
Acara konferensi pers berakhir setelah Elang dan mengajak Senja dan kedua orang tuanya pergi dari tempat itu. Alex dan Anes pulang terlebih dahulu meninggalkan Elang dan Senja.
"Aku ada urusan sebentar, kau mau ikut atau menunggu di sini?" tanya Elang kepada Senja saat mereka berada di lobby.
"Aku tunggu di sini saja, pergilah!" sahut Senja.
"Hem, aku nggak akan lama," ucap Elang mengusap kepala istrinya lembut.
Elang dan Kendra pergi meninggalkan Senja sendirian. Entah ada urusan apa dua laki-laki itu.
Senja menjatuhkan pantatnya di sofa yang ada di lobby lalu meraih majalah yang tersedia untuk mengusir rasa bosan selama menunggu.
Namanya pemburu berita, melihat Senja duduk sendirian tidak ada Elang maupun Kendra di dekatnya, membuat para wartawan yang masih penasaran dengan sosok Senja pun memberanikan diri untuk mendekat.
Namun, mereka langsung mengurungkan langkah kaki mereka yang mendekati Senja karena ada dua pasang mata yang menatap tajam penuh peringatan ke arah mereka. Ya, siapa lagi kalau buka Elang dan Kendra.
"Urusannya sudah selesai?" Senja berdiri ketika Elang dan Kendra mendekatinya.
"Hem, ayo pulang!" ajak Elang menarik tangan Senja.
Sepanjang perjalanan pulang, Elang lebih banyak diam, seperti sedang memikirkan sesuatu. Senja hanya berani meliriknya sesekali tanpa berani bertanya.
"Kenapa setelah tadi pergi sama Kend, El jadi banyak diam? Apa yang dia pikirkan?" batin Senja bertanya-tanya.
"Kau baik-baik saja?" Senja pun akhirnya memberanikan diri bertanya.
Elang menoleh ke arah istrinya, di genggamnya tangan Senja.
"Hem," ucap Elang tersenyum.
Sampai di rumah, Elang menoleh ke arah istrinya.
__ADS_1
"Pantas, jadi diem nggak ada suara. Astaga kenapa mudah sekali tidur sih," ucapnya begitu melihat Senja ketiduran.
"Maaf, aku tahu pelaku utama penyebar gossip itu, tapi aku tidak bisa membalasnya dengan menghancurkannya," desah Elang dalam hati sambil menatap wajah Senja.
πΌπΌπΌ
Dua hari pasca konferensi pers, keadaan benar-benar sudah kondusif. Berita itu seakan hilang di telan bumi, sudah tidak ada lagi bekasnya dan Elang sudah mengijinkan Senja untuk bekerja kembali.
"Nanti pulangnya aku jemput," ucap Elang sebelum Senja turun dari mobilnya.
"Hem," sahut Senja yang langsung turun dari mobil setelah memberi sebuah kecupan singkat di bibir suaminya sebagai syarat untuk bisa keluar dari mobil dengan mudah.
Senja melambai-lambaikan tangannya mengiringi mobil suaminya yang mulai melaju kembali.
"Cieeeeehhh, senang yah punya suami kayak pak Elang begitu," Sarah yang tidak tahu darimana datangnya menepuk bahu Senja.
"Astaga! Bikin jantungan aja kamu Sar," Senja mengusap dadanya pelan.
"Masuk yuk!" ajak Sarah.
"Nggak nyangka juga ternyata suami kamu itu pemilik Elang Corp Nja, astaga sahabat aku benar-benar istri sultan!" seru Sarah.
"Aku juga baru tahu Sar kemarin, aku kira dia bekerja dimana gitu, aku kira yang kaya daddy mertua aja. Nggak kepikiran karena namanya Erlangga, dia pemiliki Elang Corp.," sahut Senja tersenyum.
Tuhan memang baik, Dia menggantikan apa yang hilang dari Senja dengan yang lebih baik dan yang lebih kita butuhkan.
πΌπΌπΌ
Namun sayang, lagi-lagi keyakinan Senja terhadap Elang kini lagi-lagi sedikit tergoyahkan setelah ia mendapat pesan dari nomor tak di kenal saat menjelang makan siang. Sebuah photo dimana Elang sedang merangkul seorang perempuan yang tak lain adalah Bianca. Yang lebih menyakitkan, photo itu di ambil ketika malam itu dimana Senja sangat membutuhkan Elang karena gossip yang menyebut dirinya pelakor itu.
Tubuh Senja mendadak lemas ketika melihat photo itu. Ternyata itu penyebab Elang pulang terlambat malam itu.
__ADS_1
Senja yang sudah berdiri dan bersiap untuk makan siang, mendudukkan kembali tubuhnya ke kursi kerjanya. Mendadak selera makannya hilang begitu saja. Kini Ia merasa gossip itu benar adanya, sepertinya memang dia tidak akan pernah menjadi yang pertama buat suaminya. Senja merasa seperti beneran dialah orang ketiga diantara Elang dan Bianca yang sebenarnya mungkin masih saling mencintai.
Baru saja satu masalah kemarin kelar, dan baru saja ia merasa benar-benar yakin terhadap Elang, kini ia harus kembali kehilangan keyakinannya tersebut. Senja mengembuskan napasnya kasar untuk menghalau air matanya yang sudah siap tumpah.
Hanya saja, Senja merasa bersyukur karena photo itu tidak di sebarkan kemarin saat konferensi pers. Jika saja itu tersebar kemarin, asti akan memperkeruh suasana.
"Nja kamu kenapa?" tanya Sarah yang melihat Senja melamun.
"Ah tidak Sar," Senja segera memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Beneran tidak ada masalah? Kalau ada apa-apa cerita sama aku. Kita kan sahabat sudah lama, nggak ada salahnya berbagi masalah sama sahabat sendiri," ucap Sarah, ia merasa Senja menyembunyikan sesuatu.
"Yuk ah, katanya mau di traktir!" Senja menarik tangan Sarah tanpa menjawab pertanyaan sahabatnya tersebut.
"Ck, kau ini Nja," cebik Sarah.
Senja tampak tidak semangat saat makan siang, membuat sarah semakin yakin jika ada sesuatu yang mengganggu Senja, tapi apa? Sarah tahu Senja bukan tipe orang yang jika di desak akan mau bercerita. Ia harus dengan suka rela bercerita sendiri, jika tidak ingin cerita, mau di desak seperti apapun juga tidak akan bocor tuh mulut.
"Sar, bagaimana kalau ternyata benar aku jadi orang ketiga?," tiba-tiba Senja bicara yang membuat Sarah membelalakkan matanya.
"Maksudnya?"
Senja mengeluarkan ponselnya, ia memperlihatkan photo yang tadi ia terima kepada Sarah lengkap dengan keterangannya. Sebenarnya ia tak ingin cerita kepada Sarah, tapi ia juga butuh pendapat seseorang.
"Saat gossip itu menyebar, berarti mereka sedang bersama Sar," ucapnya lesu, merutuki kebodohannya dalam hati karena merasa di bohongi oleh Elang.
"Jangan negatif thinking dulu Nja, coba tanyakan saja dulu baik-baik sama suami kamu, mungkin dia punya penjelasan sendiri soal photo itu. Toh pengirimnya juga tidak jelas, pengirim gelap kan? Lagian dia sendiri kan yang bilang kemarin ke media kalau kamu bukan orang ketiga. Kalau benar mereka masih berhubungan juga bukan salah kamu Nja, itu berarti di sini kamu yang jadi korban. Ih jadi pusing deh sama suami kamu, sebenarnya bagaimana sih perasaannya sama kamu,"
"Kamu aja bingung kan, apalagi aku Sar," ucap Senja sambil mengaduk-aduk orange juice di depannya.
"Ah aku juga ikut pusing jadinya. Sabar ya, sekarang makan aja dulu, jangan terlalu di pikirkan, kalau pak Erlangga macam-macam nanti aku bantu buat nabok," ucap Sarah.
__ADS_1
Senja ingin tertawa mendengarnya, coba saja kalau Sarah berani nabok seorang Elang, pikir Senja. Tapi jujur dia juga ingin nabok suaminya itu, ingin marah dan menumpahkan semua keraguannya. Ia benar-benar merasa kecewa kenapa Elang tidak bicara jujur kepadanya. Kenapa harus tahu dari orang tidak fi kenal seperti itu. Hatinya benar-benar sakit saat ini.
πΌπΌπΌ