Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 73


__ADS_3

Pagi di kota Paris...


Matahari mulai menggantikan tugas sang Bulan yang perlahan kembali ke peraduannya. Senja mulai mengerjapkan kedua matanya ketika cahaya matahari menyeruak masuk melalui pintu kaca yang tak tertutup gordyn, penghubung dengan teras kamar tempat menginap tersebut. Senja tersenyum ketika matanya menangkap sosok wajah sang suami yang matanya masih terpejam dengan damai sambil mendekapnya dengan posesif. Tidur aja masih posesif, bagaimana kalau terjaga.


Rasanya indah dan damai ketika pertama kali yang dilihat saat membuka mata adalah wajah suaminya yang memiliki garis wajah nyaris sempurna.


Senja kembali iseng, ia menyusuri setiap detail wajah sang suami dengan jarinya. Kali ini si pemilik wajah hanya sedikit menggeliat dan mengeratkan pelukannya. Senja kembali tersenyum. Dilepaskannya pelan tangan Elang yang mendekapnya tersebut.


Perlahan Senja turun dari tempat tidur, matanya kini fokus menatap ke luar pintu kaca yang langsung memeperlihatkan pemandangan di luar kamar karena gordynnya tidak di tutup. Di bukanya pintu itu dan... Bibir Senja langsung melongo tak percaya. Di depannya kini terpampang jelas menara Eifell yang menjulang tinggi. Ya, Senja baru sadar jika di teras pribadi kamarnya, ia bisa menikmati indahnya menara besi rancangan Gustave Eiffel tersebut.



Senja menari-nari kecil karena senang. Tubuhnya yang bergerak kesana kemari di depan pintu, membuat cahaya matahari yang masuk ke kamar kadang terhalang oleh tubuhnya, terkadang juga langsung menerpa wajah tampan Elang yang membuat laki-laki itu terusik karena silau.


Menyadari hal itu, Senja terkekeh, suaminya terlihat lucu sekali ketika ia menggeser tubuhnya dan tidak menghalangi cahaya, detik kemudian ia kembali ke tempat dimana bayangannya mampu membuat Elang kembali merasa nyaman tidurnya hingga laki-laki itu benar-benar membuka kedua matanya.


"Pagi..." sapa Senja ketika Elang sedang berusaha mengumpulkan nyawanya. Kali ini tubuhnya menghalau sinar matahari supaya suaminya bisa membuka matanya dengan sempurna.


Elang tersenyum, "Pagi sayang. Kau sudah bangun?" ucapnya.


"Hem, sayang lihatlah. Kita bisa melihat menara Eiffel dari sini! Indah sekali!" ucap Senja, kini ia sudah berbalik badan membelakangi Elang, ingin menunjukkan apa yang sejak tadi ia kagumi.


Elang segera tururn dari tempat tidur, "Seperti ini akan lebih indah menikmatinya," ucapnya yang kini sudah menelusupkan kedua tangannya dan melingkar sempurna di perut sang istri.


Elang benar! Menikmati menara Eifell sambil di peluk orang terkasih seperti itu rasanya berkaki-kali lipat lebih indah.


Keromantisan mereks terganggu dengan berderingnya ponsel milik Elang yang terletak di atas nakas.


"Boo, ponselmu berdering," ucap Senja.


"Biarkan saja, paling Kendra," ucap Elang.


"Siapa tahu penting Boo,"

__ADS_1


"Paling dia kesepian," tukas Elang.


"Iya, seharusnya ajak satu orang lagi buat teman Kendra, kasihan," sahut Senja dengan lugunya.


Elang hanya tersenyum mendengarnya. Ponselnya tidak mau berhenti berdering, membuat Elang terpaksa melepas pelukannya untuk mengangkat telepon dan meninggalkan Senja yang masih menikmati udara pagi di teras kamarnya.


Tebakan Elang benar, siapa lagi yang punya nyali untuk mengganggunya di pagi buta begini kalau bukan Kendra.


"Bos, jangan lupa hari ini kita akan menemui tuan Albert, beliau sudah membalas email yng saya kita kirimkan kemarin lusa, beliau sangat senang jika benar nona Senja adalah anak mantan majikannya," ujar Kendra mengingatkan bosnya.


"Hem, jam berapa?" tanya Elang.


"Pagi ini bisa," jawab Kendra.


"Habis sarapan," ujar Elang.


"Baiklah, saya akan menghubungi tuan Albert setelah ini dan...," ucap Kendra, ia terus bicara sementara Elang hanya mendengarkannya dengan serius dan sesekali menyahut.


Senja merasa badannya tidak enak karena semalam ia tidak sempat membersihkan diri. Ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Saat melewati Elang, Senja berhenti sejenak. Di cium nya pipi Elang, "Aku mandi dulu," ucapnya lirih di telinga kiri Elang. Yang dicium hanya tersenyum sambil memegangi pipinya.


"Aku akan menyusul," ucap Elang tersenyum sambil mendengarkan Kendra bicara di seberang telepon, ciuman di pipinya tadi ia artikan sebagai undangan dari sang istri yang sengaja menggodanya untuk mandi bersama.


Senja hanya tersenyum, melepaskan tangannya dari genggaman suaminya lalu masuk ke kamar mandi.


"Hem, aku mengerti," tandas Elang, ketika Kendra mengakhiri ucapannya. Di simpannya kembali ponsel miliknya di atas nakas. Elang menoleh ke pintu kamar mandi dimana kini istrinya berada.


Senja tampak sedang berendam di dalam bathub, sambil menikmati aroma therapy yang sangat memanjakan jiwanya sampai tak menyadari jika kini suaminya sudah menyusulnya masuk ke dalam dan mulai menanggalkan satu persatu pakaian yang melekat pada tubuhnya.



"Kenapa nggak nungguin?" suara seksi Elang dan sentuhan lembut tangannya di lengan sang istri, membuat Senja menyadari jika kini suaminya sudah itu masuk ke dalam kamar mandi.


"Boo..." ucap Senja langsung menunduk tak berani menatap suaminya yang tak memakai apapun. Meski sudah sering melihatnya secara langsung, tapi tetap saja selalu berhasil membuat wajahnya bersemu merah.

__ADS_1


Elang tersenyum, ia langsung masuk ke dalam bathub dan memposisikan tubuhnya di belakang Senja. Di tariknya tubuh Senja hingga kini bersandar di dada bidangnya. Senja memejamkan matanya, menikamti sensasi luar biasa dalam dirinya dalam posisi seperti ini. Jantungnya masih saja tak bisa ia kontrol, bahkan kini Elang sedang tersenyum karena bisa merasakan degan jelas detak jantung Senja yang seperti bedug di tabuh dalam acara takbiran di malam lebaran tersebut.


🌼 🌼 🌼


Senja tampak bingung memilih-milih baju yang ada di kopernya karena belum sempat ia masukkan ke walk in closet yang ada di penthous. Elang yang duduk di tepi ranjang hanya memperhatikan aktivitas sang istri.


"Boo, aku harus pakai baju yang mana hari ini? Kita akan kemana nanti?" tanya senja yang melirik sekilas ke arah suaminya.


"Hari ini kita akan menemui seseorang sayang," ucap Elang.


"Orang? Siapa??" tanya Senja.


"Orang penting," jawab Elang.


"Siapa? Terus aku harus pakai yang mana? Ini apa ini?" tidak biasanya Senja meributkan soal pakaian seperti ini, tapi ini di Paris, ia ingin semuanya sempurna.


"Ini saja," sahut Elang, dengan sekali gerakan tangannya menarik tali bathrobe yang membalit tubuh Senja. Melepas natjrobe tersebut dari tubuh sang istri. Ia memakaikan baju yang baru saja di ambil alih dari tangan kanan Senja. Senja tampak bengong dan diam, menurut ketika Elang menyuruhnya memutar badan atau sebaliknya. Dalam hati Senja sangat bersyukur memiliki suami seperti Elang, yang pasti akan membuat iri wanita di luaran sana. Darah kedua orang tuanya benar-benar mengalir seimbang pada diri laki-laki tersebut.


Elang menarik Senja ke depan cermin meja rias,"Kau pakai apapun akan tetap cantik," ucapnya seraya melihat ke cermin. Senja tersenyum, rasanya ia benar-benar seperti mimpi diperlakukan sedemikian istimewanya yang tak pernah ia alami sebelumnya. Bagi Elang, Ini adalah harga yang pantas untuk membayar apa yang sudah istrinya lalui di masa lalu. Kalimat 'semua akan indah ada waktunya' benar adanya.


Elang ingin menjadikan bulan madu mereka kali ini meninggalkan kesan dan kenangan yang indah dan tak terlupakan buat Senja. Ia menyuruh istrinya duduk lalu membantunya mengeringkan rambut sang istri. Hingga pelayan datang mengantarkan sarapan.


"Pergilah, aku bisa melanjutkannya sendiri," Senja menyuruh membuka pintu. Ia mengambil alih hair drier yang dipegang okeh Elang.


"Baiklah, aku akan segera kembali," Elang mencium puncak kepala Senja.


"Boo, tunggu!" cegah Senja.


"Hem?" Elang menghentikan langkahnya dan menoleh.


"Pakai baju dulu, takutnya pelayannya perempuan," ucap Senja karena kini Elang masih hanya memakai handuk yang di lilitkan di pinggangnya sementara dadanya masih polos tanpa sehelai benangpun.


Elang tersenyum tipis, diam-diam istrinya posesif, tak ingin berbagi pemandangan yang selalu menggetarkan hatinya tersebut dengan wanita lain.

__ADS_1


🌼 🌼 🌼


__ADS_2