
"Selamat pagi, Bu," sapa para karyawan pagi itu. Awalnya memang Senja merasa Aneh di perlakuan seperti itu. Tapi sekarang di hari keempatnya di perusahaan dengan status yang berbeda, mulai terbiasa dengan sapaan-sapaan tersebut. Ia akan tersenyum dan mengangguk kepada setiap mereka yang menyanya.
Senja terus berjalan menuju lift khusus yang ada di lobby, dimana Sarah yang kini menjadi asisten pribadinya sudah menunggu.
"Selamat bu bos," setelah menekan tombol lift, Sarah menyapa Senja.
"Ketularan mereka ya kamu, Sar," cebik Senja.
"Ya ampun bumil sensi amat sih. Kan emang benar kamu sekarang bos aku. Nggak salah kan?" sahut Sarah tergelak sambil masuk ke dalam lift.
"Aku nggak nyaman dengernya. Biasa aja sih manggilnya," ucap Senja.
"Iya, iya," Mereka melangkah keluar dari lift.
"Gimana? Udah kamu kumpulan berkas-berkasnya,?" tanya Senja setelah ia sampai di ruangannya dan duduk.
"Udah nih!" Sarah menyerahkan beberaa berkas kepada Senja.
"Ada apa sih? Apa ada yang mencurigakan, sampai kamu harus memeriksanua sendiri?" tanya Sarah penasaran.
"Aku curiga ada kecurangan yang di lakukan mas Niko. Laporan keuangan yang aku periksa kemarin sepertinya ada yang aneh," ucap Senja. Ya, sebagai pemimpin baru, ia sedang mempelajari perkembangan perusahaan dan dia menemukan adanya kejanggalan di bidang keuangan.
" Maksud kamu, pak Niko melakukan penggelapan dana? Korupsi? " tak Sarah to the point.
" Aku belum tahi pasti sih. Aku harus mastiin dulu semuanya. Aku coba pelajari dulu dokumen-dokumen ini, semoga saja kecurigaanku salah," ucap Senja. Bagaimanapun ia tak tega mengingat kehamilan Mitha yang sudah membesar dan mendekati lahiran. Bisa di bayangkan bagaimana kalau benar adanya kecurangan dalam perusahaan yang di lakukan oleh Niko selama ini.
" Aku sih berharap benar dia korupsi, biar bisa out dari perusahaan. Udah males lihat pasangan itu," ucap Sarah.
Senja diam tak menyahut, ia hanyut dengan pikirannya sendiri. Apakah dia yang terlalu curiga, atau memang benar laki-laki yang dulu ia kenal sangat baik itu tega melakukan hal kotor seperti itu. Jika benar, apa yang harus ia lakukan, sementara Mitha kini sudah hamil besar.
🌼 🌼 🌼
Waktu makan siang tiba...
Kali ini Senja yang akan ke kantor suaminya. Siang ini, ia ingin sekali makan siang bersama suaminya, di kantornya.
"Selamat siang bu," sapa beberaa karyawan yang berlalu lalang di lobby.
"Siang," balas Senja ramah dan tersenyum. Ia merogoh ponselnya lalu menghubungi Elang.
"Sayang, aku udah ada di lobby," ucap Senja.
__ADS_1
"Oh, udah nyampai ya. Sebentar aku jemput ke bawah ya," balas Elang yang ternyata masih sibuk membaca sebuah dokumen.
"Enggak usah, aku sama Sarah kok. Aku naik sendiri aja nggak apa-apa, nggak perlu di jemput. Nggak apa-apa kan aku langsung ke ruangan kamu? Nggak lagi sibuk kan?" tanya Senja.
"Ya enggak dong, buat kamu, aku nggak pernah sibuk. Ya, udah sini cepatan, udah kangen nih," ucap Elang yang langsung di balas de akan oleh Kendra.
"Sirik," lirih Elang menatap sebal kepada Kendra.
"Kenapa, Boo?" tanya Senja yang seerti mendengar sesuatu.
"Ah enggak. Di tunggu ya, muah," ucap Elang.
"Hem," Senja kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Kita langsung ke ruangan suamiku aja, Sar," ucap Senja kepada Sarah yang sejak tadi hanya diam memperhatikan.
"Oke!" jawab Sarah.
Elang tersenyum ketika melihat sosok yang ia rindukan memasuki ruangannya.
"Udah waktunya istirahat, Tuan Erlangga," ucap Senja tersenyum seraya meletakkan bekal makan siang yang ia bawa di meja lalu berjalan mendekati suaminya. Sarah yang berjalan di belakangnya langsung mendudukkan bobotnya di sofa setelah mengangguk sopan kepada Elang.
Senja langsung mengalungkan tangannya di leher Elang dan mencium pipi suaminya tersebut, seakan ia tidak melihat keberadaan Kend di sana. Ia hanya ingin bermanja-manja dengan suaminya setelah di pusingkn dengan masalah pekerjaan.
Senja tak segera menjawab, pandangan matanya beralih kepada Kendra yang masih berdiri di depan mereka Dengan tak tahu malunya.
Elang yang mengerti ketidaknyamanan sang istri ikut melihat Kendra, "Kau boleh pergi makan siang Kend," ucapnya pada Kendra.
"Baik, bos," Kendra menjawab, namun pandangan matanya beralih kepada Sarah yang saat ini sudah duduk di sofa.
"Tugasmu, Kend," kata Elang yang mengandung perintah untuk Kendra.
Kendra mengangguk mengerti, ia berjalan mendekati Sarah, "Ayo, kita makan siang di luar!"
"Aku? Kita? Kamu ngajak aku makan di luar?" tanya Sarah mengernyit.
"Hem, kita juga butuh tenaga buat lihat orang uwu-uwuan. Emangnya mau di sini terus lihatin mereka? Yang ada kita malu sendiri, lagian baper liht orang nggak akan bikin kenyang. Ayo?" Kendra menarik tangan Sarah, memaksa perempuan itu berdiri dan mengikuti langkahnya.
" Nggak usah di tarik juga kali, aku bisa jalan sendiri. Nja, aku keluar dulu!" teriak Sarah sebelum pintu ruangan itu kembali tertutup.
"Apa itu tidak apa-apa ngbiarin Sarah pergi sama Kend?" Senja sedikit khawatir.
__ADS_1
"Tenanglah, Kend nggak akan menggigit Sarah. Tidak usah cemas begitu, mereka sudh dewasa, siapa tahu Sarah bis mengalihkan dunia Kend dari Gisell," ucap Elang.
"Iya juga, sih," sahut Senja. Ia sedikit terkejut ketika Elang menarik tangannya sehingga mengharuskan badannya bergerak dan berakhir di pangkuan sang suami.
Senja menabok pelan lengan Elang.
"Kenapa?" Elang mengernyit.
"Malu, ini di kantor," ucap Senja.
"Tidak ada yang akan berani protes. Kamu istriku, aku berhak aku berhak melakukannya, bahkan lebih pun tak ada yang bisa melarang di sini," ucap Elang.
"Hai sayang, rindu daddy ya? Hari ini tidak menyusahkan mommy kan?" Elang menundukkan kepalanya demi untuk membenamkan wajahnya di perut Senja.
"Tentu tidak daddy, tapi dedek mau nyusahi daddy sekarang," sahut Senja yang menirukan gaya anak kecil bicara.
"O ya?" mata Elang berbinar," Mau daddy melakukan apa? Ayo, katakan!"
"Mau makn, tapi di suapi daddy... Pakai tangan," ucap Senja tersenyum manja.
Elang melirik ke atas demi melihat wajah Senja.
"Hanya itu?" tanyanya.
Senja mengangguk mantab.
"Ya ampun, aku kira apaan. Apa nggak pengin aku melakukan apa gitu? Yang agak ekstrim sedikit ngidamnya," seloroh Elang.
"Lebih ekstrim? Makan paku mau?" tantang Senja.
Elang langsung mengatup kan mulutnya rapat, "Ya nggak gitu juga kali, sayang,"
Senja tergelak. Ia berusaha melepaskan diri dari pelukn Elang lalu berdiri, "Sini saja, mau kemana sih?" cegah Elang yang kembali menarik Senja ke pangkuannya.
"Mau makan... Udah lapar banget ini anaknya, Tuan Erlangga," Senja menangkup pipi Elang karen gemas dengan kedua tangannya,
Elang tergelak, "Baiklah, baiklah. Ayo daddy suapi," Elang tak memberi kesempatan kepada Senja untuk berdiri. Ia justru membopong tubuh Senja ala bridal style.
"Ih, Boo. Turunin. Malu, aku bisa ajalan sendiri," protes Senja yang merasa Sikap Elang berlebihan. Tangannya secara reflek langsung melingkar di leher Suaminya.
"Tolong diam nyonya Erlangga, aku sedang menggendong calon anakku. Anda tidk boleh protes," ucap Elang.
__ADS_1
Senja hanya bisa mendesah pasrah, marah pun tak bisa ia lakukan, Karena ia tak memiliki alasan untuk marah dengan kasih sayang yang suaminya berikan kepadanya.
🌼 🌼 🌼