
Meski perasaannya sedang tidak baik-baik saja karena gossip yang entah siapa yang menyebarkan tersebut, Senja tetap melanjutkan pekerjaannya dengan baik. Berusaha untuk bersikap biasa saja dan profesional meskipun kerap kali teman sekantornya menyindir dan mengumpatinya dengan kata-kata yang sungguh tidak enak sama sekali di dengar.
"Senja, sebaiknya kamu pulang lebih awal saja," ucap Niko yang muncul di depan Senja tiba-tiba.
Senja mendongak, melihat sumber suara.
"Pekerjaanku mash banyak," ucap Senja cuek melanjutkan pekerjaannya.
"Ayolah Nja, aku peduli sama kamu. Kenapa kamu melakukan hal kotor seperti itu untuk membalasku? Kenapa kamu..."
"Cukup! Kalau kamu kesini hanya untuk menyudutkanku, sebaiknya kamu pergi saja dari sini mas. Daripada nanti istrimu, pelakor yang sesungguhnya itu marah melihatmu di sini," ucap Senja.
"Apa kamu kekurangan uang sampai melakukan itu Senja? Kamu selalu menyalahkan Mitha, tapi kamu sendiri seperti ini, atau jangan-jangan sudah lama kamu seperti ini? Kamu selingkuh di belakangku? Pantas saja, waktu itu baru sebentar kita putus, laki-laki itu langsung muncul seperti seorang pahlawan," cibir Niko.
"Pergi dari sini!" ucap Senja membentak, ia benar-benar muak dengan laki-laki di depannya itu. Kalau saja ia punya kuasa, ingin sekali memecatnya saat ini juga.
Niko pun pergi meninggalkan Senja yang masih merasa dongkol terhadapnya.
"Waktu bertahun-tahun kita habiskan bersama ternyata tak membuatmu bisa mengetahui seperti apa aku mas Niko, teganya kamu juga menuduhku seperti itu," batin Senja seraya menghela napas panjang.
Senja berhasil melewati hari ini di kantor, hingga waktu pulang tiba. Ia segera membereskan meja kerjanya lalu merenggangkan otot-ototnya sekejap. Senja menyambar tasnya lalu pulang karena sopir sudah menunggunya atas perintah Elang tadi pagi.
Butuh waktu sedikit lama untuk sampai ke rumah karena di jam-jam pulang kantor seperti ini jalanan macet. Sepanjang jalan, Senja hanya diam dan memandangi luar jendela mobil. Sesekali ia melihat ponselnya, namun tak ada satupun pesan masuk dari suaminya.
"Masih sibukkah?" gumamnya lirih, karena memang pagi tadi Elang kalau hari ini ia akan sibuk dan pulang malam.
Sesampainya di rumah, Senja langsung naik ke kamarnya. Ia segera mandi lalu merebahkan diri di atas tempat tidur. Gossip yang beredar di hampir seluruh berita online hari ini di tambah pekerjaan yang banyak cukup menyita tenaga dan pikiran Senja hingga tanpa terasa ia tertidur.
πΌπΌπΌ
Di Erlangga Corp...
Elang masih saja sibuk dengan pekerjaannya, karena beberapa hari lagi setelah paspor Senja selesai di buat, ia akan mengajaknya ke Paris.
"Bos gawat!" seru Kendra yang tampak buru-buru masuk ke ruangan Elang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Atur napas dulu, kau sudah seperti sedang di kejar hantu saja," ucap Elang.
Kendra oun mengikuti perintah Elang.
"Ini lebih seram dari hantu bos," ucap Kendra setelah mengatur napasnya.
"Katakan!" titah Elang.
Kendra menyodorkan ponselnya keada Elang. Rahang Elang langsung mengeras begitu melihat berita yang sudah sejak siang tadi memenuhi halaman utama sejumlah berita online tersebut. Ia menggenggam erat ponsel Kendra.
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?" tanya Elang kesal.
"Maaf bos, sejak tadi saya juga sibuk,saya baru sempat membuka ponsel," jawab Kendra merasa bersalah.
__ADS_1
"Bagaimana Senja?"
"Nona Senja sepertinya bisa mengatasi masalah ini di kantor, dia tetap bekerja hingga jam kantor pulang," jelas Kendra yang sudah mengecek terlebih dahulu tadi sebelum ke ruangan Elang.
"Siapa yang berani membuat berita murahan seperti itu. Kend, bungkam seluruh media tanpa terkecuali, turunkan berita murahan itu secepatnya. Aku tidak mau tahu, besok berita-berita sialan itu sudah harus di hapus semua, buat seolah berita itu tidak pernah muncul. Cari tahu dalang dari semua ini dan siapkan konferensi pers secepatnya!" perintah Elang kepada Kendra.
"Baik bos," sahut Kendra.
"Sial!" Elang langsung menyambar jasnya, ia langsung meninggalkan ruangannya tersebut. Elang ingin segera pulang dan menemui istrinya. Seharian ini ia memang tidak mengecek ponselnya sama sekali bahkan berita itu sudah heboh di perusahaannya juga ia tidak tahu. Lebih tepatnya, para karyawan berani heboh hanya di belakang saja, tidak berani secara terang-terangan karena mereka masih ingin bekerja di perusahaan tersebut.
Elang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Saat di jalan, tiba-tiba ponselnya berdering. Elang langsung mengangkatnya, ia pikir Senja uang menelepon.
"Senja, aku sedang dalam perjalanan pulang, tunggulah aku, sebentar lagi aku sampai," ucap Elang.
"Kak, tolong aku," suara itu...Elang langsung melihat layar ponselnya. Bianca~ ternyata yang meneleponnya Bianca.
"Tolong aku kak, sakit..." rintih Bianca dari seberang telepon.
"Kau kenapa Bie?"
"Sakit kak...tolong aku," hanya kata itu yang di ucapkan Bianca.
"Kamu kenapa Bie? Sekarang kamu dimana?" tanya Elang.
"Apartemen," hanya itu yang diucapkan Bianca, sambungan telepon langsung terputus.
Elang ingat ucapan Kendra kalau Senja sejauh ini baik-baik saja meski ia tahu istrinya itu pasti hanya pura-pura baik-baik saja.
"Senja, aku akan segera kembali. Maafkan aku," Elang pun memutar balik mobilnya, rasa khawatirnya terhadap Bianca memang tak sebesar terhadap Senja. Tapi ini kemungkinan menyangkut nyawa Bianca, Elang tak bisa membiarkannya begitu saja.
Sesampainya di apartemen, Elang langsung menekan pin untuk membuka pintu, untung saja pinnya belum Bianca ganti, sehingga ia bisa langsung membukanya.
Elang mencari keberadaan Bianca, ia langsung naik ke kamar mantan kekasihnya itu dan Bianca hampir tak sadarkan diri di tepi ranjang sambil memegangi perutnya.
"Bie, bangun Bie!" Elang menepuk-nepuk pipi Bianca.
"Kak...tolong," hanya itu kata yang Bianca ucapkan dengan lirih. Tangannya terus memegangi perut bawah bagian kanannya.
Elang segera memapah tubuh Bianca menuju ke mobilnya. Elang segera membawa Bianca ke rumah sakit terdekat.
Saat Bianca di periksa di ruang UGD, Elang menghubungi Kendra untuk memintanya datang ke rumah sakit.
Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruang UGD.
"Bagaimana keadaan adik saya dok?" entah kenapa kata adik itu bisa keluar begitu saja dari mulut Elang.
"Begini Tuan, adik Anda menderita usus buntu yang sudah parah, kami harus segera melakukan operasi untuk mengangkat usus buntunya. Kami membutuhkan tanda tangan persetujuan dari keluarga pasien," tutur dokter.
Elang berpikir sejenak, Orang tua dan adik Bianca berada di luar negeri, asistennya entah kemana, ia belum sempat menghubunginya.
__ADS_1
"Saya yang akan bertanggung jawab dok, saya yang akan menanda tanganinya," ucap Elang mantap.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu, Operasi akan kami lakukan dua jam lagi," pamit dokter.
"Bos," Kendra datang dan langsung menghampiri Elang.
"Cepat sekali sampai," heran Elang.
"Kebetulan saya sedang berada dekat sini, bagaimana nona Bianca? Kenapa doa bisa berada di Jakarta? Kapan pulang?"
"Dia menderita usus buntu yang sudah parah, dokter akan melakukan operasi. Untuk masalah kapan di kembali ke Jakarta, aku tidak tahu," jawab Elang dengan jelas.
"Apa nona Bianca Sendiri? Dimana dayang-dayanganya?"
"Entahlah," jawab Elang menggedikkan bahunya.
Elang melihat jam tangan bermerk Rolex di tangannya, operasi akan di lakukan dua jam lagi, sementara pikirannya terus tertuju kepada Senja.
"Kend, Kau hubungi asisten Bianca, dan tunggulah di sini sampai ada yang datang. Operasinya akan di lakukan dua jam lagi," perintah Elang.
"Baik bos," sahut Kendra.
Elang langsung pergi meninggalkan Kendra sendiri tanpa melihat kondisi Bianca terlebih dahulu. Dia percaya dokter akan melakukan yang terbaik.
Tak butuh waktu lama, Elang sudah memasuki gerbang utama kediamannya. Ia segera turun dari mobil dan meminta orangnya untuk memarkirkan mobilnya.
Dengan langkah cepat, Elang segera menuju ke kamar dimana ia yakini saat ini istrinya sedang berada di sana.
Elang mendekati Senja yang tertidur pulas. Ia langsung duduk di samping Senja, membelai wajah cantik istrinya tersebut. Dikecupnya kening Senja sebelum akhirnya ia membersihkan diri.
Selesai mandi, Elang merebahkan tubuhnya di samping Senja. Direngkuhnya tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya.
"Hari ini pasti berat buat kamu. Akan aku pastikan orang itu akan menerima ganjarannya,"
Senja menggeliat, perlahan ia membuka matanya.
"El..." ucapnya lirih.
"Aku di sini. Maafkan aku karena terlambat mengetahuinya," ucap Elang sambil membelai pipi Senja.
"Aku baik-baik saja," sahut Senja.
"Aku tahu," Elang memeluk Senja dengan erat, sangat erat. Ia tahu kalau istrinya itu sebenarnya tidak baik-baik saja. Ia bersumpah akan mencari dalang di balik semua ini.
Untuk visual Senja aku ganti ini ya,
__ADS_1