Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 53 (Omelet setengah gosong)


__ADS_3

Satu minggu kemudian...


Sudah satu minggu setelah Elang menemui David, belum ada kabar dari papa angkatnya tersebut.


"Biasanya papa selalu bisa di andalkan, apapun bisa ia lakukan dengan cepat. Apa kali ini terlalu rumit hingga butuh waktu lebih?" gumam Elang dalam hati.


"Tuan muda, itu omeletnya hampir gosong jika tidak di balik," ucap pelayan yang memperhatikan Elang yang kini sedang membuat sarapan untuk Senja. Istrinya tersebut kini masih terlelap karena semalam Elang kembali menggarap sawahnya.


Elang segera membalik omelet yang ia buat. Warnanya sudah mendekati gosong memang tapi masih bisa dimakan, pikirnya. Karena melamun, ia sampai lupa jika sedang memasak untuk istrinya.


Tiba-tiba ponsel yang ia simpan di saku celana piyamanya bergetar. Diambilnya ponsel tersebut.


"Papa?" gumamnya.


"Teruskan!" perintah Elang kepada pelayan dan ia segera menuju ruang kerjanya.


Begitu sampai di ruang kerjanya, Elang langsung mengubungi David karena panggilan dari David keburu mati tadi kelamaan di perjalanan menuju ruang kerjanya.


"Halo pa, maaf tadi El sedang mandi," alasannya, ia terlalu gengsi untuk mengatakan sedang memasak, takut ditertawakan oleh David. Padahal, papa angkatnya itu tak jauh dari daddy Alex.yang juga jago masak. Bahkan ia lebih pandai dari pada Amel, istrinya.


Elang mendengarkan penjelasan David dengan seksama, sesekali ia menunjukkan ekspresi terkejut dan kadang ia menganggukkan kepalanya mengerti.


"Terima kasih pa untuk informasinya, papa memang bisa di andalkan," ucapnya tersenyum.


Elang kembali mendengarkan penuturan David dari seberang telepon.


"Hem, El mengerti. El akan tunggu kabar selanjutnya. Jika sudah jelas semuanya, El tahu apa yang harus El lakukan," ucapnya kemudian.


"Hem, salam buat mama Amel, El tutup teleponnya," Elang langsung menutup panggilannya. Ia mengembuskan napas lega. Meski belum seratus persen, hanya tinggal satu langkah lagi maka asal usul istrinya akan jelas. Dan janjinya kepada almarhum kakek, akan bertambah satu lagi yang ia tepati.


Elang kembali ke dapur untuk mengambil sarapan yang sudah siap.


"Biar saya yang bawa," ucapnya kepda pelayan ketika pelayan hendak mengangkat nampan berisi sarapan tersebut.


Elang berjalan menuju kamarnya.


"Untung saja makanan kesukaannya tidak susah, hanya omelet saja," Elang tersenyum menatap omelet yang hampir gosong tersebut.


Sesampainya di kamar, Senja masih terlelap di dalam gulungan selimut. Ia kelelahan karena harus melayani suaminya setelah shalat subuh tadi untuk ronde kedua.


Elang menekan remote yang baru saja ia ambil untuk menaikkan gorden jendela kamarnya hingga cahaya matahari masuk kedalam kamar tersebut. Karena silau, Senja pun membuka matanya.


"Bangun, sudah jam berapa ini? Ayo sarapan duku aku sudah buatkan makanan buat kamu," ucap Elang sambil berkacak pinggang berdiri di samping ranjang menghalau cahaya yang masuk supaya istrinya tidak silau.


"Jam berapa ini?" tanya Senja dengan malas.


"Tuh lihat sendiri," Elang menunjuk jam dinding yang ada di kamar itu.

__ADS_1


"Astaga! Sudah jam tujuh! Bisa telat ke kantor ini!" seru Senja yang langsung beranjak dari tempat tidur. Ia lupa jika tubuhnya masih polos tanpa sehelai pakaianpun.


Elang terkekeh melihat istrinya berlari ke kamar mandi tanpa memakai baju, seperti seorang bayi pikirnya.


Elang menunggu Senja keluar dari kamar mandi sambil memainkan ponselnya.


"El..!" teriak Senja dari balik pintu.


Elang menoleh ke sumber suara lalu mendekat.


"Ada apa? Mau mengajakku mandi?" tanyanya dengan senyum smirk.


"Handuk, aku lupa membawa handuk," ucap Senja.


"Di dalam kan ada," jawab Elang santai.


"Kalau ada aku tidak minta kamu buat ambilin. Cepat El, keburu telat ngantor,"


"Nggak usah pakai handuk saja, tadi saja masuk nggak pakai baju nggak malu, sekarang sudah bersih, sudah wangi tidak bau keringat panas malah malu. Aneh kamu. Lagian malu sama siapa? Aku sudah hapal sama semuanya," Elang sengaja menggoda Senja. Ia senang melihat istrinya itu mengerucutkan bibirnya, menggemaskan pikirnya.


"Ambilin atau puasa seminggu, eh salah sebulan," ancam Senja.


"Sebulan? udah kayak puasa ramadhan saja," cebik Elang.


"Jika suami pengin tapi istri nggak ngasih dan suami marah hingga tidur masih dalam keadaan marah, maka niscaya malaikat akan melaknat istri sampai subuh loh," Elang ingat hadis yang ia dengar tanpa sengaja dari acara televisi mobilnya saat pulang dari kantor beberapa hari yang lalu. (Hadist Abu Hurairah).


"Jika suami tidak ridho dan marah sampai tidur dalam keadaan marah, tapi aku kan Elang bukan Ridho," canda Elang yang sudah melihat aura merasa bersalah istrinya.


"Aku ambilkan, biar nggak puasa," sambungnya kemudian dengan cepat mengambilkan handuk untuk Senja.


"Terima kasih," ucap Senja mengambil handuk yang di sodorkan oleh Elang.


"Kembali," jawab Elang. Ia kembali duduk dan memainkan ponselnya.


Senja keluar kamar mandi dan langsung buru-buru masuk ke dalam walk in closet untuk memakai pakaian kerjanya.


"Kamu nggak ngantor?" tanya Senja yang kini sudah rapi.


"Ngantor agak siangan, sarapan dulu aku udah masakin buat kamu," jawan Elang.


"Tapi aku buru-buru," ucap Senja.


Elang menatapnya tajam, setengah memaksa.


"Baiklah, karena kamu udah berbaik hati untuk membuat sarapan untukku," Senja mengalah, ia duduk di samping Elang lalu mengambil makanan yang suaminya buat.


"Ini apa?" tanya Senja.

__ADS_1


"Omelet," jawab Elang yang tetap fokus ada layar ponselnya. Pandangannya lalu beralih ke arah istrinya yang tidak kunjung makan.


"Hampir gosong tadi, tapi itu omelet beneran. Masih bisa di makan juga," sambung Elang yang melihat Senja sedikit ragu untuk memakannya.


"Tidak beracun juga," imbuhnya meyakinkan.


"Kalau tidak percaya, suapi aku! Biar aku makan duluan, kalau ada racun aku yang deat duluan," Elang mengubah posisi duduknya dari selonjor menjadi bersila.


"Tidak, aku hanya lagi berdoa dalam hati tadi," ucap Senja beralasan.


"Berdoa kok lama," cebik Elang yang kembali fokus dengan ponselnya.


Senja pun mulai menyendok makanannya dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Dikunyahnya pelan untuk mengamati rasanya.


"Lumayan, masih bisa di makan," gumamnya.


"Kan, apa aku bilang. Gimana rasanya?" tanya Elang tanpa menoleh.


"Rasa omelet setengah gosong, ada gurihnya tapi menang pahitnya. Itung-itung jamulah pahit-pahit," jawab Senja asal.


"Mau coba?" tawar Senja.


"Boleh," jawab Elang.


Senja menyuapkan makanan yang baru saja ia sendok ke mulut suaminya.


"Pahit!" Elang menyipitkan matanya.


"Lah kan tadi aku bilang apa?" Senja membalikkan ucapan Elang tadi.


Meski pahit tapi Elang tetap mau ikut makan karena di suapi oleh Senja.


"El kamu ngapain sih, dari tadi mata nggak lepas dari ponsel?" tanya Senja.


"Ada game baru," jawab Elang dengan mulut sudah terbuka menunggu suapan dari istrinya.


"Nih, sendoknya mau sekalian di makan?" Senja menyuapkan sendok kosong ke mulut Elang. Ia geram karena suaminya jika sudah bertemu game akan lupa segalanya.


"Habis?" Elang menoleh.


"Iya, udah ah, aku berangkat dulu, gara-gara kamu aku bisa telat," omel Senja sambil mengambil tasnya.


"Salah sendiri, kamunya mau aku ajak main lagi tadi," sahut Elang.


"Lupa sama hadist yang tadi kamu bilang?" Senja mengingatkan. Elang garuk-garuk kepala tersenyum.


🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2