
"Se-Senja," ucap Elang sedikit gelagapan karena tangannya hampir meninju istrinya sendiri. Senja yang memejamkan matanya karena takut Elang beneran akan memukulnya, langsung membuka matanya ketika sudah memastikan dirinya aman, tidak terkena bogeman dari sang suami.
"Apa yang kau lakukan? Bagaimana jika kau yang kena?" Elang tak habis pikir, kenapa istrinya berani menyodorkan wajahnya untuk melerai perkelahian mereka.
"Senja, kau baik-baik saja kan? Kau tak apa kan? Bajingan tengik ini tidak melukaimu kan?" Giliran Ervan yang bicara.
"Kau yang bajingan tengik!" Elang tak terima dengan ucapan Ervan.
"Cukup El, aku bilang cukup! Kau jga Ervan! Apa kalian tidak malu berantem di tempat seperti ini? Lihatlah! Kalian sudah menjadi tontonan banyak orang, dimana wibawa kalian!" ucap Senja dengan nada tinggi.
Dua laki-laki itu terdiam sambil mengusap sudut bibir mereka masing-masing yang mengeluarkan darah segar.
"Kalian bubar, tidak ada yang perlu di tonton, bubar!" seru Senja kepada mereka yang melihat perkelahian Elang dan Ervan, ia kesal kenapa mereka malah asyik menonton seakan itu merupakan hal yang menarik untuk di lihat bukannya malah di lerai. Mereka pun membubarkan diri dengan meninggalkan komentar dan cibiran.
"Suamimu yang mulai duluan, aku mau beli sesuatu tak tahunya ada dia di sini dan langsung ngajak gelud," ucap Ervan tiba-tiba.
"Kau pantas mendapatkannya setelah apa yang kau lakukan. Bahkan ini tak cukup untuk membalas apa yang sudah kau lakukan. Masalahmu sama aku, jangan libatkan siapapun dalam hal itu," ucap Elang.
Senja bingung, apa yang sebenarnya mereka perdebatkan dari tadi. Sebenarnya apa yang mereka ributkan, kenapa tadi Elang juga menyebut nama Bianca? Apa ini juga ada hubungannya dengan wanita itu? Hah wanita itu lagi, bukannya benci, tapi Senja benar-benar sedang tidak ingin mendengar atau mengucap nama itu saat ini. Lalu apa maksud Elang bahwa Ervan mengusik istrinya? Apa yang sudah Ervan lakukan memangnya? Entahlah, Senja sangat malas untuk sekedar bertanya, ia sudah kehilangan kata-kata rasanya untuk menghadapi dua laki-laki itu. Elang suaminya, dan Ervan yang ia kenal sebagai orang baik.
Senja, ayo kita pergi!" Elang menarik tangan Senja, namun Senja tak bergeming. Elang menolehnya.
"Kalian terluka, harus diobati," ucap Senja datar. Ia sama sekali tak membernarkan sika keduanya apapun alasannya, seharusnya mereka bisa bicara secara baik-baik, pikirnya.
πΌπΌπΌ
Dan di sinilah mereka saat ini, di sebuah klinik yang letaknya tidak jauh dari minimarket dimana mereka tadi berantem. Setelah melakui perdebatan alot, pada akhirnya dua laki-laki itu menurut saja saat Senja mengajak mereka ke klinik untuk di obati luka mereka.
__ADS_1
Elang dan Ervan masing-masing duduk di brangkar yang letaknya bersebrangan. Mereka saling memandang satu sama lain, namun di mata mereka masih memendam kekesalan satu sama lain.
"Jangan dekat-dekat dengannya," Elang menarik tangan Senja hingga jatuh terduduk di pangkuannya ketika Senja posisi berdirinya lebih dekat dengan Ervan.
"Ck. posesif!" cebik Ervan.
"Bukan urusanmu!" ucap Elang sinis.
"Kalian bisa berhenti tidak!" Senja langsung bangun dari pangkuan Elang dan menatap keduanya bergantian dengan tatapan tajam.
"Mau berantem lagi di sini? Sok silahkan! Mumpung sepi, dokter dan perawatnya belum datang, sekalian ancur-ancur wajah kalian," kesal Senja.
"El, kau seperti bukan Elang yang aku kenal, Kau seperti anak kecil! Lihat wajahmu! Kau bahkan dengan sengaja membiarkan dia memukulmu," Senja menyentuh pipi Elang, laki-laki itu langsung meringis.
"Sakit kan? Kirain udah mati rasa," cebik Senja.
"Diam kau!" sarkas Elang kepada Ervan.
"Kau juga Ervan, ah entahlah aku pusing! Aku Keluar dulu. Kalian merenunglah berdua sebelum dokter datang," ucap Senja dan langsung ngeloyor keluar.
"Maafkan aku," ucap Ervan lirih melihat langkah Senja berlalu di balik pintu. Ia benar-benar merasa bersalah atas apa yang sudah menimpa Senja kemarin.
Sungguh, tidak seperti yang di beritakan kemarin yang ia inginkan. Yang Ervan inginkan adalah berita Elang yang selingkuh dari Bianca, yang mana akan membuat Senja menjauh dan menyadari jika Elang tak benar-benar mencintainya. Ervan sudah menyelidiki apa yang melatar belakangi pernikahan Elang dan Senja.
Namun, tak di sangka berita yang beredar justru sebaliknya, dimana Senja yang menjadi korban di sini, padahal Ervan juga sudah menyuruh untuk mengeblur photo Senja, tapi sepertinya anak buahnya membuat kesalahan hingga terjadilah berita soal Senja kemarin.
Saat mengetahui berita itu, Ervan yang waktu itu masih berada di kota S langsung ke Jakarta, ingin memastikan kalau Senja baik-baik saja. Ia mendatangi kantor tempat Senja bekerja, saat melihat Senja keluar dari gedung tinggi itu, ia semakin merasa bersalah melihat raut wajah Senja yang sudah pasti sangat sedih. Ervan bahkan mengikuti Senja hingga ke rumah, namun ia tak berani menunjukkan wajahnya sekedar untuk meminta maaf. Pengecut memang, tapi ia takut gadis itu akan membencinya.
__ADS_1
Saat Ervan akan mengunjungi temannya yang kebetulan apartemennya sama dengan Bianca, ia melihat Elang yang sedang memapah tubuh Bianca waktu itu di parkiran apartemen. Ervan semakin geram dengan Elang yang di nilainya masih sama yaitu suka mempermainkan perempuan, ia yakin jika Elang masih memiliki hubungan dengan Bianca tanpa sepengetahuan Senja. Ia pun mengambil photo itu untuk menunjukkan kepada Senja agar dia sadar dan tidak berharap apa-apa pada pernikahannya dengan Elang.
Ketika Ervan melihat konferensi pers yang di lakukan Elang, ia semakin kesal. Mantan sahabatnya itu ternyata pintar sekali berakting. Ia pun memutuskan untuk mengirim photo tersebut kepada Senja, sebagai bukti apa yang di ucapkan Elang hanyalah omong kosong belaka.
πΌπΌπΌ
Senja tampak sedang duduk bersama Kendra yang ia hubungi beberapa saat yang lalu untuk datang. Mereka sedang menunggu Elang dan Ervan di obati oleh dokter di dalam.
"Apa sebelumnya kau mengenal Ervan?" tanya Senja kepada Kendra.
"Iya nona, dulu mereka bersahabat. Namun karena sebuah insiden beberapa tahun yang lalu mereka jadi seperti ini," jawab Kendra.
"Insiden? Apa itu?" Senja merubah posisi duduknya, ia penasaran.
"Untuk itu, nona bisa tanyakan langsung kepada bos," jawab Kendra.
Senja hanya mencebikkan bibirnya mendengar jawaban Kendra. Ia bangkit dari duduknya.
"Nona mau kemana?" tanya Kendra.
"Kau sudah berada di sini, urus Bosmu, aku mau pulang," ucap Senja.
"Anda tidak mau menunggu mereka selesai di obati?" tanya Kendra.
"Malas!" jawab Senja sambil memutar bola matanya dan langsung pergi meninggalkan Kendra yang hanya bisa garuk-garuk kepala. Senja masih ingat kekesalannya soal photo itu di tambah lagi melihat suaminya dan Ervan berantem seperti anak kecil. Bertambahlah kekesalannya.
πΌπΌπΌ
__ADS_1
π π Hayo siapa yang sudah suudzon sama Bianca ππ yuak ah jangan lupa buat like, komen n hadiahnya π€π€π₯°π π