
Bandar Udara Paris-Charles de Gaulle,
..
pesawat jet pribadi yang di tumpangi Elang dan Kendra baru saja mendarat. Keduanya bergegas ke kediaman yang ada di Paris yang di temani oleh Senja. Sesampainya di rumah, pelayan bilang jika nyonya mereka pergi ke rumah sakit pagi-pagi sekali karena Senja akan melahirkan.
Mendengar ucapan pelayannya, wajah Elang langsung menjadi pucat pasi, "Kend, kita langsung ke rumah sakit, Sekarang!" ucapnya.
Di perjalanan menuju ke rumah sakit, Kendra menonaktifkan mode pesawat yang belum ia aktifkan sejak mendarat tadi. Dan benar saja, ada begitu banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari Sarah yang mengatakan kalau Senja akan melahirkan.
Elang yang mengetahuinya langsung murka, "Jadi selama ini kalian diam-diam sekongkol di belakangku? Diam-diam kalian berkomunikasi di belakangku, tanpa sepengetahuanku?!" hardik ya dalam keadaan genting tersebut.
"Maaf bos, tapi ini semua nona yang minta. Nona tidak ingin mengganggu Anda jadi dia selalu memantau kondisi Anda secara diam-diam," ucap Kendra jujur.
Elang mengusap wajahnya kasar
, betapa ia sangat menyesal selama ini yang terlalu naif dan menutup diri. Dia bahkan seerti orang bodoh yang tak tahu dimana Senja berada, padahal sesekali ia dan Gisel berkomunikasi, bahkan terkadang video call. Tapi, dengan apik sekali adik bungsunya itu juga merahasiakan keberadaan Senja. Gisel sama sekali tak pernah menyinggung soal Senja, sehingga ia pikir tidak mungkin Senja berada di Paris, tempat yang sangat mudah di temukan olehnya.
"Aku akan buat perhitungan dengan kalian jika sampai terjadi sesuatu dengan istri dan anakku!" umpatnya kesal.
Kendra hanya bisa terdiam, dia menyadari kesalahannya yang selama ini tak memberi tahu dimana Senja berada. Baru kemarin Kendra memberitahunya jika sebenarnya dia yang mengantar Senja ke Bandara waktu itu menuju ke Paris tanpa sepengetahuan Elang. Ia mengatakannya kepada Elang karena merasa bersalah, berharap semuanya belum terlambat untuk mereka kembali bersatu. Saat tahu, tanpa banyak bicara lagi Elang langsung mengajak Kendra untuk terbang ke Paris.
"Tapi, kemarin nona bilang lahirnya di perkirakan masih sekitar satu minggu lagi, bos," ucap Kendra kemudian.
"Kau ini! Kalau anakku mau lahir sekarang ya sekarang, memang bisa di tunda? Itu hanya prediksi dokter, bisa maju atau mundur!" ucap Elang kesal. Setelah sekian lama, kenapa asistennya tersebut baru mengatakannya. Mungkin jika Elang tidak mengintrogasinya habis-habiskan kemarin, Kendra baru akan bilang seminggu lagi, pikir Elang kesal.
" Sayang, tunggu aku. Bersabarlah, aku datang," gumamnya dalam hati. Pikiran Elang sudah kacau berantakan, ia hanya bisa berdoa dan berdoa dalam hatinya.
"Ya ampun, ini mobil apa keong sih? Kenapa lambat sekali? Bisa lebih cepat sedikit tidak!" ucapnya gusar.
Entah kenapa, alam seperti tak mendukungnya, jalanan hari itu begitu macet. Elang benar-benar hampir kehilangan akalnya frustrasi. Membayangkan istrinya kesakitan sendiri di rumah sakit.
Tanpa banyak bicara lagi, Elang membuka pintu mobil yang sedang berhenti di lampu merah. Meninggalkan Kendra dan sopir yang berteriak-teriak memanggil namanya namun tak ia gubris. Ia berlari di antara mobil-mobil yang sedang terjebak macet di tambah lampu merah. Tak peduli dengan kondisi kakinya yang baru saja bisa berjalan tersebut.
πΌ πΌ πΌ
Di rumah sakit...
Dokter Catherine datang untuk memeriksa Senja. Dan masih belum ada kemajuan yang berarti, padahal ini sudah lebih dari dua belas jam. Senja merasa hampir putus asa. Sarah kembali menyodorkan minum untuknya. Peluh keringat sudah membasahi seluruh wajahnya.
Dokter Catherine menyuruh suster untuk memasang infus untuk mempercepat bukaan.
Senja mencoba mengubah posisi tidurnya menjadi miring. Sarah terus mengekus punggung sahabatnya tersebut. Meski bukan dia yang akan melahirkan, tapi ia seperti ikut merasakan mules jika Senja mengalami kontraksi.
Kontraksi kembali mendatangi Senja, tangannya meraba ke belakang, mencari tangan Sarah untuk di genggamnya kuat.
"Sakit, Sar..." ucap Senja menggenggam erat tangan tersebut.
Senja merasakan genggaman tangannya berbeda, tangan itu terlalu kokoh untuk ukuran tangan Sarah. Tapi, untuk memastikan ya, Senja tak ada waktu karena masih merasakan sakit.
__ADS_1
Senja merasakan tangannya sedikit di tarik lalu menempel di benda kenyal dengan lembut. Ia bisa merasakan ada air mata yang menetes di tangannya. Senja pun tak kuasa menahan air matanya, "Boo, kamu datang?" ucapnya dengan nada bergetar.
Elang yang beberapa saat lalu menggantikan posisi Sarah, tak mampu berkata-kata, ia hanya bisa menganggukkan kepalanya seraya terus mencium tangan sang istri.
"Tidak mungkin, apa ini cuma mimpi? Jika iya, pergilah!" Senja bahkan tak berani menoleh, ia takut jika itu hanya halusinasinya yang terlalu mengharapkan kehadiran suaminya.
"Maafkan aku, sayang," suara yang terdengar itu serasa nyata.
"Maafkan aku, karena aku baru datang. Ini aku, El. Suami kamu," Elang yang bisa di bilang tak pernah menangis, kini tak mampu menahan air matanya yang berjatuhan.
Sesaat, Senja melupakan rasa sakitnya, ia memberanikan diri untuk menoleh, tangannya yang di asang jarum infus itu membelai pipi laki-laki di depannya. Ia ingin memastikan jika memang itu suaminya, "El...?" ucapnya dengan derai air mata.
Elang menahan tangan Senja di pipinya, ia mengangguk, "Iya, ini aku. Maaf karena aku terlambat datang. Maafkan aku," Elang hanya bisa mengucapkan kata maaf Berkali-kali.
"Kamu jahat El, kamu jahat! Kenapa baru datang. Kamu janji akan menemani aku lahiran, hiks," Senja memukul-mukul pelan dada suaminya.
"Maaf sayang, maafkan aku. Maafkan keegoisanku. Sekarang aku sudah di sini," Elang memeluk erat Senja.
"Aku takut, boo. Aku takut! Aku kira kamu tidak akan ernah datang, kamu kejam. Aku benci kamu, boo. Aku benci! Hiks hiks!" meskipun Senja tahu bagaimana suaminya itu berjuang untuk bisa berjalan lagi selama ini, tapi entah kenapa ia tetap ingin memakinya, namun sejujurnya makannya itu adalah tanda rindu dn cintanya yang teramat sangat.
"Aku pantas mendapatkannya, aku pantas kamu benci," balas Elang, berkali-kali ia menyeka air mata Senja dan menghujani nya dengan ciuman.
"Kau datang untuk anak kita?" tanya Senja. Senja berpikir, mungkin Elang marah karena ia telah pergi meninggalkan Elang tanpa pamit dan dia datang hanya demi anaknya.
Elang menggeleng, "Tidak, aku datang untuk kalian berdua," ucapnya.
Tiba-tiba, Senja kembali meringis. Ia kembali kontraksi, tangannya mencengkeram lengan Elang sangat kuat.
Senja mengangguk, "Sakit, boo. Ini sangat sakiiit," peluh kembali membanjiri kening Senja.
Elang yang bingung harus bagaimana hanya bisa mengusap perut sang istri. Di ciumnya penuh cinta perut itu, lalu berisik, "Sayang, ini daddy. Daddy sudah datang, cepat lahir ya. Kasihan mommy kesakitan, jangan biarkan mommy sakit terlalu lama ya? Daddy udah ada di sini, udah nggak sabar pengin gendong kamu, Nak,"
Elang dengan telaten mengusap keringat yang memenuhi kening Senja," Sabar ya sayang, aku yakin sebentar lagi anak kita akan lahir. Maafkan aku, semua gara-gara aku, kamu jadi harus kesakitan seperti ini," ucapnya tak tega melihat Senja yang terlihat menahan sakit. Jika bisa meminta, ia ingin sekali menggantikan posisi sang istri saat ini.
Suster datang untuk kembali mengecek, apakah sudah ada tambahan bukaan atau belum.
"Seertinya memang anak madam menunggu ayahnya datang ya, buktinya sekarang sudah bukaan tujuh, cepat sekali tambahnya, tidak lama lagi. Sabar ya, madam," ucap suster tersenyum.
πΌ πΌ πΌ
Kendra yang baru saja tiba, melihat Sarah DAN Gisel yang sama-sama masih mengenakan piyama tidur mendekati mereka berdua dengan rasa sedikit canggung. Mereka seolah berdiri untuk menyambut kedatangannya.
" Kend... " sapa Sarah.
"Mas Kend..." sambung Gisel yang juga menyapa Kendra.
Kendra hanya memasang senyum canggung ketika dua wanita cantik itu menyapanya. Mereka sama-sama terlihat cantik meskipun dengan wajah polos natural khas bangun tidur. Bahkan ia ingin tertawa melihat Sarah yang nyeker akisa tidak menggunakan alas kaki. Namun, ia tak sampai hati untuk benar-benar menertawakannya karena ia bisa membayangkan bagaimana panik ya mereka berdua tadi pagi, saat tahu Senja akan melahirkan.
"Bagaimana Nona?" daripada salah bicara, mending ia langsung to the point menanyakan keadaan Senja.
__ADS_1
"Masih di dalam, belum lahir," jawab Gisel yang kini terlihat lebih dewasa di mata Kendra.
"Bos...?"
"Kakak udah datang beberapa waktu lalu, sekarang lagi di dalam nemenin kakak ipar. Kenapa kalian tidak datang bersama?" Lagi-lagi Gisel yang menjawab. Sementara Sarah hanya diam, ia sadar diri dengan posisinya. Daripada mendengar suaranya, suara Gisel lah yang paling ingin di dengar oleh Kendra, pikirnya.
πΌ πΌ πΌ
Waktu terasa berjalan begitu lambat ketika Senja kembali merasakan sakit yang luar biasa. Ia merasa ada sesuatu yang mendorong untuk keluar.
"El,,, sakiiittt huf huf huf," ucap Senja sambil mengatur napasnya.
"Kayak ada yang dorong, mau keluaaaar,"
Dokter Catherine yang baru saja masuk setelah di panggil oleh suster langsung memeriksa kondisi Senja.
"Anak pintar, begitu ayahnya datang cepat sekali ya bukaanya. Sudah bukaan lengkap ya, madam. Ikuti instruksi saya ya, kalau saya bilang tarik napas, tarik napas ya. Kalau saya bilang mengejan, mengejan. Jangan di angkat ya bo kongnya, madam," ucap dokter Catherine.
Senja hanya bisa mengangguk, ia merasa sudh tak tahan antara sakit, seperti ingin buang air besar dan juga tulang-tulang rusuknya serasa mau patah secara bersamaan,"
Senja memilih melahirkan dengan posisi semi sitting atau setengah duduk. Punggungnya bersandar di dada Elang yang duduk di belakangnya. Tangannya memegang tangan Elang dengan sangat kuat saat mengejan.
"Aaaaarrrgghhh! Huf Huf huf!"
"Ya madam, bagus. Sebentar lagi. Ayo madam pasti bisa, tarik napas...."
Senja mengikuti instruksi dokter.
"Yap, ayo!" seru dokter.
"Aaarrgghhh! Huf huuf huf!"
"Ayo sayang, kamu pasti bisa. Sebentar lagi, anka kita lahir," bisik Elang seraya memeluk Senja erat dari posisinya saat ini.
"Aaaarggghhh!"
"Ya terus madam, yap pintar sekali. Kepalanya sudah terlihat!
Senja berhenti mengejan sesuai perintah dokter, membiarkan jalan lahir dan perineum meregang perlahan-lahan di sekitar kepala bayi yang mulai muncul.
Dan sekali lagi, dokter menginstruksikan supaya Senja kembali mengejan. Dorongan yang kuat dari dalam, di tambah rasa tidak sabarnya untuk segera bertemu sang anak, Senja mengejan dengan sekuat tenaga, mengerahkan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
"Aaaaarrrggghhhhhhh!"
Dan....
"Oeeeee, Oeeeee, oeeee!" akhirnya suara bayi perempuan memenuhi ruang persalinan tersebut.
πΌ πΌ πΌ
__ADS_1
π π Jangan lupa, like komen dan hadiahnya untuk New baby girl-nya Elang dan Senja ya Onty Onty syantik πππ π