
"Aaaaaa, lagi sayang. Sekali lagi," Elang kembali menyodorkan makanan ke depan mulut Senja.
"Sebentar, ini aku juga baru ngunyah. Kalau di jejal lagi nanti bisa gumoh," sahut Senja dengan mulut penuh makanan.
"Aku hanya ingin kau makan makanan yang bergizi. Biar anak kita cepat tumbuh dan sehat," ucap Elang.
Senja hanya menatapnya sebal, "Bukan begini caranya boo, tidak dengan aku makan terus, lalu anak kita jadi langsung gede di perut. Kakau aku dijejali makan terus begini yang ada aku muntah beneran," jelas Senja.
Mendengarnya, Elang tampak berpikir. Ia menjadi cemberut. Ia sendiri bingung sebenarnya harus bagaimana menghadapi kehamilan pertama sang istri.
" Terus gimana dong? Atau.... Mau buah? Sini aku suapi!" tawar Elang kemudian. Senja menggelengkan kepalanya, "Nggak mau makan lagi, mual. Mau mandi aja gerah," ucapnya sambil menutup mulutnya.
"Ya udah, ayo aku antar ke kamar mandi!" ucap Elang.
"Tidak usah boo, aku bisa jalan sendiri. Tidak perlu seperti ini. Percayalah, aku dan calon anak kita baik-baik saja. Jangan perlakukan aku seperti orang sakit seperti ini," jelas Senja. Ia mulai resah dengan sikap sang suami.
"Maaf, sayang. Aku... Hanya bingung harus bagaimana. Jujur ini pengalaman pertamaku menghadapi wanita hamil. Dokter bilang harus menjaga dengan benar dan hati-hati. Karena ada trimester awal sangat rentan. Aku hanya tidak ingin kamu dan anakku kenapa-kenapa," terang Elang mengutarakan isi hatinya.
Senja tersenyum lalu menangkup wajah Elang," Kita nikmati dan lewati masa-masa ini bersama. Kau tak perlu khawatir sayang. Aku dan anak kita akan baik-baik saja, sampai waktunya tiba nanti dia terlahir di dunia ini. Nikmatilah setiap prosesnya bersamaku. Jangan jadikan sebagai sebuah beban dan pikiran," ucap Senja panjang lebar.
"Dan ingat, ini anak kita... Bukan anakmu saja. Aku yang mengandungnya. Sekarang biarkan aku mandi dulu, kau duduklah dengan tenang di sini," imbuh Senja, ia langsung beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Meski masih pusing dan lemas, namun ia tetap berusaha tersenyum. Tak ingin membuat suaminya khawatir yang berlebihan.
Ini baru awal saja Elang sudah sedemikian bingungnya, padahal perjalanan sampai waktu melahirkan masih panjang. Masih banyak yang harus di lewati.
🌼 🌼 🌼
Setelah tahu Senja hamil, Elang memutuskan untuk mengajaknya kembali ke Jakarta secepatnya. Ia tak sabar ingin berbagi kebahagiaan dengan keluarga besarnya. Daddy dan mommy pasti akan senang jika tahu mereka akan segera menjadi oma dan opa, pikirnya.
Sebenarnya bisa saja Elang memberitahu mereka melalui panggilan video call, tapi itu merupakan ide yang tidak terlalu bagus. Ia ingin memberi tahu mereka secara langsung supaya bisa tahu ekspresi kedua orang tuanya.
__ADS_1
Mereka akan kembali setelah Senja menyelesaikan semua pekerjaannya di Paris. Wanita itu akan lebih fokus mengurusi perusahaan cabang yang ada di Jakarta saja supaya bisa tetap dekat dengan suaminya.
Elang merasa lega karena Senja mau menurut dan mau kembali ke Jakarta yang awalnya ia pikir Senja akan lebih memilih untuk menetap di Paris.
Elang sudah menghubungi Kendra untuk menjemput mereka di Paris. Berita kehamilan Senja sudah sampai ke telinganya.
"Nona, selamat atas kehamilan Anda," ucap Kendra begitu ia sampai di kediaman Senja yang ada di Paris.
"Terima kasih Kend," sahut Senja yang kini sedang duduk sambil bergelayut manja di lengan Elang.
"Gimana-gimana, keren kan? Aku bakal jadi bapak Kend! Bibit unggul Erlangga memang tidak di ragukan lagi," ucap Elang dengan bangga.
"Ternyata ini tujuannya bos tidak buru-buru kembali waktu itu. Hanya untuk membuat baby made in Paris, heleh kalau mau jadi mah, dimana aja udah jadi. Di kebon juga jadi, kenapa mesti di Paris, biar apa? Biar kualitas impor? Itu mah tergantung pabriknya kali! Palingan juga biar di akta nanti tempat lahirnya terpampang jelas Paris!" sindir Kendra melirik ke arah Elang yang cuek dengan ucapannya.
"Bilang aja iri, sampai setua ini itu belalai gajah masih nganggur. Nggak menghasilkan, takutnya kadalurasa Kend," serang balik Elang. Yang membuat Kendra menunduk ke bawah dan berdecak kesal," Ini barang berkualitas, tidak bisa sembarangan bersarang bos. Harus nunggu goa yang tepat untuk bersemedi," ucapnya tak mau kalah.
Elang dan Senja saling menatap," Ngomong opo?" ucap keduanya bersamaan sambil tertawa. Membuat Kendra semakin berdecak sebal.
"Boo,..." Panggil Senja.
"Hem..." Elang menatap Senja sambil membelai rambutnya.
"Em, sebelum kembali ke Jakarta, bolehkah aku pergi ke puncak menara Eiffell dan jalan-jalan sekali lagi?" ucap Senja sambil membuat garis abstrak di dada Elang.
"Sayang, nanti kamu kecapean. Pinggangmu nanti bisa sakit kalau kebanyakan jalan," sahut Elang.
"Aku belum selesai bicara. Aku mau naik ke puncak menara Eifell dan jalan-jalan seerti waktu itu, tapi kau harus menggendongku. Aku nggak mau jalan," ucap Senja manja.
Kendra langsung menahan tawanya mendengar ucapan Senja. Benar-benar nih bibit made in Paris, masih bocil di dalam perut udah ngerjain bapaknya, pikirnya.
__ADS_1
"Bagaimana ceritanya, jalan-jalan tapi nggak mau jalan? Itu namanya gendong-gendong bukan jalan-jalan," sahut Elang.
"Mau ya, ya, ya? Kau harus menggendongku berkeliling," rengek Senja.
"Apa, ini termasuk kemauan anak kita sayang?" tanya Elang memastikan. Sebisa mungkin jika itu keinginan calon buah hatinya akan ia turuti.
Senja mengangguk dan tersenyum. Elang mengembuskan napasnya dalam, "Baiklah, akan aku turuti kemauan istri dan anakku," ucap Elang seraya mengusap perut Senja.
Karena senang, Senja langsung menyusupkan tangannya memeluk Elang, "Terima kasih sayang," ucapnya lalu mencium pipi Elang kanan dan Kiri.
"Yang ini nggak di cium, ntar cemburu lagi," Elang menunjuk bibirnya sendiri. Senja langsung mengecup bibir Elang. Membuat Kendra mencebik.
"Ck, apa-apaan ini. Di suruh balik kesini cuma di suguhi drama rumah tangga beginian," cebiknya sambil berdiri lalu berjalan meninggalkan Elang dan Senja yang tak menghiraukan ucapannya barusan.
"Mau kemana?" tanya Elang.
" Ke kamar, mau istirahat. Siapin amunisi buat nanti malam, barangkali setelah gendong nona jalan-jalan bos minta pijit sama saya," ucap Kendra tanpa menoleh.
"Oya bos, hati-hati. Biasanya perempuan hamil itu moodian. Sekarang aja bisa nemplok terus kayak cicak begitu. Tapi jangan sedih, bisa-bisa lima menit lagi nona akan menendang Anda karena tidak tahan dengan bau keringat Anda atau yang lainnya yang membuat nona mual ingin muntah, atau bahkan melihat wajah Anda saja nona akan histeris. Wanita hamil itu terkadang rumit di mengerti. Banyakin aja sabarnya," ceramah Kendra, seolah dia paling pengalaman saja soal wanita hamil.
"Sok tahu kamu, kayak kamu pernah hamil atau menghamili aja," cebik Elang.
"Yah kita lihat saja nanti. Nona tipe wanita hamil yang seperti apa. Banyak tingkah, banyak protes, banyak mau, banyak cemburu, banyak nangis atau banyak ngambeknya," sahut Kendra santai. Ia melenggang pergi meninggalkan Elang dan Senja yang terdiam melongo mendengar ucapannya barusan.
Elang menoleh ke arah Senja dengan ekspresi wajah yang berpikir. Ia mengendus-ngendus bau badannya sendiri, apa benar bau dan bisa bikin Senja mual-mual. Ia kemudian menyentuh wajahnya sendiri, apakah wajah tampannya itu juga bisa membuat Senja mual. Elang menggedik membayangkannya.
"Sayang, kamu tidak mual kan?" tanyanya lirih.
"Tidak boo...Tapi, bukan tidak, kayaknya belum. Nggak tahu nanti," sahut Senja menahan tawa menatap Elang dengan ekspresinya yang menyedihkan.
__ADS_1
🌼 🌼 🌼