
Elang baru saja selesai dengan pekerjaan mereka. Karena esok mereka akan kembali ke Jakarta, malam ini mereka harus lembur.
Kendra pamit kembali ke kamarnya yang berada satu lantai di bawah kamar hotel Elang. Setelah Kendra pergi, Elang melihat jam tangannya yang ternyata sudah menunjukkan pukul satu dinihari.
Elang segera naik ke lantai dua menuju kamarnya. Ia membuka pintu dan masuk dengan pelan-pelan karena tidak ingin membangunkan Senja yang sudah terlelap.
Elang mendekat ke tempat tidur, ia duduk di samping istrinya. Disibakkannya rambut Senja yang menutupi sebagian wajahnya hingga kini wajah cantik itu terlihat dengan jelas. Sangat cantik, bahkan dalam keadaan sedang tidur pun kadar kecantikannya semakin bertambah dan apa adanya.
Elang mengecup sekilas bibir cherry kesukaannya. Bibir istrinya itu sungguh kini menjadi candu baginya. Setiap kali ia melihatnya ingin rasanya ia memagut bibir itu.
Elang merebahkan tubuhnya di samping Senja. Ia juga sudah merasa lelah dan ingin memejamkan matanya meski sebentar saja. Baru akan memejamkan matanya, ponsel Elang bergetar. Rupanya Kendra meneleponnya.
Elang bangun dari posisi tidurnya, lalu berjalan menuju ke balkon.
"Kend, apa tidak bisa jika tidak mengganggu. Kau bahkan belum ada setengah jam yang laku keluar dari ruang kerjaku. Aku bahkan belum tidur, udah mengganggu saja. Besok saja kalau ada yang mau di bicarakan," ucap Elang begitu mengangkat panggilan dari Kendra.
"Saya juga belum istirahat bos," sahut Kendra tak mau di salahkan.
"Kau tadi sudah tidur di mobil!" Elang tak mau kalah.
"Ya sudah kalau begitu tutup saja teleponnya, saya menelepon padahal mau memberitahu hal penting soal kaling nona Senja. Baru saja saya dapat informasi,"
"Katakan!" ucap Elang begitu maksud Kendra meneleponnya.
"Menurut sumber terpercaya, kalung nona Senja mirip dengan simbol sebuah perusahaan besar di Paris,"
"Lanjutkan!" Elang masih ingin mendengarkan penjelasan lebih dari Kendra.
"Bos pasti tidak akan percaya jika tahu nama perusahaan tersebut," ucap Kendra.
__ADS_1
"Jangan bertele-tele Kend, katakan saja intinya!"
"Perusahaan itu bernama BaileyTex," jawab Kendra singkat, padat dan jelas.
"Bailey? Kau jangan bercanda Kend. Bukankah simbol perusahaan itu berbeda dengan kalung milik Senja?"
"Benar bos, simbol yang sama dengan kalung nona Senja sama dengan simbol yang di gunakan oleh perusahaan sekitar Tiga puluh tahun yang lalu saat tuan Bailey mendirikan perusahaannya. Simbol itu berganti setelah tuan dan nyonya Bailey ki kabarkan meninggal dunia," jelas Kendra.
"Kalau memang seperti itu, lalu apa hubungannya dengan istriku? Kenapa kalung itu bisa berada di tangan Senja?" Elang mencoba mencari pertanyaannya. Tapi ia tak ingin berasumsi tanpa bukti.
"Terus cari informasi Kend! Secepat mungkin!" perintah Elang.
"Baik bos, selamat pagi, selamat beristirahat," sahut Kendra.
"Hem," panggilan pun berakhir.
Elang mengusap wajahnya kasar. Sedikit ada titik terang tentang masa lalu Senja, meski masih samar. Tapi hal itu justru membuatnya semakin penasaran siapa sebenarnya istrinya dan apa hubungannya dengan perusahaan dimana dirinya menjadi pemegang saham terbesar di sana.
"Sepertinya aku harua minta bantuan papa David," gumam Elang dalam hati sambil menatap lurus ke pantai yang ia dan Senja datangi tadi.
πΌπΌπΌ
Di tempat lain...
Suara musik masih memenuhi ruang sebuah apartemen. Ya, penghuni apartemen tersebut sedang mengadakan pesta ulang tahunnya.
Bianca tampak menepi sebentar dari hingar bingar musik yang suaranya menggelegar, memenuhi apartemennya tersebut. Ia sudah merasa lelah, namun teman-temannya masih ingin pesta terus berlanjut hingga pagi. Bianca mengambil ponselnya. Ia menatap ponsel tersebut dengan pandangan kosong. Sejak pagi hingga sekarang ia menunggu pesan dari Elang, orang yang selalu pertama kali mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Bahkan terkadang laki-laki itu diam-diam memberi kejutan dengan muncul tiba-tiba jika Bianca sedang berada di luar negeri seperti sekarang ini. Jika tidak, Elang akan mengirimkan hadiah ulang tahun sesuai yang diinginkan oleh Bianca, apapun itu. Namun kali ini berbeda, tak ada satupun pesan dari Elang untuknya, meski hanya sekedar ucapan selamat.
"Bie, ayolah kita have fun sampai pagi. Mumpung besok free tidak ada kerjaan," ajak salah satu teman Bianca.
__ADS_1
"Baiklah," Bianca tersenyum, ia menyimpan ponselnya kembali dan bergabung bersama teman-temannya yang sebagian besar berprofesi seperti dirinya.
πΌπΌπΌ
Elang masih asyik dengan pikirannya soal istrinya, ia menoleh ke dalam kamar dimana istrinya sama sekali tak terusik oleh angin yang berembus masuk melalu pintu yang terbuka.
"Kenapa semua bisa serba kebetulan seperti ini, apa memang ini sudah yang di gariskan oleh Tuhan untuk kita?" gumamnya lirih.
Elang hendak mematikan layar ponselnya yang menyala. Namun kedua irisnya fokus kepada notif di ponselnya yang memberitahukan bahwa kemarin adalah hari ulang tahun Bianca. Elang kembali melihat jam tangannya, sudah kelewat hari ulang tahun mantan kekasihnya tersebut.
Sejak kemarin ia memang tak begitu menghiraukan notif-notif yang ada di ponselnya yang menurutnya tidak terlalu penting. Sehingga notif pemberitahuan ulang tahun Bianca tenggelam.
Elang mematikan layar ponselnya bersiap kembali masuk ke dalam kamar. Tapi, ia kembali menatap ponselnya. Dengan ragu ia mengetik pesan singkat lalu menghapusnya sebelum mengirimkannya. Kemudian, ia mencoba mengetik lagi.
"Selamat ulang tahun," satu pesan singkat yang berhasil Elang kirimkan untuk Bianca tanpa mengharap balasan. Ia langsung mematikan ponselnya dan masuk ke dalam kamar.
Elang meletakkan ponselnya di atas nakas lalu kembali memperhatikan wajah sang istri dengan saksama. Elang akui dirinya memang sudah mulai jatuh hati, mulai menyukai Senja. Namun tidak bisa atau belum bisa benar-benar menghapus jejak Bianca di hatinya.
Perlahan, Elang mulai mempertanyakan seperti apa sebenarnya perasaannya terhadap Bianca yang sesungguhnya. Terkadang ia merasa menyayangi Bianca seperti Gisel, adiknya sendiri. Tapi, di sisi lain ada kenyamanan dan keyakinan tersendiri jika dekat dengan wanita itu, entah karena sebuah kebiasaan bersama sejak kecil sehingga seperti kecanduan sehingga susah lepas, atau memang benar-benar ia mencintai Bianca. Sering kali Elang bertanya-tanya akan hal itu, tapi tak kunjung menemukan jawabannya karena nyatanya nama itu masih menghantui hatinya.
Namun, orang-orang di sekitarnya selalu mengatakan jika Elang dan Bianca lebih cocok sebagai kakak beradik, bukan sebagai sepasang kekasih. Bianca banyak menuntut, banyak maunya, banyak meminta tanpa mau memberi.
Elang yang selalu memberi, jarang, bahkan bisa di bilang tidak pernah menerima. Cinta tidak seperti itu, cinta itu saling memberi dan saling menerima, bukan sepihak seperti itu, nasihat yang selalu Rega katakan kepadanya.
Berbeda dengan Senja, meski baru mengenalnya tapi perempuan itu tak hanya menerima, tapi juga memberi. Kenyamanan, kehangatan, ketulusan, perhatian, semua ia berikan padahal jelas-jelas Elang yang memaksa menikahinya, bukan kemauannya sendiri. Ia sudah menolak, namun Elang memaksa menikahinya. Sikap itulah yang membuat Senja berbeda.
Elang benar-benar tak mengerti, di satu sisi ia menyukai istrinya, tapi disisi lain belum bisa melupakan Bianca.
Elang akan terus mencari jawaban agar bisa menyikapi hatinya sendiri. Entahlah, semua masih terasa samar buatnya sama seperti masa lalu sang istri yang masih menyisakan teka-teki.
__ADS_1
"Mimpi indah, My Cherry," Elang mengecup puncak kepala istrinya. Lalu, ia merebahkan tubuhnya, direngkuhnya tubuh Senja ke dalam dekapannya. Senja menggeliat dan semakin menyusupkan kepalanya, mencari kenyamanan di dada bidang suaminya tersebut. Elang tersenyum sebelum akhirnya ia ikut terlelap.
πΌπΌπΌ