
Saat kembali ke kantor, Senja dan Sarah berpapasan dengan Mitha. Wanita itu tampak buru-buru keluar, ia sengaja menyenggol lengan Senja dengan keras. "Sorry, sengaja," ucapnya sewot.
"Ih benar-benar tuh nenek lampir ya nggak ada akhlak. Eh tahu nggak Nja, tadi pagi aku dengar itu si ulat bulu ribut gitu sama pak Niko, ngomongin anak gitu, hamil ya dia? Tapi perutnya emang kayak ngembang gitu nggak sih?" ucap Sarah.
"Tahu ah nggak penting, hamil juga ada suaminya. Kalau kamu yang hamil baru aku syok," sahut Senja sambil meneruskan langkahnya.
"Ck, kamu ini Nja. Aku mau hamil sama siapa coba, pacar aja nggak ada apalagi suami," ucap Sarah menyusul Senja.
"Eh, itu tapi dia mau kemana ya buru-buru keluar, jam istirahat tinggal sebentar lagi padahal," Sarah masih saja membahas Mitha.
"Tadi kamu nggak nanya dia mau kemana pas di depan ketemu,"
"Ih ogah nanya sama dia," sahut Sarah mencebik.
πΌπΌπΌ
Jam pulang kantor tiba, karena tidak pekerjaan lagi Senja bersiap-siap untuk pulang. Ia melihat ponselnya yang bergetar, ia menggeser ikon hijau lalu menempelkan benda pipih itu di telinganya sambil bersiap-siap, memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
"Cepat turun, aku udah di bawah," ucap Elang ketika Senja mengangkat teleponnya.
"Hem," sahut Senja singkat dan langsung memutus panggilannya.
Elang mengernyit sambil menatap ponselnya begitu sambungan telepon terputus.
Tak lama kemudian, Senja sudah sampai di mobil. Elang hendak membukakan pintu mobil untuknya, namun Senja membukanya sendiri dan langsung masuk tanpa bersuara.
Elang mengembuskan napasnya kasar, mungkin istrinya capek makanya terlihat sewot. Ia kembali masuk ke dama mobil lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan standar.
"Apa ada masalah di kantor? Mereka mengganggumu?" tanya Elang karena Senja masih saja diam dan hanya melihat ke luar jendela saja.
"Tidak," jawab Senja singkat.
__ADS_1
"Senja, kau ini kenapa? Kenapa dari tadi sikapmu aneh?"
"Tidak apa-apa, aku hanya lelah. Depan sana ada minimarket, berhenti aku mau beli minum," ucap Senja tanpa menoleh.
Elang mulai kesal dengan sikap istrinya yang tak tahu sebabnya bersikap acuh dan dingin seperti itu. Elang menambah kecepatan mobilnya. Berharap Senja akan protes dan mengajaknya bicara. Namun sayangnya istrinya tersebut tetap diam dan tak peduli dengannya yang ugal-ugalan mengemudikan mobil.
"Berhenti!" seru Senja ketika mobil melewati depan minimarket.
Ciiiiitttttt! Elang terpaksa mengerem mobilnya mendadak tepat di depan minimarket tersebut. Ia menoleh ke arah istrinya. Tanpa bicara, Senja langsung membuka seatbelt dan turun dari mobil, meninggalkan Elang dengan kebengongannya.
"Dia kenapa sih? Lagi PMS ya? Nggak dapat jatah dong ntar," gumam Elang menghela napas panjang.
Senja tak hanya membeli minuman, namun ia juga meminjam toilet minimarket karena tiba-tiba kebelet pipis.
"Beli minum aja lama," Elang mulai kehilangan kesabarannya, ia turun dari mobil bermaksud untuk menyusul Senja.
Tak menemukan Senja di dalam mini market, Elang bertanya kepada SPG supermarket.
"Tadi ada perempuan cantik, tinggi segini ( Mensejajarkan dengan bahunya) masuk ke sini, kemana dia?" tanya Elang to the point.
"Hem, makasih," ucap Elang lalu memilih untuk menunggu di luar.
"Ck. Dasar beser! nggak bisa di tahan sampai rumah apa?" decak Elang sambil mendaratkan pantatnya di kursi uang tersedia di depan minimarket.
Senja keluar dari toilet langsung memilih minuman air mineral dan langsung menuju ke kasir. Saat sedang antre untuk membayar membayar, Senja menoleh keluar minimarket ada keributan di sana. Pantas saja kasir dan beberapa SPG tampak tidak konsen dengan pekerjaan mereka karena celingak-celinguk melihat orang sedang adu jotos rupanya, pikir Senja.
Senja sekali lagi melihat ke luar, dan...
"Astaga El...." Senja buru-buru mengeluarkan uang dari dalam tasnya untu membayar.
"Ambil kembaliannya mbak!" seru Senja yang langsung berlari keluar.
__ADS_1
"Dasar brengsek! Berani kamu mengusik kehidupanku hah!" Sarkas Elang seraya melayangkan satu tinju kepada lawannya.
"Ck, itu balasan yang setimpal dengan apa yang sudah kau lakukan untuk adikku!" teriak Ervan tak kalah sarkasnya.
Bug! satu pukulan balasan mendarat tepat di pipi Elang.
"Kenapa kau masih menyalahkan aku? Dia mati sendiri! Jangan buat itu sebagai alasan untuk mengusik istriku! Dulu Bianca dan sekarang istriku, brengsek!" teriak Elang penuh kilat amarah.
"Karena kau! karena kau adikku meninggal, dasar pembunuh!" Ervan kembali melayangkan pukulan kepada Elang.
"Dia yang mengakhiri hidupnya sendiri, kenapa kau masih saja menyalahkanku, bodoh!" Elang tak tinggal diam, ia juga membalas memukul Ervan.
"Elang! Ervan! Stop!" teriak Senja yang tak mengerti kenapa dua laki-laki yang sudah dewasa itu saling baku hantam mempermalukan diri mereka sendiri di depan umum seperti itu. Dan mereka seolah membiarkan diri mereka di sakiti oleh lawan masing-masing, padahal mereka berdua jago berantem, Senja benar-benar tak habis pikir dengan dua manusia tersebut. Dan lagi, apa yang sedang mereka debatkan itu?
Baik Elang maupun Ervan tak ada yang menggubris ucapan teriakan Senja yang sudah mentok delapan oktaf tersebut. Mereka masih asyik saling adu jotos sambil terus mengumpat, mengutarakan apa yang ada dalam hati mereka masing-masing. Elang bahkan tidak pernah mengelak ketika Ervan menonjoknya, ia membiarkan mantan sahabat yang sebenarnya sampai sekarang masih ia anggap sahabat itu meluapkan seluruh emosinya.
Begitupun Ervan, ia juga tak menghindar ketika Elang menghajarnya. membuat Senja bingung menatap dua laki-laki yang saling menyakiti tersebut. Sebenarnya apa yang mereka lakukan, bahkan mereka berdua yang selalu menjaga image mereka di depan umum kini tak peduli lagi dengan kerumunan yang menonton perkelahian mereka.
"Lerai mereka, jangan cuma di tonton!" teriak Senja. Namun sialnya tak ada satupun dari mereka yang berani melerai meraka. Di minimarket tersebut juga tidak ada security-nya.
"Sial!" umpat Senja kesal dengan mereka yang malah seperti menikmati pergelutan dua laki-laki rupawan dan berpengaruh tersebut yang bisa jadi sebentar lagi wajah mereka tidak akan lagi rupawan karena bogeman-bogeman yang mereka terima.
Senja membuka tutu botol air mineral yang ia baru saja beli lalu mendekati keduanya. Ia mengguyur Elang dan Ervan bergantian dengan air itu, berharap mereka akan sadar dengan kelakuan memalukan mereka tersebut.
"Stop!" teriakan Senja seperti angin lalu, bahkan guyuran air itu tidak menghasilkan apa-apa. Mereka hanya tersentak sebentar lalu menoleh ke arah Senja.
"Senja minggir!" ucap Elang dan Ervan bersamaan lalu meneruskan aksi mereka.
Senja mulai panik dan putus asa melihat keduanya yang masih saja saling pukul dan mengumpat. Ervan yang selalu menuduh Elang, sementara Elang seperti berusaha menjelaskan namun sama-sama dalam amarah.
"Cukup Berhenti!" Senja menghadang saat Elang hendak melayangkan sebuah pukulan kepada Ervan.
__ADS_1
Menyadari hal itu, kepalan tangan Elang langsung berhenti tepat di depan wajah Senja. Untung saja, ia masih bisa mengerem tangannya, jika tidak pasti sudah kena wajah istrinya.
πΌπΌπΌ