Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 77


__ADS_3

"Kend tisu!" teriak Elang, kepalanya memyembul keluar melalu jendela mobil yang baru saja ia buka.


Mendengar teriakan sang bos, Kendra langsung memutar badannya.


"Tisu!" teriak Elang mengulangi ucapannya karena sepertinya Kendra mendadak tuli.


Kendra langsung berjalan mendekat, "Sudah kelar bos? Perasaan saya baru saja menjauh sudah klimaks aja, lagi nggak mood ya bos," ucap Kendra yang membuat Elang mengernyit kan keningnya.


"Tisunya ada di mobil, yakin saya bisa masuk sekarang? Nona Senja sudah lengkap bajunya?" pertanyaan Kendra membuat Elang semakin mengernyit keningnya, ngomong apa ini anak, pikirnya.


Kendra melirik ke sebelah Elang, dan ternyata Senja sudah rapi kembali, atau memang sebenarnya sejak tadi tidak berubah penampilannya. Ia langsung masuk dan mengambil tisu untuk di berikan kepada Elang.


Elang meraih tisu itu dan langsung mengusap air mata yang baru saja membasahi pipi Senja. Sementara Kendra memperhatikannya dengan tatapan penuh tanda tanya. Elang melirik Kendra sekilas, "Kenapa kamu?" tanyanya sinis.


"Kalian tidak..." Kendra menautkan jari telunjuk kiri dan kanannya, mengisyaratkan sesuatu.


Mengerti maksud Kendra, Elang langsung melemparinya dengan tisu bekas buat mengelap air mata Senja, "Otakmu Kend! Percuma Jauh-jauh bulan madu ke Paris kalau melakukannya hanya di dalam mobil," ucap Elang kesal. Pantas saja, tadi Kendra dan sopirnya turun dari mobil, Elang pikir ada apa, ternyata isi otak Kendra yang bermasalah.


"Yah kirain kan bos udah nggak bis tahan sampai ke hotel,"


"Ck dasar! Suruh dia masuk, kita langsung ke hotel," cebik Elang. Sementara Senjanyangvtak mengerti dengan obrolan dua laki-laki itu hanya bisa diam tanpa ikut berkomentar.


Kendra pun meminta sopir yang masih setia dengan posisinya untuk kembali ke dalam mobil.


🌼 🌼 🌼


Malam hari, Elang tampak sedang menikmati secangkir kopi di teras kamar hotel tempatnya menginap. Senja yang baru saja selesai mandi dengan hanya memakai bathrobe mendekati suaminya. Ia tak berniat memakai baju terlebih dahulu. Memakai bajupun pasti setelah ini langsung akan di lepas semua oleh Elang, pikirnya. Bukankah memang begitu seharusnya yang terjadi, mereka ke Paris salah satu tujuan utamanya adalah untuk bulan madu yang tentu saja tidak jauh-jauh dari acara lepas baju. Meski sempat ragu, antara ingin memakai baju dan tidak, tapi dengan mengesampingkan rasa malunya, Senja mantap langsung menghampiri Elang.


"Boo..." Senja melingkarkan tangannya di leher Elang dari belakang. Elang menoleh dan tersenyum. Ia menggerak-gerakkan kepalanya sehingga pipinya yang menempel dengaj pipi Senja saling bergesekan.


Aroma sabun dan sampo yang menguar dari tubuh sang istri membuat Elang memejamkan mata dan menghirup napas dalam-dalam. Diusapnya tangan Senja dengan lembut. Senja membiarkan rambutnya yang masih setengah basah terurai begitu saja.

__ADS_1


"Kau lebih tenang sekarang?" tanya Elang, ia menarik tangan Senja sehingga wanita itu kini duduk di pangkuan Suaminya. Elang melingkarkan kedua tangannya di oingganh Senja.


"Ya, setidaknya aku lega karena sudah tahu siapa orang tuaku," Senja melingkarkan tangannya ke leher Elang.


"Terima kasih karena sudah melakukam semua ini untukku," satu kecupan Senja daratkan di pipi Elang.


"Yang sini nggak dapat cium juga? Nanyi demo loh dia," Elang menunjuk pipinya yang satu. Senja tersenyum dan langsung mencoum pipi Elang yang satunya. Namun, sebelum bibirnya mendarat di pipi sang suami, Elang sengaja menoleh sehingga bukan bibirnya yang Senja cium melainkan bibirnya. Tangan Elang menahan tengkuk Senja dan memagut bibir sang istri dengan lembut dan penuh penghayatan. Senja membenarkan posisi duduknya lebih menghadap kepada Elang dan tangannya semakit erat melingkar di leher Sang suami. Senja melenguh ketika Elang menghujani leher Senja dengan ciuman bertubi-tubi hingga ke belakang telinganya. Membuat Senja semakin merinding dan mendesah. Senja langsung menutup mulutnya dengan tangannya ketika menyadari ia sedang mendesah karena perbuatan suaminya. Padahal baru leher dan telinganya yang di cumbu, tapi ia sudah merasa panas dingin.


Elang menhentikan aksinya, ia menatap sang istri, tersenyum lalu kembali mencium bibir cherrynya. Tangannya yang sesaat lalu di biarkan menggantung di udara , kini sudah menjelajah diantara kedua kaki Senja yerus naik hingga ke intim sang istri. Membuat Senja semakin gelisah dan basah. Elang sedijit terkejuy karena ternyata Senja tidak memakai apapun selain bathrobe karena tangannya kini dengan bebas bisa mengakses daerah tersebut tanpa penghalang.


Elang tersenyum penuh arti, "Kau sengaja ya...?" bisik Elang di telinga Senja dengan anda sensualnya.


"Apa?" tanya Senja dengan nada parau menahan gejolak yang di berikan oleh tangan jahil sang suami.


Tidak menjawab, Elang langsung menggendong Senja ala brydal style menuju ke ranjanga, meninggalkan kopi yang tadi sempat menghangatkan tubuhnya. Tapi, di banding secangkir kopo tersebut, tubuh Senja tentu akan lebih menghangatkan tubuhnya setelah ini.


Sesampainya di ranjang, Elang menurunkan Senja pelan. Dengan satu tarikan, ia melepas tali bathrobe yang Senja kenakan hingga bathrobe tersebuy tersingkap ke kiri dan ke kanan menyisakan pemandangan yang sangat menggoda iman.


Tanpa babibu, Elang kembali mencium bibir Senja. Menyusuri setiap rongga mulutnya, mengabsen gigi-gigi putih yang berjejer rapi dengan ritme pelan dan lembut, membuat Senja mabuk kepayang dan semakin galisah. Ciumannya berlangsung turun ke leher lalu berhenti di dada Senja. Elang menyesap benda kenyal tersebut secara rakus bergantian kanan dan kiri.


Di bawah sana, ada yang sudah tegang sejak tadi, tapi bukan tongkat besi atau kayu. Yang demo segera minta di bebaskan karena sudah merasa sesak.


Elang segera melepas kaos putihnya dan bersiap melepas celana santai yang semakin terasa sesak, padahal perasaan tadi longgar-longgar saja saat ia pakai. Namun, belum juga melorot semua celana santainya tersebut, suara dering ponselnya membuyarkan konsentrasinya untuk melepas celana tersebut.


Ia sempat melirik ponsel sialan yang berani mengganggu kegiatan garap sawahnya. Ah nanghung, masa bodoh dengan telepon, palinhan makhluk Tuham bernama Kendra itu yang bernai mengganggu kesenangannya karena selali begitu, pikir Elang.


"Angkat saja dulu sayang, siapa tahuboenting," ucap Senja yang sudah telentang pasrah.


"Palingan Kendra," jawab Elang.


"Makanya angkat, kalau Kendra pasti penting,"

__ADS_1


Tidak ada yang lebih penting dari pada avara tanam saham ini, Elang sudah merencanakan kalau ia akan benar-benar berinvestasi Elang junior selama di Paris dan harus jadi. Ya, ia ingin tanam saham bibit unggul di sana, tidak ingin pakai pengaman atau keluar di luar. Jauh-jauh ke Paris, rugi kalau tidak jadi Elang junior. Untuk itu, selama di Paris ia akan menanam saham sebanyak yang bisa ia tanam, toh tidak ada yang tahu, investasi yang mana yang akan sukses.


Tapi, ia juga ingat kalau mereka memiliki misi lain yaitu hak sang istri atas perusahaan mendiang orang tuanya. Dengan malas, Elang meraih ponsel di atas nakas tersebut. Keningnya langsung mengernyit, "Makhluk Tuhan satu ini memang minta di lenyapkan beberapa jam," gerutunya, asalnya ini bukan kali pertama pria jomblo itu mengganggu kesenangannya, akhirnya Elang menggeser ikon berwarna hijau.


"Kend, sepertinya aku memang harus mencarikanmu wanita biar tidak selalu menggangguku," umoay Elang.


"Emang kenapa bos? Bos tidak sedang memacu kuda liar kan?" ucap Kendra tanpa dosa.


"Hampir iya, tapi kau mengacaukannya. Katakan, awas kalau tidak penting, aku pecat kamu!" kesal Elang yang kini duduk di tepi ranjang. Tangan kirinya sambil memainkan benda kenyal sebesar kelereng di dada Senja. Sesekali ia memilinnya atau menariknya yang mana langsung mendapat tabokan dari sang istri.


" Wih kalem bos, beracunya bisa nanti lagi. Masih banyak waktu. Ini soal perusahaan BaileyTex. Besok malam, tepat dimana usia nona Senja dua puluh Empat tahun, mereka akan benar-benar mengambil alih perusahaan secara resmi jika nona muda Bailey tidak hadir di acara tersebut. Yang artinya menurut surat wasiat tuan Bailey, perusahaannya akan jatuh ke adik perempuannya..."


" Tunghu sebentar... " Sergah Elang ketika Kendra akan melanjutkan bicara. Tangannya berhenti bermain di dada sanh istri," Sebentar, ada yang jngin aki bivarakan dengan Kend. Penting," ucapnya kepada Senja. Yang di balas anggukan oleh Senja.


Elang menjauh dari Senja, ia menuju ke perpustakaan yang juga sebagai ruang kerja Elang selama di Penthouse tersebut.


"Lanjutkan!" perintahnya begitu sampai di ruang kerjanya.


"Ya, sesuai isi surat wasiat tuan Bailey yang ia tulis sebulan sebelum ia meninggal, jika perusahaan akan di serahkan sepenuhnya kepada putri mereka sast usianya dua puluh empat tahun. Tapi, jika nona muda Bailey tidak hadir di waktu yang sudah di tentukan tersebut, seluruh aset dan perusahaan milik tuan Bailey akan berpindah kepada sang adik..." Kendra terus bicara.


Elang mengerti, intinya selama ini adik tuan Bailey mengetahui surat wasiat tersebut setelah mereka meninggal. Mengganti identitas Senja adalah jalan terbaik yang di lakukan oleh kakek Hardian, karena ia sudah memikirkan sejauh ini. Pasti adik tuan Bailey akan mencari Senja dan melenyapkannya jika tahu Senja masih hidup. Dengan begitu, saat waktunya tiba ia akan menguasai seluruh harta milik tuan Bailey.


"Baiklah, kalau begitu kita beralih ke rencana B, siapakan semuanya," tukas Elang mengakhiri obroalnnya dengan Kendra.


"Baik bos, selamat malam. Semoga sukses berpacunya," Kendra menutup teleponnya.


Elang segera kembali ke kamar, ia langsung mengembuskan napas kecewanya karena di atas ranjang, Senja sudah meringkuk tidur dengan memeluk bantal guling. Sepertinya ia kelamaan teleponnya tadi.


" Gimana jang? Apa kita lanjutkan saja yang nanggung tadi? Memperkosa istri sendiri dosa nggak sih?" gumamnya seraya menunduk melihat si 'Ujang' yang masih berdiri tegak.


Senja keliahatan pulas sekali, wajahnya nampak kelelahan, Elang jadi tidak tega menggencarkan rencana investasi awalnya. Tapi melihat ke bawah, ia juga tak tega melihat si ujang yang tak mau tidur.

__ADS_1


"Kita bereksperimen di kamar mandi saja jang," gumamnya lesu sambil berjalan menuju kamar mandi.


🌼 🌼 🌼


__ADS_2