubah," Batin Elang dan Ervan bersamaan, tersenyum mengingat kejadian tadi saat mereka melawan para preman itu. Seperti de javu, mengingatkan mereka saat kuliah dulu, dimana mereka akan saling membantu dan melindungi jika menghadapi bahaya seperti ini. Rasa peduli satu sama lain itu tetap masih menempati ruang tersendiri di dalam hati mereka meskipun kini mereka masih kuasai oleh amarah masa lalu.
__ADS_1
πΌπΌπΌ