
Elang terus menarik tangan Senja keluar dari restoran. Kendra buru-buru menyudahi makannya dan menyusul Elang dan Senja.
"Nona Marry, bayar ya," ucap Kendra iseng menggoda sekertaris Claudia sebelum ia beranjak. Sontak saja, Marry langsung mendelik, menatap kesal Kendra yang sudah berlalu mengejar bosnya.
"Bos, kenapa buru-buru?" ucap Kendra yang baru saja masuk ke dalam mobil dan memposisikan diri duduk di belakang kemudi.
Elang tak menyahut ucapan Kendra, ia justru fokus kepada istrinya yang duduk terdiam di sampingnya. Di raihnya tangan sang istri pelan.
"Kamu baik-baik saja kan? Claudia tidak menyakitimu kan?" tanya Elang yang khawatir.
"Tidak, tadi dia baru ingin menamparku, tapi kamu keburu datang dan menghalanginya," jawab Sena apa adanya.
Kendra menjalankan mobilnya. Elang tak melepaskan genggamannya kepada tangan Senja.
"Claudia bicara apa tadi? Apa ada kata-katanya yang mengganggu pikiranmu?" tanya Elang, sejak tadi ia memperhatikan istrinya tersebut jadi banyak diam.
"Ah tidak, dia tidak bicara apa-apa. Hanya bicara ..."
"Bicara apa?" Elang tak sabar menunggu Senja bicara.
"Bicara...Biasalah perempuan kalau sedang cemburu, dia akan mengumpat, memaki bahkan kalau bisa ingin menghajar perempuan yang sudah merebut pujaan hatinya," ucap Senja. Ia tidak mengatakan jika Claudia membahas Bianca.
"Apa kau merasa merebutku darinya?" tanya Elang.
"Tidak," jawab Senja singkat.
"Kenapa?" Elang semakin penasaran.
"Karena hatimu masih untuknya, aku tahu itu," ucap Senja dalam hati. Meski Elang tak pernah mengatakan secara gamblang, tapi ia bisa merasakannya. Laki-laki itu masih menyimpan nama Bianca di hatinya. Elang memang tidak pernah menceritakan soal rasa sakit hatinya, tapi Senja bisa mengerti, apalagi Bianca adalah cinta pertamanya. Sedikit atau banyak tetap akan meninggalkan kesan di hati Elang.
"Kau yang memaksa menikahiku, bukan aku. Jadi, aku tidak merebutmu dari siapapun," ucap Senja kemudian.
Elang tersenyum mendengarnya.
"Tadi kau bicara begitu dengannya?" tanyanya lagi.
"Tidak, aku hanya menyuruhnya mengaca karena dia mengataiku ular," ucap Senja seadanya. Ia benar-benar sedang malas. Sedikit banyak, ucapan Claudia mempengaruhi pikirannya.
Elang tergelak mendengarnya. Ia senang istrinya bukanlah wanita yang mudah ditindas.
"Kenapa tertawa?" Senja memicingkan ekor matanya.
"Dia ular berbisa, tapi kamu ular beracun," ucap Elang, Senja langsung menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Racunmu membuatku kecanduan, ingin selalu mendengar suara desisanmu," ucap Elang.
"El..."
"Apa? Kenapa? Benarkan? Suara kamu kalau sedang ehem-ehem sangat menggoda," kelakar Elang.
Senja langsung menutup mulut suaminya menggunakan tangannya. Ia heran kenapa Elang sebegitu mesumnya sekarang. Senja tidak tahu jika, kenikmatan surga dunia yang sudah ia berikan membuat candu bagi seorang Erlangga.
"Ada Kendra El, jangan asal kalau bicara," ucap Senja, tangannya masih membungkam mulut suaminya.
"..." suara Elang tidak jelas karena Senja membekap mulutnya.
"Kau bicara apa?" tanya Senja.
Elang langsung menjilat tangan Senja, membuat Senja melepaskan bekapannya.
"Ih El, kau jorok sekali!"
"Siapa suruh membekap mulutku dengan tangan, kenapa tidak pakai mulut saja," ujar Elang langsung mengecup bibir cherry candunya.
"El..!Ada Kendra, bisa nggak sih jaga sikap?" protes Senja.
__ADS_1
"Anggap saja Kendra hanya angin lewat, jangan anggap dia manusia," ucap Elang. Senja hanya berdecak mendengarnya.
"Jika Kendra bukan manusia, lalu kamu apa uan muda?" batin Senja.
Tiba-tiba, Kendra menghentikan mobilnya.
"Kenapa berhenti Kend?" tanya Elang.
"Jangan tanya kepada angin yang lewat bos, karena angin tidak bisa bicara," jawab Kendra.
"Dih baperan kayak cewek, begitu saja marah. Cepat jalan!"
"Saya berhenti karena di depan ada mobil mogok yang menghalangi jalan bos, bukan karena baper," jelas Kendra.
"El, bukannya itu Ervan? Iya, itu Ervan! Sepertinya mobilnya mogok, cepetan turun dan bantuin," seru Senja heboh, tangannya menepuk-nepuk paha suaminya
"Tidak mau!" jawab Elang.
Senja melotot ke arahnya.
"Bisa tidak nyebut namanya biasa aja? Jangan semesra itu?" ucap Elang.
Senja rasanya ingin menenggelamkan dirinya ke dasar bumi mendengar ucapan suaminya yang sama sekali tak bermutu tersebut. Mesra dari mananya coba? Senja hanya menyebut nama Ervan, dengan nada biasa. Memang sedikit heboh, bukan karena apa, ia merasa berhutang budi dengan laki-laki tampan tersebut.
"Ya sudah, biar aku saja yang turun, dia pernah nolongin aku. Itung-itung balas budi," cebik Senja tangannya hendak membuka pintu mobil.
"Biar aku saja, kamu tunggu di sini! Kend, ikt denganku," Elang langsung membuka pintu mobilnya. Ia tak ingin Senja dekat-dekat dengan Ervan.
"Tuan Ervan? Kenapa mobil Anda?" tanya Kendra setelah ia dan Elang mendekat.
"Mobilku mogok," jawab Ervan.
"Ck, mobil mahal mogok," gumam Elang.
Ervan mempunyai sebuah ide untuk mengerjai Elang.
"El, bukannya kau pandai soal mesin? Kau kan pandai segala hal. Bisa tolong periksa mobilku? Aku tidak mengerti soal mesin mobil, aku tahunya beki saja," ucap Ervan. Sebenarnya ia sudah memanggil orangnya untuk mengirim montir ke sana dan ia sedang menunggu anak orangnya menjemput dirinya, hanya saja orang itu belum sampai.
Elang sebenarnya malas, tapi jika ingat ucapan Senja, ia memang punya hutang budi terhadap Ervan.
"Kend, periksa!" perintahnya kepada Kendra.
"Baik bos," Kendra langsung beraksi.
Kendra mencoba mengotak-atik mesin mobil Ervan namun tak kunjung menyala mobil tersebut. Ia sengaja pura-pura tidak bisa alias membodohkan diri untuk mengerjai bosnya yang tadi sudah mengerjainya terlebih dahulu.
"Bisa tidak?" tanya Elang.
"Maaf bos, ini bukan bidang saya," sahut Kendra, pura-pura menyerah.
"Minggir!" Titah Elang yang merasa tak sabar karena Kendra tak kunjung berhasil membenahi mobil Ervan. Ia melepas jasnya dan melemparnya asal. Jas tersebut terlempar tepat di muka Senja yang sedang mendekat.
Elang melipat kemejanya hingga ke siku dan langsung menunjukkan kebolehannya.
"Senja..." Ervan menyapa Senja dengan senyum tercerahnya,
Senja membalasnya dengan senyuman. Elamg langsung menoleh ke arah Senja yang sudah berdiri di belakangnya dengan menenteng jas milik Elang.
"Aku bilang tunggu di mobil, kenapa turun?"ucap Elang.
"Kalian lama sekali, makanya aku turun," sahut Senja.
"Jaga matamu, dia istriku!" Elang tak suka cara Ervan menatap istrinya.
Elang kembali fokus kepada mesin mobil milik Ervan. Senja mengamati suaminya yang sedang berkutat dengan mesin mobil tersebut. Di mata Senja, Elang terlihat keren saat laki-laki itu fokus mengotak-atik mesin mobil Ervan, dan sesekali mengelap keringat di di dahinya akibat panas yang sangat terik.
__ADS_1
"Bisa tidak El, bilang saja kalau tidak bisa, jangan sok pintar dalam segala hal,"
Elang diam tak menyahut, ia tahu Ervan sengaja mengerjainya. Bagi seorang Ervan, mobil mogok pasti sudah ia tinggalkan begitu saja di jalan. Ia paham betul bagaiman sifat mantan Sahabatnya tersebut. Tapi, demi Senja ia melakukannya.
"Coba nyalakan!" perintah Elang. Ervan langsung mencoba menyalakan mobilnya dan selalu, apapun yang Elang kerjakan pasti berhasil. Dia memang andai dalam banyak hal.
"Wow, bravo. Bakatmu menjadi seorang montir masih ada ternyata," ucap Ervan.
"Anggap saja ini balas budi, karena kamu sudah menolong istriku," ucap Elang tak ingin basa-basi dengan Ervan.
"Apa kau tahu nona Senja, kata orang pertemuan pertama, kedua bisa jadi kebetulan tapi pertemuan ketiga bisa jadi tanda kita jodoh," ujar Ervan yang tak menyahut ucapan Elang akan tetapi malah fokus mengajak bicara Senja.
Elang mengepalkan tangannya mendengar ucapan Ervan barusan.
"Jangan melewati batas Van, dia istriku," geramnya.
"Heh, kalau Senjanya mau sama aku, tidak masalah mau dia istri siapapun," ucap Ervan sengaja memancing emosi Elang.
"Jaga ucapanmu!" Elang mulai tersulut emosinya.
"Kalau kau sudah bersama Senja, bagaimana kalau aku mendekat mantanmu, Bianca?" ucap Ervan tepat di telinga Elang.
"Jangan macam-macam kamu!" peringat Elang, matanya penuh kilat amarah.
"Wow santai El, bila sudah menjadi mantan kenapa harus marah?"
"Jangan coba-coba kamu mendekati Bianca ataupun menyakitinya lagi," peringat Elang lagi.
"Kalau begitu, aku pilih Senja saja. Iya kan Senja?" Kali ini suara Ervan sengaja ia keraskan supaya Senja mendengarnya.
"Eh...?" Senja terkesiap mendengar ucapan Ervan, ia tak mengerti apa maksud laki-laki tersebut.
Elang semakin tersulut emosinya. Ia tak ingin siapapun menjadi pelampiasan dendam Ervan. Tangannya mengepal keras, siap memberi hantaman untuk mantan sahabatnya tersebut. Sebelum Elang benar-benar menumpahkan kemarahannya, Kendra mengisyaratkan kepada Senja untuk maju.
"El, jangan berantem," Senja melingkarkan tangannya di lengan Elang. Elang ingat jika Senja tidak bisa melihat orang berantem. Ia menyentuh tangan Senja.
"Hem," Elang menganggukkan kepalanya. Ia langsung menuntun tangan Senja untuk kembali ke dalam mobil.
"Permisi tuan Ervan," pamit Senja.
Ervan mengangguk tersenyum kepada Senja.
"Permisi tuan," pamit Kendra. Ia benar-benar tak habis pikir sampai kapan keduanya akan menyimpan dendam satu sama lain. Ia masih ingat betul bagaimana dua laki-laki itu duku begitu dekat bagai saudara.
Ervan menatap mobil Elang yang sudah melaju kembali. Ia langsung masuk ke dalam mobilnya. Ia menghubungi orangnya untuk tidak jadi menjemputnya.
Ervan melajukan mobilnya menyusul mobil Elang yang sudah jauh melaju. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia memasang ear phone di telinganya.
"Halo pa," ucapnya.
Entah apa yang di bicarakan orang yang tak lain adalah ayahnya tersebut.
"Ervan sudah berusaha mencarinya, tapi sampai sekarang belum menemukannya," ucap Ervan.
Ervan terus mendengarkan ayahnya bicara. Ia sudah sangat malas jika ayahnya sudah membahas perihal perjodohan yang menurutnya konyol.
"Ervan punya pilihan sendiri pa, Ervan menyukai perempuan lain," ucapnya jujur.
Di lihat dari raut wajahnya, sepertinya ayah Ervan marah mendengar ucapan Ervan barusan. Tak ingin mendengar ayahnya terus berceramah, Ervan langsung mengakhiri panggilan. Ia memijat pangkal hidungnya sekejap.
"Maaf Ervan tidak bisa mengantar papa ke Bandara. Ervan masih di kota S, See you. Kabari Ervan kalau sudah sampai di Paris," Ervan mengirim pesan singkat kepada ayahnya sebelum akhirnya ia mematikan ponselnya dan melemparnya ke jok sebelahnya.
"Senja," Ervan tersenyum menyebut nama tersebut.
__ADS_1