Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 105


__ADS_3

Jika siang tadi Senja yang menghampiri Elang ke kantor, maka sore ini giliran Elang yang menghampiri istrinya tersebut.


Tok tok tok!


Mendengar suara pintu ruangannya di Ketuk, Senja yang sedang menumpuk beberapa berkas yang akan ia bawa pulang menoleh ke arah pintu, "Ya, silahkan masuk!" ucapnya sedikit keras namun tetap terdengar ramah. Ia masih sibuk dengan berkas-berkasnya hingga tak melihat siapa yang memasuki ruangannya.


"Maaf nona, suami Anda sudah datang menjemput, sebaiknya Anda pulang sekarang,"


Mendengar suaranya, Senja langsung mengangkat kepalanya demi melihat pemilik suara yang ia sukai tersebut.


Senja tersenyum lebar melihat Elang yang sudah berdiri di depannya dengan sebuket bunga mawar pink yang indah dan harum.


Senja mengulurkan tangannya untuk menerima bunga tersebut. "Uuuuhhh, makasih," ucapnya tersenyum. Ia langsung menghirup bunga tersebut dalam.


"Bunganya aja yang di cium?" ucap Elang pura-pura protes.


"Sini!" Senja menangkup pipi Elang kemudian mencium bibirnya singkat.


Elang tersenyum seraya mengacak rambut Senja pelan,"Yuk!" ajaknya untuk pulang.


Senja mengambil tas dan berkas-berkas yang langsung diambil alih oleh Elang, "Biar aku yang bawa," ucap Elang.


"Ya ampun Boo, kamu tuh buat aku jatuh cinta lagi dan lagi, tahu nggak," puji Senja.


"Harus dong, makin hari harus makin bertambah. Aku nggak mau cinta kamu ke aku berkurang sedikitpun," sahut Elang.


"Siap, laksanakan!" Senja memberi hormat sembari tersenyum.


"Ck, dasar!"


🌼 🌼 🌼


Dengan tangan saling bertaut, mereka berdua berjalan di lobby. Tak heran jika pemandangan indah itu menjadi pusat perhatian para karyawan, dimana tangan kanan Senja memeluk sebuket bunga yang pasti mereka tahu itu pemberian dari suami bos mereka. Sementara tangan kirinya saling bertaut dengan tangan kanan Elang. Saling melempar senyuman hangat satu sama lain.


Aura bahagia jelas terancam dari keduanya. Membuat mata siapa saja yang melihatnya akan iri. Termasuk Mitha. Ya, perempuan yang kini sudah hamil besar itu, melihat Senja dan Elang dsri jauh dengan perasaan kesal. Apalagi akhir-akhir ini hububgannya dengan Niko sering ada masalah. Mereka sering ribut karena sikap Mitha yang semakin hari banyak menuntut.


"Awas itu mata, yang di pandang sebal itu bos kita. Eits, jangan bilang pengin ngerebut Pak Elang juga. Sadar diri aja, nggak akan bisa. Pak Elang nggak semurah pak Niko! Ops!" Sarah langsung nyengir kuda dan mengibaskn tanya sambil berjalan mendahului Mitha yang setengah mati dongkolnya karena ucapannya barusan.


" Dasar nenek sihir!" umpat Mitha kesal.


Sarah yng masih mendengar langsung menoleh," Lagi ngaca ya?" ucapnya dengan senyum meledek lalu kembali melangkah mendekati Senja dan juga Elang yang sedang ngobrol, entah ngomongin apa sampai mereka harus berhenti sebentar di lobby.


"Eh Sar, mau ikut pulang bareng nggak? Kan searah, lumayan irit ongkos," ucap Senja dengan polosnya. Sudah menjadi nyonya bis masih saja perhitungan, begitulah yang kini sedang Elang pikirkan terlihat dari raut mukanya yang mengernyit.

__ADS_1


Tentu saja Sarah mau, mengingat dia belum bisa mengemudi mobilnya sendiri yang di berikan oleh Senja, karena baru belajar dan belum memiliki SIM.


"Ma...." baru akan mengiyakan ajakan Senja, Sarah sudah insecure dengan tatapan tajam Elang terhadapnya, yang ia artikan sebagai penolakan. Ia langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Makasih Senja, tapi aku pulang sendiri aja. Mau mampir beli sesuatu dulu soalnya. Heeee," Ucapnua kemudian sambil tersenyum kikuk menatap Elang.


"Enggak apa-apa, nanti kita antar dulu ke to..."


"Tenang aja, sudah ada sopir yang siap mengantarkan Sarah kemana saja. Ke bulan pun, dia pasti mau," potong Elang dengan cepat, matanya menunjuk ke luar gedung. Entah kenapa ia hanya ingin bertigaan saja dengan Senja dan calon bayinya sore ini, tak ingin di ganggu oleh pihak keempat.


Senja dan sarah mengikuti arah pandangan Elang, dimana mereka melihat ada seorang pria yang sedang berdiri di samping mobilnya dengan tangan bersedekap.


Untuk sesaat, Sarah melongo, ia terpana dengan pemandangan yang menyehatkan matanya tersebut. Sementara Senja hanya bisa menahan tawa.


"Bos, kenapa Anda meminta saya ikut ke sini?" tanya Kendra yang sudah sejak tadi menahan pertanyaan itu. Padahal bosan tersebut mengemudi mobil sendiri.


"Oh, ini sopirnya. Ayok pak sopir, kita jalan!" ucap Sarah meledek kepada Kendra.


Kendra celingak-celinguk, "Aku?" ia menunjuk mukanya sendiri.


Sarah mengangguk dengan senyum mengembang.


"Tugas negara Kend," ucap Elang.


Kendra mencebik dan mendengus, "Masuk!" perintahnya kepada Sarah.


"Sarkonah, Sarkonah. Dasar selimut!" balas Sarah, namun menurut, ia masuk dan duduk di kursi samping kemudi.


"Dih, emang mau di panggil Sarangeo? Ngarep!" ucap Kendra yang menyusul masuk ke dalam mobil.


"Lucu ya Boo," ucap Senja terkekeh melihat keributan kedua orang tersebut.


"Hem," sahut Elang.


"Kayak tim jeruk ya,"


"Tom Jerry, sayang," Elang mengusap kepala Senja gemas.


Senja hanya menyengir kuda, "Habisnya kamu diajak neomong jawabnya 'hem' doang," ucapnya.


🌼 🌼 🌼


Kendra menghentikan mobilnya di depan sebuah cafe.

__ADS_1


"Kok berhenti di sini? Ini cafe bukan apartemenku! Sampai di sini aja ngantarnya?" Sarah mendengus kesal, tahu gitu ia mending naik taksi saja tadi, pikirnya.


"Turun dulu!" pinta Kendra.


Meski kesal, Sarah tetap patuh. Ia membuka seatbelt lalu turun dari mobil.


"Take away buat makan malam nanti. Mau sekalian nggak?" tanya Kendra yang mematahkan tuduhan Sarah kepadanya tadi.


"Boleh deh!" ucap Sarah.


Sembari menunggu pesanan, Kendra memesan dua gelas minuman untuknya dan juga Sarah.


Sarah mengetuk-ngetukkan jari jemarinya di meja demi mengusir kecanggungan yang terjadi karenajara duduk mereka yang lumayan dekat.


Kendra yang sibuk dengan ponselnya merasa sedikit terganggu dengan ulah Sarah, ia sedikit mencebik ketika Sarah melengos saat ia menatapnya tajam tand protea dengan suara ketikan tangannya di meja.


"Kamu tinggal sendiri? Kok take away, nggak ada yang masakin?" akhirnya Sarah memulai percakapan, karena di rasa pesanan mereka masih butuh waktu untuk memasanya.


"Hem," jawab Kendra lalu menyesap jus alpukat miliknya.


"Oh, keluarga nggak di sini? Nggak ada pembantu?" tanya Sarah lagi.


"Adikku tinggal dan kukih di Jogja. Pembantu ada, tapi nggak masak, cuma bersih - bersih," jawab Kendra.


"Oh Jogja, dekat dong,"


"Maksudnya?"


"Iya, aku asli Magelang. Merantau juga dari kuliah dulu. Udah di suruh pulang sih sama ibuk, tapi males. Ujung-ujungnya pasti mau dijodohin sama anak temannya. Kayak nggak laku aja!" entah kenapa Sarah bisa selancar itu cerita soal dirinya. Padahal ia dan Kendra seringnya ribut kalau ketemu.


" Oh, udah laku. Ada pacar? Kenalin aja sama ibu kamu, biar nggak di jodoh-jodohin lagi," tanggap Kendra santai.


"Nggak ada pacar sih, hehehe," Sarah nyengir kuda sambil mengaduk minumannya menggunakan sedotan.


"Oh, jomblo juga to," gumam Kendra. Ternyata asyik juga sesekali nongkrong dan ngobrol bareng teman perempuan, pikirnya. Nggak melulu ngintilin bosnya terus hingga ia lua bersosialisasi sama makhluk bernama perempuan.


Kendra memang sering bertemu atau kencan kilat demi mengalihkan perasaannya terhadap Gisell tapi selalu gagal, dan berakhir dalam waktu singkat. Klien-kliennya juga banyak yang perempuan dan masih single, tapi tak ada yang bisa membuatnya merasa nyaman hanya untuk sekedar ngobrol.


🌼 🌼 🌼


πŸ’ πŸ’ 


Di sisipin sedikit kisah Kendra ya... But, Just a litle 😊😊..

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan votenya.. Tengkyu πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ


Salam hangat Author πŸ€—β€οΈβ€οΈπŸ’ πŸ’ 


__ADS_2