Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 132


__ADS_3

Pagi masih sangat gelap di kota Paris, sebagian besar penduduknya masih bergelung di bawah selimut karena hawa dingin yang begitu menusuk. Namun, tidak dengan Senja. Ia bangun lebih awal pagi itu karena perutnya yang tiba-tiba terasa mulas.


Perkiraan dokter, masih kurang sekitar lima hari lagi kandungannya tepat empat puluh minggu. Namun, bisa saja bayinya akan lahir lebih ceat dari prediksi sang dokter.


Tubuhnya yang mudah lelah di tambah hawa dingin yang kian menjadi membuatnya enggan untuk beranjak dari tempat tidur meskipun perutnya sudah merasakan mulas. Ia mencoba tetap tenang dan berpikir positif.


Saat kontraksnya menghilang, Senja kembali meringkuk di dalam selimut. Ia baru membangunkan Sarah saat kontraksi kedua ia rasakan.


"Sar, kayaknya aku mau lahiran. Udah mulas ini perut," ucap Senja seraya mengelus perutnya, wajahnya meringis menahan kontraksi yang kembali datang.


Sarah yang masih belum sadar sepenuhnya karena ini memang belum waktunya untuk bangun hanya ber-oh-ria saja saat mendengar ucapan Senja. Detik kemudian ia membulatkan kedua matanya dengan sempurna, "A-apa? Mau lahiran?" teriaknya panik.


"Ayo ayo kita ke rumah sakit sekarang. Sebentar aku ambil jaket dulu!" Sarah buru-buru masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil jaket dan jepit rambut.


Senja menunggu di luar kamar smbil terus mengatur napasnya.


"Ayo cepat!" Sarah menuntun Senja.


"Aku masih bisa jalan sendiri Sar, kontraksinya hilang lagi," ucap Senja.


"Nggak apa-apa, aku papah aja. Oya, aku bangunin Gisel dulu sebentar. Kamu masih bisa tahan kan?"


"Iya, aku enggak apa-apa, kontraksinya masih yang muncul hilang lagi," sahut Senja.


Sarah berlari ke kamar Gisel. Setelah mengetuk pintu dan berteriak memanggil namanya beberapa kali, barulah Gisel membuka pintu dengan muka bantalnya.


"Ada apa mbak, pagi-pagi buta begini udah teriak-teriak di depan kamar orang?" tanya Gisel sambil mengucek matanya, mulutnya menguap karena masih mengantuk.


"Ayo cepat, kita antar Senja ke rumah sakit. Dia mau lahiran!" seru Sarah tak sabar.


"Hah, apa? Kakak ipar mau lahiran? Ya udah nunggu apalagi, ayo buruan kita ke rumah sakit," Gisel berjalan tergesa mendahului Sarah.

__ADS_1


"Kak, kakak bisa tahan kan sampai rumah sakit? Apa perlu aku panggilan ambulan?" tanya Gisel.


"Aduh, Sel. Kelamaan kalau nunggu ambulance segala. Udah ayo kita langsung aja, jangan kelamaan diskusi di sini, nanti keburu brojol di sini," ucap Sarah.


"Iya iya, mbak. Ayo ayo kak!"


Mereka berjalan menuju ke halaman depan,"Aduh gimana sih. Ini sopir dimana? Giliran di butuhkan malah ngilang," gerutu Gisel yang tak melihat sopir yang bekerja di rumah itu.


"Ya udah, mbak Sarah aja ya yang nyetir?" ucap Gisel.


"Nggak bisa, aku nggak berani bawa mobil sendiri di sini, kamu aja. Kamu kan udah biasa nyetir mobil sendiri kalau di sini," tolak Sarah.


"Tapi, tapi aku takut mbak, ini bawa orang melahirkan loh, aduh gimana ini,"


Sarah dan Gisel sudah sangat heboh dan panik sekali, padahal yang mau lahiran saja masih bisa berdiri dengan santai dan berusaha tetap tenang.


Pada akhirnya, Gisel yang menyetir mobil, membelah jalanan pagi buta di kota Paris menuju ke rumah sakit.


Apakah ia benar-benar akan melahirkan anaknya seorang diri tanpa di temani oleh Elang? Air mata Senja menetes begitu saja tanpa bisa di tahan.


"Nja, apa sakit sekali?" tanya Sarah khawatir melihat Senja menangis dalam diam. Sahabatnya itu sama sekali tak mengeluh, namun tersirat jelas jika ia menahan sakit yang Sarah pikir sakit karena kontraksi kembali.


Senja hanya bisa mengangguk dalam tangisnya," Iya, sakit," ucapnya lirih. Rasa sakit di hatinya mengalahkan rasa sakit saat kontraksi datang.


Senja menarik napas dalam lalu mengembuskan ya pelan, mencoba untuk tetap tenang dan yakin bahwa semua akan baik-baik saja. Pijaran lampu jalan yang masih menyala di sekitaran menara Eifell, seolah memberikan kekuatan untuk Senja dan mengisyaratkan jika tak lama lagi ia akan bertemu dengan cahaya hidupnya, si buah hati. Buah cintanya dengan Elang.


🌼 🌼 🌼


Sampai di rumah sakit bersalin, Senja langsung di rujuk ke ruang persalinan.


"Masih bukaan tiga ya, madam," kata dokter Catherine, ginekolog yang selama di Paris selalu di sambangi oleh Senja setiap bulan untuk memeriksa kehamilannya.

__ADS_1


Suster mulai memasang monitor pendeteksi detak jantung bayi. Karena bukaan baru tiga, di perkirakan masih lama bayinya akan lahir, Senja berusaha untuk tidur kembali, namun kontraksi yang datang kembali membuatnya tak bisa tidur.


Sesekali suster datang untuk melakukan pemeriksaan. Hingga pukul sepuluh pagi, tidak banyak kemajuan dan kontraksnya terbilang tidak teratur.


Senja melirik ke arah monitor yang memperlihatkan detak jantung bayinya, tanpa terasa air matanya kembali menetes. Tak pernah terbayangkan olehnya sebelumnya akan melahirkan di Paris, sendiri.


"El, kamu dimana? Kamu janji akan nemenin aku lahiran, tapi sekarang aku sendiri di sini. Kamu nggak datang buat nemenin aku. Sakit El, sakit sekaliii," rintihnya dalam hati. Saat merasakan sakit karena kontraksi, ia hanya bisa menahannya sendiri, tanpa bisa mengeluh kepada siapapun.


Sarah dan Gisel yang menunggu di luar tampak gusar, mereka mondar mandir ke sana kemari. Sesekali Sarah masuk untuk melihat kondisi Senja.


Akhirnya, Sarah memberanikan diri untuk masuk, ia tak tega membiarkan Senja sendiri di dalam.


"Nja, are you oke?" tanya Sarah.


"Hem," Senja mengangguk seraya tersenyum.


"Makan dulu ya, biar ada tenaga lebih," ucap Sarah. Senja mengangguk. Dengan telaten Sarah menyuapi Senja, meski tak habis banyak, setidaknya sudah ada makanan yang masuk.


Sementara Gisel, ia tak berani masuk ke dalam, ia takut dan tak tega melihat orang melahirkan.


" Sar, apa aku benar-benar akan melahirkan sendiri tanpa dia? Aa dia benar-benar tidak akan datang? Jujur, aku takut Sar," ucap Senja.


"Nja, kamu nggak sendiri, ada aku. Ada Gisel juga. Kamu harus kuat, kamu pasti bisa," Sarah memeluk erat Senja, sekuat hati ia menahan supaya tidak menangis.


"Aku takut nggak bisa, aku takut Sar," ucap Senja yang sudah merasa lelah, sangat lelah namun belum juga menunjukkan kemajuan yang berarti.


"Tidak Nja, kamu pasti bisa, kamu harus semangat, ingat kamu bakal ketemu anak yang selama ini kamu nantikan, kamu pasti bisa," ujar Sarah dengan nada bergetar. Sejujurnya, ia yang sama sekali belum pernah melihat apalagi mengurus orang yang mau lahiran sangat panik, khawatir dan bingung harus bagaimana. Dalam hati, Sarah benar-benar merutuki laki-laki bernama Erlangga. Jika benar laki-laki itu tidak peduli lagi dengan sahabatnya


🌼 🌼 🌼


πŸ’ πŸ’ VOTE dan tehnya yuk yang kenceng biar bisa up satu bab lagi... Minimal mawar nggak apa-apa deh πŸ˜…πŸ˜…πŸ’ πŸ’ 

__ADS_1


__ADS_2