
Elang segera mengajak Senja turun ke bawah untuk menyambut kedua orang tuanya sebelum Alex dan Anes nekat naik ke atas duluan untuk mencari anak dan menantunya. Elang paham betul seperti apa jika orang tuanya sudah khawatir level tinggi. Mereka tidak akan sabaran menunggu.
Elang memegang tangan Senja, ia berjalan satu langkah di depan istrinya saat menuruni anak tangga.
"Aku bisa jalan sendiri, tak perlu di tuntun. Nggak akan kabur kemana juga akunya El," protes Senja.
Hadeh, ini anak siapa belum tahu asal usulnya kenapa tidak peka sama sekali sih di perlakukan romantis seperti itu, pikir Elang.
Elang hanya diam tak menanggapi, ia terus berjalan tanpa melepaskan tangan Senja dari genggamannya.
Setelah sampai di ruang tamu dan melihat kedua orang tuanya, barulah Elang melepaskan tangan Senja. Ia berjalan mendekati Alex dan Anes yang juga berjalan ke arahnya.
"Sayang, Kau baik-baik saja? Kau tidak kenapa-kenapa kan? Mommy sangat khawatir denganmu setelah mendengar berita itu," Anes berjalan melewati Elang seolah anak sulungnya itu tidak terlihat dan langsung memeluk Senja.
"Senja tidak apa-apa mom, Senja baik-baik saja. Mommy jangan khawatir," sahut Senja sambil membalas pelukan sang ibu mertua.
Sementara Alex berdiri tepat di depan Elang seperti ingin membuat perhitungan dengan putra kebanggaannya tersebut. Elang tahu pasti daddynya sedang menahan amarah level...ya ,masih sedikit rendahlah belum sampai meledak-ledak gara-gara berita itu.
"Mommy nggak khawatir sama El?"
"Ck, siapa dia? Ayo sayang kita ngobrol di tempat lain. Biarkan laki-laki ini menjadi urusan daddymu," Anes hanya melirik sekilas ke arah Elang. Membuat Elang tersenyum tipis.sambil menggelengkan kepalanya. Hah, sepertinya mommynya juga sedang kesal terhadapnya. Emang kenapa? Apa yang salah dengan Elang? Berita itu bukan dia yang buat, tapi sudah Elang duga pasti ia yang akan jadi sasaran pertama kekesalan kedua orang tuanya.
Anes mengajak Senja pindah ke ruang keluarga. Senja menghentikan langkahnya ia menoleh ke arah suaminya. Khawatir ayah mertuanya akan memarahi suaminya tersebut.
"Jangan khawatir, tidak akan sampai di makan oleh daddy, suamimu, ayo!" ucap Anes bercanda.
"Kan apa aku bilang! Drama anak kandung rasa anak tiri benar adanya!" celetuk Elang bercanda.
"Jangan dengarkan, ayo!" ucap Anes ketika Senja lagi-lagi menghentikan langkahnya.
Anes menahan tawa, melihat menantu kesayangannya terlihat khawatir dengan keselamatan suaminya, padahal juga tidak akan diapa-apakan.
Anes tahu, Elang pasti akan membereskan semuanya. Yang terpenting sekarang adalah menghibur menantu kesayangannya.
"Kau terus memandangi istrimu seolah dia makanan yang sangat lezat sampai tidak berkedip begitu," ucap Alex lirih, ia ikut memandangi istrinya yang kini sedang berjalan bersama Senja.
"Bahkan lebih dari itu rasanya," celetuk Elang tanpa sadar.
"Ehem!" Alex berdehem keras untuk membuyarkan lamunan Elang.
Sadar dari lamunannya, Elang mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Mengerti maksud sang ayah, Elang langsung berjalan menuju ke tuang kerjanya. Alex mengekorinya dari belakang.
"Duduk dulu, kalau mau marah. Takutnya Encok kumat marah-marah sambil berdiri, salah urat malah El yang repot," ucap Elang. Alex mencebik, sempat-sempatnya anaknya itu menggodanya.
"Kend, sudah mengurus semuanya," ucap Elang sebelum ayahnya memborbardir sejumlah pertanyaan.
__ADS_1
"Jelaskan! Kenapa sampai bisa kecolongan seperti ini? Kenapa bisa berita murahan seperti itu mengusik rumah tangga kalian? Pernikahan kalian sengaja sudah diundur bahkan sampai dua bukan untuk mengantisipasi berita semacam itu, tapi kenapa masih bisa kecolongan?" tanya Alex.
"Kau sendiri yang kekeh ingin menikahi Senja, buka Senja yang mengejarmu, jadi Kau harus bertanggung jawab atas berita itu. Segera membereskan semuanya. Daddy tidak mau tahu, segera adakan konferensi pers dan klarifikasi semuanya sejelas mungkin! Jika tidak bisa melindungi istrimu sesuai janjimu, lepaskan dia!" Alex berkata dengan sangat tegas.
"El mengerti, El sudah mengatur semuanya dad, besok konferensi pers bisa diadakan setelah semuanya siap, termasuk mental Senja menghadapi kamera," balas Elang, pasalnya ia tahu Senja tidak terbiasa berhadapan dengan banyak wartawan dan juru kamera.
"Itu tugasmu meyakinkan dan membuat Senja tetap merasa nyaman dan aman,"
"Hem, El paham," Elang tahu, pasti kemarahan ayahnya hanya sebatas ini, tidak akan sampai yang bagaimana-bagaimana karena Alex juga tahu ini bukan kesalahan Elang sepenuhnya. Dan memang seperti itulah Alex, meski terlihat sangat marah, tapi ia tidak pernah sampai memakai emosi yang meledak-ledak terhadap anak-anaknya.
πΌπΌπΌ
Konferensi pers akan diadakan hari ini. Elang sedang menunggu Senja turun ke bawah setelah ia menelepon Kendra di ruang kerjanya.
Elang menoleh ke arah tangga di mana istrinya kini sedang berjalan menuruni satu persatu anak tangga.
"Sudah siap?" tanya Elang tersenyum.
Senja mengangguk mantap. Jika semalam ia masih ragu dan takut, tapi nyatanya Elang berhasil meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja selama ada dia di samping istrinya. Senja hanya perlu duduk manis tanpa menunjukkan sisi lemahnya di depan publik. Sisanya Elang yang akan mengurus.
"Jangan gugup, Kau hanya perlu menjadi nyonya Erlangga yang kuat, sisanya serahkan padaku," ucap Elang sebelum turun dari mobil alphard miliknya.
Elang turun duluan dari mobil ketika orangnya membukakan pintu mobil. Ia mengulurkan tangannya kepada Senja yang menyusulnya keluar setelah menyambut uluran tangan suaminya.
"Bos..." Kendra yang sudah standby di tempat, menyambut kedatangan Elang dan Senja.
Elang mencebikkan bibirnya mendengar Kendra memuji istrinya meskipun pujian itu benar adanya. Kalau tidak sedang berada di depan umum, sudah ia jitak tuh kepala Kendra.
"Urusan kita belum selesai," bisik Elang sambil berjalan menuju ruangan yang sudah Kendra siapkan sambil menunggu Alex dan Anes datang untuk mendampingi mereka melakukan konferensi pers.
"Astaga, memang benar nona itu cantik bos, saya mengatakan yang sebenarnya. Cemburu ya? Lah emang bos yang nggak pernah berkata romantis,"
"Aku lebih suka bertindak romantis daripada berkata romantis. Titik no debat!" pupus Elang karena sadar ada banyak wartawan yang memperhatikan jalan mereka. Namun, para wartawan itu tidak ada yang berani mengambil gambar maupun bertanya kecuali acara sudah mulai nanti.
Tak berselang lama menunggu, akhirnya pasangan Alex dan Anes datang. Karena semua sudah hadir, meraka segera menuju ke acara konferensi pers.
"Kita akan membahas intinya saja, apa yang perlu untuk di bahas saja, tidak akan membahas hal-hal lain yang tidak berkaitan dengan acara hari ini. Silahkan mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan berita yang kemarin beredar saja," ucap Kendra tegas kepada para wartawan sebelum acara di mulai.
"Tuan Erlangga, apakah Anda dan istri anda sudah mengenal sejak lama?" pertanyaan pertama yang terlontar, masih adem dan biasa.
"Belum lama," jawab Elang singkat.
"Bagaimana photo yang menunjukkan Anda sedang mencium nona Senja?" pertanyaan wartawan lain.
"Apa salah jika calon suami mencium istrinya?" Jawaban menohok Elang.
__ADS_1
"Lalu apa yang membuat Anda yakin menikahinya jika kalian baru saja saling mengenal?"
"Dia wanita baik yang saya yakini di kirim oleh Tuhan sebagai jodoh saya. Sehingga tidak perlu waktu lama untuk yakin menikahinya. Kami berkomitmen untuk saling mengenal setelah menikah," jawab Elang.
Senja menoleh ke arah suaminya, jawaban Elang membuat hatinya tersentuh terlepas itu benar atau hanya pencitraan di depan kamera.
"Lalu nona Senja, apa yang membuat Anda menerima tuan Erlangga sebagai suami Anda? Bukankah Anda tau kalau tuan Erlangga menjalin hubungan dengan nona Bianca? hal itu sudah menadi rahasia umum, bukan?"
Elang ingin menjawab pertanyaan itu, seperti janjinya, ia tidak ingin Senja merasa tersudutkan. Ia hanya perlu duduk manis saja. Namun, tangan Senja menyentuh tangan Elang, mengisyaratkan untuk tidak bicara. Karena dia sendiri yang akan menjawab.
"Seperti Yang suami saya katakan, jika sudah jodoh, jika tidak bisa menghindarinya," jawab Senja mantab.
Elang menggenggam tangan Senja erat di balik meja konferensi pers.
"Saat menikah, apakah Tuan Erlangga dan Nona Bianca sudah putus?" apa maksud pertanyaan itu? menuduh Elang selingkuh begitu?
"Ya, saya dan Bianca sudah putus sebelum mengenal Senja," jawab Elang.
"Jika memang Anda dan Bianca sudah putus sebelum saling mengenal, apakah nona Senja hanya sebagai pelarian karena kandasnya hubungan Anda dan nona Bianca?" tanya seorang wartawan lainnya.
"Tidak," jawab Elang singkat.
"Apakah itu artinya Anda memang mencintai nona Senja?" pertanyaan yang sukses membuat semua yang ada kepo, termasuk Senja.
"Ya," jawab Elang singkat namun penuh keseriusan. Ia tak mungkin mengungkapkan perasaannya di depan umum, Elang bukan tipe seperti itu yang suka urusan pribadinya menjadi konsumsi publik.
Jawaban Elang justru membuat Senja di penuhi pertanyaan, apakah benar jawaban suaminya itu dari hati yang paling dalam atau hanya akting saja karena seperti tidak berpikir dahulu saat menjawab, langsung iya-iya saja. Elang melirik ke arah Senja setelah menjawab pertanyaan itu. Ia tak tahu maksud dari ekspresi istrinya saat ini. Senang atau sebaliknya. Padahal itu jujur ia katakan. Memang tidak sejak awal langsung mencintai Senja, tapi seiring berjalannya waktu cinta itu semakin tumbuh.
"Lalu tuan Erlangga, apa yang menyebabkan kandasnya hubungan Anda dengan nona Bianca. Bukankah selama ini hubungan kalian baik-baik saja. Bahkan di gadang-gadang menjadi pasangan paking serasi dan di kabarkan akan segera menikah. Kenapa tiba-tiba bisa putus. Apakah karena Anda memiliki wanita lain sehingga menyebabkan retaknya hubungan kalian?" pertanyaan yang membuat Elang kesal, tadi sudah di jelaskan jika ia bertemu dengan Senja setelah ia dan Bianca putus, tapi wartawan itu seakan masih ingin mencari kebohongan dari Elang dan membenarkan berita yang beredar itu.
Namun, Elang juga tidak mungkin menceritakan jika gagalnya kisah asmaranya dengan Bianca setelah di tolak lamarannya untuk yang ke tiga kalinya. Ia masih terlalu waras untuk memiliki rasa malu.
"Itu tidak benar, karena kenyataanya Bianca yang memutuskan hubungannya dengan putra saya," Alex yang menjawab pertanyaan.
"Apa karena tuan Erlangga selingkuh sehingga nona Bianca memutuskan hubungannya dengan tuan Erlangga?" pertanyaan yang sukses membuat Alex maupun Elang meradang. Selingkuh apanya, sudah sejak tadi di jelaskan Senja hadir setelah mereka putus, kenapa wartawan itu seakan kekeh untuk membenarkan kalau elang selingkuh dan Senja sebagai pelakor. Menyebalkan!
"Putra saya tidak pernah selingkuh, semua masalah kandasnya hubungannya dengan Bianca ada pada diri Bianca sendiri bukan putra saya. Untuk lebih jelasnya silahkan kalian bertanya sendiri dengan yang bersangkutan yaitu Bianca. Kami di sini hanya untuk mengklarifikasi soal berita dimana menantu kami di sebut sebagai pelakor, dan itu sangat menyakiti hati kami sebagai orang tuanya," kali ini Anes yang menjawab. Ia tak kalah kesalnya dengan pertanyaan wartawan yang seakan menyudutkan Elang sebagai penyebab utama putusnya hubungan dengan Bianca.
Elang menghela napas panjang, sepertinya suasana semaki panas.
"Saya hanya ingin mengatakan sebuah kebenaran di sini bahwa istri saya tidak pernah merebut saya dari siapapun. Saya yang menginginkan dia menjadi istri saya secara sadar tanpa paksaan siapapun. Bahkan istri saya sempat menolak untuk menikah dengan saya, tapi saya terus memaksanya untuk menerima saya. Jadi apa yang di katakan berita itu semuanya tidak ada yang benar, istri saya tidak pernah menjadi Pelakor antara hubungan saya dan Bianca. Saya dan Bianca sudah putus sebelum saya bertemu dan mengenal istri saya. Tidak perlu mencari pembenaran berita sana sini.Tidak ada yang perlu di besar-besarkan. Jika masih ada pemberitaan mengenai masalah ini dikemudian hari, saya pastikan kalian jadi pengangguran selamanya. Terima kasih," ucap Elang dengan tegas, sejak tadi ia hanya ingin mengatakan intinya saja. Ia tak ingin berita itu terus berlanjut jika mereka mencari Bianca untuk mengklarifikasi berita itu.
Elang langsung mengakhiri acara konferensi persnya. Ia mengajak Senja dan lainnya untuk meninggalkan tempat.
"Urus semuanya!" perintah Elang kepada Kendra sebelum beranjak dari tempat bersama Senja, kedua orang tuanya.
__ADS_1
πΌπΌπΌ