Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 127


__ADS_3

Selesai sarapan, Senja mengajak Elang untuk masuk, suaminya itu sudah terlalu lama berada di balkon. Dengan cekatan ia membantu Elang untuk naik ke ranjang, karena Elang melarang perawat yang sudah di sediakan khusus untuk membantunya masuk ke dalam kamar jika ia tak menyuruhnya. Tak lupa ia menyelimuti kaki suaminya tersebut.


"Minum obat dulu, boo," ucap Senja. Ia mengambil obat dan segelas air putih yang ada di atas nakas lalu menyodorkannya kepada Elang. Jika Senja tak mengingatkannya, Elang tak pernah mau meminum obatnya, karena menurutnya percuma dia minum obat, tak berpengaruh apapun dengan kelumpuhannya.


Dokter sendiri mengatakan kemungkinan Elang untuk dapat kembali berjalan sangat sedikit. Bisa di bilang, ia membutuhkan sebuah keajaiban lagi. Dan sejujurnya Senja tak mempermasalahkan hal itu. Selama Elang masih berada di sisinya, itu sudah lebih dari cukup.


Setelah memastikan suaminya minum obat, Senja bersiap untuk berangkat ke kantor, "Aku berangkat ya, kalau butuh apa-apa kamu panggil saja mas perawatnya," ucap Senja.


"Hem, hati-hati," sahut Elang.


Karena tak di cium oleh Elang, Senja yang berinisiatif mencium bibir suaminya tersebut sekilas,"Uhh, bau obat. Tapi, aku tetap suka," seloroh Senja. Elang hanya tersenyum samar mendengar selorohan sang istri, bahkan senyum itu nyaris tak terlihat.


Elang menatap kepergian Senja dengan tatapan yang hanya ia sendiri yang tahu. Ia merasa bersalah dengan istrinya tersebut yang kini harus melakukan semuanya sendiri. Ia tak bisa lagi mengantar ataupun menjemput Senja seperti biasanya.


Bahkan, kini hubungan ranjang mereka pun tak lagi seperti dulu. Kelumouhan Elang dari bagian perut ke bawah, membuatnya tak bisa lagi memberikan kepuasan di ranjang untuk istrinya tersebut. Hal itu membuatnya benar-benar merasa semakin rendah diri. Meskipun Senja sering kali mengatakan jika tak masalah, cintanya tak hanya berfokus pada masalah ranjang saja, akan tetapi lebih kompleks.


Saat hendak masuk ke dalam mobil, Senja berpapasan dengan Kendra yang baru saja datang untuk menemui Elang.


"Pagi nona," sapa Kendra.


"Pagi, Kend. Masuk aja, El ada di kamar," ucap Senja.


Kendra mengangguk dan langsung menuju ke kamar utama rumah tersebut.

__ADS_1


"Sudah saya bilang, jangan berani ada yabg masuk kalau tidak saya suruh!" hardik Elang tanpa melihat ke arah pintu.


"Bos, ini saya," ucap Kendra.


Elang tak menyahut, ia hanya sedikit memiringkan matanya.


Kendra mendekat, "Apa bos membutuhkan sesuatu? Mungkin bisa saya bantu," ucap Kendra.


"Berhenti kasihan kepadaku , Kend. Jangan perlakukan aku seperti orang cacat, aku bis melakukan semuanya sendiri!" sarkas Elang. Meskipun ia memang cacat, tapi ia tak ingin semua orang mengasihaninya. Ia tak suka di perlakukan seperti mayat hidup yang tak bisa apa-apa, serba di layan, bahkan sekedar ke toiletpun ia tak bisa sendiri. Ia benci di pandang iba oleh orang lain.


"Kalau begitu, bos yang bantu saya. Berkas-berkas ini butuh pemeriksaan dan tanda tangan bos," ucap Kendra, berusaha tidak memperpanjang emosi Elang.


Dalam hal ini, Kendra tak kurang-kurangnya merasa bersalah, karena ia berada dalam satu mobil dengan Elang waktu itu, tapi sungguh dirasanya tak adil karena bosnya kini harus berada diatas ranjang ataupun kursi roda dalam melakukan aktivitasnya. Sementara ia sendiri masih bisa berdiri bahkan berlari dengan sehatnya.


🌼 🌼 🌼


Sampai saat ini, Senja belum tahu siapa pelaku yang tega mencelakakan suaminya tersebut. Bukan tanpa alasan mereka yang tahu menyembunyikannya dari Senja. Bisa di pastikan, jika Senj tahu ia akan sangat merasa bersalah atas apa yang telah menimpa suaminya.


Mereka tak tega melihat Senja lebih menderita lagi, ia sudah cukup menderita dengn keadaan suaminya seperti saat ini. Bukan karena kondisinya yang tak lagi sempurna, sungguh! Senja tak pernah mempermasalahkn hal itu. Akan tetapi, sikap Elang lah yang membuatnya sedih. Ia sebenarnya tak tahan setiap kali melihat sorot mata suaminya yang mengisyaratkan kesedihan yang sangat mendalam meskipun laki-laki itu tak pernah mengatakannya secara langsung.


Terkadang Senja sampai bingung harus bagaimana untuk meyakinkan dan memberikan dukungan kepada suaminya. Meyakinkan kalau di matanya, Elang tetaplah sosok suami dan calon ayah yang sempurna.


Senja curiga, kenapa harus mereka menyembunyikan siapa pelaku kejahatan itu darinya. Memangnya kenapa kalau dia tahu? Memangnya apa yang bisa ia lakukan jika mengetahuinya? Membunuhnya? Tentu saja tidak bisa bukan? Lalu kenapa semua orang merahasiakannya seolah itu adalah hal yang jika ia ketahui, akan meruntuhkan dunia. Tidak bisa! Senja sudah tak bis lagi berdiam diri membiarkan rasa penasarannya. Ia pun memutuskan akan mendatangi kantor polisi dan mencari tahu sendiri siang ini.

__ADS_1


Ia ingin sekali melihat secara langsung wajah yang tega menghancurkan hidup suaminya.


"Nja, mau kemana? Makan siang? Bareng aja ya?" tanya Sarah yang baru saja akan masuk ke ruangan bosnya tersebut untuk mengajak makan siang bersama.


"Eh, aku ada urusan, Sar. Lain kali aja ya. Aku buru-buru," ucap Senja. Ia langsung melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan panggilan Sarah.


"Senja kenapa sih? Kok aneh?" Sarah pun buru-buru menyusul Senja, dia semakin merasa aneh karena Senja pergi menggunakan taksi, bukan dengan sopirnya.


"Senja mau kemana ya? Kok aku khawatir jadinya,"


Saat hendak menghubungi Kendra untuk memberitahunya soal Senja, ponsel Sarah sudah berdering duluan.


"Ya, pak Ervan?"


"Sar, apa Senja sedang bersama kamu? Saya menghubungi ponselnya sejak beberapa menit yang lalu kok tidak di angkat," tanya Ervan.


"Tidak pak, Senja baru saja pergi naik taksi,"


"Pergi? Kemana?" tanya Ervan.


"Saya tidak tahu pak, Dia kelihatan buru-buru sekali. Saya tidak sempat mengejarnya. Dia naik taksi, itu yang saya khawatirkan pak, kenapa tidak pakai sopir. Aneh, tidak biasanya," jelas Sarah.


"Baiklah kalau begitu," Ervan mematikan panggilannya.

__ADS_1


🌼 🌼 🌼


__ADS_2