
Elang hanya bisa menghela napasnya sambil Menatap sang istri berjalan meninggalkan meja makan. Sarapan yang tadinya menyenangkan harus berakhir dengan kesalahan pahaman seperti ini.
Sepanjang perjalanan menuju ke kantor pun, Senja lebih banyak diam. Membuat Elang semakin merasa bersalah dan menyesal.
"Sayang, udah dong ngambeknya. Masih pagi nih," sambil mengemudi mobilnya, Elang sesekali menoleh kepada Senja yang sedari tadi hanya diam. Padahal, biasanya istrinya tersebut akan berceloteh tentang banyk hal kepadanya.
Masih didiamkan oleh Senja, Elang tak kehabisan akal. Tangan kirinya menyentuh perut Senja, membuat Senja sedikit berjengit karena terkejut.
"Sayang, anak daddy. Tolongin daddy dong, momminya ngambek sama daddy, daddinya jadi sedih," ucap Elang seolah mengajak bicara anaknya yang masih di dalam perut Senja, matanya sedikit memicing demi melirik ekspresi wajah sang istri.
"Aku nggak suka kamu cemburunya berlebihan. Tadi kita emang lagi bahas Niko, makanya aku ngomongin dia. Tapi kamunya malah begitu! Pakai nuduh aku masih ada rasa sama dia. Nggak percaya sama aku? Di sini udah ada buktinya, udah ada anak kita di sini. Malah begitu," ucap Senja dengan mata berkaca-kaca. Di tuduh masih memiliki perasaan dengan Niko itu sangat menjengkelkan baginya.
"Iya, kan aku udah minta maaf. Lagian kan kamu tadi juga begitu, kelihatan mikir banget, sedih gitu tahu si breng sek itu korup. Kayak yang masih peduli, masih ada rasa gimana gitu. Aku jadinya salah paham. Maafin ya?"
"Tuh kan, masih aja nuduh!"
"Enggak nuduh, sayang. Udah ya, jangan di perpanjangan lagi. Baikan ya?"
Senja masih bergeming, "Aku nggak pernah ya bahas Niko kecuali tadi, nggak pernah chat-an juga, nggak kayak kamu sama Bianca,"
"Hadeh masih aja di bahas," batin Elang mendesah.
"Tapi kamu chat-an sama Ervan, aku juga diem," Elang langsung mengatup kan mulutnya, sepertinya ia salah bicara dan masih akan berbuntut panjang perdebatan mereka.
Benar saja, Senja langsung mendelik, "kOk jadi merembet ke Ervan? Kamu tahu semuanya kan? Nggak ada yang aku tutupin dari kamu. Semua aja di bahas, nggak apa-apa. Ayo kalau mau sebutin satu-satu, mau siapa yang mulai? Aku atau kamu?"
Elang kembali menghela napas dalam, "Sayang, bukan begitu. Kamu tahu kan kalau aku sama Bianca udah nggak ada apa-apa, aku anggap dia kayak adik aku. Udah itu aja, nggak lebih. Cintaku sepenuhnya cuma buat kamu dan anak kita, udah." ucap Elang jujur.
Senja menyerongkan duduknya demi menatap lekat Elang yang masih mengemudikan mobil dan fokusnya harus terbagi antara jalan dan juga istrinya yang sedang merajuk.
"Aku sebelumnya nggak pernah bahas ini, aku bisa ngerti hubungan kamu sama Bianca seperti apa sekarang. Tapi kamu yang mancing tadi. Sekarang aku tanya, kalau aku anggap mantan aku, Niko, kayak kakak aku sendiri, seperti kamu anggap Bianca adik kamu, bagaimana?"
"Nggak bisa gitu dong, sayang,"
"Kenapa nggak bisa? Kalau kamu bisa kenapa aku enggak? Nggak adil!"
"Karena beda, sayang. Di sini kan udah jelas kalau Niko itu breng sek," Elang mencoba bicara dengan lembut, namun tetap saja menekan kata 'breng sek'.
__ADS_1
"Sama aja, mereka sama-sama MANTAN! Emang bisa jamin, kalau Bianca juga nggak ngarep lagi sama kamu?" Senja mendengus. Ia juga sebenarnya tak serius dengan ucapannya mana mungkin ia berniat menganggap Niko sebagai 'kakak'. Itu hanya gertakannya saja.
Elang mengusap wajahnya. Benar kata orang, sekali di senggol perasaannya, perempuan akan sulit di jinakkan. Tanpa sadar, mobilnya sudah memasuki area kantor Senja.
Elang menyerongkan tubuhnya saat mobil sudah berhenti, "Kok jadi gini, sih? Harusnya nggak jadi kayak gini," ucapnya.
Tanpa bicara lagi, Senja bergegas membuka seat beltnya. Namun, saat ingin membuka pintu, ternyata di kunci oleh Elang. Senja menoleh, Aku mau turun, udah sampai," ucapnya.
" Nggak boleh turun, kalau masih marah," ucap Elang tegas.
Senja mendelik kepadanya.
"Natap suami nggak boleh kayak gitu," kata Elang mengingatkan. Membuat tatapan Senja langsung melembut.
"Buka sekarang, aku mau turun," ucap Senja.
"Nggak boleh pergi dalam keadaan marah, kamu tahu aku nggak suka. Selesaikan sekarang juga, atau kita tetap di dalam mobil. Nggak turun!" ucap Elang.
"Baikan ya? Nggak usah di perpanjangan lagi soal mantannya. Ngak usah di bahas-bahas lagi, ya"?
"Kamu tadi yang bahas duluan, bukan aku," masih kekeh tak terima. Sepertinya kesensitifannya belum mereda.
"Iya, iya aku yang salah. Maafin ya, jangan marah lagi," sebisa mungkin Elang berusaha untuk tidak terancing emosi. Kalau tidak, ucapannya yang cuma beberapa kata, tak hanya akan di bahas oleh Senja menjadi beberapa paragraf. Tapi, bisa jadi beberapa halaman.
"Oh, tentu tidak semudah itu Ferguso!" batin Senja.
"Nanti kita bahas lagi, sekarang aku mau turun. Buka!"
"Nggak, nggak ada pembahasan nanti-nanti. Aku nggak tenang kalau kamu ngambek gini,"
"Boo, buka! Atau mau aku teriak panggil satpam?"
"Coba saja, mereka nggak akan lupa siapa aku. Nggak akan ada yang berani sama aku," Elang menurunkan kaca mobil," Ayo teriak!"
Lagi-lagi Senja mencebik, "Buka sekarang dan aku akan pikir-pikir buat kita baikan, atau aku akan tambah ngambek. Diemin kamu dan nggak ngasih jatah bertamu menemui anak kamu?"
"Kok gitu ancamannya,"
__ADS_1
"Buka,"
"Tapi udah nggak ngambek lagi kan?"
"Aku bilang masih mau aku pikir - pikir! Kamu kenapa sih Boo, kok jadi nyebelin begini hiks," tiba-tiba mata Senja sudah kembali berkaca-kaca. Membuat Elang langsung panik setengah mati, "Duh, kok malah nangis sih. Jangan nangis dong. Udah sana turun, udah aku buka," ucapnya menyerah. Jika ia tetap bertahan keras kepala untuk tidak membuka pintu mobil, yang ada akan semakin rumit urusannya.
Senja langsung membuka pintu mobil.
"Kok nggak cium dulu, sayang?" protes Elang.
Senja mendengus. Namanya juga ngambek, mana ada adegan cium-cium, yang ada batal ngambek kalau gitu mah, pikir Senja.
"Nggak, hutang dulu. Nunggu mood kembali bagus," ucap Senja sebelum akhirnya ia turun dari mobil.
Elang menghela napas dalam sambil mengsuap-usap tengkuknya. Saat hendak kembali melajukan mobilnya, tanpa sengaja Elang melihat dokumen-dokumen milik Senja masih tergeletak di dalam mobil. Ia buru-buru mengambilnya dan turun dari mobil.
"Sayang, kamu melupakan ini!" ucapnya setelah berhasil menyusul Senja.
"Ya, udah sana berangkat. Nunggu apalagi?" tanya Senja setelah ia menerima berkas-berkas tersebut.
"Sayang, itu apa? Bagus banget sumpah!" Elang menunjuk sebuah arah.
Sebja langsung menoleh mengikuti arah mta Elang. Dan ternyata tidak ada apa-apa. Senja mendengus sebal lalu menoleh untuk mengomel. Namun saat ia menoleh, wajah Elang sudah tepat berada di sampingnya. Alhasil bibir mereka bertemu.
"Boo!!" teriak Senja kesel, ia menabok lengan Elang.
Elang terkekeh, "Makasih kissnya, aku pergi sekarang," ucapnya.
"Aku makin ngambek! Titik!"
Elang mengembuskan napasnya. Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang panjang dan menyebalkan untuknya karena istrinya merajuk.
🌼 🌼 🌼
💠💠 Yang ingin cerita Senja untuk Elang terus berlanjut, jangan lupa buat like, komen dan tehnya... Terima kasih 🙏🏼 🙏🏼
Salam hangat author 🤗❤️❤️💠
__ADS_1