Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 68 (Malam panas di kediaman Parvis)


__ADS_3

Elang mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar Gisell. Ia kembali ke ruang kerja sang daddy untuk bergabung dengan Alex dan David. Sepanjang jalan, senyumnya tak pernah luntur mengingat pengakuan Senja kepada Gisell barusan. Meski tak langsung mengatakan kepadanya, namun Elang bisa merasakan jika apa yang di katakan oleh sang istri adalah dari hatinya.


"Kenapa senyum-senyum sendiri El?" tanya Alex yang melihat tingkah aneh sang putra.


"Ah tidak apa-apa dad," jawab Elang.


"Papa mana?" tanya Elang.


"Sudah pulang barusan. Apa ada yang ingin kau bicarakan dengan papamu?"


"Ya, ada hal yang ingin El bicarakan, besok saja El akan menemui papa," sahut El.


"Malam ini kau ajak istrimu menginap di sini saja," pinta Alex.


"Hem," sahut Elang mengangguk.


"Daddy ke kamar dulu," pamit Alex. Meninggalkan Elang sendiri di ruang kerjanya.


"O ya, setelah semua yang terjadi, sebaiknya kamu ajak istrimu pergi liburan sekalian bulan madu," ucap Alex menghentikan langkahnya dan berbalik badan.


"Sudah El pikirkan dad, tinggal nunggu semua persiapan, El akan mengajak Senja ke Paris. Sekalian ada yang harus El urus di sana," jawab Elang.


"Kau ini, mau bulan madu masih saja memikirkan pekerjaan, fokus saja sama istrimu dulu, pekerjaan tinggalkn sejenak," ucap Alex.


"Iya dad, ini juga semua untuk Senja. Em, apa daddy ada waktu sebentar? Ada yang ingin El bicarakan," ucap Elang.


"Ayolah daddy selalu ada waktu untuk mendengarkan ceritamu. Katakan!" Alex mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamar.


Elang menceritakan semuanya tentang Senja tanpa terkecuali.


"Astaga, hal sepenting ini kau sembunyikan dari daddy," ucap Alex terkejut setelah mendengar cerita Elang.


"Ini juga El cerita sama daddy jangan baperan begitu," ucap Elang.


"Tetap saja kau cerita dulu kepada David, bukan sama daddy, dasar pilih kasih," wajah Alex tampak kecewa.


"Ayolah dad, c'mon," Elang merasa bersalah. Ia bukannya tidak ingin memberi tahu Alex, tapi ia ingin memastikan semuanya dengan jelas terlebih dahulu.


"Hahaha daddy bergurau. Lakukan saja yang terbaik, daddy akan selau mendukung dan membantumu," Alex menpuk pundak putra sulungnya tersebut.


"Thanks dad,"


"Lalu bagaimana, apa kau sudah bisa mencintainya?" tanya Alex.


"Sepertinya begitu," jawab Elang tersenyum.


"Begitu seperti apa?"


"Cinta," jawab El senyum-senyum malu.


"Ck. Kau ini, macam anak remaja yang sedang jatuh cinta saja, pakai senyum-senyum segala," ledek Alex. Yang membuat El langsung memasang wajah dinginnya kembali.


"Ya sudah, daddy ke kamar dulu. Daddy percaya sama kamu, asal kamu selalu ingat apa pesan daddy untukmu," Alex menepuk-nepuk pundak El dan pergi meninggalkan Elang di ruang kerjanya.


🌼 🌼 🌼


Alex masuk ke dalam kamarnya, dilihatnya Anes sedang duduk melamun di tepi ranjang.


"Istri mas kenapa melamun?" tanya Alex sambil mendekat.

__ADS_1


"Mas, apa kita perlu membawa Gisell ke psikiater, aku khawatir kenapa dia tidak bisa melihat hal lain selain Rega, bahkan dia melupakan apa yang sejak kecil ia impikan, ia bahkan seperti kupa akan dirinya sendiri. Aku khawatir mas," ucap Anes. Ia berdiri untuk mengambilkan piyama untuk Alex. Namun, Alex menarik Anes hingga jatuh ke pangkuannya.


"Jangan khawatir, anak kita baik-baik saja. Rega tahu apa yang harus dia lakukan, sejak dalam kandungan bukankah dia yang pling bisa menenangkan Gisell," ucapnya seraya menjatuhkan dagunya ke pundak Anes.


"Justru itu mas, sikap Gisell yang selalu agresif kepada Rega, pasti buat Rega ilfill sama anak gadis kita. Laki-laki biasanya kan risih jika ada perempuan nempel-nempel begitu,"


"Tapi Rega tidak pernah menjauhi Gisell," ucap Alex.


"Itu yang aku pikirkan, sebanarnya apa yang Rega inginkan, ia tak pernah terus terang dengan perasaannya,"


"Percayalah, apa yang Rega inginkan sama dengan apa yang kita inginkan, yang terbaik untuk putri semata wayang kita, sudah jangan terlalu berpikir," Alex mulai mencumbu leher jenjng Anes. Jika sudah begini, Anes tahu kalau suaminya sedang menginginkannya.


"Mas kangen," bisik Alex di telinga Anes. Anes langsung memutar badannya dan Alex langsung menyambar bibir Anes dengan lembut. Dan malam itu mereka melakukan penyatuan dengan penuh gairah dan cinta. Meski tak lagi muda, cinta dan kemesraan mereka tidak pernah surut, justru semakin bertambah dan mereka berharap kisah anak-anak mereka akan seperti kisah mereka yang berakhir dan berlanjut bahagia.


🌼 🌼 🌼


Elang menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya, ia sudah mengirim pesan kepada Senja jika malam ini mereka akan menginap dan ia menunggu istrinya tersebut di kamar.


"Mau kemana?" tanya Elang saat berpapasan dengan Gavin.


"Keluar kak, ada urusan sebentar," jawab Gavin.


"Kau berkencan?" selidik Elang.


"Tidak kak, mana ada Gavin pacaran," jawab Gavin.


"Baguslah, fokus sama kuliahmu dulu, dan bantu daddy, bukankah sebentar lagi kau dan Gisell akan wisuda?"


"Iya kak," sahut Gavin. Ya, Gavin dan Gisell akan wisuda di usia dua puluh satu tahun nanti.


"Yasudah sana, jangan lupa pulang," Elang menepuk bahu Gavin dan melanjutkan jalannya. Gavin memutar badannya untuk mengambil kunci sepeda motor yang lupa ia bawa. Saat melewati kamar kedua orang tuanya, Gavin menoleh ke pintu yang sedikit terbuka. Ia mendekat dan menariknya pelan, tak ingin mengganggu kedua orang tuanya yang tanpa ia tahu atau lebih tepatnya pura-pura tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan.


🌼 🌼 🌼


"Ya, aku takut suamiku tidak bisa tidur jika tidak ada aku di sisinya," sahut Senja tersenyum.


"O ya, bukankah kau yang sangat mencintaiku? Bahkan cintamu kebih besar dari gunung dan lautan," goda Elang masih dalam posisi yang sama, memeluk pinggang Senja.


"Tadi kau menguping?" tuding Senja, ia langsung menusuk pinggang Elang dengan jari telunjuknya, membuat laki-laki itu meringis geli.


"Tidak, tadi aku tidak sengaja mendengarnya, kalau tidak begitu mana aku tahu kalau kau sangat mencintaiku," ucap Elang.


"Sudahlah jangan di bahas aku malu,"


"Kenapa malu? Kau tahu, cintaku bahkan lebih besar darimu," ucap Elang.


"O ya?"


"Hem, kau akan merasakannya sendiri nanti," Elang mengeratkan pelukannya. Senja membalas pelukan suaminya.


"Bagaimana dengan Gisell?"


"Dia sudah tidur, moodnya cepat sekali membaik," ucap Senja.


"Dia memang seperti itu, selalu ceria,"


"Hem, dia sangat menyukai Rega, aku harap mereka berjodoh,"


"Kau percaya, Gisell sudah ngefans berat dengan Rega sejak ia dalam kandungan mommy," kata Elang. Ia menuntun tangan Senja untuk duduk.

__ADS_1


"O ya? Sweet sekali!" seru Senja membayangkan betapa sweetnya jika mereka berdua benar-benar bisa berjodoh.


"Cinta bersemi sejak dalam kandungan, oh indahnya," selorohnya lagi.


"Ya, setiap kali usil, begitu perut mommy di usap Rega pasti langsung anteng. Ya, walaupun mereka kembar, tapi aku yakin itu Gisell yang caper sama Rega. Saat bayipun anak itu tidak pernah mau lepas dari Rega. Rega juga sangat menyayangi Gisell. Mereka tidak terpisahkan,"


" Lantas, kenapa Rega tidak membalas cinta Gisell?"


"Entahlah, sepertinya Rega memiliki perhitungn sendiri soal itu, tapi aku percaya dia ingin yang terbaik buat Gisell,"


"El..." panggil Senja.


"Apa sayang?"


"kenapa kamarmu yang di sini serba hitam?" tanya Senja, ini kali pertama ia memasuki kamar Elang yang ada di kediaman Parvis.


"Kau tak suka? Nanti di ubah sesuai keinginn nyonya Erlangga," sahut Elang.


"Tidak, bukan seperti itu, aku hanya bertanya. Suasananya gentle sekali,"


"Bisa di rubah jika kau tak suka," Elang sudah memeluk Senja dari samping, ia menjatuhkan dagunya di bahu Senja.


"Aku suka," jawab Senja.


"Kau tahu, kau adalah wanita pertama yang memasuki kamar ini selain mommy dan Gisell,"


"Bianca? Dia kan sering kemari dulu,"


"Bahkan Bianca tidak pernah masuk ke sini, aku paling tidak suka ada yang masuk ke kamar tanpa ijin, kecuali Gisell. Dia bandel. Meski sering kesini, Bie tidak pernah masuk ke kamar ini,"


"Tidak percaya?" tanya Elang setelah membaca raut wajah senja.


"Percaya, tapi bisa tidak jangan memanggilnya begitu?"


"Semua orang juga memanggilnya Bie, dari namanya Bianca, jangan cemburu itu bukan panggilan sayang. Aku bahkan tidak memiliki panggilan sayang untuknya,"


Senja tersenyum, dia pikir itu panggilan sayang untuk Bianca.


"Kamu sendiri bisa tidak jangan memanggilku kamu atau kau, biar bagaimanapun aku suami kamu Senja,"


"Maaf, aku belum terbiasa Boo," ucap Senja, wajahnya memerah ketika memanggil suaminya seperti itu. Elang tersenyum, ia pikir Senja akn memanggilnya mas, kak atau abang, ternyata ia mempunyai ide sendiri. Elang mengangkat dagu Senja.


"Lihat aku dan panggil aku seperti tadi," ucapnya.


"M~my Boo," ucap Senja, terdengar sanagt seksi saat bibir Senja mengucapkannya. Elang tersenyum dan langsung mencium bibir Senja.


"Panggil aku seperti itu, My Cherry,"


"Kenapa kau selalu memanggilku cherry, namaku Senja," protes Senja.


"Karena bibir kamu semerah cherry," Elang mengusap bibir Senja.


"Bagaimana, apa kamu mau mencoba bercocok tanam di ranjang ini, spesial khusus prtama kali untuk nyonya Erlangga. Pertama kali aku mengijinkan ranjangku yabg ini di acak-acak," Elang mengangkat kedua alisnya, bibirnya tersenyum smirk.


"Tadi kan udah Boo,"


"Itu kan di rumah sayang, sekarang mau lagi, gimana dong. Ayolah, coba gimana rasanya sama nggak dengan yang di sana," akal bulus Elang mulai beraksi.


"Sebentar saja," tawar Senja.

__ADS_1


"Di usahakan," jawab Elang. Ia mulai merebahkan Senja dan siap menyusul daddy dan mommy mencari kenikmatan.


🌼 🌼 🌼


__ADS_2