Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 75


__ADS_3

Tuan Albert setengah tak percaya dengan apanyang dia lihat. Perempuan yang kini sedang berdiri tepat di depannya, menggandeng lengan Elang dengan kuat itu mirip sekali dengan Almarhumah istri majikannya dulu, Dewi namanya.


"Dewi, ya kau mirip sekali dengannya," ucap tuan Albert lagi, kali ini ia lebih mendekat dan mengamati wajah Senja.


"Dewi siapa yang Anda maksud?" tanya Elang, mengutarakan rasa penasarannya. Ini kali pertama tuan albert bertemu Senja, tapi laki-laki itu seperti sudah akrab dengannya.


"Apa sebelumnya Anda mengenal istri saya?" tanyanya lagi, mengingat nama Senja adalah Senja khaira Dewi.


"Ah tidak, maksudku sorot mata dan bibirnya mirip sekali dengannya, Dewi. Ya Dewi, istri dari tuan Bailey. Aku yakin dia anaknya tuan dan nyonya Bailey," jelas tuan Albert.


Elang dan Senja tersenyum, mengangguk mengerti dengan ucapan tuan Bailey yang ternyata bisa berbahasa Indonesia meski tidak fasih."Mr. Erlangga, Asseyez-vous s'il vous plait (Silahkan duduk, tuan Erlangga),"ucap tuan Albert menggunakan bahasa perancis.


"Merci monsieur ( Terima kasih Tuan)," sahut Elang. Ia mengajak Senja untuk duduk. Ia pikir Senja tidak tahu apa yang di maksud oleh tuan Albert. Senja mengangguk dan duduk diikuti oleh Kendra.


Perbincangan penting antara mereka pun di mulai. Tuan Albert menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dulu sampai kedua orang tua Senja meninggal dunia.


🍃🍃🍃


Flash back on...


Dewi Ayu Anggraini, adalah seorang gadis yatim piatu asal Jogja yang di persunting oleh seorang pria asal Perancis bernama Damian Abellard Bailey. Mereka bertemu saat tuan Bailey berlibur di jogja. Tuan Bailey langsung jatuh cinta saat pertama kali bertemu dengan Dewi yang waktu itu merupakan seorang Mahasiswa tingkat akhir yang tinggal di sebuah panti asuhan di Jogja.


Karena kegigihan Tuan Bailey untuk meyakinkan Dewi kalau dirinya benar-benar serius untuk menjalin hubungan dengannya, akhirnya pertahanan Dewi pun runtuh. Setelah ia menyelesaikan kuliahnya, dewi menikah dengan tuan Bailey dan di boyong ke Perancis.


Namun sayang, asal usul Dewi yang tidak jelas membuat keluarga besar tuan Bailey tidak menyukainya. Tuan Bailey bahkan tidak medapatkan warisan apapun dari orang tuanya. Dengan modal tabungan yang ia miliki, tuan Bailey mulai merintis usaha, ia mulai membangun sebuah perusahaan fashion yang berkembang sangat pesat semenjak kelahiran putri pertama mereka di usia pernikahan yang kedua tahun.


Hal tersebut membuat saudaranya iri. Mereka pikir tuan Bailey mendapatkan modal dalam jumlah yang besar dari orang tuanya sebelum mereka meninggal dunia, untuk membangun perusahaan yang di beri nama BaileyTex tersebut. Mereka, terutama adik perempuan tuan Bailey dan suaminya tak terima jika suatu saat harta yang mereka yakini milik keluarga Bailey tersebut akan jatuh kepada putrinya bersama dewi suatu saat nanti.

__ADS_1


Berbagai macam cara mereka lakukan untuk merebut perusahaan tersebut. Hingga puncaknya pada saat putri tuan Bailey berusia sekitar tiga tahun lebih.


Malam itu, hujan lebat dan petir terdengar bersaut-sautan ketika putri kecil pasangan Bailey terbangun dari tidurnya. Ia mencari keberadaan kedua orang tuanya. Gadis kecil itu mendapati kedua orang tuanya yang sedang berlutut di depan beberapa orang berbadan tegap yang menodongkan pistol ke arah mereka berdua. Wajah mereka sudah penuh luka leba. Beberapa anak buah tuan Bailey sudah terkapar tak bernyawa di lantai.


Gadis kecil itu seakan tercekat tak bisa bersuara. Meskipun gelap, hanya mengandalkan pencahayaan dari kilat petir yang saling bersahutan, gadis kecil itu bisa melihat kedua orang tuanya di siksa dari balik pintu kamarnya. Seketika tubuhnya terasa kaku dan mati rasa. Buliran kristal jatuh membasahi pipinya, sebagai tanda betapa takut dan sedihnya ia kala itu. Ia ingin sekali berteriak memanggil kedua orang tuanya namun lidahnya terasa kelu.


Diam-diam, dua anak buah tuan Bailey, yaitu Albert dan Hardian, mendekat dan akan membawa gadis cilik itu pergi dari rumah besar yang sedang di jadikan tempat sandera kedua orang tuanya tersebut.


Albert menyuruh Hardian untuk membawa Putri tuan Bailey bersamanya, sementara dia akan berusaha untuk menyelamatkan majikan mereka, "Kau jangan gila Albert, semua sudah tumbang, tidak mungkin kau bisa melawan mereka sendiri. Pergilah bersamaku," ucap Hardian lirih.


"Tidak, kau bawa nona pergi dari sini. Ingat pesan tuan dan nyonya tadi pagi untuk selalu menjaga nona," Albert mengingat pesan majikannya, seolah mereka sudah memeiliki firasat akan terjadi sesuatu kepada mereka.


"Apapun yang terjadi jangan pernah kembali, bawa nona pergi cepat!" lanjutnya. Hardian tak bisa pikir panjang lagi, keadaan sudah genting. Dengan hati-hati, ia menggendong tubuh kecil itu keluar dari rumah. Sialnya, ia ketahuan, sebuah tembakan tertuju padanya, namun segera di halangi oleh Albert, sehingga tembakan itu mengenai perut Albert. Hardian dan hadis kecil itu berhasil kabir dari sana.


Albert mencoba bertahan, tangannya memegangi perutnya yang tertembak. Ia mencoba menolok tuan dan nyonya Bailey, namun satu tembakan kembali mengenai dadanya, hingga akhirnya ia tersungkur ke lantai. Ia masih bisa melihat ketika mereka menyeret paksa tuan dan nyonya Bailey keluar rumah namun ia tak bisa mencegah mereka. Ia pura-pura terkapar dan mereka pikir ia sudah mati, sehingga mereka tidak lagi menghiraukannya.


Tiga hari kemudian, Albert sadar. Beruntung, peluru tidak memembus jantungnya sehingga ia bisa tertolong.


Saat Albert di rawat, Hardian datang menjenguknya. Ia senang karena sahabatnya selamat.


"Bagiaman tuan dan nyonya?" tanya Albert.


Sebelum Hardian menjawab, mereka terlebih dahulu melihat berita di televisi, dimana di beritakan jika pasangan Bailey tersebut telah meninggal karena kecelakaan mobil.


"Ini tidak mungkin, pasti ini ulah mereka," ucap Albert tak terima.


"Kau tenanglah dulu, kau baru siuman. Perlu banyak istirahat," sahut Hardian mencoba menenangkan.

__ADS_1


Mereka berdua terdiam, ada rasa menyesal dan bersalah dalam benak mereka. Mereka merasa gagal melindungi majikan mereka yang begitu baik dan sudah menganggap mereka seperti saudara sendiri.


"Dimana nona?" tanya Albert.


"Nona di tempat yang aman, kau jangan khawatir. Fokis dulu ada kesembuhanmu," timpal Hardian.


"Tapi, mereka sekarang sedang mencari keberadaan nona. Mereka tahu jika nona selamat," lanjut Hardian.


"Lalu kau kesini?"


"Aku menyamar tadi," sahut Hardian.


"Kai bawalah nona ke negara asalmu, Indonesia. Rawat dan jaga dia baik-baik. Keluargamu di sana juga pasti sudah merindukanmu," ucap Albert.


"Tapi, bagaimana denganmu?"


"Aku akan baik-baik saja, setelah ini aku akan memulai hidup baru bersama anak dan istriku," sahut Albert. Ya, mereka berdua sudah berkeluarga, bahkan anak Hardian yang bernama Winda sudah menikah dan memiliki seorang putri bernama Dina yang usianya terpaut satu tahun di bawah putri tuan Bailey.


Hardian sudah sejak dulu ikut keluarga Bailey, dari tuan Bailey masih kecil hingga ia menikah dan merintis usaha dari bawah. Hardian selalu setia mendampinhinya sesuai amanah kakek tuan Bailey.


"Tapi..." Hardian memikirkan keselamatan sahabatnya tersebut.


"Percayalah, ini yang terbaik," ucap Albert meyakinkan.


Setelah berpikir cukup panjang, akhirnya Hardian membawa putri tuan Bailey bersamaanya kembali ke Indonesia.


Flash back off

__ADS_1


🍃🍃🍃


__ADS_2