Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 114


__ADS_3

Usia kehamilan Senja kini sudah memasuki tiga bulan lebih. Perutnya sudah mulai menunjukkan perubahan, sedikit menonjol dari sebelumnya karena di perkirakan pada usia kehamilannya saat ini ukuran rahimnya sudah sebesar jeruk bali.


Meski demikian, tak ada yang berubah dari tubuh yang lainnya, hanya erutnya saja yang lebih berisi.


"Sayang, ayolah pakai bajumu. Kalau kau seperti ini, benar-benar menguji imanku. Aku tidak akan bisa menahan ya. Dan kau tahu, kau asti akan berakhir terkapar di ranjang. Dan..."


"Dan kita akan terlambat datang ke acara pesta si kembar, begitu kan?" Senja melanjutkan ucapan suaminya yang kini sedang memperhatikannya dengan wajah memelas.


Bagaimana tidak memelas, jika saat ini Senja sedang tak memakai apapun ada tubuhnya kecuali pakaian dalam yang menutupi dada dan bagian bawah.


" Lihatlah Boo. Perutku sudah mulai buncit, anak kita sudah lebih besar sepertinya," ucap Senja riang, tanpa menghiraukan wajah cemberut suaminya. Ia tersenyum memandangi bayangan tubuhnya di cermin yang ada di depannya. Ya, semenjak hamil, ia sering berkaca dan mengukur bentuk tubuhnya, apakah sudah ada perubahan atau belum. Senja tak ingin melewatkan sedetikpum. Momen bertambahnya usia janin dalam kandungannya.


"Iya, anak kita semakin besar, tapi aku bisa semakin gelisah kalau kamu tak juga pakai baju, sayang," Elang mendekat dan mencium pundak Senja.


"Boo," panggil Senja, raut wajahnya berubah sendu.


"Hem," Sahut Elang.


"Apa aku semakin gendut?" tanya Senja yang tiba-tiba tampak kurang percaya diri.


"Tidak, hanya perut dan... Ini yang semakin besar," Jawab Elang meremat dada Senja.


"Kalau aku jadi gendut, apa kamu masih cinta?"


"Selalu dan akan bertambah," jawab Elang.


"Meskipun nanti ada stretchmark dan aku tidak kencang lagi?" Senja masih tidak puas akan jawaban suaminya.


"Hem, bagaimanapun kamu, aku akan tetap cinta, tapi sekarang cepetan pakai bajumu, kita hampir terlambat," ucap Elang.


Senja mencebik, namun ia tetap menurut, berjalan menuju ke walk in closet untuk memakai gaun yang sudah di pilihan oleh Elang.


"Ya ampun," Elang mengusap wajahnya kasar demi melihat istrinya yang hampir telan jang itu berjalan pelan, tanpa menghiraukan suaminya yang sudah Berkali-kali menelan salivanya.


Elang menggedikkan bahunya, seluruh tubuhnya terasa merinding. Jika tidak ingat, mereka akan ke acara pesta wisuda sekaligus ulang tahun Gavin dan Gisel, menghukum sang istri karena sudah berani menggodanya akan menjadi pilihan utamanya malam ini.


"Baru tiga bulan, apa kabar enam bukan ke depan," gumamnya tersenyum.


Tak berselang lama, Senja keluar dengan mengenakan gaun berwarna lilac bercorak daun keemasan.


Elang hampir tak berkedip melihat sang istri yang semenjak hamil menurutnya semakin cantik dan auranya semakin terpancar.


Fiuhhhh


Senja menipu mata Elang hingg berkedip, "Lihatinnya jangan begitu,"selorohnya .

__ADS_1


Elang tersenyum," Kamu cantik sekali malam ini," ucap Elang seraya menyelipkan rambut Senja yang sengaja diurai begitu saja ke belakang telinga.


" Malam ini aja? Kemarin-kemarin enggak cantik?" Protes Senja.


" Enggak, bukan begitu, sayang..." Elang sedikit meringis, ia lupa jika istrinya kini sedang tidak bisa diajak bercanda.


"Biasanya bilang aku always beautifull, tapi kok ini bilangnya malam ini aja, berarti kemarin-kemarin bohong dong,"


"Duh, kok gitu. Ya enggak dong, dari dulu sampai kamu jadi gendut pun kamu tetap cantik buat aku,"


"Tuh kan, aku beneran gendut, ih kamu bikin aku jadi nggak pede," Senja cemberut, membuat Elang menggatuk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku gendut kan juga demi anak kita, apa-apa juga aku makan demi anak kita, aku nggak mikirin tubuh aku sendiri, mau gendut atau jelek yang penting anak kita sehat," Senja hampir terisak.


Elang langsung menarik istrinya tersebut ke dalam pelukannya, di cium ya dengan lembut bibir cherry milik Senja, guna membungkam mulutnya yang terus mengomel.


Setelah dipastikan tenang dan tidak lagi bersuara, Elang melepas pagutannya. Ia mengusap sudut bibir Senja, menatapnya penuh cinta dan tulus, "Aku nggak pernah bilang kamu jelek. Di mata Erlangga, Senjanya selalu cantik dan paling cantik. Bukankah itu yang terpenting? Bagaimana kamu di mata aku? Aku justru bersyukur kamu mau mengandung anakku, menjaga dan membawanya kemana sampai waktunya dia lahir nanti, dan itu buat aku semakin cinta. Jadi, jangan pernah berpikir minder atau tidak percaya diri. Lagian, kamu itu nggak gendut, masih sama hanya anak kita yang tumbuh semakin besar di sini, kamunya enggak," Elang mengusap perut Senja.


Senja menunduk," Maaf, aku berlebihan," ucapnya. Memiliki suami sebaik Elang, justru kadang membuatnya tak percaya diri. Ia takut mengecewakan sang suami.


Elang mengecup kening Senja," Benarkan lipstikmu dan kita berangkat," ucapnya.


Senja mengangguk, saat ia mengambil lipstik di dalam tas nya, Elang merebutnya, "Biar aku yang rapiin, ini gara-gara aku jadi begini," ucapnya tersenyum.


"Emang bisa?"


"Eh, ada yang nggak bisa aku lakukan," ucap Elang tiba-tiba.


"Apa?" tanya Senja penasaran.


"Melupakan kamu, berjauhan dengan kamu, dan berpisah dengan kamu," ucap Elang yang mana membuat Senja tersipu.


"Apaan sih. Udah ah ayo berangkat," Senja mencubit mesra pinggang Elang.


🌼 🌼 🌼


Malam ini, tidak seperti biasanya, Gisel tampak anggun dan lebih dewasa. Ia semakin cantik dengan gaun berwarna merah senada dengan pakaian yang di kenakan oleh Gavin, serasi sekali. Jika tidak mengetahui mereka adalah saudara kembar, mungkin orang akan beranggapan bahwa mereka adalah sepasang kekasih.


Di sana telah hadir beberapa teman, kerabat, sahabat, termasuk mama Amel dan papa David tentunya. Mereka semua larut dalam obrolan dengan porsi masing-masing sesuai umur.


Elang dan Senja yang baru saja tiba langsung menghampiri kedua adiknya.


"Happy birth day and happy graduation buat kalian berdua," ucap Elang dan Senja bergantian. Senja menyerahkan hadiah yang sudh ia siapkan untuk twins.


"Makasih kak, kakak ipar," ucap Gisel diikuti oleh Gavin.

__ADS_1


"Ya ampun, kamu cantik banget Sel. Kakak sampai pangling loh," puji Senja.


"Ih kak Senja, bisa aja sih. Kan malam spesial, jadi harus cantik maksimal dong," ucap Gisel tersenyum. Ia sudah tak sabar ingin bertemu pujaan hatinya, Rega. Malam ini ia akan menyatakan cintanya kembali untuk pria itu. Ia yakin sekarang Rega akan menerimanya. Tak ada lagi yang ia inginkan, gelar Sarjana sudah ia dapatkan, sesuai permintaan Rega jika dia harus kuliah sampai lulus. Tinggal gelar seorang istri yang belum.


Sejak memutuskan untuk mengejar cinta Rega, cita-cita utama Gisel hanya ingin menjadi nyonya Regantara. Baginya, tak ada hal lain yang menarik selain menjadi pendamping seorang Rega. Hingga ia melupakan cara mencintai dirinya sendiri. Melupakan apa yang dulu sekali selalu ia katakan sebagai cita-citanya. Hidupnya hanya ada Rega, Rega dan Rega.


"Sayang, bagaimana? Sehat kan menantu dan calon cucu mommy?" tanya Anes memeluk Senja.


"Sehat mom, berkat doa mommy," sahut Senja. Mereka pun mengobrol sembari menunggu yang lain datang.


"Vin, rencana setelah ini mau ngapain?" tanya Elang.


"Aku mau melanjutkan S2 ke Ausy kak, sekalian belajar mengurus perusahaan yang ada di sana," jawab Gavin.


Elang mengangguk, mungkin ini keputusan akhir Gavin untuk masalahnya tempo hari. Padahal sebelumnya, Gavin tak ada niat untuk menjalankan perusahaan daddinya. Dan Kalaupun melanjutkan kuliah, ia akan kuliah di Jakarta. Tapi kini keputusannya berubah, ia lebih memilih untuk menjauh, seraya mengobati hatinya yang mungkin saja sedang terluka.


Tak berselang lama, Kendra datang bersama Sarah.


"Dih, makin lengket aja kayak perangko kalian," goda Senja.


"Dari pada datang sendiri kan, ada Saroh yang jomblo ini, bebas diajak jalan," jawab Kendra.


Sarah mencebik, "Saroh-saroh! Dasar selimut! Kalau nggak kepaksa karena tahu-tahu udah di depan pintu apartemen juga aku mending datang sendiri deh.Dari pada hanya di jadikan pelarian," ucapnya.


Pandangan Kendra langsung beralih keada Gisel yang malam ini sangat cantik. Ia bahkan sampai melongo dan tak berkedip. Sarah yang menyadari nya langsung menyikut lengan Kendra,"Heh, bayem!" ucapnya.


"Apa sih?" Kendra menatap sebal kepadanya.


"Bayem, em, mingkem itu mulut, kemasukan lalat baru tahu rasa. Iya, cantik tapi jangan gitu amat lihatnya, nanti ngeces malu lagi," bisik Sarah.


Kendra hanya bisa meringis smbil mengusap tengkuknya salah tingkah.


"Mas Kend, mbak Sarah. Makasih ya udah datang," ucap Gisel yang baru saja menghampiri mereka sehabis menyapa temannya yang lain.


"Sel, selamat ulang tahun dan selamat udah jadi sarjana sekarang," ucap Kendra mengulutkan tangannya dan di sambut oleh Gisel, "Makasih mas," ucapnya riang.


"Selamat ulang tahun ya, wish you all the best," ucap Sarah tersenyum.


"Terima kasih mbak Sarah," Gisel memeluk Sarah.


"Eh, kalian pacaran ya?" Tembak Gisell langsung.


"Tidak!" jawab Kendra dan Sarah bersamaan.


"Cieee, kompak banget sih kalian. Aku kira pacaran, padahal kalian cocok loh," seloroh Gisel. Sebenarnya bukannya ia tak tahu kalau Kend menaruh hati kepadanya, tapi hatinya yang sudah di penuhi oleh Rega hingga tak ada celah untuk pria lain.

__ADS_1


🌼🌼🌼


πŸ’ πŸ’  Masih ada bab lagi, tapi jangan lewatkan like dan komennya... Tengkyu kesayangan πŸ€—πŸ€—β€οΈπŸ’ πŸ’ 


__ADS_2