
Senja dan Kendra sudah berada di dalam jet pribadi milik Elang. Ia masih tak percaya jika saat ini sedang berada di sebuah jet pribadi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Apa yang selama ini Senja lihat hanya dari berita selebriti yang tajir melintir bak sultan, kini benar-benar ia merasakannya. Senja berdecak namun tetap menyembunyikan kekagumannya supaya tidak terlalu norak di depan Kendra atau laki-laki menyebalkan itu akan meledeknya.
"Nona, Anda tidak mabuk udara kan?" tanya Kendra, yang entah meledek atau memastikan saja.
"Tenang saja Kend, kalaupun mabuk ada jas kamu ini buat nampung," cebik Senja.
Kendra terkekeh mendengarnya, benar-benar cocok menjadi istri bosnya, tahan banting, pikir Kendra.
๐ผ๐ผ๐ผ
Senja dan Kendra sudah sampai Bandara di kota tempat Elang berada. Kendra langsung membawa Senja ke hotel dimana Elang biasa tinggal jika sedang berada di kota tersebut. Ya, tentu saja hotel miliknya sendiri.
Sampai di hotel, Kendra langsung mengajak Senja masuk ke dalam lift khusus yang langsung terhubung dengan kamar milk Elang. Senja merasa aneh kerena lift tersebut sepi, sedangkan ia melihat tadi di lift yang lain tampak berjubel orang bergantian keluar masuk. Tapi lagi-lagi mulutnya ia jaga supaya tidak menanyakan hal yang sudah ia pastikan akan di jawab secara menyebalkan oleh Kendra.
Pintu lift terbuka, Senja melongo, kini di depannya hanya ada satu pintu yang artinya di lantai tersebut hanya terdapat satu ruangan yang di huni oleh suaminya saja.
"Silahkan masuk nona," Kendra mempersilakan Senja masuk ke dalam ruangan yang lebih mirip penthouse tersebut meski tak seluas dan sebesar penthouse Elang yang di Jakarta.
Senja melangkahkan kakinya ke dalam, berhenti sejenak lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, dalam hatinya ia berdecak kagum yang detik kemudian, pertanyaan tentang apa pekerjaan suaminya kembali terlintas.
"Kamar Anda ada di lantai dua nona. Bos mungkin akan kembali malam hari. Saya permisi dulu, Anda bisa langsung beristirahat," pamit Kendra setelah mengantar nyonya bosnya masuk.
"Oya, saya sudah memesankan makan siang untuk Anda nanti," ucapnya sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Senja sendirian di sana.
Senja naik ke lantai dua mencari kamarnya. Ia duduk sebentar di tempat tidur, mengusap selimut yang tertata rapi di sana. Kemudian, ia beranjak dan berjalan mendekat ke arah jendela, dari sana ia bisa melihat pemandangan laut yang indah.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, ada satu pesan masuk dari Elang.
"Sudah sampai?"
"Sudah," balas Senja singkat dan langsung mendapat balasan dari suaminya.
"Istirahatlah, kemungkinan malam aku baru balik hotel, lakukan apa yang buat kamu senang, tapi jangan kabur!" balas Elang.
Senja tak membalasnya, ia hanya membacanya dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu diletakkannya tas tersebut di atas tempat tidur.
Ia merebahkan tubuhnya di samping tasnya dengan kedua tangannya ia tautkan di atas perut datarnya sambil menunggu makan siang datang.
Sementara Elang yang sedang memimpin rapat merasa kesal karena pesan terakhirnya tidak di balas oleh Senja.
"Aku sedang memimpin rapat, tidak bisa telepon sekarang. Pekerjaanku masih banyak, jangan marah, atau hukuman akan aku tambah!" Elang kembali mengirim pesan kepada Senja di sela-sela rapat.
__ADS_1
Senja membuka matanya dan mengambil kembali ponselnya dari dalam tas. Dibacanya pesan dari Elang, ia langsung berdecak setelah membacanya.
"Apa ini? Aku mungkin terancam kehilangan pekerjaanku gara-gara dia seenaknya menyuruh asisten sablengnya membawaku secara paksa ke sini dan di sini aku hanya di jadikan penunggu kamar hotel?" gumamnya kesal.
"Senja Khaira Dewi!" Elang kembali mengirimi Senja pesan.
"Sendika dawuh kang mas," Senja mengetik balasan untuk suaminya lalu melempar ponselnya ke sembarang di atas tempat tidur.
Elang langsung mengernyitkan dahinya begitu membaca balasan dari Senja lalu tersenyum tipis.
"Persdir! Presdir!" panggil salah satu peserta rapat, karena mereka melihat Elang tak konsentrasi mendengarkan presentasi dari rekan kerja mereka.
"Apa?" tanya Elang dingin sambil meletakkan ponselnya.
"Maaf pak Erlangga, apakah rapatnya bisa di lanjutkan?" selanya meski dengan nada bergetar takut.
"Jangan merusak mood bos dengan ucapan kalian, apapun yang bos lakukan kalian lanjutkan tugas masing-masing. Atau mau gaji kalian di sunat sama bos?" ucap Kendra yang baru saja masuk ke dalam ruang rapat dengan santainya.
Semua yang ada di dalam ruangan tersebut menatap heran ke arahnya tak terkecuali Elang. Ucapan Kendra terasa menggelitik di telinga mereka.
"Bos," Kendra menyapa Elang dan duduk di sampingnya. Elang masih belum mengalihkan pandangannya dari Kendra, meminta penjelasan atas apa maksud ucapannya tadi. Di kira tukang sunat? pikir Elang tak habis pikir.
Kendra melihat Elang dan mengedarkan pandangannya ke semua yang ada di dalam ruangan tersebut, mereka semua diam menatap Kendra.
Mereka yanga ada di sana langsung ricuh, mereka pikir apaan. Elang mengembuskan napasnya kasar.
"Lanjutkan!" perintah Elang tiba-tiba, membuat kericuhan yang terjadi langsung berubah menjadi sebuah keseriusan.
Mereka pun melanjutkan rapat dengan serius.
๐ผ๐ผ๐ผ
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam ketika Senja turun untuk makan malam. Dia menunggu Elang untuk beberapa saat, tapi suaminya belum juga tampak batang hidungnya. Senja pun akhirnya makan duluan.
Selesai makan, Senja membuat catatan kecil yang ia tinggalkan di meja makan sebelum akhirnya ia kembali naik ke kamar untuk tidur karena matanya sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi.
Sekitar pukul delapan lebih seperempat, Elang baru kembali. Ia melihat secarik kertas yang di tinggalkan oleh Senja tepat di atas tudung saji. Elang mengambil lalu membacanya.
"Aku makan duluan karena kamu nggak pulang-pulang. Kalau sudah sampai rumah dan belum makan, bangunkan aku, biar aku panaskan makanannya karena pasti sudah dingin,"
Elang meremat pelan kertas tersebut sambil tersenyum tipis. Ia menoleh ke lantai atas dan kembali tersenyum.
"Baru jam segini, udah tidur? Ck, jauh-jauh kesini cuma buat tidur," batinnya.
__ADS_1
Elang memang belum makan, tapi rasanya tak tega jika harus membangunkan Senja. Ia memilih memanaskan sendiri makan malamnya.
Selesai makan malam, Elang naik ke kamarnya. Saat membuka pintu kamar, matanya langsung tertuju pada sosok perempuan yang kini tengah meringkuk di bawah selimut tebal berwarna putih tersebut.
Elang mendesah lega, melihat Senja kini berada di depannya membuat rasa lelahnya akibat bekerja seharian serasa plong menghilang tanpa beban. Ia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi, Elang langsung memakai piyama kaos lengan pendek berwarna putih dengan celana panjang yang ternyata sudah Senja siapkan.
Elang mendekati Senja, ia berjongkok tepat di depan wanitanya yang tidur miring ke kiri tersebut.
"Apa kau beneran sudah tidur?" tanya Elang yang tak di respon sama sekali oleh istrinya.
Elang tersenyum, disibakkannya rambut Senja yang menutupi sebagian wajahnya dan menyelipkannya persisi di belakang telinganya.
Di belainya pelan wajah ayu istrinya tersebut. Sejak perempuan di depannya tersebut menyerahkan mahkotanya, sejak saat itu apa yang dinamakan cinta itu mulai tumbuh sedikit demi sedikit. Mungkin di bilang konyol, egois, tega, jahat atau apa karena setelah melewati malam pertama rasa itu baru muncul sedikit demi sedikit meski belum sepenuhnya. Bukankah semua butuh proses? Akan tetapi begitulah kenyataannya. Cinta karena diawali khilaf yang tak berdosa.
Diusapnya bibir merah yang kini menjadi candunya tersebut. Setiap kali ia melihat bibir tipis berwarna merah bak cherry tersebut, ingin rasanya Elang memagutnya.
"My cherry," gumamnya tersenyum. Selain karena bibirnya yang merah bak buah cherry, namun juga bisa diartikan sebagai 'pelengkap hidup' dalam sebuah hubungan. Di kecupnya singkat bibir cherrinya tersebut.
Karena Elang juga sudah merasa lelah, ia naik ke belakang Senja. Ia menyibakkan selimut yang menyelimuti Senja dan ikut menenggelamkan sebagian badannya ke selimut yang sama.
Elang tidur menghadap langit-langit dengan kedua tangannya digunakan untuk menyangga kepalanya. Ia menoleh ke arah istrinya yang tidur membelakanginya.
"Senja, disni ada suami kamu, tidak sopan jika kamu tidur membelakangi seperti itu," ucap Elang asal karena ia tahu istrinya sudah pulas.
Entah karena kebetulan atau apa, setelah Elang berkata seperti itu, Senja otomatis langsung membalik posisi tidurnya menghadap Elang.
Elang sedikit terkejut, ia pikir istrinya terbangun, tapi ia yakin kalau Senja masih pulas terlihat dari dengkuran halus dari istrinya.
Elang kembali tersenyum, direngkuhnya tubuh ramping sang istri ke dalam pelukannya. Satu kecupan ia daratkan di kening sang istri. Kapan lagi bisa curi-curi cium begitu kalau Senja tidak dalam keadaan terlelap.
Senja merasa mencium bau parfum beraroma musk milik suaminya yang sudah sangat ia hapal bau maskulin tersebut, membuatnya sangat nyaman, ia berpikir jika kini ia sedang bermimpi. Tanpa membuka matanya yang kini setengah sadar ia justru semakin menyeruak ke dalam pelukan hangat suaminya. Kepalanya menusup ke dada bidang suaminya tersebut, pelukannya semakin erat.
"Hangat," gumamnya tanpa sadar.
Elang tersenyum melihat tingkah menggemaskan tersebut yang tidak sadar dengan apa yang sedang ia lakukan. Elang pun semakin mengeratkan pelukannya dan memejamkan matanya, menyusul sang isyri ke alam bawah sadarnya.
๐ผ๐ผ๐ผ
๐ ๐ Selamat membaca para kesayangan author... jangan lupa Like komen, tip dan votenya.. serta pencet โค๏ธ nya buat author..terima kasih๐๐
salam hangat author ๐คโค๏ธโค๏ธ
__ADS_1
IG : @embunpagi544 ๐ ๐