Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 51 ( Jangan pergi dalam keadaan marah)


__ADS_3

Setelah beberapa hari tidak masuk kerja karena harus membayar hukuman dengan menyusul Elang, Senja siap untuk kembali bekerja.


"Kau mau berangkat bekerja?' tanya Elang yang melihat Senja urun ke ruang makan dengan sudah berpakaian rapi menyusul Elang yang sudah duduk dan menunggunya turun.


"Iya, udah beberapa hari nggak kerja, masih syukur enggak di pecat," jawab Senja sambil mengambilkan nasi untuk Elang.


"Sudah berapa lama kamu bekerja di sana?" tanya Elang.


"Kalau resminya sih baru setahun, setelah lulus. Tapi dulu aku magangnya di sana juga," jawab Senja.


"Kenapa milih bekerja di sana? Kan banyak perusahaan lainnya. Kenal sama pemiliknya?," selidik Elang masih mencoba menggali informasi. Siapa tahu ia akan mendapat tambahan petunjuk. Hah, sudah seperti seorang detektif saja, ia harus di pusingkan dengan masalah Senja yang Senja sendiri tidak tahu.


"Enggak. Kakek yang nyaranin, katanya masa depanku akan bagus kalau bekerja di sana. Ya aku nurut saja, kata-kata orang tuan kan bisa di bilang keramat, dan benar aku betah dan nyaman kerja di sana, apa lagi mas Niko juga bekerja di sana.


Mendengar Senja menyebut nama Niko dengan sebutan mas, Elang langsung meletakkan sendok dan garpu yang ia pegang dengan kasar membuat Senja terkejut.


"Kau marah?" tanya Senja.


"Menurutmu?" Elang balik bertanya.


"Sepertinya begitu, lalu apa yang membuatmu marah? Kamu tanya aku jawab, salahnya dimana?" tanya Senja.


"Kamu sadar posisi kamu itu istriku. Apa pantas kamu menyebut mantan kamu di depanku semesra itu? Berapa kali harus aku bilang, jangan lagi menyebut nama itu dengan sebutan seolah-olah dia tidak pernah menyakitimu," Elang bicara dengan nada sedikit meninggi. Ia cemburu, ya dirinya cemburu tanpa sadar saat Senja menyebut nama laki-laki lain.


Senja meletakkan sendok dan garpunya, ia menatap tajam ke arah suaminya.


"Kenapa kamu marah? Aku hanya menyebut namanya saja. Apa masalahnya jika aku memanggilnya mas? Memang benar dia mantan yang sudah menyakiti dan mengkhianati aku, aku sadar betul akan hal itu El tak perlu terus kau ingatkan akan luka yang pernah ia lakukan. Tak perlu terlalu membesar-besarkan yang tak seharusnya menjadi masalah," ucap Senja.


"Kenapa kamu membela laki-laki itu? Apa kamu masih mencintainya?"


"Hah, pertanyaanmu sungguh menggelitik. Aku rasa kamu tahu jawabannya. Sudahlah El lanjutkan saja makannya, jangan membicarakan hal yang tidak penting," ucap Senja melanjutkan makannya. Ia tak ingin ribut hanya karena hal sepele.


"Aku hanya ingin tahu apa kau masih menyimpan namanya di hatimu Senja Khaira Dewi?" masih kekeh bertanya.


Senja kembali meletakkan sendok dan garpunya, rasanya selera makannya sudah menghilang.


"Aku hanya menjawab pertanyaanmu dengan menyebut namanya karena memang begitu adanya masa laluku. Apa yang kamu permasalahkan El? Dia sudah menikah dan aku tidak mungkin kembali dengannya. Lalu bagaimana denganmu? Kau jelas-jelas masih menyimpan namanya di hatimu, bahkan kau masih peduli dengannya, masih mengirim pesan untuknya,"


"Kenapa kau tak mengerti? Aku dan Bianca sudah bersama sejak kak kecil, tak mudah bagiku untuk menghilangkannya dari hidupku begitu saja. Tapi bukan berati aku ingin kembali. Kisah cinta kami sudah berakhir Senja! Sekarang yang ada hanya aku dan kamu. Aku tidak akan mengingkari janjiku Senja!"


Senja diam tak menyahut. Elang pun juga terdiam, ia terlalu malas untuk membahas mereka yang sudah berkhianat.


"Aku sudah selesai," Senja mengakhiri sarapannya, ia bangkit dari duduknya untuk mengambil tasnya di kamar.


Elang bahkan baru makan sesendok saja, namun perdebatan barusan sudah cukup membuatnya kenyang. Ia segera menyusul Senja ke kamar.

__ADS_1


"Aku berangkat dulu," ucap Senja begitu Elang masuk ke dalam kamar. Senja melewati Elang yang berdiri menghalangi jalannya. Namun tangan Elang dengan cepat meraih tangan Senja, menghentikan langkah istrinya tersebut.


"Jangan pergi dalam keadaan masih marah, aku tidak suka," ucap Elang.


"Aku tidak marah," sahut Senja tanpa menoleh.


"Jangan bohong," Elang menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.


Saat Elang hendak mencium bibir Senja, perempuan tersebut melengos.


"Apa ini namanya kalau tidak marah?" tanyanya.


"Aku hanya malas berdebat masalah tidak perlu. Lepaskan El, nanti aku bisa terlambat," Senja mencoba melepaskan diri dari pelukan Elang.


"Selama masih marah, kau tak boleh pergi," tegas Elang.


"Sudah ku bilang kalau aku tidak marah,"


"Kalau begitu buktikan," pinta Elang.


Sejenak, Senja tampak berpikir. Jika ia terus mendebat suaminya hanya akan memperlambat waktunya berangkat kerja. Elang pasti tidak akan melepaskannya begitu saja sebelum ia puas dengan jawaban yang Senja berikan. Bisa-bisa ia harus cuti bekerja lagi dan tentu saja Senja tidak mau.


Cup! Akhirnya Senja berinisiatif mengecup bibir Elang.


"Biar aku antar!" ucap Elang.


"Hem," Senja mengangguk.


🌼🌼🌼


Setibanya di kantor tempat Senja bekerja...


"Aku turun dulu ya, makasih sudah di antar," ucapnya tersenyum. Elang mengangguk.


Saat Senja turun dari mobil, Elang melihat Niko yang juga baru sampai, dan menyuruh satpam untuk memarkirkan mobilnya. Niko tampak melihat ke arah Senja yang baru saja turun dari mobil Elang.


"Senja tunggu!" seru Elang.


"Ada apa?"


Tidak menjawab, Elang langsung turun dari mobilnya dan mendekati Senja.


"Kamu melupakan sesuatu," ucap Elang.


"Apa?" Senja tak mengerti dengan ucapan suaminya.

__ADS_1


Elang mengulurkan tangannya untuk di salami Senja.


"Oh iya, aku lupa," Senja langsung menyambut tangan Elang dan mencium.punggung tangan suaminya tersebut.


"Kenapa berhenti sayang? Ayo masuk!" Terdengar suara Mitha yang mengajak Niko masuk. Namun, suaminya tak menyahut karena tengah asyik memperhatikan Sepasang suami istri tersebut.


Mitha tampak kesal ketika tahu apa yang kini menyita perhatian suaminya.


Kini tampak Elang sedang mencium.kening Senja dan beralih ke bibirnya. Ia mencium bibir Senja sekejap, sengaja ia lakukan itu karena tahu Nico sedang memperhatikan mereka.


"Kenapa liatin mereka sih? Nggak banget, orang pamer kemesraan di tempat umum begitu. Kenapa? Mas Niko cemburu? Masih menyukai wanita murahan itu?" ucap Mitha.


Niko terdiam, entah kenapa ia memang merasa cemburu melihat adegan mesra di depannya tersebut.


Mitha menarik paksa tangan Niko, mengajaknya segera masuk ke dalam perusahaan.


"El cukup!" jari telunjuk Senja menempel di bibir Elang ketika laki-laki itu hendak menciumnya sekali lagi.


"Kenapa?" tanyanya.


"Malu kalau ada yang lihat," lirih Senja.


" Tahu gini, tadi nolak aja di antar," Batinnya.


"Bodo amat dengan omongan orang," sahut Elang tanpa dosa.


"El...Udah cepat sana pergi. Nanti kamu telat lagi," ucap Senja.


"Aku telat pun tidak ada yang berani protes," sahut Elang.


Senja hanya geleng-geleng kepala.


"Benaran udah nggak marah?" Ela memastikan sekali lagi.


"Hem, sudah sana pergi,"


"Baiklah, aku pergi ya?" Dan sekali lagi, Elang mencuri ciuman dari bibir Senja.


"Bonus karena kamu sudah tidak marah lagi, suka? " ucapnya cengengesan.


"Ck. Dasar!" cebik Senja


sebelum akhirnya Elang benar-benar masuk kembali ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.


__ADS_1


__ADS_2