
"Pelan-pelan sayang jalannya," ucap Elang memapah Senja menujubke kamar mandi.
"Kamu tunggu di luar aja, aku bisa ganti sendiri," ucap Senja begitu sampai di kamar mandi.
"Enggak, biar aku bantu. Enggak apa-apa," jawab Elang.
"Nnti kamu jijik,"
"Enggak, enggak ada jijik. Sama istri sendiri yang udah ngelahirin anak aku. Kamu begini juga karena aku, ayo sini. Aku di ajarin gimana ini pasanganya?" kata Elang sambil melihat bungkusan pembalut di tangannya.
"Sambung dua ya? Padahal ini udah panjang banget, tetap di sambung?" tanya Elang.
Senja mengangguk, "Sini, aku sendiri saja. Bisa kok. Nanti kamu mual, boo,"
"Enggak akan, sini aku bantu lepas ya celananya," Elang sudah memposisikan diri setengah berjongkok untuk membantu istrinya mengganti pembalut. Dan itu janjinya ada dirinya sendiri, ia akan melakukan segalanya untuk istri dan anaknya. Ia akan merawat Senja dengan sangat baik, meski masih harus banyak belajar, sebagai penebus karena saat hamil, ia tak berada di sisi Senja, membiarkan istrinya kesusahan dan merasa sendiri.
Senja benar-benar terharu, orang pasti tidak akan percaya jika seorang Erlangga, seorang tuan muda yang terkenal dingin itu, kini benar-benar melakukan hal itu. Sungguh, Senja merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini. Jangankan seorang tuan muda, kaya, ganteng, orang biasa pun belum tentu mau melakukan seperti apa yang di lakukan oleh suaminya tersebut. Benar-benar tak berpikir, jika melakukannya, makan harga dirinya akan jatuh, Elang sama sekali tak memikirkan hal itu.
"Kenapa lihatin aku seperti itu?" tanya Elang heran.
"Enggak apa-apa," jawab Senja menggeleng.
"Enggak apa-apa tapi mata berkaca-kaca begini, jangan nangis dong, sayang. Ada apa hem?"
"Makasih,"
Elang mendongak lalu berdiri karena telah selesai melakukan tugasnya.
"Makasih, udah baik banget sama aku, udah mau urus aku. Nggak ngebayabgin kalau kamu nggak datang, nggak ada di sini,"
Elang menarik Senja ke dalam pelukannya, "Itu kewajiban aku sebagai suami, sebagai ayah. Udah jangan nangis, malu sama Zea. Momminya mau saingan sama dia, nangis terus perasaan dari kemarin," sekoroh Elang.
"Aku nangis karena terharu, bahagia. Emang enggak boleh!" protes Senja.
"Boleh sayang, boleh. Apapun itu boleh," sahut Elang mengalah.
Saat keluar dari kamar mandi, Senja dan Elang sudah melihat Kendra berdiri di samping box baby Zea.
"Udah datang Kend?" tanya Elang yang sedang memapah Senja dari kamar mandi.
"Baru saja, bos. Barengan sama suster nganterin Zea ke sini. Saya kira kalian kemana, kok sepi," jawab Kendra. Rupanya bayi itu itu baru saja di antar oleh suster setelah di mandikan. Kini ia terlihat sangat cantik dan manis dengn bando berwarna putih beraksen pita berwarna senada di kepalanya. Sangat menggemaskan, tak heran jika Kendra terus mengusap pipi selembut sutra itu tanpa henti.
__ADS_1
"Jangan di elus terus, anakku bisa lecet dan iritasi nanti," Ucap Elang. Kendra langsung mengangkat tangannya sambil mencebik.
"Sudah siap semuanya kan, bos?" tanya Kendra.
"Udah, tinggal nunggu dokter visit terkahir, setelah itu pulang," jawab Elang.
"Dih di pandang terus anakku. Jatuh cinta sama anakku?"
"Siapa sih yang nggak jatuh cinta lihta bayi secantik dan semenggemaskan ini," jawab Kendra santai.
Baby Zea menggeliat, satu tangannya jeluar dari kain yang menutupi badannya. Matanya mengerjap dan siap menangis.
"Tuh kan, bangun! Kamu sih, berisik!" umpat Elang.
"Kakian ini, kerjaannya debat terus. Bawa sini, boo. Mungkin dia haus," sergah Senja.
Dengan hati-hati, Elang mengambil baby Zea dari boxnya.
"Mau coba gendong? Biar ceat nular!" kata Elang kepada Kendra.
Kendra menggelengkan, "Enggak berani, Masih lemes banget begitu, takut," jawabnya.
Elang mengambil sebuah bantal dan di letakkan di pangkuan Senja sebelum ia menyerahkan bayinya untuk di susui.
Elang menoleh," Keluar kamu! Anakku mau nyusu!" ucapnya mengusir Kendra.
"Nggak boleh di sini saja? Janji nggak lihatin!" Kendra mengangkat dua jari tangannya.
"Enggak, kamu suka ambil kesempatan dalam kesempatan. Keluar!"
Kendra berdecak lalu melangkah menuju ke pintu keluar.
πΌ πΌ πΌ
Tiba di rumah, Senja di kejutan oleh kedatangan dua orang spesial, yaitu monny dan daddy yang menyambut hangat menantu dan cucu mereka di teras rumah.
"Mommy , daddy! Kapan kalian datang?" sapa Senja dengan mata berbinar.
"Tadi pagi kami sampai, mommimu tidak sabar pengin melihat cucu pertamanya,"jawab daddy Alex.
"Iya, kemarin waktu tahu kamu lahiran, mommy langsung paksa daddy buat terbang ke sini. Tadi pagi mau langsung ke rumah sakit, tapi El melarang. Katanya siang ini kalian sudah pulang,"
__ADS_1
Imbuh mommy Anes.
"Iya, kan mommy dan daddy harus istirahat dulu," kata Senja tersenyum.
Mommy Anes maju lebih mendekat, ia penasaran dengan buntelan yang menggeliat-geliat dalam gendongan Senja. Mommy Anes langsung menetekan air mata bahagianya.
"Cucu mommy, cantik kan?" kata Elang yang kini memegangi kedua pundak Senja.
Mommy Anes menganggukkan kepalanya, "Iya, cantik sekali," ucapnya bergetar.
"Maafin mommy, sayang. Mommy tidak menemani kamu di saat berjuang, maaf," mommy Anes meminta maaf keada Senja.
"Tidak mom, doa mommy selalu menemani setiap langkah Senja. Sehingga Senja bisa melahirkan cucu mommy ini dengan selamat," balas Senja.
Baby Zea yang merasa tidurnya terganggu, membuka matanya.
"Halo sayang , cucu oma. Selamat datang di dunia..."
"Zea, namanya Zea.." jelas Elang yang mengerti kebingungan sang mommy.
"Selamat datang di dunia, cucuku Zea. Terima kasih karena kuat, terima kasih sudah hadir dalam keluarga Parvis dan Bailey, sayang," mommy Anes mencium pipi baby Zea yang selembut kapas.
"Untung kamu punya inisiatif buat ceat nyusul istrimu, El. Kalau tidak daddy benar-benar akan menendangmu yang membiarkan istrimu melahirkan sendiri," kata daddy Alex.
"Tidak dad, El sudah janji. Dan daddy tahu, ikatan batin antara aku dan Zea sangat kuat, dia bahkan belum mau lahir sebelum aku datang. Iya kan, sayang?"
"Boleh mommy menggendongnya?" tanya mommy Anes yang tidak tahan untuk menggendong cucunya, apalagi saat melihat mata bening itu terus mengerjap.
"Tentu saja boleh, mom," Senja menyerahkan baby Zea ke dalam gendongan Mommy Anes.
"Cucuku mas," mommy Anes kembali berkaca-kaca menatap suaminya.
"Iya, cucuku juga," timpal daddy Alex.
"Mommy, daddy! Kenapa nggak ajakin mereka masuk sih, malah ngobrol di sini!" Gisel datang dengan dengan wajah cemberut, di susul oleh sarah di belakangnya. Mereka berdua sejk tadi menunggu kedatangan baby Zea, tidak sabar ingin menunjukkan kamar bayi hasil dekorasi mereka berdua sejak subuh tadi.
" Eh iya, ayo masuk. Kasihan Senja kalau berdiri terus. Ayo sayang, kita masuk," ucap mommy Anes.
"Selamat El, selamat jadi ayah. Dan selamat begadang setiap malam. Kehidupan baru dengan putri kalian akan di mulai. Jangan biarkan istrimu bangun tengah malam sendirian, selalu temani dia, jadilah suami dan ayah yang bertanggung jawab!" pesan daddy Alex menepuk bahu Elang sebekum akhirnya mereka ikut masuk ke dalam.
" Iya dad, El akan selalu ingat perjuangan Senja untuk El dan Zea. El tidak akan membiarkan dia sendirian mengurus Zea," jawab Elang.
__ADS_1
πΌ πΌ πΌ
π π Jangan lupa like komen dan votenya, terima kasih ππΌππΌπ π