
"Tapi kau tahu, itu saja tidak cukup dan sekarang sudah tidak penting lagi. Hubunganku dengannya selama ini terlalu lempeng dan hambar, tidak ada greget atau tantangannya sama sekali. Dia bahkan tidak pernah bilang tidak dengan apapun yang aku mau dan aku lakukan sekalipun ia tidak menyukainya dan itu membuatku benar-benar merasa bosan dan yakin jika dia sebenarnya tidak mencintaiku. Tapi lebih tanggung jawab sebagai seorang kakak karena orang tuaku menitipkan aku kepadanya, dan juga sebagai rasa bersalahnya atas apa yang pernah menimpaku dulu...
"Hanya saja, selama ini dia tidak menyadari hal itu. Aku ingin seperti pasangan lain, dimana kami saling memberi dan menerima, tapi pada hubungan kami, selalu dia yang memberi, dia tidak pernah membari kesempatan untukku memberi kepadanya...Aku bahkan bertahan sampai tujuh tahun, berharap dia bisa benar-benar mencintaiku dan melihatku sebagai seorang wanita, bukan seorang adik atau karena kejadian itu,..
"Berbeda denganmu, aku bisa melihat take and give itu di antara kalian, dan aku yakin dia benar-benar mencintaimu Senja. Kau benar-benar beruntung memiliki suami seperti kak Elang. Dia pria baik, sangat baik sayangnya kami memang tak berjodoh," Bianca tersenyum saat mengakhiri kalimatnya.
Elang yang mendengar semua itu menghela napas panjang, ternyata selama ini, itu yang Bianca rasakan. Ia sudah menyadari jika Elang salah paham akan perasaannya sendiri terhadapnya dan Bianca mencoba tetap bertahan bahkan sampai tujuh tahun, berharap ada perubahan dalam hubungan mereka. Berarti saat mengatakan ia lebih mencintai karirnya waktu itu hanya sebagai alasan untuk mengakhiri semuanya dengan Elang. Karena Bianca selama ini tidak bisa merasakan adanya cinta yang sesungguhnya dari Elang selain hanya karena Elang merasa nyaman karena terbiasa bersama. Dan pda akhirnya dia menyerah...
Elang tak pernah berpikir jika selama ini ternyata Bianca merasa hubungan mereka hanya bertepuk sebelah tangan saja. Ia pikir hubungn mereka selama ini baik-baik saja dengan tidak pernahnya mereka bertengkar karena dia selalu berusaha mengerti Bianca, mewujudkan apa yang Bianca impikan, ia pikir itu cinta, tapi ternyata itu semua salah.
Elang kini mengerti dan dia benar-benar menyadari itu sekarang, setelah ia bertemu dengan Senja, dimana dunianya tak hanya melulu soal Bianca saja dan dia bisa merasa seperti apa itu cinta yang sebenarnya.
Selama ini dengan Bianca, bahkan Elang tidak pernah melakukan kontak fisik secara khusus, seperti berciuman dan lainnya. Di saat Bianca ingin menciumnya, Elang selalu mengelak. Padahal ia selalu tak suka jika Bianca berakting ciuman dengan lawan mainnya, tapi ternyata itu perasaan seorang kakak yang ingin melindungi martabat seorang adik, bukan cemburu karena cinta. Ya, Elang baru menyadari semua itu setelah melewati hidup bersama Senja akhir-akhir ini.
Pantas selama ini orang-orang di sekitar Elang tak setuju jika ia dan Bianca sampai menikah, ternyata mereka bisa meliht kesenjangan dalam hubungan mereka yang tidak di sadarinya tersebut. Ia selalu kekeh dengan keyakinannya sendiri ketika semua orang menasehatinya soal hubungannya dengan Bianca.
Lantas, kenapa Bianca selama ini tidak pernah protes, jika dia memang merasa Elang salah memperlakukannya. Seharusnya ia bilang dan mengembalikan semua keputusan pada Elang, apakah ia akan memeperbaiki perasaannya supaya menjadi cinta atau tetap seperti itu dan berpikir lagi untuk hububgan mereka selanjutnya. Dengan diamnya Bianca selama ini, justru membuat Elang merasa semuanya baik-baik saja dan tidak ada kesalahan dengan perasaannya. Beruntung, kehadiran Senja dalam hidupnya mampu menyadarkannya. Jika tidak, ia akan terus terpuruk dalam perasaan yang salah terhadap Bianca.
"Maafkan kakak Bie, semoga kelak kamu juga menemukan kebahagiaanmu bersama laki-laki yang benar-benar mencintaimu sebagai seorang wanita, seperti keinginanmu," gumam Elang dalam hati.
__ADS_1
"Iya, aku beruntung punya suami seperti dia. Semoga suatu saat kamu juga akan mendapat suami yang bisa mengerti keinginanmu. Yang benar-benar tulus mencintai kamu," ucap Senja tersenyum.
Dalam hati, Senja merasa kasihan dengan Bianca sebenarnya. Tapi, dia juga tidak bisa menyalahkan sikap suaminya yang tidak peka itu. Dia bisa menyimpulkan jika hubungan mereka dulu sepertinya banyak sekali miss komunikasi. Dimana Bianca sadar jika Elang hanya mencintainya sebagai adik atau sebuah kenyamanan karena selalu bersama hingga ia tidak bisa melihat wanita lain, tapi ia tidak mengatakannya kepada Elang, mungkin karena takut Elang akan meninggalkannya dan ia memilih untuk bertahan sehingga Elang tidak sadar.
Di satu sisi, Elang yang tidak mampu menelaah perasaannya sendiri, ia pikir terbiasa hidup bersama dengan Bianca sudah cukup bisa di bilang sebagai cinta, sehingga pada akhirnya hubungan mereka terasa monoton dan tetap kandas juga setelah salah satu dari mereka merasa lelah, dan di sini kasusnya Bianca yang merasa lelah tersebut karena jika terus menunggu Elang yang kadar kepekaannya rendah, Bianca akan semakin sakit. Dan Kalaupun mereka menikah, sudah pasti tidak akan bahagia.
Senja bisa mengerti keputusan Bianca yang lebih memilih untuk memutuskan hubungannya dengan Elang, namun dengan menjadikannya sebagai pihak yang salah karena tidak ingin melihat Elang merasa semakin bersalah.
Senja berharap Bianca akan menemukan kebahagiaannya suatu saat nanti meskipun tidak dengan suaminya. Karena kini ia ingin bersikap egois, yaitu tidak mau melepas suaminya untuk wanita lain. Begitu dengan Elang, ia juga tidak akan meninggalkan Senja karena kini mereka saling mencintai.
Ceklek! Elang membuka pintu, ia pura-pura tidak mendengar apapun.
"Bie, aku pulang dulu ya, cepat sembuh," Senja meletakkan pisau yang ia gunakan untuk mengupas buah.
"Bie, perbanyak istirahat biar cepat pulih. Aku ke sini sengaja supaya Senja percaya jika kemarin aku mengantar kamu ke rumah sakit dan diantara kita sudah tidak ada apa-apa lagi," ucap Elang.
"Iya kak, semoga kalian bahagian selalu dan Bie segera punya ponakan yang lucu-lucu," ucap Bianca tersenyum berusaha menyembunyikan rasa sakit dan cemburunya, melihat Elang begitu menjaga perasaan Senja. Seperti dulu selalu berusaha menjaga perasaannya. Dan jujur ia merindukan hal itu. Setidaknya dulu meskipun tahu Elang tak benar-benar cinta, tapi pria itu selalu memperlakukannya dengan sangat baik.
"Hem," sahut Elang.
__ADS_1
"Sayang, ayo!" Ajak Elang.
"Iya Boo ini lagi ambil tas," sahut Senja.
"Bianca, aku pamit ya. Itu masih ada buah yang sudah aku kupasin, bisa kamu makan nanti," ucap Senja.
"Iya Senja, terima kasih,"
Senja berbalik badan untuk keluar mendahului Elang.
"Kakak beruntung punya istri seperti Senja," ucap Bianca kepada Elang.
"Aku tahu, kamu juga harus bahagia. Aku pergi dulu," ucap Elang yang langsung menyusul Senja keluar.
"Aku bahagia jika melihat kakak bahagia. Selamanya mungkin kita di takdirkan hanya untuk menjadi kaka adik ," ujar Bianca dalam hati, bibirnya tersenyum memandang punggung mantan kekasihnya itu.
πΌ πΌ πΌ
π π Jangan lupa like, komen dan hadiahnya, terima kasih.ππ
__ADS_1
Salam hangat author β€οΈβ€οΈπ π