Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 72 (Welcome to Paris)


__ADS_3

Sudah hampir jam tiga, Kendra sudah siap menunggu bosnya di Bandara. Karena menggunakan pesawat jet Pribadi, penerbangan bisa di lakukan kapan saja tanpa harus khawatir terlambat. Kendra sedang duduk bersantai ketika Elang dan Senja tiba.


"Honeymoonnya sama Kend?" tanya Senja.


"Honeymoonnya berdua dong, masa bertiga," sahut Elang.


"Terus dia?" menunjuk Kendra dengan dagunya.


"Nona belum tahu ya , kalau bos itu selain cinta sama nona, dia juga nggak bisa berpaling dari saya, Honeymoon saja saya nggak ketinggalan kan?" celetuk Kendra asal.


"Kalau begitu kamu saja yang honeymoon sama dia," ucap Senja, ia membayangkan jika nanti saat sedang jalan-jalan romantis di ikuti oleh Kendra yang nemplok kepada suaminya terus. Ia dan Elang juga butuh privacy, pikir Senja.


"Nona cemburu ya sama saya, emang bos mah gitu, cinta sama saya tapi tidak berani bilang," jawaban Kend membuat Elang menatapnya tajam.


"Jangan dengarkan dia. Kau sudah membuktikan sendiri kan kalau aku jantan. Dia ikut karena ada pekerjaan yang penting di sana, nanti kamu juga tahu," ujar Elang.


"Iya nona saya tahu diri, mana mungkin saya ngintilin orang bulan madu, yang ada kalian malu saya liatin saat begituan kalau saya ikut bulan madu," serobot Kendra.


"Kenapa nona kayak tidak suka ya saya ikut, beneran karena kerjaan nona, bukan buat jadi obat nyamuk kalian," lanjut Kendra.


"Bukannya begitu, sepertinya kamu selalu nemplok sama suami saya, emang kamu tidak punya kesibukan lain selain bekerja, sama pacar misalnya,"


"Dia jomblo," Elang yang menyahut.


"Udah ah, jangan di bahas, saya tegaskan saya ikut ke Paris karena tugas negara bukan karena saya jomblo yang haus pemandangan romantis dari pasangan yang sedang di landa Bucin," Kendra langsung berjalan mendahului Elang dan Senja.


Perjalanan ke Paris dari Jakarta membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar enam belas jam lebih.


Di dalam jet, Senja duduk di samping Elang yang duduk berhadapan dengan Kendra.Elang dan Kendra sedang membahas apanyang akan mereka lakukan setelah sampai di Paris nanti.


"Pertama, kita harus menemui tuan Albert, beliau adalah mantan kaki tangan tuan Bailey. Sepertinya beliau yang akan menjadi kunci utama kita nanti," ucap Kendra keada Elang.


"Baiklah aku mengerti, secepatnya kita temui dia setelah sampai nanti," jawab Elang.


Elang dan Kendra terus membahas masalah mengenai Senja, eh yang di omongin tidak sadar sama sekali. Senja hanya mendengarkan percakapan dua laki-laki itu tanpa ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan, mungkin masalah pekerjaan, pikir Senja.


"Boo, aku ke kamar dulu ya?" ucap Senja tiba-tiba karena mengantuk.


"Ngantuk?" Elang menoleh ke arah istrinya.


"Hem," Senja mengangguk.


"Baiklah, segera aku susul," ucap Elang.

__ADS_1


"Masih sore bos, udah main mau susul-susul aja," cebik Kendra.


Elang tak menanggapi ocehan tak berakhlak dari Kendra, "Masuklah," ucapnya kepada Senja yang kini sudah berdiri dan bersiap untuk masuk ke kamar khusus di dalam jet pribadi tersebut. Elan menarik tangan Senja lalu mencoum bibirnya sekilas.


"Udah sana," ucap Elang setelah satu kecupan bibir ia berikan.


Senja menoleh melihat Kendra yang pura-pura cuek dengan adegan di depannya, lalu ia pergi meninggalkan Suaminya dan Kend yang masih ada sedikit pembahasan.


"Bisa tidak kalau mau uwu-uwu di kamar saja, otak saya jadi ambyar bos," uca Kendra setelah Senja pergi.


Elang cuek, ia justru kembali melihat berkas-berkas yang ada di depannya. Setelah di rasa cukup pembicaraan mereka, Elang pun beranjak dari duduknya.


" Mau kemana bos?" tanya Kendra.


" Kamar," jawab Elang.


" Kenapa, mau ikut?" imbuhnya.


"Ogah, ya kali begituan saya ikut, bertiga mainnya dong jadinya. Emang ikhlas bos?" goda Kendra.


Elang langsung melayangkan tatapan membunuh mendengarnya.


"Nggak ridho lahir batin," ucap Elang tegas dan langsung ngeloyor pergi.


"Eh beneran di susul dong, masih juga sore udah ngamar aja. Aku sendirian ini?" gumam Kendra sambil menyesap kopi yang di suguhkan oleh pramugari khusus yang bertugas di jet tersebut.


"Jika waktu malam sudah tiba, bangunkan aku, tapi ketuk pintunya dulu jangan asal masuk!" Elang kembali hanya untuk mengatakan hal itu kepada Kendra dan langsung menghilang kembali.


"Nggak ketuk pintu dulu seru kali ya, aku masuk pas mereka..." Kendra senyum-senyum sendiri membayangkan yang iya-iya


🌼 🌼 🌼


Setelah cukup lama mengudara, akhirnya mereka bertiga sampai juga di negara tempat dimana Senja dilahirkan. Baru menginjakkan kaki di Bandara saja, hatinya sudah deg-degan. Tak sabar ingin melihat indahnya kota romantis tersebut. Dan ada satu hal yang paling membuat dia penasaran, yaitu makam kedua orang tuanya. Meskipun sebenarnya ia berharap bisa bertemu mereka tapi takdir sudah menentukan jika orang tuanya memang telah tiada.


"Sayang ayo!" Elang mengulurkan tangannya kepada Senja, ia mengajakanya turun dari jet. Setelah menghela napasnya dalam, Senja menyambut uluran tangan suaminya dan mamantapkan langkah kakinya untuk menapaki kota cinta yang terkenal akan kecanggihan bangunan dan keanggunannya tersebut, di ikuti Kendra di belakang. Ini pertama kali Senja menginjakkan kakinya di Paris setelah puluhan tahun meninggalkan negara tersebut.


Elang mengajak Senja untuk segera masuk ek dalam mobil yang sudah di siapkan menuju ke hotel dimana mereka akan menginap selama di Paris. Mereka tidak memakai jasa tour guide secara khusus selama di Paris karena Elang ingin menikmati bulan madu mereka tanpa gangguan selain Kendra yang pasti akan di sibukkan dengan urusan kedua mereka ke Paris selain bulan madu. Mungkin jika di perlukan, baru Elang akan memakai jasa tour guide hotel tempatnya menginap.


Selama perjalanan ke hotel, Senja tak henti-hentinya melihat takjub sekitaran jalan yang mereka lewati hingga mereka sampai di hotel.


"Jangan kebanyakan menganga, nanti kembung kena angin," goda Elang. Senja langsung mencebik, wajar saja ia takjub melihat keindahan kota tersebut karena ini pertama kalinya. Meskipun masa kecilnya di Paris, tapi ia sudah lupa mengingat usianya waktu itu baru tiga tahunan. Bahkan semua memory tentang Paris hilang, hanya tahu kalau asal usulnya dari sana dari cerita sang kakek.


Elang terkekeh melihat tingkah lucu sang istri.

__ADS_1


Saat menginjakkan kakinya di lobby hotel, Senja sudah di buat takjub akan desain hotel yang begitu mewah dengan di penuhi hiasan bunga di sana sini yang mana sangat memanjakan matanya.


"Setelah ini kamu akan semakin takjub sayang," Ucap Elang menarik pinggang Senja possesif sembari menunggu Kendra check in.


Tak butuh waktu lama, Elang dan Senja sudah bisa menuju ke kamar mereka yang sudah di booking beberapa hari sebelumnya.


" Kau istirahatlah dulu Kend," titah Elang kepada Kendra mengingat mereka tadi sampai di bandara sekitar pukul tujuh pagi waktu Jakarta, sedangkan di Paris masih pukul dua dini hari karena selisih lima jam dari Jakarta.


"Baiklah bos, selamat istirahat bos, nona," ucap Kendra yang langsung berjalan menuju kamarnya dengan diikuti satu room boy. Sementara Elang juga langsung mengajak Senja menuju suite penthouse mereka dengan diantar seorang room boy juga.


Ya, Elang sengaja memesan Suite penthouse berlantai dua di sebuah hotel mewah berbintang lima di Paris. Jarak antara hotel dan icon kota paris yaitu Menara Eiffel hanya berjarak kurang dari 2 KM saja dimana kamar penthouse tersebut langsung menghadap kearahnya sehingga ketika membuka mata, akan dimanjakan oleh keindahan kota paris dan juga salah satu landmark paling terkenal di dunia, yaitu menara eiffel yang terletak di Champ de mars, Paris, Perancis.


Senja langsung mengedarkan pandangannya mengelilingi ruang tamu penthous tersebut yang di desain dengan megahnya.


Elang mengajak Senja untuk ke kamar dimana mereka akan menghabiskan sebagian besar waktu bulan madu di sana. Senja langsung mengempaskan tubuhnya di kasur berukuran besar di kamar yang di dominasi warna pastel dan emas tersebut. Elang langsung ikut merebahkan dirinya di samping sang istri, menarik pinggang Senja hingga badan wanita itu miring menghadap dirinya.


"Kau suka?" tanya Elang tersenyum sambil menyingkirkan rambut yang sedikit menutupi wajah Senja.


"Sangat," sahut Senja seraya mengulum senyum termanisnya. Satu kecupan singkat mendarat di kening wanitanya pemilik Elang coro. tersebut.


Senja mendekatkan kepalanya ke ceruk leher Elang. Refleks, Elang semakin mengeratkn pelukkannya. Senja mendongak dan bibirnya langsung menyentuh leher sang suami.


"Sayang tidurlah dulu, aku lelah kita mainnya besok saja," ucap Elang dengan mata terpejam, ia pikir Senja sedang menginginkan tubuhnya.


Senja langsung menunduk malu, ia tak sengaja mencium leher suaminya, tadi ia hanya ingin mengucapkan terima kasih sebenarnya. Tapi detik kemudian, Senja mengernyit, tumben suaminya tidak menginginkannya, berarti dia benar-benar sedang merasa lelah, pikir Senja.


Tak lama kemudian, suara dengkuran halus sudah terdengar oleh Senja yang artinya Elang benar-benar sudah terlelap ke alam mimpinya.


Senja yang belum terbiasa dengan waktu setempat tak bisa memejamkan matanya, karena jika di Jakarta saat ini adalah sudah waktunya bangun, bahkan memulai aktivitas. Ia merubah posisi sehingga kini wajah suaminyabtepat berada di depan wajahnya. Senja menyusuri setiap lekuk wajah sang suami menggunakan punggung jari telunjuknya dengan mesra. Tak henti-hentinya ia mengagumi wajah tampan suaminya yang tidak memiliki cacat sedikitpun meski sering kena tonjok saat berantem tersebut. Bahkan keindahan wajah itu mampu mengalihkan pemandangan indah kelap kelip cahaya yang menghias menara Eifell di malam hari yang bisa terlihat dari kaca pintu dan jendela kamar tersebut. Ya, Senja bahkan tak menyadari keindahan itu karena terhipnotis keindahan mahakarya Tuhan yang kini hampir tak berjarak tersebut.


"Terima kasih my Boo," satu kecupan ia daratkan di kening Elang beralih ke bibirnya. Dengan satu kali gerakan Elang mengubah posisi mereka hingga kini Senja berada di bawah kungkungannya.


"Bandel, di suruh tidur malah sengaja menggoda," ucap Elang.


Rupanya tidurnya terusik dengan ulah jari Senja.


"Maaf, aku nggak bisa tidur Boo," jawab Senja menyesal karena telah membangunkan sang suami.


Elang tersenyum dan langsung mencium bibir Senja, "Ciuman pengantar tidur, pejamkan saja matamu. Harus mencoba menyesuaikan dengan kondisi dan waktu di sini," ucap Elang ia kembali merebahkan diri di samping Senja dan memeluknya. Senjapun mencoba memejamkan matanya, ia tak ingin mengganggu suaminya yang memang lelah.



Jangan lupa like, komen dan hadiahnya, terima kasih 🤗 🤗

__ADS_1


Jangan lupa juga mampir di audiobooknya Senja untuk Elang 🙏🙏


Salam Hangat author 🤗❤️❤️


__ADS_2