Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 40 (Ada tidak gunanya juga ternyata)


__ADS_3

"Aku berangkat dulu, kamu baik-baik di sini. Jadi anak baik, jangan keluyuran, ini di kota asing bukan Jakarta. Nanti salah-salah tersesat, aku yang repot. Kalau bosan bisa turun dan main di pantai saja yang dekat, atau lihat saja pantainya dari sini kelihatan kan? Kalau ke sana sendiri takutnya kebawa ombak malah lebih repot lagi," pesan Elang panjang lebar seperti emak-emak sebelum berangkat.


"Hem," sahut Senja singkat, membuat Elang mendesah.


Senja pun mengantar kepergian Elang sampai depan pintu. Saat Elang sudah masuk lift dan tak lagi nampak batang hidungnya, Senja kembali masuk ke dalam.


🌼🌼🌼


"Bos," sapa Kendra begitu Elang sampai di kantor cabang.


"Pengacau!" umpat Elang begitu melihat Kendra sambil terus melangkah, Kendra hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Katakan!" perintah Elang singkat namun langsung di mengerti oleh Kendra.


"Meeting kita hari ini ada dua, satu dengan tuan Hermawan di kantor dan setelahnya dengan tuan Revan di resto bambu Alas. Jika kita tidak bergerak cepat, tuan Ervan siap mengambil klien kita bos, saya mendapat info jika tuan Ervan kembali dari Paris beberapa hari yang lalu dan sekarang juga berada di kota ini untuk bernegosiasi dengan mereka," jelas Kendra.


"Si siapa? Ervan?" dahi Elang langsung mengkerut begitu mendengar nama tersebut.


"Iya bos, tuan Ervan,"


"Bocah tengil itu, kalau mereka memang mau kerja sama dengannya biarkan saja, aku tak suka dengan orang-orang yang tidak bisa di ajak kerja sama" ucap Elang.


Lagi-lagi Kendra mendesah, ia harus punya stok sabar berlebih sepertinya hari ini menghadapi bosnya yang uring-uringan.


"Dia kenapa sih? Kurang jatah apa bagaimana? Istrinya udah nyusul masih aja menguji iman, atau malah kebanyakan jatah ya sampai overdosis," batin Kendra.


"Dua klien kita kali ini sanga penting bos, dan Bos tahu, tuan Ervan akan melakukan apapun untuk mengalahkan kita, sekalipun ia akan rugi, asal kita kalah,"


"Kapan kita kalah?"


"Bekum pernah bos, tapi..."


Kendra tak berani lagi menjawab karena sepertinya bosnya tersebut masih memendam dendam terhadap laki-laki bernama Ervan tersebut. Laki-laki yang dulu adalah sahabatnya sejak SMA hingga kuliah. Kala itu, Ervan yang merupakan pindahan dari Paris, hanya mengenal sosok Elang yang pernah ia temui sebelumnya saat lomba sains Internasional tingkat SMP, dimana Elang menjadi juara pertama dan Ervan menjadi juara kedua, dan selanjutnya berlaku seperti itu, Ervan akan selalu berada selangkah di belakang Elang. Namun keduanya tetap bersaing secara supportif sebagai sahabat. Hingga sebuah kejadian membuat keduanya saling bermusuhan hingga sekarang.


Setelah banyak pertimbangan, Akhirnya Elang memutuskan untuk tetap melanjutkan meeting.


"Kau atur saja," akhirnya tiga kata dari mulut Elang yang bikin Kendra bernapas lega.

__ADS_1


"Baik bos," Kendra langsung menyiapkan semuanya sebelum Klien pertama mereka datang ke kantor.


🌼🌼🌼


Senja merasa bosan, sejak kepergian Elang tadi ia tak melakukan apapun. Mencoba menonton televisi namun tak ada acara yang ia sukai. Membaca beberapa majalah juga membosankan, tak ada yang menarik baginya.


"Hah, El benar-benar menghukumku dengan menjadikan aku tawanan di hotel mewah ini," desahnya lalu mematikan televisi dan kembali ke kamar.


Senja mengambil ponselnya dan ternyata ada begitu banyak pesan dari Sarah yang menanyakan kabar dan keberadaannya karena ia tidak masuk kerja dua hari ini. Baru mau ia balas pesan tersebut, di layar ponselnya tampak panggilan video call masuk dari Sarah.


"Senja!!! Kamu di mana sih, dari kemarin nggak ada kabar kayak di telan bumi, aku kirim pesan nggak di balas, telepon juga nggak di angkat. Astaga benar-benar! Selalu membuat orang khawatir deh, kebiasaan. Punya hape tuh di gunakan, bukan cuma dijadikan pajangan!" celoteh Sarah begitu Senja menggeser ikon berwarna hijau di ponselnya.


Senja hanya tersenyum mendengar omelan sahabatnya yang sudah seperti seorang emak mengomeli putrinya tersebut.


"Kan malah senyum, hadeh Senja!"


"Sabar kenapa sih Sar, ngomel-ngomel kayak emak-emak kehabisan uang belanja aja. Sekarang aku lagi ada di luar kota, lagi nemenin suami ada pekerjaan di sini," ucap Senja menjelaskan poinnya saja.


"Ngemeng dong yang jelas Senjaku sayang, biar aku nggak parno kehilangan kabar anak perawan. Eh nggak tahu ding masih perawan apa enggak hihi," Sarah terkekeh geli sendiri dengan ucapannya. Senja hanya berdecih mendengarnya.


"Kamu tuh ya, suka sekaki bolos kerja tanpa ijin, nggak takut di SP? mending kalau di SP dulu, kalau langsung di depak gimana? Eh tapi ngga apa-apa, suami kamu kaya ini, kamu kerja mah paking cuma buat hiburan aja ya," oceh Sarah lagi.


"Udah ngomongnya? Bisa gantian?" sela Senja.


"Iya iya bawel!" cebik Sarah.


"Lah, ngatain diri sendiri," ujar Senja terkekeh.


Mereka pun mengobrol beberapa saat, dan itu menjadi hiburan tersendiri buat Senja.


"Udah ya, aku mau lanjut cari receh. Biar bisa beli kasur empuk, kalau kasurnya nyaman kan mungkin bisa mimpi dapat suami kaya seperti kamu, hahaha," kelakar Sarah.


"Apa sih Sar, dari tadi nggak jelas banget tuh mulut,"


"Ya udah ya, baik-baik di sana, by assalamu'alaikum!" pamit Sarah.


"Wa'alaikumsalam," balas Senja.

__ADS_1


Senja meletakkan ponselnya di atas tempat tidur.


"Sepi lagi," gumamnya.


Tiba-tiba sebuah ide muncul di benaknya.


"Daripada jenuh, mending aku belanja aja deh, biar nanti bisa masak, sekalian jalan-jalan cari angin," gumamnya. Ia mengambil tasnya dan mengecek isi dompetnya, karena memang ia tak membawa uang banyak mengingat di jemput paksa oleh Kendra padahal ia mau berangkat bekerja.


"Cukup kayaknya," ucapnya langsung menyambar tas dan ponselnya.


🌼🌼🌼


Elang sudah selesai meeting pertamanya, dan kini sedang dalam perjalanan menuju ke tempat meeting kedua.


"Tuan Revan sudah menunggu bos," ucap Kendra.


"Aku tidak peduli," sahut Elang. Ia sibuk menatap layar ponselnya, berharap ada pesan dari Senja. Dan betapa senangnya dia saat benar-benar ada pesan masuk, tapi wajahnya langsung berubah seratus delapan puluh derajat ketika mengetahui pengirim pesan tersebut adalah nomor tidak jelas yang isinya Mama minta pulsa.


Beberapa saat kemudian, Elang sampai di tempat meeting.


"Tuan Erlangga," sapa Tuan Revan.


"Kita bisa langsung mulai meetingnya," ucap Elang tak ingin basa basi karena ia ingin cepat pulang dan bertemu Senja.


Di lain tempat, Senja telah selesai belanja. Ia kini berada di salah satu pasar tradisional di kota tersebut. Tanpa sadar, seluruh uangnya sudah habis hanya tersisa lima ratus rupiah saja.


"Ya ampun, habis. Terus aku baliknya ke hotel gimana dong?" gumam Senja. Ia mengambil Black card gold yang di berikan okeh Elang beberapa waktu lalu.


Senja mencoba menghentikan taksi dan bertanya apa dia bisa membayar pakai karu tersebut dan jawabannya tidak.


"Huh, taksi aja nggak bisa pakai ini, apalagi angkot," pikir Senja.


"Di saat seperti ini kamu malah nggak berguna, padahal banyak yang memujamu, katanya kamu itu benda keramat, segalanya, jika punya kamu semua aman, hidup ayem, tentram, damai sentosa. Nyatanya tidak berguna untuk orang-orang kecil seperti kami," ucapnya sambil membolak-balik kartu tersebut.


"Apa aku buang saja ya, hem?" gumamnya tersenyum membayangkan bagaimana reaksi Elang ketika tahu kartu itu ia buang. Pasti akan mengatainya bodoh, pikir Senja.


🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2