Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 63


__ADS_3

"Bodoh!" ucap Elang tersenyum lega yang langsung memeluk Senja dengan erat. Sementara Senja hanya bisa mematung.


Beberapa saat, Senja tetap masih mematung.


"Kenapa diam saja? Apa kau kehilangan napas?" tanya Elang.


"Iya, jika kau memelukku seperti ini aki benar-benar akan kehilangan napasku," ucap Senja.


Menyadari pelukannya sangar erat, Elang pun sedikit melonggarkan pelukannya. Senja mencoba melepas pelukan itu,namun Elang tak membiarkannya.


"Kenapa kau pulang? Bukankah kau sudah menentukan pilihanmu El?"


"Ya, aku memang sudah menentukan pilihanku," sahut Elang.


"Kalau begitu, lepaskan aku! Biarkan aku pergi supaya kau bisa kembali padanya," ucap Senja, mendorong paksa tubuh Elang hingga pelukannya terlepas. Sekuat tenaga ia menahan tangis yang sudah siap membasahi pipinya.


"Kau tidak boleh kemana-mana, aku tidak akan pernah mengijinkan kamu pergi dari rumah ini," ucap Elang tegas dan berusaha memeluk istrinya kembali. Namun, Senja segera mundur untuk menghindari pelukan suaminya.


"Kamu jangan egois El, jika kau sudah memilihnya biarkan aku pergi. Tak perlu kamu memikirkan apa yang sudah kakek amanahkan kepadamu. Justru aku tidak akan bahagia jika terus bersamamu yang masih mencintainya. Tolong lepaskan aku dan biarkan aku pergi El. Aku mohon. Kau sendiri yang berjanji akan melepaskan aku jika aku tidak bisa bahagia denganmu," kini air mata itu sudah tak bisa Senja bendung lagi, dengan lancangnya mulai membanjiri pipi mulus berlesung pipit tersebut.


"Kau yakin tak bahagia denganku Senja?" tanya Elang.


"Bagaimana aku bisa bahagia jika harus menerima kenyataan kalau suamiku lebih memilih mantannya dari pada istrinya. Tidak, aku tidak bisa menerima alasan apapun jika kau memilih dia tapi masih menahanku di sini," Senja menarik kopernya hendak pergi namun Elang langsung menahan tangannya.


"Lepas El, biarkan aku pergi supaya kau bisa bebas. Aku tak ingin menjadi bebanmu," alih-alih melepaskan, Elang malah menarik Senja ke dalam.pekukannya kembali.


"Aku tidak akan melepaskanmu, kau sudah masuk ke dalam hidupku dan harus tanggung jawab akan hal itu," ucap Elang memeluk Senja erat sekali.

__ADS_1


"Apa sih maumu El, kalau masih cinta, masih suka ya balikan saja sama dia. Kenapa juga harus bertahan sama aku hanya karena merasa bersalah sama kakek. Ini malah jadi beban tahu nggak buat aku. Kalau memang masih cinta sama dia, kenapa juga kemarin harus mengadakan konferensi pers buat aku. Kamu buat aku bingung El. Sengaja mempermainkan perasaanku, iya?" ucap Senja memukul-mukul dada bidang suaminya.


Elang masih membisu dan membiarkan Senja mengeluarkan semua unek-uneknya, mengeluarkan apa yang selama ini mengganggu pikirannya. Membiarkan Senja menangis dalam pelukannya meskipun ia harus berkali-kali mengernyit karena kemeja hitam yang ia kenakan di gunakan untuk mengelap ingus oleh istrinya.


"Sudah, sekarang lepaskan aku, biar aku bisa pergi. Ikhlaskan hubungan kita berakhir seperti aku mencoba ikhlas menerima pilihanmu," ucap Senja setelah bisa meredakan emosinya.


Elang tersenyum mendengarnya, sejak tadi ia bisa menangkap jika istrinya itu sedang dalam mode cemburu dan salah paham. Senja pikir ia keluar untuk menemui Bianca padahal Elang pergi untuk mencarinya.


"Ck. Dasar. Bodoh," Elang mengusap wajah Senja lembut.


Senja tak mengerti ucapan suaminya, kenapa ia malah bisa senyum-senyum begitu dalam.keadaan seperti ini. Benar-benar nggak ada perasaan emang itu laki, pikir Senja.


Tang Senja sudah memegang handle pintu untuk membukanya karena tadi di tutup oleh Elang saat masuk dan langsung memeluknya.


Elang memegang tangan yang sudah hampir menarik handel pintu tersebut supaya terbuka. Membuat Senja menoleh kesal ke arahnya.


"Aku memang sudah menentukan pilihan aku,"


"Ya, aku tahu itu makanya aku..." Elang langsung menempelkan jari telunjuknya d bibir Senja, membuat hati Senja semakin tak karuan.


"Sassttt, dengarkan dulu aku bicara. Sejak tadi kau sudah banyak bicara dan menangis, apa tidak capek?" ujar Elang.


"Apa lagi yang ingin kamu bicarakan?" ucap Senja pasrah.


Elang mengambil alih koper yang di pegang Senja lalu menyingkirkannya ke samping. Ia menuntun Senja untuk duduk di tepi ranjang.


"Aku pergi tadi itu untuk mencari kamu, bukan menemui siapa-siapa. Aku kira kamu kabur makanya aku sampai frustrasi mencari kamu," Elang memulai untuk menjelaskan.

__ADS_1


"Tapi itu tidak mengubah pilihanmu bukan," sahut Senja, ia hendak beranjak bangun namun di tahan oleh Elang.


"Duduk dulu, dengarkan dulu," ucap Elang mencoba tenang tidak terpancing emosi dengan sikap Senja yang masih jutek level sembilan. Akhirnya Senja hanya menghela napasnya panjang, duduk sedikit menunduk dan diam, menunggu suaminya bicara.


"Perempuan kalau cemburu begitu ya? Langsung ngegas, ambil kesimpulan sendiri dan nangis-nangis nggak jelas padahal masalahnya saja belum jelas. Tidak memanfaatkan mulutnya untuk bertanya terlebih dahulu, langsung aja tancap gas mau minggat," ucap Elang.


Senja menoleh, menatapnya sedikit tajam. Seolah bertanya maksudnya apa?


"Kamu cemburu karena photo itu kan? Photo dimana aku memapah Bianca saat siangnya gosip itu meledak? Kamu merasa aku tidak peduli dengan kamu dan lebih memilih menghabiskan waktu dengannya kan?..." Elang menjeda ucapannya.


"Padahal itu photo belum tentu sesuai dengan pikiran kamu,.sebuah photo bisa.mengadung banyak cerita tergantung bagaimana orang berspekulasi jika tidak tanya seperti apa kenyataannya," lanjutnya.


Senja kembali menatap Elang, terus maksudnya salah begitu dia cemburu jika suaminya terlihat dekat dan intim dengan wanita lain apalagi itu mantannya, terlepas apapun kenyataannya, photo tersebut terlihat jelas menggiring opini publik untuk berpikir sama dengannya, pikir Senja.


"Berpikir seperti itu juga bukan tanpa alasan, di dukung oleh sikap dan tindakan kamu sebelum-sebelumnya makanya aku berani menyimpulkan jika kamu lebih memilih dia. Kamu masih mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya, itu artinya kalian masih berkabar bukan? Bahkan aku pernah dengar kamu mengigau menyebut namanya, itu bukankah dukungan kuat atas pikiranku? mengingat kebersamaan kalian sejak kecil dan kau sering bilang tidak bisa benar-benar menghilangkannya dari hidupmu, aku mencoba mengerti dan menerima meski sebebarnya sakit. Tapi sekarang aku berpikir, kalau gosip pelakor kemarin itu seperti bukan hanya gosip...


"Aku merasa berada diantara dua orang yang sebenarnya saling mencintai tapi tidak bisa bersama karena sekarang ada aku di tengah-tengah kalian. Untuk itu, biarkan aku pergi saja El. Aku akan berusaha tetap bahagia seperti apa yang sudah kakek amanahkan, kau tak perlu khawatir," ucap Senja panjang lebar. Kali ini dengan tenang ia bicara dan kepala dingin.


"Maafkan aku," ucap Elang seraya menarik Senja ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku karena sudah membuatmu berpikir sejauh itu. Selama ini kamu diam, aku pikir kamu baik-baik saja. Maafkan aku karena sudah membuatmu jadi terus salah paham dan merasa aku tidak sungguh-sungguh dalam hubungan rumah tangga kita, maaf aku belum bisa membahagiakan kamu seperti janjiku...


"Biar jelas, apa kamu mau mendengar ceritaku? Kalau kamu tidak keberatan aku ingin curhat sedikit yang semoga saja bisa merubah keputusanmu untuk pergi dan tetap tinggal bersamaku, jika kamu masih ingin pergi karena aku, aku tidak akan mencegahmu asal kamu bisa bahagia meski tidak bersamaku," kalimat terakhir terasa berat untuk Elang ucapkan, tentu saja ia tak ingin berpisah, tak ingin kehilangan wanita yang pelan tapi pasti telah masuk ke dalam hatinya tersebut. Namun, ia ingat janjinya jika Senja tidak bahagia bersamanya, ia akan melepasnya.


Senja terdiam, tidak mengiyakan maupun menolak untuk sesaat.


Dan akhirnya Senja mengangguk, karena ia juga butuh penjelasan supaya hatinya benar-benar jelas. Benar kata suaminya, selama ini dirinya memang tidak pernah menanyakan apapun, ia hanya diam memendam semuanya dalam hati sendiri.

__ADS_1


__ADS_2