
Sementara itu, Elang masih saja tampak gelisah. Pasalnya, Senja sama sekali tak menghubunginya. Bahkan, setelah ia memerintahkan Kend untuk mengirim bunga dan kata-kata romantis yang mati-matian ia buat, istrinya itu tetap bergeming, mengabaikannya sama sekali.
Elang yang tak biasa dicuekin sedemikiannya oleh Senja merasa tak tenang sama sekali. Biasanya jam-jam segitu, Senja sudah menghujani ponselnya dengan chat. Meskipun hanya chat berupa emoticon yang menggambarkan perasaannya.
"Masih nggak ada kabar?" tanya Kend yang baru saja masuk.
Elang diam sebagai jawaban.
"Kalau nggak di chat, ya ngechat duluan dong. Telepon atau video call kalau perlu. Jangan kayak orang susah begitu," ucap Kendra tanpa dosa.
Elang langsung menatapnya tajam, "Apa kau lupa, sedang bicara dengan siapa, Kend?"
Kendra hanya nyengir kuda.
Bukannya Elang tak mau menghubungi Senja duluan, tapi jika pesannya tidak di balas oleh Senja, pasti ia malah akan semakin gelisah. Apalagi sudah centang dua biru tapi nggak di balas, semakin mumet pasti nanti.
" Ya udah kalau gitu, yok samperin aja, bos!" ucap Kendra semangat empat lima.
Membuat Elang kembali mengernyit menatapnya heran, "Semangat sekali kamu, yang mau kita temui kalau kesana itu istriku. Berani sekali semangat melebihi semangatku begitu?" ucap Elang ngegas.
Kendra tak menyahut, ia sedang sibuk melirik ponsel dalam genggamannya yang penuh notif dari aplikasi belanja online dan novel online. Dan ada satu lagi notif pesan yang membuatnya tertarik," Piye nduk? Udah ada calon? Kalau belum, mending pulang aja ke Magelang. Nanti ibuk kenalin sama anak teman ibuk. Teman-teman seusai kamu di sini udah pada punya anak lho. Ibuk yo pengin kamu cepat nikah,"
Kendra mengernyit, setelah membaca isi pesan tersebut.
" Kend?!" teriak Elang karena Kendra justru nyuekin dia dan asyik dengan pikirannya sendiri.
" Eh, iya bos. Ayo bos! Kita ke kantor nona sekarang saja,"
"Ada apa denganmu, kenapa kamu yang menggebu-gebu pengin ke sana? Ada incaran baru di sana? Awas jangan cuma di jadikan pelampiasan karena Gisell,"
"Enggak bos, nggak ada. Cuma ada urusan sedikit sama Sarah," jawab Kendra.
"Sa-rah?" Elang memiringkan kepalanya demi mendengar jawaban dari Kendra.
Kendra mengangguk.
__ADS_1
"Jangan gila kamu, kalau cuma mau jadiin sarah persinggahan sesaat, cuma sebagai pelampiasan kayak yang sudah-sudah. Bisa di gorok kamu sama Senja. Kalau mau pedekate sama perempuan, berusaha serius, Kend,"
Lagi-lagi Kendra mengangguk, "Tapi bukan untuk itu bos, Sarah cocok dan nyaman di jadikan teman. Itu saja, belum ada rasa yang mengarah ke sana," jelasnya kemudian.
"Ya sudah, ayo!" Elang berdiri dari duduknya, ia tak tahan lagi untuk tidak melihat istrinya.
πΌ πΌ πΌ
Senja dan Sarah baru saja kembali ke ruangan Senja setelah selesai meeting. Mereka mengecek ponsel masing-masing.
Senja melihat, tak ada notif pesan maupun panggilan dari suaminya. Ia sedikit mendengus, padahal bukan bunganya yng ia harapkan, tapi orangnya. Bunga sebanyak itu, tak bis mewakili keberadaan suaminya di sana saat ini.
Sementara sarah tampak serius melihat ponsel di tangannya, jari telunjuknya sibuk menggeser layar ponsel tersebut. Berkali-kali ia mengernyitkan Keningnya.
"Nja," Sarah memanggil Senja yang sedikit melamun.
Senja menoleh kearahnya, "Kenapa? Jadwal ketemu klien jadi sekalian makn siang nanti kan?" tanya Senja.
"Iya, nanti sekalian makan siang. Emmm, mau tanya sesuatu, boleh?" Sarah sedikit ragu.
"Apa? Tanya ada sih, pakai ijin segala, tumben,"
Senja membulatkan matanya demi menatap Sarah, "Selimut? Siapa?" selidiknya.
"Kendra, maksudnya," Sarah meralat ucapannya.
Senja hampir saja meledakkan tawanya melihat ekspresi wajah Sarah yang tersipu saat menyebut nama Kendra yang ia juluki selimut.
"Astaga, kirain siapa Kendra maksudnya Emm, Setahu aku Gisel suka, bahkan tergila-gila sama Rega dari dulu. Dari orok malah. Dan Kend, dia suka sama Gisel dari dulu, juga. Nggak tahulah aku juga pusing kalau mikirin kisah mereka yang nggak ada titik temunya," Jawab Senja.
Sarah mengangguk-anggukkan kepalanya smbil ber-oh-ria. Namun tersirat rasa penasaran di wajahnya. Hatinya juga sedikit merasa aneh, tapi ia tak tahu kenapa.
"Kenapa sih, tiba-tiba nanyain Kendra. Tumben? Hayo ada apa?"
"Nggak ada apa-apa, Nja. Sumpah! Cuma tanya doang, emang nggak boleh ya?"
__ADS_1
"Ya, boleh dong. Nggak perlu pakai sumpah segala Sar, kayak sama siapa aja. Tapi, kalau mau lebih jelas, kamu tanya aja sendiri sama orangnya," sahut Senja.
"Enggak ah, nanti dikira aku kepo sama kehidupan pribadinya lagi. Lagian kita nggak sedekat itu kali!"
"Tapi nyatanya emang kepo kan?" ledek Senja sambil terkekeh.
"Nggak juga. Biasa aja sih,"
"Nggak apa-apa, temenan aja dulu, siapa tahu nanti jadi demenan," ucap Senja tersenyum penuh arti.
"Nggaklah, kamu kan tahu, ibuk aku udah mewanti-wanti nyariin jodoh buat aku, Nja. Ibuk udah panik banget di umur aku sekarang, belum kelihatan hilal jodohnya. Tiap hari nanyain udah ada calon belum,"
"Ya udah kalau gitu, pedekate aja sama Kend, siapa tahu cocok jadi calon menantu ibu kamu,"
"Nggak ah, nggak masuk kayaknya. Ibuk aku kolot orangnya, makanya aku suka males kalau udah bahas, cowok sama ibuk.
"Terus sama si Adit gimana? Bukannya lagi pedekate sama dia kemarin?"
Sarah menggeleng, "Nggak lanjut, kayaknya. Dia nggak mau berkomitmen dalam waktu dekat ini, paling nggak lima atau enam tahun lagi, baru mau nikah. Keburu gumoh ama teror ibuk kalau selama itu. Ini aja aku udah budek-budekin telinga sama kebal-kebalin perasaan kalau menghadapi ibuk," ucap Sarah.
" Sabar, nanti juga kalau sudah waktunya jodoh bakal datang. Nggak ada yang tahu, kalau tiba-tiba ada seorang pangeran berkuda putih datang melamar kamu kan, jodoh itu misteri. Aku sama suamiku contohnya. Semua akan indah pada waktunya,"
Di tengah obrolan asyik mereka berdua, tiba-tiba Mitha datang, tanpa permisi ia nyelonong masuk ke ruangan Senja. Senja dan Sarah langsung berdiri begitu melihat Mitha masuk.
"Mith, ingat sopan santun kalau masuk ke ruangan orang! Jangan main nyelonong aja! Apalagi ini ruangan bos kita!" ucap Sarah memperingatkan.
Mitha tak menggubris, matanya menatap nyalang kepada Senja, ia terus berjalan mendekat dan...
Plak!
Tanpa di duga, Mitha berani menampar wajah Senja hingga meninggalkan bekas merah di wajahnya yang putih bak porselen itu.
πΌπΌπΌ
π π InsyaAllah nanti up lagi (diusahakan),
__ADS_1
Yuk, like, komen. Mawar atau kopinya...
Salam hangat author π€β€οΈβ€οΈπ π