
Dan keesokan harinya...
Suasana kediaman Erlangga begitu ramai dan di penuhi kebahagiaan. Bagaimana tidak, saat ini adalah hari ulang tahun putri kecil mereka Zea Manika Eleanor Erlangga yang pertama. Elang dn Senja sengaja mengundang seluruh kerabat dan sahabat untuk ikut merasakan kebahagian mereka.
Semua berkumpul menjadi satu dalam rumah tersebut, kecuali Gisel dan Gavin yang masih enggan menginjakkan kaki mereka di tanah air, masih dalam proses penyembuhan luka hati mereka dan juga pencarian jati diri. Namun, ketidak hadirkan mereka tak mengurangi kebahagiaan keluarga Parvis.
Acara tersebut, juga di gunakan oleh daddy Alex dan mommy Anes sebagai acara reuni mereka dengan para sahabat mereka yang kini jarang sekali bisa berkumpul.
Rasa haru dan bahagia menajdi satu. Apalagi kini, mommy dan daddy akan menyambut kelahiran cucu ke dua mereka. Tentu saja mereka bangga dan pamer kepada para sahabatnya.
Diantara para sahabat daddy Alex, baru Juna lah yang akan menyusul menyandang status kakek. Pasalnya, kini Bianca tengah hamil tujuh bulan dengan suaminya, yang tak lain adalah Ervan.
Ya, pada akhirnya Bianca yang awalnya kekeh soal karir pada akhirnya luluh juga akan pesona seorang Ervan. Dan kini pasangan itu sedang menanti kelahiran bayi pertama mereka.
Memang benar, jodoh bisa datang akan saja di saat dan waktu yang tepat.
"Aduh, jangan cepat-ceat jalannya dong, kak. Aku berat ini jalannya! Udah tahu perut istri udah besar, jalan nggak ada remnya," terdengar suara Bianca yang baru saja datang mengomeli suaminya yang terlihat santai saja, seolah omelan ibu hamil itu hal yang biasa.
"Iya iya, ini jug pelan jalannya, sayang. Tahu perutnya berat, kemana-mana kok di bawa, kenapa nggak di tinggal di rumah aja tadi perutnya," kata Ervan bercanda.
"Kakak! Sembarangan ih kalau ngomong! Ini juga begini jadinya kerana ulah kakak! Mana bisa di tinggal, kalau bisa di pindah udah aku pindah ke perut kak Ervan nih, biar kak Ervan ngerasain hamil gede kayak gimana,"
Seasang suami istri yang belum genap setahun menikah itu terus berdebat mesra sambil berjalan.
"Senja! Ya ampun, udah gede juga ternyata!" Bianca memeluk Senja yang menyambut kedatangannya.
"Kamu juga, kayaknya sebentar lagi ya?" Senja mengusap perut Bianca.
"Dua bulanan lagi, sebel aku tuh. Baru juga nikah, udah langsung di hamili aja, sama dia!" Bianca melirik kearah suaminya sebal. Yang di lirik hanya cuek saja. Seolah tak merasa di sindir.
"Nggak apa-apa, justru lebih cepat lebih baik. Aku malah udah mau dua, udah kayak kejar setoran aja. Hihi. Biar rumah jadi ramai banyak anak kecil," kata Senja yang memang menyukai anak-anak.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong yang ulang tahun mana nih, kok belum kelihatan?" Ervan menanyakan keberadaan baby Zea.
"Ada, lagi siap-siap sama daddinya,"
"Kak Elang? Zea, Anak daddy?" tanya Bianca tak percaya.
"Hehem, anak daddy banget. Apa-apa harus daddy, no mommy. Pokoknya daddinya hanya milik Zea seorang, momminya cuma boleh nyewa sesekali," jelas Senja terkekeh.
Di sudut lain terlihat pasangan yang terjebak dalam friendzone. Siapa lagi jika bukan Kendra dan sarah. Sarah yang mengetahui jika Kendra masih belum bisa move on dari Gisel hanya bisa memasukkan dirinya dalam kategori teman yang nyaman untuk Kendra. Ia lebih memilih menjalani apa yang ada dari pada harus mengambil resiko tentang hubungan mereka saat ini. Waktu lah yang akan menjawab, apakah kata friendzone tersebut akan berubah menjadi lovezone.
Dino, sepupu angkat Senja juga tampak hadir dalam pesta tersebut. Atas persetujuan Elang, kini Dino sudah mulai magang di BaileyTex. Dan nanti setelah lulus kuliah, ia akan langsung bekerja di sana. Senja tak pernah melupakan adiknya tersebut, karena Dinolah yang dulu selalu bersikap baik kepadanya. Dini ikut bahagia melihat kebahagiaan Senja saat ini. Hal yang selalu ia doakan sejak dulu.
"Itu dia Zea-nya!" Senja menghampiri Zea yang tampak sangat cantik dan manis dalam balutan gaun bermotif litle ponny dengan warna senada dengan kemeja dan gaun Elang dan Senja kenakan.
Bayi cantik yang sekarang genap berusia satu tahun tersebut mengalungkan tangannya di leher Elang, ia mengamati setiap sudut ruang yang di hias dengan tema yang sama dengan motif gaunnya.
Setiap orang yang melihat bayi cantik itu pasti terpesona, perpaduan yang sempurna antara Daddy dan momminya.
"Papi papi, enak aja!" sergah Senja cepat.
"Heh, nggak sadar, waktu Si cumi lagi terjebak jaman jahiliyah, siapa yang jagain kamu waktu hamil gede? Aku, Nja, aku! Jadi wajar dong kalau Zea manggil aku papi," seloroh Ervan bercanda.
"Sini, Nak. Sama papi!" Ervan yang gemas terus menggoda Zea yang menatapnya dengan aneh, bahkan matanya sudah berkaca-kaca hampir menangis.
"Anakku ini, dia takut lihat kamu kayaknya, mau nangis gini coba. Makanya Kondisikan itu muka," cebik Elang.
"Dih wajah ganteng gini, Dia itu sangking terpesonanya lihat wajah paginya yang ganteng ini, iya kan, anak papi?" Ervan masih saja menggoda baby Zea.
"Kakak! Jangan di goda terus, kasihan, lagian ini udah mau punya sendiri satu!" omel Bianca.
"Eh, boleh gendong nggak sih? Sini sama Onty, bayi cantik!" Bianca yang gemas ingin sekali menguyel-uyel baby Zea.
__ADS_1
"Sayang, kamu bawa anak sendiri dalam perut saja tadi udah ngeluh berat, kalau tambah Zea, nggak bis jalan bisa-bisa," kata Ervan. Yang di balas decakan oleh Bianca.
"Berisik banget sih, kak. Ayo sayang, di gendong sama Onty,"
Baby Zea menggeleng saat tangan Bianca maju untuk menyentuhnya.
"Kalian ini dari dulu perasaan ribut mulu, tapi kenapa Bianca bisa hamil ya?" ujar Senja terkekeh.
"Lah, dia kan jadi karena keributan kami di kasur. Emang Zea nggak hasil ngerusuh di kasur?" Ervan balik bertanya.
"Klian pasti lebih ribut lagi, buktinya langsung tokcer udah mau dua aja," imbuh ya cepat.
Bianca seperti tak kehabisan akal demi bisa menggendong baby Zea. Namun, bayi itu tetap saja menolak dengan keras.
"Udah, pokoknya kalau udah sama daddinya, dia nggak mau sama siapa-siapa," ucap Senja.
Acara ulang tahun baby Zea sekaligus reuni tersebut berlangsung sangat meriah dan di penuhi kebahagiaan.
Diam-diam, Senja menghapus air matanya karena bahagia. Orang-orang yang dulu sangat terasa asing baginya kini mereka adalah orang-orang yang begitu mencintainya. Berada di tengah-tengah mereka, membuat Senja benar-benar bersyukur.
Hidupnya yang penuh liku dan luka di masa lalu, seakan semuanya terbayar sudah dengan kebahagiaan yng ia dapatkan sekarang. Ia benar-benar bersyukur karena Tuhan begitu baik dengannya. Di saat ia berada di titik terendah dalam hidupnya, Elang datang dengan membawa penawar luka di hatinya.
Di tengah canda tawa dan hiruk pikuk orang-orng itu, Senja merasakan ada yang tidk beres dengan perutnya.
"Aduh!" pekiknya. Membuat semua orang menoleh kepadanya tak terkecuali suaminya, Elang yang sedang mengobrol dengan daddy Alex. Sementara baby Zea sudah terlelap tidur dalam gendongan baby sitternya karena lelah.
"Sayang, kenapa?" tanya Elang khawatir.
"Aduh, boo. Kayaknya aku mau lahiran. Mules banget ini perut!" ucap Senja sambil mencengkeram lengan suaminya. Membuat semua yang ada di sana panik. Terutama Elang. Sepertinya sesi begadangnya akan segera diperpanjang sebentar lagi.
🌼 🌼 🌼
__ADS_1
💠💠Masih satu part lagi dan end.... Jangan lupa tetap like dan komen, ya 😊😊💠ðŸ’