Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 102


__ADS_3

"O ya, Sar. Mengenai yang ingin aku bicarakan sama kamu tadi....bagaimana kalau mulai hari ini kamu jadi asisten pribadiku? Apa kamu tidak keberatan?" ucap Senja sambil memegang tangan sahabatnya tersebut penuh harap. Saat ini hanya Sarah yang ia percaya untuk terus berada di sampingnya untuk membantunya.


Sarah membeliakkan matanya tak percaya," Mak-sudnya?" tanyanya menegaskan.


" Iya, menjadi kepercayaanku. Membantuku seperti... Asisten Kendra yang selalu ada untuk suamiku. Aku butuh orang sepertimu di sampingku Sar. Apa kamu bersedia membantuku?" tanya Senja.


"Tentu saja aku mau Nja. Tapi..." kalimat Sarah menggantung, ia tampak berpikir.


"Apa? Soal gaji, kamu tidak usah khawatir. Aku pastikan cukup bahkan lebih dari sebelumnya. Kamu akan dapat fasilitas mobil dan apartemen untuk tinggal, tidak perlu lagi ngekos," jelas Senja.


"Bukan itu masalahnya Senj, eh nona," Sarah masih saja canggung memanggil Senja.


Senja tersenyum, "Panggil saja Senja kayak biasa,"


"Bukan soal gaji atau lainnya Nja, tapi aku takut. Apa aku mampu, apa aku bisa. Kamu tahu sendiri, aku nggak ada basic sama sekali, aku cuma karyawan biasa sebelumnya,"


"Bisa, pasti bisa. Kita belajar bersama-sama Sar. Aku hanya butuh seseorang yang benar-benar bisa aku percaya, dan itu kamu," ujar Senja tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu aku mau," ucap Sarah mantab.


"Emm, baiklah. Gimana kalau kita rayain semuanya dengan makan siang bareng nanti, di cafe biasa. Aku yang traktir," ucap Senja.


"Oke, setuju aja sih kalau yang gratis-gratis mah," sahut Sarah sumringah.


"Eh, terus gimana tuh nasib mantan sama pelakor? Mau di pecat atau gimana, secara kamu udah jadi bos sekarang," ucap Sarah.


"Emmm, soal itu belum aku pikirin. Aku nggak bisa mecat Orang yang nggak ada kesalahan, nggak boleh nyampurin urusan pribadi sama pekerjaan. Apalagi aku lihat Mitha perutnya makin besar, udah kelihatan sekarang hamilnya, pasti mereka butuh biaya buat lahiran nanti," jawab Senja.


" Baiklah, terserah kamu saja. Yang penting kamu nyaman aja Nja. Tapi, akhir-akhir ini mereka sering banget berantem di kantor, Mitha kayaknya banyak nuntut, ini itu, Pak Niko jadi kayak tekanan batin gitu. Kasihan kadang lihatnya, masa baru berangkat aja udah acak-acakan mukanya. Nyesel tuh pasti pak Niko udah ngebuang kamu, eh dapatnya batu koral. Mana udah nabung duluan lagi, jadi nggak bisa mundur lagi deh, mentok sama si Mitha," ucap Sarah prihatin.


" Hus udah ah, jangan ngomongin orang. Aku lagi hamil loh, ontynya jangan ngajarin ghibah dong," ucap Senja tersenyum.


" Ops lupa, maafin onty ya sayang," Sarah mengusap perut Senja.


" Dimaafin onty. Udah sana beres-beres. Mulai sekarang kamu bakal ngintilin aku kemana-mana. Ruangan kerja kamu pindah ke sebelah,"


"Tapi nggak ngintilin ke ranjang juga kan?" goda Sarah sambil beranjak dari duduknya.


"Nggaklah ya, soal itu nggak rela bagi-bagi," ucap Senja tergelak.


Setelah Sarah keluar dari ruangannya, Senja mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.


🌼 🌼 🌼


"Gimana sayang?" Senja meminta pendapat Elang soal penampilannya malam ini. Apapun itu, ia merasa perlu pemdapat sng suami. Jika Elang mengatakan oke, ia akan lebih percaya diri. Baginya, yang penting bagaimana ia di depan suaminya.


Elang tersenyum, selalu bertanya, begitulah istrinya. Meskipun baginya Senja memakai apapun akan terlihat cantik, "Selalu... Cantik!" jawab Elang.


"Suamiku juga selalu... Ganteng," balas Senja yang langsung bergelayut manja di lengan Elang.


Sesuai titah dari daddy Alex, malam ini mereka berdua akan makan malam di rumah utama.


"Oleh-olehnya jangan lupa sayang," peringat Senja saat masuk dalam mobil. Tak enak rasanya jika berkunjung ke rumah mertua tanpa membawa apapun.


"Tuh!" Elang menoleh ke belakang, menunjuk beberapa paperbag di jok belakang mobil.


"Percayalah, tak bawa apa-apapun mereka tak akan masalah. Kabar gembira yang kita bawa akan jadi oleh-oleh paling berharga dan membahagiakan buat mereka," lanjut Elang, ia sedikit memiringkan tubuhnya demi merapikan rambut Senja yang sedikit berantakan karena terpaan angin malam.


Senja tersenyum dan mengangguk, setuju dengan apa yang suaminya katakan.


"Tapi, jangan keget ya, jika nanti tahu gimana reaksi daddy," pesan Elang sebelum ia menyalakn mesin mobilnya.


"Kenapa memang?" tanya Senja penasaran.


"Lihat sendiri saja nanti," Elang mulai menjalankan mobilnya.


🌼 🌼 🌼


Tak butuh waktu lama, mobil Elang sudah sampai di kediaman Parvis. Mommy dan daddy menyambut kedatangan mereka berdua.

__ADS_1


"Ya ampun sayang, mommy kira El tak akan membawamu kembali. Kalian pergi lama sekali, mommy sudah sangat merindukan kalian," ucap Anes seraya memeluk menantunya.


"Maaf mom, selain bulan madu, banyak hal terjadi di sana. Senja juga merindukan mommy, sangat," jawab Senja ramah.


Setelah saling berpelukan mereka pun masuk, "Kakak!" seru Gisel yang baru saja turun dari kamarnya dan langsung bergelayut manja, memeluk pinggang Elang. Elang tersenyum, "Kenapa? Apa kau membuat ulah lagi? Katakan!" ucapnya sambil mengacak rambut Gisel.


"Adikmu yang satu ini memang selalu bikin ulah. Minggu kemarin dia nyusul Rega yang sedang jadi relawan di daerah yang terjadi gempa. Astaga, dia selalu buat mommy jantungan," ucap Anes mengusap dadanya.


"Ck, mommy. Gisel kan kesana buat bantuin abang, mau jadi relawan juga," Gisel membela diri.


"Bantuin apanya, yang ada kamu nyusahin abangmu di sana," ucap Alex geleng-geleng kepala.


Gisel hanya bisa meringis, memang benar yang Alex katakan, bukannya membantu malah justru ia yang di rawat oleh Rega.


"Kamu ini, udah lepasin kakak. Nanti kakak ipar bisa cemburu loh kalau kamu peluk kakak terus begini, kalau dia cemburu, masa depan si ujang terancam," ucap Elang yang langsung mendapat cubitan di pinggangnya.


"Apaan sih, mana ada cemburu dengan adik sendiri," ucap Senja.


"Iya, tahu nih kakak. Lagian apa hubungannya sama Ujang? Kenapa juga masa depannya yang terancam. Si ujang emang apanya kak Senja?" selidik Adel sambil sambil mengurai pelukannya terhadap Elang.


"Ujang tuh..." lagi-lagi sebuah cubitan mendarat di pinggang Elang sebagai peringat untuk tidak melanjutkan ucapannya.


"Ampun, ampun sayang, geli. Lagian nggak mungkin aku kasih tahu ini bocah siapa ujang,"


Mommy dan daddy yang paham arah pembicaraan mereka hanya bisa tersenyum maklum.


Saat mereka berjalan menuju ke ruang makan, Gavin yang baru saja masuk setelah memarkirkan sepeda motornya membuat langakah mereka berhenti.


"Mom, dad," sapa Gavin kepada orang tuanya.


"Kak... Kakak ipar," Gavin juga menyapa Elang dan Senja yang di balas anggukan dan senyuman oleh Elang dan Senja.


"Kebetulan Gavin udah pulang, yuk langsung aja kita makan malam!" ajak Anes.


"Kalian makan saja duluan, Gavin ke atas dulu sebentar. Nanti menyusul," ucap Gavin dengan nada tak bersemangat, wajahnya terlihat lelah. Ia langsung berjalan menuju tangga. Tak lupa ia mengacak rambut Gisel saat melewati saudari kembarnya tersebut tanpa bersuara.


Selain gisel, mereka juga merasa ada yang aneh dengan sikap Gavin, "Sudah ayo ke meja makan, nanti Gavin pasti menyusul!" ajak Anes sambil melihat ke lantai atas, dalam hati ia merasa sedikit khawatir akan sikap putra bungsunya. Gavin memang sedikit tertutup, ia sangat jarang bahkan bisa di bilang tak pernah bercerita jika sedang ada masalah, terutama soal perempuan.


" Gimana kuliahmu dek?" tanya Elang saat Senja dengan telaten mengambilkannya nasi dan lauk.


"Beres kak, sebulan lagi wisuda," jawab Gisel bangga.


"Iya, rencananya daddy sama mommy mau merayakan wisuda si kembar sekalian perayaan ulang tahun mereka yang ke dua puluh satu," sambung Anes yang juga sedang melayani Alex.


"Makasih sayang," ucap Alex dan Elang bersamaan ketika Anes dan Senja selesai melakukan tugas mereka.


Gisel hanya bisa memandangi kagum kedua wanita tersebut.


"Ayo ayo makan, ini semua mommy yang masak loh," ucap Anes senang karena bisa berkumpul bersama anak dan menantunya malam ini.


Mereka mulai makan malam tanpa menunggu Gavin sambil berbincang.


"Bagaimana rencana kalian ke depan? Senja, Apa kamu ada kesulitan dengan BaileyTex? Jika butuh bantuan daddy, jangan sungkan, katakan saja," tanya Alex yang sudah tahu soal Senja dan BaileyTex.


Tentu saja tak butuh waktu sampai harus menunggu Elang bercerita untuk mengetahui hal itu. Sebagai seorang ayah, diam-diam Alex selalu memantau semua anak-anaknya dari jauh. Bahkan, jika memang Gavin sedang ada masalah, pasti sebenarnya Alex tahu. Jika belum, sebentar lagi pasti ia akan tahu. Namun, selama anak-anaknya masih dalam batas wajar, ia tak pernah ikut campur, cukup mengawasi dari jauh. Namun, ada yang kuput dari pengawasannya, ia belum tahu soal kehamilan Senja.


"Tidak ada dad, tapi Senja masih harus banyak belajar dari daddy dan juga Elang," jawab Senja sopan.


"Kalian ngomongin apa sih? Mommy nggak ngerti,?" tanya Anes yang bingung, sementara Gisel mengangkata bahunya tanda ia tak mengerti juga.


Elang pun menceritakan inti dari semuanya kepada Anes, kalau sebenarnya Senja adalah putri dari pendiri BaileyTex dan kini perusahaan tersebut kini resmi menjadi milik Senja. Ia tak menceritakan secara detail karena pasti butuh waktu lama, dan ia terlalu malas untuk banyak bicara.


"Astaga, jadi, selama ini Senja adalah putri tuan Bailey yang hilang? Selamat ya sayang, akhirnya kamu menemukan keluarga kandung kamu, meskipun ternyata orang tua kamu sudah tiada, mommy turut sedih untuk itu. Tapi jangan khawatir ya, karena keluarga Parvis adalah keluarga kamu juga. Kita semua keluarga kamu sayang," ucap Anes tulus.


" Makasih mom," ucap Senja tersenyum.


" Dan kamu mas, tahu semua ini tapi nggak cerita sama aku! Hal sebesar ini kamu sembunyiin dariku?" Anes menatap tajam suaminya.


" Tuh kan El, bukan cuma si ujang saja yang bisa terancam, tapi anaconda daddy juga bisa," Alex meminta dukungan Elang, namun Elng haya bis mengangkat kedua bahunya tanda ia tak ikut-ikutan kalau soal masalah dapur orang tuanya.

__ADS_1


"Selamat ya kakak ipar, emang ya apa yang menjadi hak kita akan kembali kepada kita, meski dengan cara berbeda," ucap Gisel yang tak mau ambil pusing soal ujang dan anaconda, meskipun ia sebenarnya penasaran.


"Iya, makasih ya Sel," sahut Senja tersenyum.


"Tumben ngomongnya bener," celetuk Elang.


"Ish kakak! Serius tahu!" protes Gisel.


Senja Berkali-kali menyentuh paha Elang, memberi isyarat kepada suaminya untuk memebritahu mertuanya perihal kehamilannya.


" Apa sih sayang, pengin? Jangan di sini ih, ada mommy sama daddy, malu. Ada bocah juga ini," canda Elang yang langsung di tabok oleh Senja. Membuat Elang tergelak.


"Begini mom, dad. Kami juga punya kabar gembira lainnya, selain Senja menemukan jati dirinya," ucap Elang dangan raut serius.


Semua yang ada di sana menatap ke arahnya tak kalah seriusnya, menunggu Elang melanjutkan bicaranya.


"Proses tanam benih yang El lakukan berhasil," ucap Elang, ia langsung mengernyit karena tak ada respon. Sepertinya mommy, daddy juga Gisel masih belum paham maksud ucapannya. Mereka masih menatapnya antusias, menunggu inti dari kabar gembir yang di maksud.


Elang menoleh ke arah Senja lalu menaikkan kedua alisnya.


"Kata-katanya yang biasa aja, langsung. Jangan pakai istilah, biar langsung nyampe," saran Senja berbisik, Elang mengangguk.


"Senja hamil, dan kalian akan segera memiliki cucu," ucap Elang tegas dan jelas. Mommy dan daddy masih diam namun saling pandang, sementara Gisell malah asyik melihat ekspresi kedua orang tuanya.


"Nggak ada respon sayang, di luar dugaan," bisik Elang sedih yang langsung diusap punggungnya oleh Senja.


Namun, detik kemudian....


"Mas...." ucap Anes dengan mata berkaca-kaca.


"Iya sayang, nggak salah dengar, kita bakal punya cucu, cucu sayang!" timpal Alex girang. Ia dan Anes langsung saling berpelukan karena terharu dan bahagia.


"Alhamdulillah, selamat ya sayang...makasih juga sudah mau mengandung cucu mommy, calon penerus keluarga Parvis yang pertama," ucap Anes kepada Senja.


"Makasih mom," jawab Senja.


"Selamat ya. El... Daddy bangga padamu... Kau memang anak daddy," ucap Alex senang. Elang tersenyum lalu menyentuh tangan Senja dan menggenggamnya.


"Selamat kakak ipar, Isel mau ounya ponakan nih. Ya ampun nggak sabar jadinya pengin cepat punya ponakan yang lucu dan menggemaskan," ucap Gisel.


"Palingan juga di buat nangis sama kamu," ucap Gavin yang ternyata mendengar kabar gembira tersebut.


"Selamat ya kak, kakak ipar," ucap Gavin tulus kepada Elang dan Senja sambil menarik kursi dan duduk.


"Makasih Vin,"


"Oh ya ampun, mommy masih belum percaya. Akhirnya akan ad yang manggil mommy nenek di rumah ini," Anes kembali berkaca-kaca.


"Aku jadi kakek dong?" Alex menunjuk wajahnya sendiri dan semua yang ada di sana mengangguk.


"Sayang, apa emang mas udah setua itu? Udah pantas di panggil kakek? Mas berasa masih seumuran loh sama mereka," menunjuk Elang dan Gavin sambil tergelak.


Anes mengembuskan napasnya pelan, "Masih nggak mau sadar umur. Lihat iti ubannya udah nongol dimana-mana mas. Astaga,"


"Ah masa sih. Kalau gitu besok rambut mas cat hitam semua dan nanti anak kalian jangan di ajarin panggil kakek, opa saja. Kalau di Korea kan oppa itu kakak," ucap Alex


Dan semua yang ada di ruangan tersebut hanya bisa berdecak,


"Ini yang aku bilang tadi di mobil sebelum berangkat," bisik Elang, Senja mengangguk paham dan tersenyum.


Namun, mereka tahu kalau daddy hanya bercanda. Sebenarnya ia adalah orang yang paking bahagia mendengar kabar kehamilan Senja selain mommy tentunya.


🌼 🌼 🌼


πŸ’ πŸ’ Cukup panjang ya, harusnya jadi dua bab tapi aku jadiin satu 😊😊


Jangan lupa like, komen, mawar atau tehnya... Tengkyu πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ


Salam hangat author πŸ€—β€οΈβ€οΈπŸ’ πŸ’ 

__ADS_1


__ADS_2