
Acara selesai, nyonya Jolie meninggalkan tempat acara dengan perasaan kesal tapi masih bisa pura-pura tersenyum saat berpamitan dengan Senja. Setidaknya masih ada waktu untuk mencari cara menggagalkan penandatanganan berkas pengalihan, pikirnya.
Sementara di sebuah ruangan, suasana cukup tegang dimana tuan Albert dan tuan Damien baru saja memberitahu kalau Senja sudah di jodohkan dengan Ervan sejak mereka kecil.
"Tidak, aku tidak bisa menerima perjodohan itu tuan. Anda tahu, aku sudah menikah dan aku tidak mungkin menikah dengan laki-laki lain," ucap Senja dengan tegasnya menolak.
"Saya tahu nona, tapi sayangnya pernikahan kalian adalah salah satu syarat mutlak untuk mewarisi BaileyTex," ujar tuan Albert yang sebenarnya juga merasa bingung harus bagaimana menghadapi situasi ini. Ia sendiri tak menyangka masalah akan serumit ini. Awalnya tuan albert pikir, hanya dengan kembalinya Senja, semua masalah akan beres, perjodohan itu tak perlu di lakukan karena Senja telah menikah dan suaminya juga bukan orang sembarangan. Namun, saat pesta tadi ia mendapati kenyataan yang membuat situasi di ruangan tersebut tegang seperti saat ini.
"Kenapa tuan, kenapa harus ada syarat begitu. Apa tidak ada cara lain?" Senja tetap tidak bisa menerima dengan alasan apapun. Ia ingin menyelamatkan perusahaan ayahnya tapi juga tidak ingin berpisah dengan Elang.
Tuan albert terdiam, ia tak bisa menjawab pertanyaan Senja. Senja langsung merasa lemas, ia duduk di samping Elang.
Tuan damien pun diam tak berkomentar, sesaat tadi ia tampak syok karena mengetahui kenyataan jika Senja atau Cherry ternyata sudah menikah. Yang sangat ia sayangkan adalah suami Senja adalah Elang, laki-laki yang dulu di kejar-kejar putrinya hingga meninggal.
Sementara Elang dan Ervan, sejak tadi hanya diam dengan pikiran mereka masing-masing. Entah apa yang sedang mereka pikirkan hingga wajah mereka tampak tegang dan berurat. Satu hal yang pasti, Elang tidak akan melepaskan Senja begitu saja. Ia diam, namun wajahnya terlihat penuh amarah. Ia bisa saja meminta Senja untuk meninggalkan semua yang belum sempat ia miliki tersebut. Tanpa itu semua, apa yang dimiliki Elang lebih dari cukup untuk menjamin hidup sang istri. Namun, Elang tak bisa egois seperti itu.
Pun dengan Ervan, laki-laki itu juga lebih banyak diam dari pertama masuk ke ruangan tersebut. Ia akui, sejak pertama bertemu Senja, ia langsung menyukainya dan sangat senang saat tahu kalau Senja adalah teman masa kecilnya yang di jodohkan dengannya. Selama ini ia tak pernah benar-benar serius mencari keberadaan Senja, karena menikah karena tak saling cinta, hanya karena perjodohan, itu konyol. Dan sekarang ia menyesali ketidak seriusannya tersebut.
__ADS_1
Ervan melirik Elang yang menatapnya sinis dan seolah siap menonjoknya kapan saja. Ervan hanya berdecak. seharusnya ia senang karena memiliki jalan yang cukup mudah untuk merebut Senja dan membalas kematian adiknya. Tapi hatinya seolah mengkhianati keinginannya untuk balas dendam. Dan ia sangat membenci hal itu.
Kendra yang memang perannya hanya di perlukan dalam keadaan tertentu, hanya bisa diam tak ikut campur diskusi yang ia yakini tidak akan menmui titik temu saat itu juga. Ia diam sambil mengamati situasi dan otaknya juga tak kalah stres, ikut berpikir mencari solusi.
Tak ada baku hantam dalam ruangan tersebut, namun tatapan saling membenci antara Elang dan Ervan cukup mewakilakn perasaan mereka saat ini.
Senja melihat suaminya, laki-laki memang hanya diam, tapi ia tahu bukan berarti Elang tidak peduli. Justru pasti Elang sedang menahan gejolak amarah dalam dirinya saat ini.
"Menikah lah dengan Ervan," suara tuan Damien tiba-tiba mengusik ketenangan yang baru saja terjadi, dimana membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut bereaksi terkejut.
"Hah gila ya? Aku sudah menikah dan kau ingin aku menikah dengan Putramu, gila apa aku punya dua suami, kalau bukan orang tua udah aku tabok kamu," Senja menatap kesal kepada tuan Damien, ingin sekaki ia mengumpat seperti itu kepadanya.
" Tidak tuan, aku tidak bisa. Lebih baik aku tidak mendapat warisan itu jika harus menikah dengan Ervan," Senja berakih menatap tuan Albert, "Tuan, maafkan saya, tapi lebih baik kita lupakan saja semuanya,"ucap Senja tegas. Ia tak ingin apapun dari masa lalunya, bagaimana bisa ia menukar cinta suaminya dengan harta yang bahkan sebelumnya tak pernah ia harapkan. Harusnya ia bahagia, karena bisa menemukan jati diri masa lalunya , tapi kenyataannya malah rumit seperti ini. Hal yang benar-benar di luar ekspektasinya.
" Tapi nona, bagaimana dengan BaileyTex?"
Senja tahu, pasti tuan Albert ingin yang terbaik untuk BaileyTex.
__ADS_1
"biarkan BaileyTex tetap berada di tangan tante Jolie, bukankah selama ini dia yang mengurus dan BaileyTex tetap berjakan dengan baik. Saya tidak bisa melakukan wasiat itu, maafkan saya," Senja meraih tangan Elang yang sejak tadi mengepal kuat menahan emosinya. Di genggamnya tangan Elang," saya tidak bisa menukar suami saya dengan apapun,"
Cessss, ucapan Senja sedikit memberi kesejukan di hati Elang yang sejak tadi panas.
"Kenapa kamu lebih memilih mempertahankan laki-laki ini. Kau tahu, dia pembunuh! Dia penyebab kematian putriku, dia bukan laki-laki baik. BaileyTex susah payah di bangun oleh ayahmu, dan kau mau melepas begitu saja hanya karena pembunuh ini? Ervan jauh lebih baik dari dia, kenapa kau tidak mau menikah dengannya?" tuan Damien tak terima dengan keputusan Senja. Ia tak bisa terima jika hasil kerja keras sahabatnya jatuh ke tangan orang jahat macam nyonya Jolie. Meski terlihat baik, anggun, dan berwibawa namun perempuan itu adalah ular berbisa.
Lebih-lebih Senja memilih Elang, laki-laki yang dianggapnya sebagai pria brengsek yang bisanya hanya menyakiti perempuan tanpa tahu kebenarannya. Ia tidak mau putri sahabatnya itu menderita.
Elang diam, ia tahu hati tuan Damien masih begitu terluka atas meninggalnya Ersya, putri kesayangannya. Ia tak bisa membalas kata-kata tuan Damien, karena ia sendiri masih merasa bersalah atas kematian adik Ervan tersebut. Ia juga tak bisa menyalahkan tuan Damien, karena pria tua itu pasti juga ingin yang terbaik untuk BaileyTex maupun Senja.
"Tentu saja saya memilih dia, dia suami saya tuan. Anda bisa membeberkan kebaikan anak Anda dan mengusik kejelekan suami saya. Tapi saya berhak membela suami saya, saya lebih tahu bagaimana dia daripada anda, dia bukan pembunuh. Putri anda mati atas kemauannya sendiri, dia yang tidak bisa terima kenyataan kalau suami saya tidak mencintai dia. Jadi jangan melimpahkan kesalahan kepada suami saya, "ucap Senja dengan nada tinggi, ia tak peduli bicara dengan orang yang lebih tua sekalipun, tapi mendengar suaminya di bilang pembunuh, ia tak terima. Hatinya sakit, sangat sakit.
" Kau...!"tuan Damien memegangi dadanya yang terasa sesak, Ervan langsung berdiri menghampiri sang ayah," Pa, tenanglah," ucap Ervan memegangi pundak ayahnya. Entah kenapa, hati kecilnya membenarkan ucapan Senja. Ervan tahu Elang memang tidak salah, dia laki-laki baik, tapi tetap saja ia tak bisa menerima kenyataan itu. Ia tetap menyalahkan Elang, sama dengan ayahnya.
"Kau harus terima takdirmu jika memang di jodohkan denganku Senja, tinggalkan dia dan menikahlah denganku," hanya itu yang bisa Ervan katakan mewakili isi hatinya, bukan karena dendamnya kepada Elang, melainkan karena ia mencintai Senja sejak awal.
Mendengar ucapan Ervan, Elang langsung bereaksi, ia berdiri, "Dalam khayalanmu saja. Oh tidak, bahkan dalam khayalan pun aku tidak akan mengijinkannya!" ucap Elang geram.
__ADS_1
"Tuan, saya permisi. Kita bicarakan ini lagi nanti," Elang membungkukkan badannya kepada tuan Albert dan juga tuan Damien dan langsung menggandeng tangan Senja untuk pergi dari sana. Jika terus berlama-lama di sana, bukannya menemukan solusi, malah ia yakin tak bisa mengontrol diri lagi untuk meluapkan amarahnya.
🌼 🌼 🌼