Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 112


__ADS_3

"Kenapa nggak chat aku sama sekali? Belum cukup marahnya?" tanya Elang kemudian.


Senja kembali ingat akan kekesalan ya yang beberapa saat tadi menguap.


"Kamu juga enggak ada chat aku, kenapa harus aku duluan. Kan suami juga bisa chat istri duluan," tukas Senja.


"Aku kan takut kamu nggak balas kalau aku chat duluan, aku bisa tambah mumet kalau gitu. Aku juga kirim bunga buat minta maaf sama kamu, tapi nggak di respon, bahkan aku merangkai sendiri setip kata yang aku kirimkan," ucap Elang sedikit merajuk. Ia merasa usahanya tak di hargai.


" Kirim bunga buat minta maaf atau mindahin tokohnya ke sini? "sindir Senja, matanya mengedar ke seluruh ruangan yang penuh bunga tersebut, bahkan kini Kendra dan Sarah yang seperti obat nyamuk di sana, tak memiliki tempat untuk sekedar mendaratkan pan tat mereka.


Elang ikut mengedarkan pandangannya dan hanya bisa tersenyum tipis sambil mengusap tengkuknya yang tidak gatal.


"Ini bukan kamu banget," lanjut Senja. Dan benar saja, karena ini adalah ulah Kendra. Ia tak menyuruh Kendra untuk memindahkan toko bunga untuk istrinya. Ia hanya menyuruh asisten ya itu untuk mengirimkan bunga terbaik untuk Senja.


"Tapi di maafin kan?" rengek Elang.


Belum juga Senja menjawab, fokus keduanya seketika beralih kepada asisten merek masing-masing yang kini sedang adu mulut.


"Ya udah siniin ponsel aku, lain kali kalau ambil HP tuh jangan asal ambil, jadi ketuker kan," ucap Sarah mencebik.


"Heh Saroh! Kemarin yang ngajak buru-buru pulang siapa? Aku juga nggak sengaja ambil ponsel kamu. Lagian ponsel kamu berisik banget, bentar-bentar ada notif. Dari shopia lah, dari otopedia, Fasbok, segala macam novel online juga ada. Satu lagi, ibu kamu juga, wa tuh!" ucap Kendra sambil menyerahkan ponsel milik Sarah yang kemarin tanpa sengaja tertukar saat di kafe. Mereka meletakkan ponsel masing-masing di atas meja saat mengobrol.


" Mending cuma notif dari olshop dan novel, dari pada punya kamu hape isinya cuma gamb...." Sarah tidak melanjutkan bicaranya, ia tak ingin membuat Kendra tersindir atau malu karena ponselnya penuh dengan photo Gisel yang sering diambilnya secara candid.


Meski suka meledek, tapi Sarah tak sampai hati jika menyinggung perasaan Kendra. Mencintai dalam diam itu menyakitkan, Sarah Bisa paham akan hal itu.


Sarah buru-buru membuka pesandari ibunya, wajahnya langsung merona malu, "Kamu buka pesan dari ibu aku?" tanya Sarah lebih kepada protes sebenarnya. Ia malu jika Kendra tahu isi chat dari ibunya.


"Nggak sengaja kebuka," jawab Kendra datar.


"Tapi nggak aku baca, tenang aja," sambungnya bohong. Ia tak ingin Sarah merasa malu.


Sarah hanya mencebik, ia tak percaya jika Kendra tak membacanya sama sekali.


Elang dan Senja sama-sama mengernyitkan kening mereka melihat dua orang yang malah asyik berdua dan berhasil mengalihkan perhatian mereka tersebut.


"Ehem...!!" Elang berdehem, membuat Kendra dan Sarah menoleh.


"Kayaknya kita ketinggalan berita nih, pantes dari tadi ada yang wajahnya tuh keliatan cerah terus, mengalahkan sinar matahari pagi," ucap Senja tersenyum.


"Dari tadi juga ada yang nggak sabaran buat ngintilin aku kesini, semangatnya melebihi semangat empat lima," Elang tak mau kalah menyindir Kendra.


"Ck, dasar, bos. Ini, ponsel kita ke tuker kemarin nggak sengaja, makanya pengin buru-buru buat nukar, jangan suudzon!" ucap Kendra.


"Iya, cuma buat menukar hape, bukan apa-apa," dukung Sarah.

__ADS_1


"Kemarin? Emang kemarin kalian ngapain? Kok sampai hape bisa ketukar gitu?" tanya Senja penasaran.


"Eh, Nja, habis ini kita ada meeting loh sekalian makan siang. Yuk berangkat. Nanti telat!" ajak Sarah, mengalihkan pembicaraan.


"Sekarang ya?" Senja menoleh kepada Elang. Suaminya baru datang, masa harus ia tinggal. Tapi, ia juga tak bis mengabaikan janji dengan klien tersebut yang sudah di buat jauh-jauh hari.


"Meeting sambil makan siang? Di luar? Aku ikut!" ucap Elang.


"Aku juga!" seru Kendra tak mau kalah.


🌼 🌼 🌼


Elang dan Kendra benar-benar mengikuti Senja dan Sarah ke sebuah restauran di salah satu hotel bintang lima. Mereka duduk berdua di meja lain yang terletak beberapa meter dari tempat duduk Senja dan sarah, serta klien mereka.


Elang hampir tak berkedip melihat Senja yang seperti akrab sekali dengan klien tersebut. Sesekali Senja tersenyum dan mengangguk, entah apa yang mereka bicarakan. Yang jelas, hal itu membuat Elang duduk dengan gelisah.


Apalagi, Elang tahu klien tersebut masih single. Elang bisa melihat jika laki-laki itu melihat Senja dengan tatapan tak biasa dan sialnya dia... Cukup tampan, membuat Elang semakin mumet. Persoalan pagi tadi pagi belum selesai, kini di tambah di suguhi pemandangan yang membuat matanya sakit, apalagi hatinya.


"Bos kenapa sih? Dari tadi nggak tenang amat, makan bos!" ucap Kendra.


"Malas, nggak selera. Kamu saja yang makan," Percayalah, daripada makan siang di restoran bintang lima tersebut, saat ini Elang lebih ingin 'memakan' istrinya.


Kendra menoleh ke meja Senja, ia paham sekarang, "Tenang aja, nona nggak akan macam-macam. Mereka hanya meeting, ngomongin pekerjaan," Kendra mencoba menenangkan atau bisa-bisa dia akan jadi sasaran kekesalan Elang lagi.


"Aku percaya Senja, tapi tidak dengan laki-laki itu. Lihat, dia menatap istriku seolah ingin melahapnya, dasar laki-laki!" umpat Elang lirih.


Elang mencebik, menatap sebal kepada Kendra.


Setelah di pastikan mereka sudah menandatangani kontrak kerja sama, Elang langsung bangkit dari duduknya.


"Sayang, sudah selesai meetingnya? Bisa pulang sekarang? Maaf tuan, sepertinya meeting kalian sudah selesai, saya permisi mengajak istri saya pulang dulu. Silahkan tuan melanjutkan makan sianganya, permisi!" Elang menarik tangan Senja pelan. Senja tak memberontak, ia paham suaminya sekarang sedang benar-benar kesal.


Senja tahu suaminya sedang cemburu, karena ia sendiri sadar bagaimana Kliennya sejk tadi melihatnya.


" Saya permisi tuan," pamit Senja menganggukkan kepalanya sopan.


Elang terus menarik tangannya dengan pelan menuju ke mobil. Sepertinya sekarang gantian suaminya yang akan merajuk, pikir Senja. Saat Elang kesal, ia akan lebih sabar. Pun, Sebaliknya, saat ia yang kesal dan marah Elang yang akan lebih sabar dan mengalah. Begitulah keduanya saling melengkapi.


Sarah hanya bisa melongo menatap kepergian Senja. Ia sedikit khawatir melihat sikap Elang barusan. Meski terlihat tetap tenang, tapi jelas tersirat amarah di mata pria itu.


"Eh, itu. Senja akan baik-baik saja kan? Tadi kami bendera cuma meeting, kalian lihat sendiri kan? Pak Elang nggak akan ngapa-ngapain Senja kan?" ucapnya kepada Kendra yang kini sudah mendekatinya.


"Tidak mungkin tidak diapa-apain. Pasti nona diapa-apain sama Bos," sahut Kendra tersenyum penuh arti.


"Eh diapa-apain? Nggak di pukul kan, Pak Elang kalau cemburu seram ya,"

__ADS_1


"Udah, nggak usah di pikirkan. Nona akan baik-baik saja, mereka punya cara sendiri buat menyelesaikan masalah. Ayo, aku antar kembali ke kantor!" Ucap Kendra.


Sementara itu di mobil, Senja dan Elang saling diam. Elang melajukan mobilnya dengan cepat.


"Aku nggak ngapa-ngapain. Cuma meeting aja, nggak perlu cemburunya sampai begini," Ucap Senja di tengah ketakutannya karena laju mobil yang kencang.


"Kamu nggak ngapa-ngapain, tapi pria itu yang Ngapa-ngapain. Kamu juga senyum-senyum ke dia, sedangkan sama aku masih asem," balas Elang.


"Terus aku harus memasang wajah asem juga ke dia? Dia itu klien aku, aku hanya bersikap profesional,"


"Dia klien kamu, tapi aku suami kamu. Harusnya kamu lebih bersikap manis kepadaku daripada ke dia,"


"Biasanya kan juga begitu, tapi ini kita kan lagi nggak baik-baik saja. Kita kan belum ada kata damai, Boo,"


"Iya, makanya mau aku buat damai ini, aku udh nggak tahan marahan sam akmu, harus segera di selesaikan," jawab Elang tegas tanpa bisa di bantah.


"Anak kita bisa lahir sebelum waktunya kalau kamu nyetir mobilnya kayak gini. Kamu nggak mikirin, nggak takut aku dan bayi kita kenapa-kenapa?" ucap Senja kemudian karena Elang tak kunjung memelankan laju mobilnya.


Elang langsung melambatkan laju mobilnya setelah mendengar ucapan Senja.


Senja memilih untuk diam sampai akhirnya Elang menghentikan mobilnya di sebuah hotel.


" Kok ke hotel?" tanya Senja bingung.


Elang tak menjawab, ia segera turun dari mobil diikuti oleh Senja. Elang menggandeng tangan Senja setelah memberikan kunci mobil kepada petugas untuk di parkirkan.


"Boo, kenapa di hotel sih. Kenapa nggak langsung ke rumah aja?" Tanya Senja saat mereka memasuki lift menuju kamar yang baru saja di pesan oleh Elang. Meski protes, namun Senja tetap patuh mengikuti suaminya tersebut.


"Kelamaan kalau sampai rumah, aku mau segera di selesaikan dengan cara baik-baik," Jawab Elang.


Begitu sampai di kamar Presidential suite, Elang yang masih menggandeng tangan Senja langsung mendorong tubuh Senja pelan untuk duduk, sementara ia langsung membuka jasnya.


" Kita selesaikan Sekarang, setelah ini awas kalau ngambek lagi," Elang langsung mencium bibir Senja sebagai langkah awal damai mereka.


Senja yang sudah tahu apa yang akn suaminya lakukan, membalas ciuman Elang. Elang mendorong tubuh Senja lalu mengukungnya menggunakan kedua tangannya yang kokoh.


" Pelan-pelan, ada anak kita di dalam," ucap Senja saat Elang akan memulai mencumbuinya.


"Ash you wish," ucap Elang, ia langsung memulai membawa Senja ke surga dunia bersama dengannya.


🌼 🌼 🌼


πŸ’ πŸ’ Udah hari senin lagi nih, Votenya boleh buat Elang nggak nih? Boleh ya? Boleh dong? πŸ˜„πŸ˜„


Jangan lupa like, komen dan kopi ya... Tengkyu πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ

__ADS_1


Salam hangat author πŸ€—β€οΈβ€οΈπŸ’ πŸ’ 


__ADS_2