Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 123


__ADS_3

"Gimana keadaan kamu Kend?" tanya Daddy Alex.


"Seperti yang tuan lihat, saya baik-baik saja. Bos, bos bagaimana, Tuan?" Kendra menanyakan kondisi Elang kepada mereka.


Raut wajah Daddy Alex dan papa David seketika berubah, "Masih kritis, terdapat benturan yang sangat keras di kepalanya. Untuk yang lainnya dokter harus memastikan sampai Elang sadar. Dan itu butuh sebuah keajaiban, kita berdoa saja, semoga Elang bisa melewati semua ini," jelas papa David.


Kendra langsung mengembuskan napasnya dalam," Maafkan saya, tuan. Seharusnya saya bisa menghindari dua mobil itu, tapi tiba-tiba dari arah kiri ada truk yang sepertinya sengaja menerobos lampu merah dan menabrak mobil saya, maafkan saya," Kendra merasa bersalah.


Daddy Alex dan papa David saling melempar pandang, sebenranya tujuan mereka ke ruangan tersebut selain untuk menanyakan kondisi Kendr juga untuk membicarakan hal itu, karena mereka merasa ada yang janggal dengan kecelakaan tersebut.


"Apa... Kamu sudah bisa di ajak bicara soal itu?" tanya Daddy Alex.


Kendra mengangguk, ia mengalihkan pandangan kepada Sarah yang tiba-tiba menjadi pendiam. Ia merasa cout berada diantara ketiga pria berpengaruh tersebut.


Sarah mengangguk, mengerti apa yang Kendra inginkan,"Saya keluar dulu, mau menemui Senja," ucapnya. Ia lalu memutar badan dan keluar dari ruangan tersebut, emnbiarkan ketiga pria beda generasi tersebut membicarakan hal yang penting dan mungkin rahasia.


"Jangan di lihatin terus. Nggak akan hilang. Dia cuma mau ke ruangan El," ucap Papa David menggoda.


Kendra langsung melengos dan mencebik, Pak tua ini, selalu saja berhasil membuatnya mati gaya.


๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ


Sementara itu, Senja terus saja memegangi tangan Elang yang masih belum juga sadar sampai sekarang. Dari hari pertama Elang masuk ke ruangan tersebut, tak sedikitpun ia beranjak dari sisi suaminya.


"Boo, cepat bangun ya, aku menunggumu. Apa kamu nggak kangen sama aku? Aku kangen dengar suara kamu, boo," entah ini air mata yang ke berapa yang menetes di pipinya, tak terhitung.


"Nja, kita makan dulu yuk!" Sarah yang baru saja masuk dengan membawa sebuah paper bag berisi makanan. Ia tahu, pasti sahabatnya tersebut belum sempat mengisi perutnya.


"Aku nggak lapar, Sar. Kamu aja," ucap Senja.


"Aku udah tadi, kamu pasti belum makan kan? Makan dulu ya?" ucap Sarah, ia merasa prihatin melihat kondisi Elang maupun Senja.


Senja menggelengkan, "Nanti saja," jawabnya.


"Jangan gitu, sayang. Kasihan anak yang ada dalam perut kamu, dia juga butuh makan. El pasti juga akan sedih kalau kamu seperti ini. Ingat kamu sedang hamil, kasihan calon cucu mommy, El pasti akan marah kalau bangun nanti kamu jadi kurusan, dan dia tahu kamu nggak makan dengan baik, makan ya sayang? Ini mommy bawain makanan juga dari rumah," mommy Anes yang baru saja tiba, tak kuasa menahan sakit di dadanya melihat Senja yang begitu sedih.

__ADS_1


" Ayo, pilih! Mau yang aku bawa, atau nyonya Anes? Atau mau dua-duanya?" ucap Sarah tersenyum.


" Tante saja, " Mommy Anes melihat Sarah, ia tak nyaman di panggil nyonya.


"Baik, Tante, eh tapi enakan nyonya, biasa nyonya soalnya," Sarah tersenyum jahil.


"Kamu, sama saja dengan Kend. Eh, iya gimana kondisi Kend?"


"Dia udah sadar tante, sekrang lagi bicara pening sama tuan Alex dan tuan David," jawab Sarah.


"Ya ampun, mas Alex, abang, nggak sabaran banget sih, baru juga siluman udah di ajak serius aja si Kend," mommy Anes ngedumel sendiri sambil menyiapkan makanan yang ia bawa.


"Tuh, El... Kend udah sadar. Kamu kapan sadarnya?" ucap Senja penuh harap.


Monny Anes dan Sarah langsung diam dan menatap sedih kepada Senja.


"Sayang, ayo makan dulu. Mommy udah siapin ini, atau mau mommy suapin, Hem?"


Senja tak menjawab, bagaimana bisa ia berselera makan jika suaminya saja entah akan bangun lagi atau tidak.


Senja pun akhirnya mau makan meskipun hanya beberapa suap saja. Tapi setidaknya ada asupan makanan yang masuk ke dalam perutnya.


"El, sayang, anak mommy. Cepat bangun, Nak. Lihat istri kamu begitu menderita melihat kamu seperti ini, mommy nggak tega lihatnya," batin mommy Anes pedih.


๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ


Di hari kelima, Kendra memaksa untuk pulang meski dokter belum mengijinkannya.


" Jangan memaksakan diri, kamu belum benar-benar pulih," ucap Sarah.


" Banyak yang harus aku lakukan, aku nggak bisa terus berbaring di sini seperti ini, aku nggak mau bos kecewa saat bangun nanti," ucap Kendra sambil mengganti pakaian rumah sakit dengan kemeja dan jasnya tanpa bisa di cegah.


Sarah susah payah menelan ludahnya melihat tubuh atletis Kendra. Untung hanya atasan ya saja yang terlihat, coba kalau sama bagian bawah, bisa-bisa pingsan Sarah. Kendra tak sebodoh itu, membiarkan benda pusakannya menggantung bebas di depan seorang wanita, dia memakainya di kamar mandi.


Badannya yang penuh coretan luka yang mulai mengering, membuatnya semakin terlihat, keren di mata Sarah.

__ADS_1


"Sengaja banget pakai bajunya di sini, padahal tadi pakai celananya di kamar mandi," cebiknya.


"Emang di niatin buat amal, gimana? Baik kan aku? Kapan lagi coba kamu bisa lihat badan aku," ucap Kendra nyengir.


"Atau, kecewa karena tadi aku ganti celananya nggak di sini? Sorry kalau itu aset pribadi, tidak untuk di bagi-bagi, hanya untuk yang berhak nanti," sambungnya.


Sarah memutar bola matanya malas, "Gila,!" umatnya, Kendra hanya terkekeh menanggapinya.


๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ


Hari ini, sudah hari ke tujuh, Elang masih saja belum sadarkan diri. Senja terpaksa harus ke kantor terlebih dahulu karena ada meeting penting yang tidak bisa di wakilkan. Klien memintanya sendiri untuk menghadiri meeting tersebut. Klien kali ini memang agak rewel dan banyak maunya, padahal ada pak Erlan yang bisa mewakilinya.


Senja baru saja selesai keluar dari sebuah restauran bersama Sarah. Sarah akan kembali ke Kantor, sementara Senja sudah pasti kembali ke rumah sakit. Sepertinitulah yng Senja jalani, jika tak ada yang enting mengharuskan ya ke kantor, ia akan setia menemani Elang di rumah sakit, tapi jika mendesak harus ke kantor, ia akan segera menyelesaikan pekerjaannya dan kembali lagi ke rumah sakit.


Mommy dan daddy sebenarnya sudah menasihati Senja untuk tidak terlalu lelah, mereka akan bergantian menjenguk El di rumah sakit, sehingga Senja bisa beristirahat di rumah. Karena senyaman-nyamannya rumah sakit, aja tetap merasa nyaman di rumah. Apalagi dalam kondisi hamil seperti ini. Namun, Senja menolak, ia tak ingin melewatkan waktu sedikitpun tanpa suaminya.


Senja ingin saat Elang membuka mata nanti, yang pertama kali ia lihat adalah istrinya.


Senja mencium kening suaminya setelah meletakkan tanya di nakas, "Maaf ya, tadi aku tinggal sebentar. Klien aku rewel banget hari ini. Coba kamu lihat, pasti udah kamu tonjok itu orang gara-gara buat aku kesal," Senja merebahkan kepalanya di sisi kiri Elang.


"Cepat bangun, boo. Sudah lama kamu tidur. Anak kita semakin tumbuh di sini, apa kamu tidak ingin melihat perutku yang semakin berisi? Ya, walaupun belum terlalu terlihat sih, tapi anak kita sehat kok, kemarin aku periksa. Cuma kata dokter karena perut aku panjang jadi ya belum terlihat kalau tidak telanjang, hihi. Berarti cuma kamu yang bisa lihat," ujar Senja.


"Cepat sadar, sayang. Aku nggak sanggup jika kamu terus begini, sampai kapan? Bangunlah boo," Senja mengusap-up lengan suaminya yang basah tertimpa air matanya.


Melihat suaminya terbaring lemah tak berdaya seperti ini, ia serasa kehilangan semangat hidupnya, separuh jiwanya. Dalam keadaan apapun, ia bersumpah lebih memilih melihat suaminya tetap sadar. Bahkan jika harus mengorbankan kebahagiaannya yang selama ini ia dapatkan dari suaminya tersebut, ia rela. Bahkan jika harus menukar dengan nyawanya sekalipun, ia akan melakukannya, jika di perlukan.


"Kamu bilang kalau salah satu dari kita nggak boleh pergi dalam keadaan marahan kan Boo, bukankah kita belum baikan? Aku masih marah karena kemarin kamu ninggalin aku pergi. Jadi kamu harus bangun dan minta maaf, kalau nggak, aku nggak akan maafin kamu. Aku mohon bangun sayang," Senja terus bicara sambil menangis hingga ia kelelahan dan tertidur di sisi Elang.


๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ



๐Ÿ’ ๐Ÿ’ Bagaimana pun alur yang othor buat, semoga kalian tetap bisa menikmatinya ya, sama seperti othor yang menikmati komentar2 dari kalian, yang terkadang membuat othor jadi bimbang sendiri, tapi lope-lope pokoknya buat kalian semua. Kritik dan saran kalian benar-benar semangat buat othor, apalagi like komen dan hadiahnya, tambah semangat lagi deh aku jadinya ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„


Salam hangat author ๐Ÿค—โค๏ธ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ 

__ADS_1


__ADS_2