Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 86


__ADS_3

Beberapa menit lamanya Elang dan Senja menunggu di samping mobil yang tak kunjung bisa di buka tersebut. Elang mengintip ke dalam, ternyata Kendra tertidur, "Astaga, dia tidur atau mati," kesalnya karena Kendra tak jug bangun setelah kaca mobil di ketuk-ketuk.


"Cepat bangunin Boo, nanti kehabisan oksigen di dalam dia," kata Senja panik.


"Sengaja mau bunuh diri kali si Kend, udah bosan hidup," sahut Elang cuek.


"Ck. Kau ini. Cepat telepon dia, biar bangun," suruh Senja.


"Malas, boleh aku pecahin aja kacanya?" itung-itung sebagai pelampiasan kekesalannya tadi, pikirnya.


"Jangan, sini ponselnya," Senja mendekat dan merogoh ponsel di saku celana suaminya, "Lampiaskan saja setelah ini, padaku," ucapnya seraya mengusap dada Elang. Membuat Elang langsung lemes mendengarnya.


Elang tersenyum dan langsung merebut ponsel yang di pegang oleh Senja. "Biar aku saja," ucapnya. Dan setelah ponsel Kendra berdering dan bergetar beberapa kali, akhirnya laki-laki itu bangun juga.


"Buka Kend, dasar!" teriak Elang menggedor-gedor kaca. Kendra langsung menurunkan kaca mobilnya, "Ada apa bos?" tanyanya polos.


"Astaga kenapa malah bertanya ada apa? Kau mau bunuh diri? Tidur di mobil semua pintu di kunci begini, buka!" sungut Elang, nggak tahu apa kalau bosnya itu sudah tak sabar ingin menjalankan sebuah misi.


"Astaga, aku ketiduran beneran," cepat-cepat Kendra membuka pintu mobil jok belakang.


"Silahkan bos!" ucap Kendra.


"Hah, kau ini, hobinya ketiduran, ck.Dasar!"


"Boo, udah. Sabar..." Senja kembali mengusap-usap dada berbalut jas berwarna hitam tersebut.


"Salah teroooos, kenaoa nggaj mengemudi sendiri sih tadi pulangnya. Datang nggak di jemput, tapi pulang minta di antar. Udah gitu ngamuk lagi," gumma Kendra.


"Aku nggak budeg Kend," sungut Elang mendengar gumaman Kendra.


🌼 🌼 🌼


"Pelan-pelan sayang jalannya," ucap Elang yang dengan sabar menuntun Senja berjalan menuju ke penthousenya. Mata Senja yang terpejam dan di tutup dengan satu tangan Elang membuatnya sedikit lambat berjalan.


"Udah sampai belum Boo?" tanya Senja tanpa berniat membuka matanya, tangannya meraba-raba seraya berjalan pelan.


"Sebentar lagi," ucap Elang mengisyaratkan keoad istrinya untuk berhenti karena kini mereka sudah berada di depan pintu.


"Siap ya?" ucapnya lagi.


Senja mengangguk pasrah. Dan satu... Dua.. Tiga... Elang membuka pintu penthouse bersamaan dengan menyingkirkan tangannya dari mata Senja, "Boleh buka mata sekarang," ucapnya.


Senja langsung melongo tak percaya, baru masuk ke ruang tamu saja suasana romantis sudah sangat terasa. Lampu yang sengaja di matikan dan menggantinya dengan lilin-liln yang menyala cantik di letakkan di tepi bunga mawar yang menghiasi lantai bak karpet merah.


Senja menoleh ke belakang dimana suaminya berada, "Boo...?" matanya mengernyit sedangakan bibirnya tersenyum tipis.


Elang mengangguk, "Masuklah, kejutannya ada di atas," ucap Elang.


Ragu-ragu Senja menginjak kelopak bunga yang aromanya semerbak tersebut. Sayang sekali bunga-bunga segar itu jika harus diinjak, pikirnya. Namun, tak ingin mengecewakan suaminya ia tetap melangkahkan kakinya menginjaki bunga-bunga tersebut sepanjang jalan menuju ke kamar di lantai dua.

__ADS_1


Saat masuk ke kamar, pandangan senja langsung tertuju pada ranjang berukuran king size di depannya. Kelopak bunga mawar merah berjajar rapi membntuk bingkai hati di mana di tengahnya terdapat tulisan "Je t'aime" yang artinya aku cinta kamu. Ia berjalan di tengah lilin-lilin yang berjajar rapi sampai ke samping tempat tidurnya.


Langit-langi kamar tersebut penuh dengan balon berbentuk hati berwarna merah. Hampir seluruh ruangan tersebut penuh dengan kelopak mawar yang tersebar di beberapa titik tanpa terkecuali lantai yang juga membentuk hati dengan dikelilingi cahaya lilin, romantis sekali.


Elang mendekati Senja yang masih mematung mengamati suasana kamar yang begitu romantis tersebut, "Selamat ulang tahun istriku," bisiknya tepat di telinga Senja seraya mengalungkan sebuah kalung berlian. Kalung berlian dengan bubuhan berlian biru berbentuk hati yang di kelilingi puluhan berlian putih.


Kalung itu terlihat simpel namun sangat elegan. Sangat pas melingkar di leher jenjang milik Senja. Elang sengaja memesan kalung berlian yang sangat mirip dengan kalung yang di kenakan oleh rose dalam film titanic tersebut karena ia tahu Senja sangat menyukai film tersebut, bahkan ia pernah cerita sangat ingin memiliki replika kalung tersebut. Ia tak masalah harus mengeluarkan uang lebih dari 250 M untuk kaku bwrlian tersebut. Baginya, Senja lebih dari segalanya.


Senja hanya mampu mengangguk, ia tidak bisa berkata-kata lagi, ini sungguh membuat dadanya bergemuruh haru. Ia tak menyangka suaminya sudah menyiapkan semua ini untuknya. Ia kira Elang lupa dengan ulang tahunnya, namun ternyata tidak sama sekali.


Senja meraba kalung yang kini sudah melingkar sempurna di lehernya tersebut, wajahnya menunduk mengamati kalung itu, "Boo... Ini..."


"Bagaimana apa kau suka?" tanya Elang, tangannya sudah melingkar di perut Senja, dagunya bertumpu pada pundak kiri sang istri.


Lagi-lagi Senja hanya mampu mengangguk, ia langsung menyesali prasangka buruknya sejak pagi tadi yang mengira lang tak peduli dengan ulang tahunnya. Senja langsung memutar badannya menghadap Elang.


Cup! Satu kecupan Senja daratkan di bibir Elang, "Makasih Boo, Je t'aime!" serunya.


"Moi aussi, je t'aime. Ma Cherie (Aku juga mencintaimu, sayang)" balas Elang.


"Prends moi dan tes bras (Berikan aku sebuah pelukan)" Elang merentangkan kedua tangannya tanpa berhenti tersenyum.


🌼 🌼 🌼


Senja langsung menyusup ke dalam pelukan Elang, memeluknya erat sekali. Ia sangat senang sekali. Bukan soal hadiahnya yang bahkan ia tak tahu berapa harganya, melainkan soal perhatian suaminya yang luar biasa tersebut.


"Sangat, makasih suamiku,"


"Sama-sama istriku," Elang menoel hidung Senja dengan punggung jari telunjuknya.


"Apa ini berlian asli?" tanya Senja.


"Apa kau pikir aku akan membeli yang imitasi?"


"Tentu saja tidak, berapa harganya? Apakah ini mahal?"


"Ayolah sayang, jangan merusak suasana yng sudah romantis ini dengan bertanya soal harga," ratap elang dalam hati. Pasalnya jika Senja tahu harga kalung itu, pasti akan kejang, pikirnya.


"Kalung ini tidak ada harganya, kau lebih berharga dari apapun. Jadi berhenti bertanya dan jangan berpikir untuk menukarnya dengan uang," jawabelang diplomatis.


"Baiklah, tapi jangan cemberut begitu, akubtak mungkin menjualnya sekalipun aku miskin," sahut Senja, sepertinya ia lupa jika dirinya adalah istei Erlangga dan juga pewaris BaileyTex yang masih dalam sengketa.


Elang kembali tersenyum dan menarik tangan Senja supaya mengikutinya. Mereka sampai di balkon kamar. Lagi-lagi suasana romantis sangat kentara di sana. Sebuah meja bundar berukuran sedang yang di penuhi makan malam dan juga cahaya lilin, berhias bunga mawar merah. Tak lupa pemandangan menara Eiffell di malam hari menambah suasana romantis tersebut.


Elang menarik kursi dan mempersilakan Senja untuk duduk. Kemudian ia berjalan menuju kursi yang akan ia duduki. Makan malam romantis pun tak luput dari agenda malam itu. Senja benar-benar merasa bak seorang ratu, ya ratu di hati Elang.


"Aku kira kamu lupa dengan ulang tahunku," ucap senja di sela-sela makan malam romantis itu.


"Bagaimana bisa aku lupa dengan ulang tahun istriki sendiri, tentu saja aku harus mengingatnya atau aku tidak akan dapat jatah seminggu," kata Elang.

__ADS_1


"Ck, kenapa sampai ke situ bahasnya, aku cuma bilang kirain lupa. Padahal waktu Bianca yang ulang tahun kamu ingat,"


"Hem, jadi sejak pagi ngarep ucapan selamat dari aku ya? Kenapa nggak bilang sih? Aku sengaja emang , biar sureprise," meletakkan sednok dan garpu yang ia pegang dan beralih memegang tangan Senja, ia menautkan jari-jarinya ke jari jemari Senja.


"Nggak apa-apa, aku tahu kok, nggak mungkin lupa. Aku aja yang perasa, maaf hee," ucap Senja meringis.


🌼🌼🌼


Selesai makan malam, Elang pergi ke ruang kerja sebentar, ada yang ingin ia bicarakan dengan Kendra. Apa lagi kalau bukn soal BaileyTex. Sebelum keluar kamar, ia meminta Senja untuk membersihkan diri terlebih dahulu dan bersiap dengan agenda malam selanjutnya.


Sekembalinya Elang ke kamar, ia sudah mendesah lemas duluan karen istrinya tampak meringkuk di atas temoat todur yang masih penuh dengan bunga mawar merah tersebut.


Elang berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri, seluruh badannya terasa lengket karena aktivitas seharin tadi.


Masih dengan ramhur setengah basah, Elang mendekati ranjang. Perlahan ia merangkak naik, "Sayang, udah tidur ya?" ucapnya dengan nada kecewa, masa iya malam ini harus gagal lagi, pikirnya.


"Ya udah nggak apa-apa, selamat istirahat. Besok lagi aja nggak apa-apa, masih banyak waktu," gumamnya menghibur diri. Salahnyabjug tadi telepn dulu, coba kalau langsung dan teleponnya belakngan. Elang duduk di tepi ranjang, kakinya menjuntai ke bawah.


"Mana bisa aku langsung tidur gitu aja sebelum suami puas," tangan Senja sudah melingkar di dada Elang, badannya setengah berdiri bertumou pada kedua lututnya. Di ciumnya pipi sang suami.


Elang langsung tersenyum lega, "Jahil ya," ucapnya seraya mengusap-usap tangan yang memeluknya itu.


Entah siapa yang mulai, kini bibir mereka audah beradu saling memagut dengan posisi yang sama. Elang mencium bibir cherrynya dengan penuh gairah, membuat Senja sampai sulit bernapas. Tanganhya mendorong pelan dada Elang supaya melepas ciumannya, "Aku butuh bernapas boo," ucapnya cepat seraya mengatur napas ketika melihat dahi Elang mengernyit setelah di dorong oleh Senja.


"Maaf sayang, aku benar-benar nggak tahan kalau lihat bibir cherry ini," Tangan Elang mengusap bibir senja menggunakan ibu jarinya. Perlahan tangannya menarik dagu Senja seraya mendekatkan kembali wajahnya, dan sekali lagi bibir mereka kembali beradu.


Dengan posisi sedikit mendongak dan menoleh ke belakang seperti tu, membuat Elang merasa cengang di lehernya, ia menarik lengan Senja hingga tubuhnya ikut bergerak dan terduduk tepat di pangkuan Elang.


Elang melingkarkan tangannya di pinggang senja sementara senja menautkan jari jemari tangannya di tengkuk Elang. Sesaat, mata keduanya saling bersitatap dalam diam. Elang menelisisk setiap sudut wajah sang istri.


"Jangan menatapku seperti itu," ujar Senja menundukkan kepalanya. Ia masih saja malu jika Elang menatapnya lekat dan dalam apalagi wajah mereka hampir tak berjarak seperti itu.


Elang tersenyum lalu mengangkat dagu Senja supaya kembaki beradu tatap dengannya. Ia meniup mesra kedua mata Senja bergantian yang langsung membuat kedua mata lentik itu mengerjap bergantian, manis sekali pikir Elang.


"Ah Boo, jangan menggodaku terus," protes Senja.


Elang terkekeh, ia menyibakkan rambut Senja yang sedikit menutupi wajah ayunya dan menyelipkannya di belakang telinga. Sekali lagi Elang mengecup bibir Senja lalu beralih ke ceruk leher sang istri, membuat Senja merinding sekujur tubuhnya.


"Udah siap?" bisiknya tepat di telinga Senja, napasnya yang menderu, menerpa telinga Senja, membuat buku kuduknya semakin berdiri.


"Ya ampun, kenapa mesti tanya udah siap apa belum sih, sejak tadi juga siap, orang udah resah sejak tadi juga," batin Senja merutuk, seraya menikmati permainan bibir sang suami di lehernya.


Bibir Elang yang terus mengecup ceruk leher Senja bertubi-tubi, membuat Senja semakin gelisah.


🌼 🌼 🌼


πŸ’ πŸ’ 1600 kata ya, rencana mau dibuat dua episode tapi nggak jadi.. jangan bilng pendek πŸ™„πŸ™„... Yuk pncet like, ketik komen dan kasih kopinya juga boleh banget, votenya kalau masih sisa juga... Boleh boleh boleh πŸ˜„πŸ˜„


Tenkyuuuu 😘😘 πŸ˜ŠπŸ’ πŸ’ 

__ADS_1


__ADS_2