Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 122


__ADS_3

Sarah membuka pintu ruangan dimana Kendra di rawat dengan pelan-pelan.


Perlahan, Sarah mendekati ranjang. Laki-laki itu terlihat tak sadarkan diri, sendiri di ruangan yang luas tersebut. Sudah sejak dua hari yang lalu Kendra di pindah ke ruangan tersebut, namun Sarah belum melihat ada tanda-tanda kalau Kendra telah sadar.


"Belum sadar juga kamu, apa enggak mau bangun. Nggak kangen berdebat sama aku emangnya?" ucap Sarah lirih. Ia meletakkan tanya di nakas lalu duduk di sisi kiri ranjang.


Sejak Kendra kecelakaan, Sarah lah yang paling sering mengunjunginya. Ia merasa berempati kepada rekan debat ya tersebut, mengingat mereka sama-sama merantau di Jakarta dan jauh dari keluarga.


Tak banyak hal yang Sarah tahu dari Kendra, soal keluarganya terutama. Ia hanya tahu jika Kendra memiliki seorang adik perempuan yang kuliah di kota kelahirannya, Jogja. Tapi, soal orang tua, laki-laki itu tak pernah bercerita. Lagian, siapa dia sampai harus bercerita sedetail itu, pikirnya.


Sarah tak tahu, apakah keluarga Kendra di Jogja di beritahu soal kecelakaan yang menimpa pria itu atau tidak. Tapi, yang jelas sejk kemarin tak ada keluarga yang datang menjenguk ya selain keluarga Parvis dan juga keluarga papa David.


Berkaca dari nasib sama-sama perantau, Sarah terdorong hatinya untuk selalu mengunjungi ruangan tersebut. Namun, disisi lain, hatinya merasa sedih melihat kondisi Kendra yang masih belum sadarkan diri.


Tanpa ia sadari, air matanya menetes, rasa sedih dan khawatirnya kian menjadi saat menatap pria yang biasanya mengganggunya tersebut kini dalam keadaan tak berdaya, seorang diri tanpa ada keluarga yang menemaninya. Semakin di pandang, semakin menyayat hatinya. Entahlah, mungkin karena kasihan atau ada rasa yang lain tanpa ia sadari.


"Cewek bar bar ternyata bisa nangis juga," di tengah isaknya, Sarah mendengar suara yang ia kenal. Ia langsung mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk, "Ih, kamu udah sadar ternyata!" protes ya dengan mata melotot melihat Kendra yang tersenyum setengah mengejeknya.


"Udah dari semalam," jawab Kendra.


"Ih ngeselin banget sih, udah sadar dari semalam tapi pura-pura!" sungut Sarah.


Kendra tersenyum, "Kan kalau nggak pura-pura, aku nggak bakal tahu siapa perempuan yang dari kemarin nagisin aku sampai baju aku basah," ucapnya nyengir.


Ya ampun, senyum itu, membuat hati Sarah tiba-tiba meleyot. Jantungnya berdesir. Sarah segera merutuki hatinya, kenapa? Kenapa tiba-tiba ia grogi melihat senyum yang sejak kemarin ia rindukan tersebut.


Perasaan malu dan senang bercampur jadi satu. Malu karena ketahuan jika ia diam-diam menangisi laki-laki yang ia akui sebagai teman laki-laki terbaik yang pernah ia punya tersebut. Yaaaa meskipun mereka lebih sering berdebat, tapi itulah teman. Tidak akan makan hati karena ledekan temannya. Dan tanpa Sarah sadari mungkin dari kata teman itu bisa jadi NYAMAN.


Tapi, ia juga tak ingin gegabah, sejauh ini ia belum merasakan gelenyar aneh jika berhadapan dengan pria di depannya, hingga saat ia tahu Kendra kecelakaan, saat itu ia baru merasakan namanya takut kehilangan dalam artian berbeda.


"Ish, nyebelin nyebelin nyebelin!" Sarah menabok-nabok Kendra pelan.


"Aww!" pekik Kendra pura-pura kesakitan.


"Eh, sorry sorry. Nggak sengaja, mana yang sakit?"


"Nggak sengaja apanya, orang di niatin nabok gitu, orang temannya lagi sakit malah di tabok, di sayang kek, di sun kek, di cium kek!"

__ADS_1


Bugh!


Sekali lagi Sarah menabok Kendra karena mendengar ucapan pria itu barusan, "Dasar! Baru juga lepas dari maut, otak udah nggak beres. Oh, apa mungkin otak kamu sebagian ketinggalan di lokasi kecelakaan kali ya, lupa nggk di bawa kesini, makanya oleng," omel Sarah.


Kendra Lagi-lagi tersenyum, "Tapi, aku senang, ternyata ada yang peduli sama aku, ada yang nangis, ngarepin aku bangun," ucapnya tulus.


"Stop Kend, stop, kalau di teruskan aku benar-benar bisa salah paham berkepanjangan," Gumam Sarah dalam hati.


"Iyalah, soalnya nggak ada kamu nggak ramai, sepi. Nggak ada teman adu mulut yang sepadan," ucap Sarah ketus demi menutupi kegugupannya.


"A-du? Mu-lut?" Kendra tersenyum mesum.


Sarah membuatkan matanya, menyadari ada yang salah dengan ucapannya. Sebenarnya sih tidak salah, yang salah otaknya Kendra.


"Mak... Sudku berdebat, jangan pikir yang aneh-aneh deh!" sungutnya berapi-api.


Kendra memiringkan kepalanya demi melihat ekspresi Sarah yang merona lalu tergelak,"Siapa juga yng mikir aneh-aneh. Kamu tuh yang mikirnya travelling kemana-mana," sergahnya kemudian.


Sarah hanya mencebik sebal kepadanya.


Sarah segera mengambilkan minum yang ada di atas nakas.


"Nih!" sodornya.


"Bantuin dong, masa nolongin setengah-setengah,"


Sarah membantu Kendra minum dengan mendekatkan gelas ke bibir pria tersebut.


"Nggak ada sedotan ya, Sar?"


"Nggak ada, gini aja bisa kan. Jangan manja deh ah,"


"Ck, susah. Pakai mulut bisa kali Sar, gampang," ucap Kendra menggoda.


"Benar-benar nih ya, otaknya kayaknya kurang satu ons deh. Nanti aku minta dokter nambak otak kamu akai otak udang sekalian," omel sarah dengan wajah merona.


Kendra terkekeh melihatnya, "Heleh, becanda. Gitu aja merona kayak udang rebus. Kecuali memang ngarepin 'adu mulut' sama aku,"

__ADS_1


"Nggak!" sergah Sarah cepat, karena grogi, air putih di tangannya sampai sedikit tumbah karena menyenggol pinggiran nakas.


Kendra semakin terkekeh di buatnya, "Aw!" pekiknya merasakan sakit di bagian kepalanya yang di peran karena terlalu keras bergetar menertawakan Sarah.


"Kapokmu kapam, makanya jangan suka jahil," ucap Sarah. Kendati deimikian, ia tetap menyentuh pelipis Kendra dan mengusapnya pelan.


Kendra refleks menyentuh tangan Sarah yang mengusap kepala Sarah, pandangan mereka bersitatap dalam waktu sepersekian detik hingga mereka saling melepaskan tangan mereka dengan perasaan canggung.


"Ehem!" kecanggungan mereka berhasil terpecah oleh suara deheman seseorang yang sudah berada di daun pintu ruangan tersebut.


Sarah bersorak dalam hati karena David dan daddy Alex berhasil menyelamatkan ya dari rasa canggung barusan.


"Apakah saya mengganggu?" tanya Papa David dengan tangan bersedekap dada.


"Tidak!" jawab Sarah dan Kendra bersamaan, Namun, kepala mereka sama-sama mengangguk.


Papa David mengernyit, "Yang benar yang mana? Mulut apa kepala kalian?" tanya daddy Alex santai, namun ia tetap melangkah masuk diiringi papa David di sebelahanya.


"Kamu ini, Kend. Cepat sekali move on. Perasaan Gisel baru sebulan pergi," Celetuk papa David.


"Untung Gisel move on ke Paris, nggak ke pelukan kamu," imbuh Daddy Alex berdecak.


Kendra meringis, ini dua orang tua, diam-diam ternyata mengikuti kisah cinta yang muda-muda, sejauh mana merek mengetahui kisah cinta mereka yang ribet itu, pikirnya jadi was-was.


" Tuan, jngan salah paham, kami hanya berteman," Kendra mencoba menjelaskan.


"Teman tapi nyaman," Celetuk Daddy Alex datar.


Membuat Sarah dan Kendra mendengus bersamaan. Susah emang kalau ngomong sama terua Parvis group tersebut.


🌼 🌼 🌼


πŸ’ Jangan lupa like komen dan hadiahnya, votenya juga boleh kalau masih πŸ˜„


Tengkyu πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ


Salam hangat author πŸ€—πŸ€—β€οΈβ€οΈπŸ’ 

__ADS_1


__ADS_2