Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 45 (Cemburu)


__ADS_3

Dengan terpaksa, akhirnya Senja ikut Elang ke kantor. Daripada di hotel sendirian, pasti akan membosankan pikirnya.


Saat memasuki kantor cabang milik suaminya, banyak mata yang menatap penasaran terhadapnya.


"Itu siapa yang bersama pak Erlangga? Tumben pak bos bawa perempuan ke sini?"


"Nggak tahu, pacarnya mungkin. Atau adiknya juga bisa,"


"Setau aku pacarnya pak Erlangga itu nona Bianca, artis yang sekarang sedang naik daun itu, yang fenomenal itu. Tapi dia juga nggak pernah di ajak ke sini. Biasanya kan pak Erlangga kalau kesini cuma urusan bisnis saja. Kalau adiknya, aku kayaknya pernah lihat tapi bukan dia deh," ujarnya sambil mengingat-ingat.


"Iya, bukan dia. Itu siapa ya, jadi penasaran," lanjutnya yakin jika itu bukan Gisel, adik Elang.


"Mungkin itu ceweknya kalau di sini, biasa kan kalau orang kaya mah, di sana ada di sini ada ceweknya," celetuk yang lain.


"Sssttt mereka ke sini, jangan ghibah lagi, atau kita akan dalam masalah," peringat yang lain.


"Selamat pagi pak Erlangga," sapa mereka sopan, tak lupa menundukkan kepala mereka.


"Hem," sahut Elang tanpa berhenti. Ia terus melangkah dengan tangannya menggandeng tangan Senja erat. Sementara Senja berusaha memberi senyum termanisnya untuk mereka. Diikuti Kendra yang berjalan santai dengan langkah panjangnya di belakang.


"Pak Kendra, itu siapa? Tumben pak Erlangga bawa perempuan ke kantor cabang?" salah satu dari mereka memberanikan diri bertanya.


"Apa urusan kalian? Kalian di sini di gaji bukan buat bergosip. Kalau mau bergosip silakan cari tempat nongkrong yang bebas ghibah," sahut Kendra tegas.


"Itu istrinya bos," jelasnya kemudian.


"Sssttt jangan protes, jangan iri apalagi berpikir untuk merebut. Diam dan terima nasib kalian yang jomblo atau mau di sunat gajinya?" ucap Kendra ketika mereka hendak membuka mulut mengutarakan ketidakpercayaan mereka karena bos idola mereka kini telah beristri.


Kendra melanjutkan langkahnya menyusul Elang dan Senja.


"Apaan sih pak Kendra, dikit-dikit main mau sunat gaji aja. Kenapa nggak punya dia aja yang di sunat, biar habis sekalian. Lagian siapa bilang kita jomblo, dia aja yang jomblo,sensi," bisik mereka.


"Dasar wanita, dimana-mana ghibah diutamain. Kalau tahu siapa nona Senja lantas mau apa mereka, kayak bos melihat mereka saja, bahkan melirik saja tidak," gumamnya sambil melangkah memasuki lift menyusul bosnya.


Di dalam lift, Senja berdiri di tengah-tengah antara Elang dan Kendra. Merasa salah dengan posisi mereke berdiri, Elang menarik pelan lengan Senja supaya bergeser sehingga kini ia yang berdiri di tengah sedangkan Senja dan Kendra di sisi kanan dan kirinya.


"Apaan sih El?" Senja memprotes ulah Elang.

__ADS_1


"Kamu jangan dekat-dekat Kend, dia suka menggigit," sahut Elang asal.


"Astaga drakula kali menggigit. Bilang aja cemburu bos," ucap Kendra membuat Elang mencebik dan menatapnya tajam.


"Posesifnya kambuh!" batin Kendra terkekeh.


Senja hanya bisa geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa dua orang yang lebih mirip tom and Jerry tersebut menjadi partner kerja, sahabat, bahkan bisa di bilang partner hidup. Senja benar-benar tak habis pikir di buatnya.


🌼🌼🌼


Senja menunggu di ruang kerja Elang selama Elang meeting dengan para karyawannya untuk membahas kinerja mereka selama beberapa bulan terakhir selama ia berada di luar negeri.


Senja merasa cukup bosa berada di ruangan tersebut. Iseng-iseng ia duduk di kursi kebesaran Elang. Mengamati semua yang ada di meja kerja suaminya. Matanya tertuju kepada laci meja kerja milik Elang. Karena penasaran dengan isinya, iapun membukanya. Di lihatnya sebuah bingkai photo yang terletak tengkurap di sana. Sempat ingin menutup kembali laci tersebut, namun entah kenapa hatinya mendorong tangannya untuk mengambil bingkai photo tersebut. Ia penasaran photo siapa di balik bingkai tersebut.


Senja langsung mengembuskan napasnya dalam begitu melihat potret Elang yang sedang duduk. Namun bukan itu yang membuatnya merasa sesak. Seorang gadis yang melingkarkan tangannya di leher leher Elang yang sedang duduk yang membuatnya merasa getir di hatinya. Gadis itu tak lain adalah Bianca. Meski photo tersebut terlihat biasa tapi Senja bisa melihat senyum bahagia dari bibir suaminya, seakan perlakuan gadis yang memeluknya dari belakang tersebut memberikan kehangatan buatnya.


Dan untuk pertama kalinya Senja merasa cemburu setelah melihat photo tersebut. Di rumah, ia memang melihat photo Bianca tapi tidak dengan Elang dan itu tidak menimbulkan efek yang berarti untuknya. Namun, entah kenapa setelah melihat photo tersebut sisi kecemburuannya sebagai seorang wanita, sebagai seorang istri muncul begitu saja.


Senja memang tak pernah melihat photo suaminya, ia tak menyangka jika akan melihatnya di ruangan tersebut bersama dengan Bianca. Meski tak terpajang di meja kerjanya, namun bisa Senja pastikan pasti photo itu yang selalu menemani, yang selalu Elang lihat ketika berada di sana. Atau mungkin tadinya memang terpajang di meja dan setelah mereka putus, Elang memasukkannya ke dalam laci? Entahlah! Senja terus menerka-nerka namun malah membuatnya semakin merasa cemburu.


Ia buru-buru memasukkannya photo tersebut kembali ke dalam laci.


"Tapi, apa salahnya, dia kan suamiku, aku hanya membuka lacinya saja. Lagian, kalau sudah tak ada hubungan kenapa masih menyimpan photo di sini, berati memang masih ada rasa kan?" satu sisi hatinya mendukung apa yang dia lakukan.


"Tahu ah, seharusnya aku tak ikut ke sini!" gumamnya kesal mengusir pikiran-pikiran yang mengelilingi kepalanya.


Kemudian Senja mengambil bolpoin yang ada di depannya. Memainkan bolpoin tersebut di atas kertas yang ada. Membuat coretan-coretan abstrak yang tanpa ia sadari membentuk tulisan Elang dengan gambar bentuk hati.


"Astaga kenapa bisa menjadi seperti ini sih!" gumamnya, ia langsung mencoret-coretnya dan meremat kertas tersebut lalu melemparnya asal.


Elang yang baru saja masuk ke ruangannya langsung menangkap kertas yang di lempar oleh Senja barusan yang ternyata terlempar tepat ke arahnya.


Elang membuka kertas yang bentuknya sudah tak sempurna lagi tersebut. Ia tersenyum tipis, meskipun di coret-coret namun ia masih bisa membaca namanya di sana dengan disertai gambar hati.


"Kenapa membuang sampah sembarangan? Emang waktu SD tidak di ajari membuang sampah pada tempatnya hem?" ujar Elang seraya mendekat ke arah Senja yang masih duduk di kursinya.


"Eh maaf, aku kira tempat sampahnya di sana," ucap Senja beralasan.

__ADS_1


"Kenapa?Apa kamu bosan menungguku sejak tadi?" tanya Elang, ia menarik pelan tangan Senja hingga istrinya tersebut terpaksa berdiri. Elang langsung duduk dan menarik Senja ke pangkuannya.


"El lepaskan! Nanti ada yang lihat!" Senja mencoba melepas tangan Elang yang melingkar di perutnya.


"Biarkan saja, siapa yang berani protes seorang suami memeluk istrinya sendiri? Yang harua jadi masalah jika yang di peluk istri orang lain," sahut Elang tak bisa di bantah.


Senja pun diam, percuma juga berdebat dengan suaminya yang selalu menyebalkan tersebut, pikir Senja.


"Terserahlah!" ucap Senja sewot.


"Kenapa kamu kesal? Bosan sendiri menungguku? Hem?" tanya Elang.


"Sekarang aku tanya, apa maksud kamu mengajak aku ke sini? Cuma buat menunggu kamu meeting, jadi obat nyamuk ruangan kamu ini?" protes Senja.


"Dan juga cuma buat pamer photo kamu sama bie-bie kamu itu iya?" imbuhnya dalam hati, tak berani protes secara langsung.


"Bos sudah waktunya untuk..." suara Kendra mengalihkan mata kedua orang yang sedang duduk berpangku tersebut.


"Oh sial! Mataku ternodai!" gumam Kendra.


"Silahkan lanjutkan, saya tunggu lima sampai sepuluh menit lagi," ucap Kendra sambil menutup matanya dengan satu tangannya yang direnggangkan sehingga tetap bisa mengintip dari celah-celah jarinya ekspresi dari Elang dan Senja.


"Sekian dan terima kasih," Kendra menutup bicaranya dan langsung membungkukkan badannya lalu langsung tancap gas keluar dari ruangan bosnya tersebut sebelum kena mantra sumpah serapah bosnya karena aktivitas mesra-mesranya terganggu.


"Ya ampun kenapa semakin dewasa beban hidup jadi semakin rumit sih. Jadi kangen masa-masa sekolah dulu dimana hal paling bikin pusing adalah bagaimana cara menurunkan kadar kepintaran ini isi kepala. Kalau sekarang beban paling berat adalah ketika melihat orang bermesraan sedangkan kita jomblo. Bagaimana cara menjaga hati supaya tetap strong, saat orang yang kita sukai menyukai orang lain. Hah berat-berat!" gumam Kendra lirih setelah keluar dari ruangan Elang.


Melihat kelakuan Kendra barusan, membuat Elang dan Senja saling melempar pandang dan melupakan apa yang sebelumnya mereka bahas.


"El.."


"Hem?"


"Kenapa kamu memiliki asisten seperti itu?" tanya Senja tanpa berkedip menatap suaminya.


"Entahlah, aku juga tidak tahu," sahut Elang yang juga tidak berkedip. Tanpa mereka sadari, pandangan mereka tersebut menarik kepala mereka untuk saling mendekat hingga bibir mereka hampir bertemu. Namun, getaran ponsel di saku celana Elang menggagalkannya.


Senja langsung berdiri dari duduknya begitu ia sadar masih berada di pangkuan Elang. Pun dengan Elang yang menjadi salah tingkah begitu sadar kenapa tadi Kendra bersikap aneh ketika masuk.

__ADS_1



πŸ’ Karena banyak yang mencintai cerita receh ini, insyaallah aku akan tetap melanjutkannya di sini karena aku juga mencintai kalian πŸ€—πŸ€—β€οΈβ€οΈ Terima kasih untuk semuanya yang sudah mensupport πŸ™πŸ™ πŸ’ 


__ADS_2