Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 50 (Aku suamimu, milikmu)


__ADS_3

Keesokan harinya...


Senja tengah sibuk membenahi tempat tidurnya karena hari ini ia dan Elang akan meninggalkan kamar tersebut. Ia ingin kamar itu tetap rapi saat ia tinggal dan mungkin bisa jadi suatu saat kembai lagi ke sana, pikir Senja.


Senja menoleh ke arah ponsel Elang yang bergetar di atas nakas, kemudian ia melihat ke arah kamar mandi dimana Elang sedang mandi di dalamnya.


Getaran pertama akibat panggilan dari seseorang itu Senja biarkan begitu saja, namun ponsel suaminya tersebut terus saja bergetar bahkan sampai hampir jatuh karena terus bergetar.


Senja mengambil ponsel tersebut, dilihatnya nama Kendra yang memanggil. Senja mengambil ponsel itu dan berjalan mendekati kamar mandi. Dia mencoba memegang handle pintu ternyata tidak di kunci dari dalam oleh Elang. Di bukanya sedikit pintu tersebut supaya suaranya bisa terdengar dari dalam.


"El, mandinya udah selesai belum?" tanya Senja tanpa bermaksud mengintip.


Elang yang masih berdiri di bawah shower, sedang menyisir rambutnya dengan kedua tangannya untuk membersihkan busa menoleh ke arah pintu.


"Kenapa? Mau bergabung? Mau mandi bersama? Hem?" tanya Elang dengan nada menggoda. Padahal ia tahu, istrinya tadi sudah mandi duluan sebelum dia. Namun, siapa tahu memang begitu adanya, Senja berinisiatif ingin mandi berdua, tentu saja Elang tidak akan menolak, pikir Elang. Ya meskipun untuk saat ini sangat mustahil Senja memiliki kepikiran secerah itu, pikir Elang lagi dengan cepat.


Senja berdecak mendengar pertanyaan suaminya itu. Wajahnya langsung merona. Ya, dia maklum sih kalau suaminya kepikiran begit secara dia sengaja membuka pintu kamar mandi dan bertanya seperti itu, untuk pikiran normal laki-laki pasti langsung mengarah ke bawah pusar.


"Aku cuma mau bilang, ini ponsel kamu bergetar terus dari tadi, Kendra menelepon tanpa henti. Mungkin penting!" ucap Senja dengan sedikit berteriak.


"Oh, angkat saja," sahut Elang dari dalam.


Senja menatap layar ponsel yang terus bergetar tersebut.


"Untuk angkat telepon saja ada pinnya? Setahu aku pin buat buka kunci layar aja," batinnya menatap layar ponsel Elang.


"Pinnya?" tanya Senja kemudian.


"Tanggal pernikahan kita!" seru Elang.


Senja kembali menutup pintu kamar mandi. Tunggu, apa suaminya bilang tadi? Tanggal pernikahan? Tanggal berapa itu? Senja bahkan hampir lupa. Ia berusaha mengingatnya dan untung saja ingat. Ia mencoba membukanya dengan angka tanggal, bukan dan tahun pernikahan mereka dan berhasil! Dia tersenyum di buatnya, bahkan dia sendiri tidak kepikiran sampai ke sana, membuat pin ponsel dengan tanggal pernikahan mereka. Ia hanya membuat pola sederhana yang mudah diingat sebagai pengunci ponselnya. Sweet banget sih, pikirnya senyum-senyum sendiri sampai lupa mengangkat panggilan dari Kendra.


Ponsel Elang kembali bergetar, membuat lamunan Senja buyat seketika. Ia langsung mengangkat teleponnya.


"Bos, kemarin hari ulang tahun nona Bianca, apa bos lupa?" tanya Kendra begitu Senja menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


"Berkali-kali telepon hanya untuk memberi tahu itu?" cebik Senja.

__ADS_1


Kendra langsung membulatkan kedua matanya dan mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia merutuki kebodohannya kenapa bisa lupa jika bosnya itu sudah memiliki istri karena biasanya jika El lupa atau tidak menyalakan notif di ponselnya, Kendra lah yang selalu mengingatkan. Jika Kendra tidak mengingatkan dan El kupa, ia akan marah.


Pagi tadi, saat Kendra membuka ponselnya ia juga ingat kalau kemarin adalah hari ulang tahun Bianca, tanpa pikir panjang ia langsung menghubungi Elang.


"Maaf nona, saya salah bicara, maksudnya Bianca kucing tetangga saya yang ulang tahun," ucap Kendra asal, membuat Senja berdecak.


"Kelihatan bohongnya," decaknya.


"Tidak bohong nona, o ya tolong bilang sama bos, nanti kita berangkat ke Bandara jam sepuluh," ucap Kendra berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Hem, nanti aku sampaikan," Senja langsung menutup teleponnya.


"Ck, alasan macam apa, kucing tetangga namanya Bianca? Kebagusan!" cebik Senja.


Senja melihat ke pintu kamar mandi, suaminya belum juga keluar. Ia penasaran, Elang menamai kontaknya dengan nama apa. Ia membuka aplikasi pesan berlogo hijau di ponsel suaminya, tatapan matanya fokus kepada pesan terkahir yang masuk dan bekum sempat Elang baca.


Sebenarnya ia tak ingin lancang membukanya, tapi jiwa keponya kembali keluar. Di bukanya pesan tersebut.


"Terima kasih kak," gumam Senja membaca pesan balasan Bianca atas ucapan selamat ulang tahun Elang semalam.


"Tidak perlu kamu ingatkan, suamiku sudah ingat ulang tahunnya Kend," desah Senja dalam hati.


Senja masih penasaran dengan namanya di ponsel Elang, ia mencari namanya tapi tidak ketemu, matanya fokus pada nomor ponsel yang sama dengannya namun nama itu bukan Senja, tapi My Cherry.


"Kenapa dia suka sekali memanggilku dengan My cherry?" gumamnya penasaran.


Elang keluar dari kamar mandi dan mendekatinya.


"Sebenarnya seperti apa hatimu El?" Lagi-lagi Senja melamun, hingga tetesan air dari rambut Elang yang mengenai ceruk lehernya membuyarkan lamunannya. Laki-laki itu sudah mendaratkan dagunya di bahu Senja yang sedang melamun.


"Kend bilang apa?" tanya Elang.


"Oh itu, dia bilang nanti kita berangkat ke Bandara jam sepuluh," ucap Senja.


"Hem, hanya itu?"


"Iya," sahut Senja berbohong.

__ADS_1


"Ini ponselmu," Senja menyerahkan ponsel Elang kepada Senja.


Elang hendak mencium pipi Senja, namun Senja melengos.


"Pakai bajumu El," ucap Senja, nada bicaranya terasa aneh di telinga Elang, ia meneruskan merapikan tempat tidur.


Elang memicingkan matanya karena penolakan Senja. Ia menatap ponselnya yang masih berada di aplikasi pesan dan telepon berwarna hijau itu. Ia langsung memejamkan matanya sekilas


"Kau marah?" tanya Elang kembali mendekati istrinya.


"Tidak," jawab Senja singkat.


"Cemburu?" tanya Elang menyelidik.


Senja berhenti sejenak dari aktivitasnya lalu mendesah sekejap. "Cemburu? Dengan siapa? Karena apa?" ucapnya pura-pura tidak tahu.


"Ini," Elang menunjukkan pesan yang telah di buka oleh Senja.


"Tidak," jawab Senja singkat tanpa menoleh.


"Tadi Kend telepon juga untuk mengingatkan ulang tahun Bianca, katanya kucing tetangganya yang di beri nama Bianca itu ulang tahun, barang kali kamu lupa," lanjutnya.


"Kend!" geram Elang lirih mendengar ucapan Senja.


"Jangan salah paham," Elang menarik pinggang Senja hingga perempuan tersebut menempel di dada bidang suaminya yang masih belum memakai baju.


"Si siapa yang salah paham," ucap Senja terbata. Aroma sabun yang menempel di tubuh suaminya membuatnya ingin berlama-lama menempelkan hidungnya di sana.


"Lalu?" selidik Elang.


"Apa? Tidak ada,"


"Aku hanya mengucapkan selamat ulang tahun, tidak ada maksud lain. Tak ingin kembali. Percayalah, aku suamimu, milikmu. Kedepannya apapun yang terjadi ingat hal itu," ucap Elang.


"Aku tahu," pupus Senja tak ingin membahas makhluk bernama Bianca itu lebih panjang lagi, hanya akan membuatnya kesal.


"Istriku memang pintar," Elang memeluknya Erat,

__ADS_1


"Kau suamiku, milikku. Tapi, cintamu, hatimu, sebagian atau penuh masih miliknya," desah Senja dalam hati. Ia membiarkan suaminya yang hanya melilitkan handuk sebatas pinggang itu memeluknya.



__ADS_2