
Senja mengulurkan tangannya untuk menyalami Elang.
"Minta uang saku?" tanya Elang.
"Ish kamu ini, salim," sahut Senja. Ia langsung mencium punggung tangan Elang.
"Lepasin tanganku El, aku mau berangkat," ucap Senja berusaha melepas tangan Elang karena Elang tak langsung melepas tangannya.
"Kiss dulu!" Elang memanyunkan bibirnya. Melihat tingkah suaminya, Senja hanya mencebikkan bibirnya.
"Nggak ada kiss, nggak di lepasin!" imbuh Elang sengaja menggoda.
"Yaudah, mau di mana?" tanya Senja pasrah, dari pada ia datang ke kantor terlambat.
"Sini, sini, sini dan sini!" Elang menunjuk pipi kanan dan kiri, beralih ke kening dan berakhir di bibirnya sendiri sambil tersenyum.
"Lepaskan dulu tanganku dan Merem!" pinta Senja dan dituruti oleh Elang.
Alih-alih mencium suaminya, Senja pelan-pelan melangkah meninggalkan Elang.
"Aku berangkat dulu!" teriak Senja ketika sudah sampai pintu dan tangannya dengan sigap langsung membukanya dan keluar.
Elang membuka matanya lalu tersenyum, ia segera menyusul Senja yang sudah berjalan menuruni anak tangga.
"Itu lift bukan buat pajangan, kalau buru-buru kenapa nggak pakai lift," ucap Elang yang ini sudah mensejajarkan langkahnya dengan Senja.
Senja hanya meliriknya, segala macam lift di bahas, nggak jelas banget, pikir Senja.
"Aku antar ya?" tawar Elang.
"Tidak usah, aku berangkat sendiri saja, lagian kamu belum siap-siap begini yang ada aku telat beneran El," tolak Senja.
"Telat juga nggak apa-apa kan?"
"El..." menatap tajam suaminya, heran kenapa suaminya itu akhir-akhir ini jadi sedikit lebih banyak bicara kepadanya tidak seperti dulu yang irit bicara.
"Atau libur aja deh,"
Senja menghentikan langkahnya. Elang ikut berhenti.
"Apa sih El aku udah sering absen kerja, masa iya harus absen lagi? Itu kantor bukan punya nenek moyangku jadi enggak bisa seenaknya cuti!" Senja mulai kesal.
"Iya iya, bercanda," ucap Elang.
"Antar Senja ke kantor!" printah Elang kepada sopir.
"Baik Tuan muda," jawab sopir.
"Aku berangkat dulu,"
"Hem, mugkin aku hari ini pulang malam," ucap Elang.
__ADS_1
"Hem, sampai ketemu nanti malam," balas Senja.
"Hem," sahut Elang.
Elang kembali masuk ke dalam setelah Senja pergi. Sesampainya di kamar, ia menghubungi Kendra.
"Kend, siapkan paspor dan segala keperluan Senja untuk ke luar negeri!" ucapnya kepada Kendra di seberang telepon dan langsung memutus panggilannya.
πΌπΌπΌ
Senja menghela napas panjang setiap kali ia akan masuk ke perusahaan. Jika dulu ia sangat senang setiap kali menginjakkan kakinya di sana karena adanya para sahabat dan juga kekasihnya yang bekerja di sana. Membuat pekerjaan yang ia sukai semakin menyenangkan. Akan tetapi, sekarang rasanya perusahaan itu terasa penuh orang-orang munafik dan pengkhianat, ya meskipun tidak semuanya, hanya segelintir orang yang berada di pihak mantan kekasih dan sahabatnya. Meski demikian, entah kenapa Senja masih ingin bertahan bekerja di sana.
Senja bersyukur, pagi ini tak ada drama dari sepasang suami istri itu seperti biasa. Ia tak harus mendengarkan ocehan Mitha yang tak ada baiknya sama sekali dan juga kepedean Niko yang selalu menganggapnya masih mencintai laki-laki tidak tahu diri itu.
Rasanya damai sekali ketika semua aman-aman saja. Sampai tiba waktunya makan siang.
"Nja, makan siang di luar yuk! Di seberang sana ada cafe baru buka, cobain yuk! Siapa tahu recomended menunya, bisa buat pelarian saat bosa makan di kantin," ajak Sarah yang baru saja menghampiri Senja ke kubikelnya.
"Pekerjaanku masih banyak Sar, kamu aja deh. Ajak yang lain, sekalian aku nitip kayak biasa hehe," sahut Senja cengengesan, ia memang paling malas kalau harus keluar saat jam makan siang seperti ini.
"Nggak mau! Harus ikut pokoknya, ayolah udah lama nggak makan bareng diluar. Kerjaannya di sambung nanti. Ya ya ya Plesa!" rengek Sarah.
"Emmm, baiklah. Ayo!" Senja menyambar tasnya lalu menggandeng tangan Sarah.
"Traktir tapi ya?" ucap Senja tersenyum.
"Dih istri sultan minta traktir. Yang ada aku yang di traktir!" Sarah menaikkan sudut bibirnya ke atas. Detik kemudian mereka berdua tertawa.
πΌπΌπΌ
"Ssst Nja, sadar nggak sih perasaan sejak tadi mereka pada liatin ke arah sini," bisik Sarah.
"Iya, aku juga merasa begitu.Emang ada yang aneh? Enggak kan?" Senja merasa tidak ada yang perlu diperhatikan dari dirinya.
"Udahlah nggak usah di pikirkan, yuk ah balik kantor!" ajak Sarah.
"Yuk!" sahut Senja.
Senja dan Sarah kembali ke kantor sebelum jam istirahat selesai.
Sesampainya di kantor, persisi dengan di cafe, orang-orang juga memperhatikannya sambil berbisik, bahkan tatapan mereka tampak jijik kepada Senja. Perasaan Senja mulai tidak enak, pasti ada sesuatu yang terjadi.
"Wah wah wah, mari kita sambut pelakor berwajah polos kita!" Seru Mitha sambil bertepuk tangan dan tersenyum sinis.
"Apa maksud kamu Mitha?" tanya Sarah.
"Tanya sendiri sama sahabat kamu ini, dasar muna! ngatain orang pelakor, eh sendirinya tidak lebih baik. Dasar PE LA KOR!" Mitha memajukan wajahnya mendekati Senja saat mengucapkan kata pelakor dengan penuh penekanan.
"Iya nggak nyangka, Senja kelihatannya saja polos tapi ternyata dia licik, merebut tuan muda Erlangga dari kekasihnya, padahal Tuan.muda Erlangga dengan nona Bianca pasangan serasi, mereka bahkan di gadang-gadang akan menjadi pasangan paling serasi, eh tahunya malah di tikung sama Senja. Jijik aku sekantor sama perempuan macam itu," ucap teman Mitha.
Dan semua orang yang ada di sana pun saling berbisik, membicarakan Senja dengan sesekali menatap wanita yang tidak tahu apa-apa itu dengan tatapan risih dan benci.
__ADS_1
"Senja, ini ada apa? Kenapa mereka semua seperti ini?" tanya Sarah yang tak kalah terkejutnya dengan Senja.
"Aku tidak tahu Sar, perasaan aku tidak melakukan apa-apa," jawab Senja.
"Kalian jangan asal tuduh, di sini yang pelakor jelas-jelas Mitha, kenapa kalian malah mengatai Senja seperti itu?" Sarah pasang badan, ia tak terima dengan tuduhan mereka. Sementara Senja masih diam. Ia memang lebih bisa mengontrol diri daripada Sarah.
"Hah, mana ada maling ngaku. Senja, nggak malu kamu, Pelakor suka teriak pelakor. Pasti kamu menggunakan tubuh kamu untuk menggaet tuan Erlangga supaya jatuh ke pekukanmu, dasar munafik! Kalian semua hati-hati, jangan sampai pacara atau suami kalian di tikung sama perempuan berwajah lugu ini. Karena wanita model begini lebih bahaya, diam-diam menghanyutkan!
"Eh emang dasar ya, itu mulut ngga pernah di sekolahin ya. Heran, kalau ngomong suka nggak ngaca dulu!" kesal Sarah, ia sudah maju ingin menampar Mitha namun Senja mencegahnya.
"Jaga bicaramu Mitha, tidak semua wanita menyodorkan tubuhnya untuk memikat para laki-laki seperti kamu," ucap Senja.
"Haha selalu itu yang kamu ucapkan, seolah-olah dirimu paling suci Senja, padahal kenyataannya tidak sama sekali, dasar munafik!" lagi-lagi Mitha mengatai Senja munafik.
"Iya Senja, semua orang juga sudah tahu. Beritanya sudah menyebar di media sosial, bahkan ada photo saat kamu berciuman dengan pak Erlangga di jalanan. Ih beneran nggak nyangka, yang kelihatan polos ternyata obral juga,"
"Iya ya, lihat ini beritanya. Padahal kan semua tahu kalau pak Erlangga calon suami nona Bianca, tega banget sih kamu Senja merebutnya. Kamu kan perempuan, nggak kebayang bagaimana perasaan Nona Bianca, mereka pacaran lama loh, bertahun-tahun tapi dengan teganya kamu tikung,"
"Padahal kaku kan ngerasain sendiri gimana rasanya kekasih kita di rebut perempuan lain saat pak Niko menikah dengan Mitha,"
Mereka terus menyudutkan Senja dengan kata-kata mengintimidasi dan menghakimi seolah mereka tahu semuanya.
"Eh, aku sama mas Niko saling mencintai ya, dia aja yang nggak sadar diri," protes Mitha.
"Senja lihat ini!" Sarah memperlihatkan ponselnya kepada Senja. Sarah penasaran dan langsung membuka berita online.
Senja menghela napas panjang saat melihat berita dirinya yang digossipkan sebagai pelakor ada di mana-mana. Bahkan menjadi berita paling populer saat ini. Ternyata ini jawaban atas pertanyaannya sejak tadi sejak berada di cafe.
"Mau mengelak bagaimana lagi? Sudah lihat sendiri kan? Dasar pelakor!" sarkas Mitha.
"Aku tidak takut dan tidak peduli dengan berita murahan seperti ini, karena semua itu salah," Senja memajukan wajahnya ke Mitha lalu pergi meninggalkan tempat itu.
"Ayo Sar!" ajak Senja.
"Ck, dasar muka tembok," cibir Mitha
πΌπΌπΌ
"Ini minum dulu Nja!" Sarah menyodorkan minum yang baru saja ia ambil dari pantry.
"Makasih," Senja menerimanya dan langsung meminumnya. Meski tadi di depan Mitha dan lainnya Senja menunjukkan sika biasa saja, tidak gentar dengan berita yang ada, namun jauh di dalam hatinya ia syok dan takut. Ini pertama kali ia masuk dalam berita, dan isi berita itu semua negatif tentang dia.
"Kamu tidak apa-apa kan Nja?" Sarah merasa khawatir.
"Iya," Senja tetap mencoba tersenyum.
"Gila tuh gossip, sumbernya dapat dari mana coba, nggak bermutu banget. Nggak usah di pikirkan ya, yang penting kenyataannya tidak seperti itu. Mitha juga, pengin aku sumpl rasanya tuh mulut, pengen aku usap tuh muka dengan parutan kelapa, dasar nggak ada akhlak, amit-amit jabang bayi," kesal Sarah membayangkan wajah menyebalkan Mitha.
Senja tak menanggapiny, pikirannya justru beralih kepada suaminya.
"El, apa kau sudah melihat berita itu? Apa yang harus aku lakukan? gumamnya dalam hati.
__ADS_1
πΌπΌπΌ