Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 39 (Nyicil hukuman)


__ADS_3

"Kenapa? Ini milikku! My Cherry," ucapnya menunjuk bibir Senja.


Senja menatapnya semakin tak mengerti dan hanya bisa menghela napasnya dalam. Jika protes maka ia yakin suaminya akan semakin menggila dan menyebalkan


"Aku akan mencuci piringnya," ucap Senja beralasan.


"Kau lupa ini di mana? Kau tak perlu mencucinya, biar mereka yang mengambilnya nanti," ucap Elang mencegah apa yang Senja lakukan.


"Tidak masalah bukan jika mereka ambil dalam keadaan bersih?" ucap Senja tak mau kalah.


"Terserah kau sajalah," ucap Elang pasrah.


Senja meninggalkan Elang sendiri di meja makan menuju ke dapur.


Sampai di dapur ia terus mengomel tidak jelas karena kesal di kerjai suaminya sejak tadi.


"Ini lebih seperti apartemen, ada dapur besar begini, sayang kalau tidak digunakan untuk masak," gumam Senja sambil mencuci piring.


"Kenapa kau terus mengomel terus sih?" ucap Elang tiba-tiba, tangannya sudah melingkar sempurna di perut istrinya tersebut.


Sedikit terkejut, namun Senja langsung menguasai diri.


"El lepaskan! aku lagi nyuci piring ini," pinta Senja.


"Cuci saja, aku tidak akan mengganggumu," ucap Elang dengan lebih mengeratkan pelukannya.


"Kau memelukku seperti ini bagaimana bisa bilang tidak mengganggu," protes Senja.


"Oh iya kah? Aku kira kau suka di peluk dari belakang seperti ini, karena aku suka melakukannya," ucapnya, ia menjatuhkan dagunya tepat di pundak Senja.


Senja hanya menghela napasnya panjang, ia tak habis pikir kenapa suaminya menjadi seperti itu.


"Jangan protes, apa kau lupa, kau kesini untuk menerima hukumanmu? jadi menurutlah atau hukumannya aku tambah," ucap Elang ketika Senja hendak mengumpat.


"Eh dia masih ingat soal itu? Aku kira lupa karena sampai sekarang aku masih aman," batin Senja.


Dengan gaya cueknya Elang meninggalkan Senja yang baru saja ingin menanyakan soal hukumannya


🌼🌼🌼


Setelah selesai, Senja langsung menyusul Elang. Ia melihat Elang sedang memakai kemeja berwarna putih yang sangat pas di badannya.


Senja naik ke atas tempat tidur, memperhatikan suaminya yabg kini sedang mengaitkan kancing kemejanya satu persatu.


"Apa kau akan bekerja hari ini?" tanya Senja, kedua tangannya ia gunakan untuk menopang dagunya.


"Kenapa? Apa kau ingin aku tetap di sini?" tanya Elang dengan tetap melanjutkan aktivitasnya.


"Tidak, bukan begitu," sahut Senja yang sebenarnya merasa akan bosan jika ia hanya di hotel sendiri seharian nanti.


Senja turun dari tempat tidur, mendekati Elang yang sedang akan memakai dasinya. Senja mengambil alih dasi tersebut begitu saja, tanpa ijin.


"Biar aku yang melakukannya," ucap Senja. Elang hanya diam tak berkomentar.


Senja menjentikkan jarinya, mengisyaratkan supaya Elang sedikit menundukkan kepalanya supaya ia yang tingginya hanya sebatas bahu Elang tersebut bisa memakaikan dasinya dengan mudah, tanpa berjinjit. Elang hanya menurut saja. Tapi, bukan Elang namanya jika tidak mengambil bayaran atas apa yang sudah ia lakukan. Ia menunduk dan langsung mengecup bibir istrinya.


"Kau ini! Kenapa suka sekali asal nyosor?" Protes Senja.


"Lah, tadi kau menyuruhku menunduk, buat apa kalau bukan untuk ini?" sekali lagi Elang mendaratkan bibirnya tepat di bibir Senja. Kali ini, tak hanya sebuah kecupan ia berikan akan tetapi ia memagut bibir Senja secara intens.


Senja hanya bisa membulatkan kedua matanya atas perlakuan Elang yang secara tiba-tiba tersebut. Ia tak tahu harus bagaimana menyikapinya. Yang jelas, saat ini jantungnya berdebar tak karuan. Padahal ini bukan ciuman pertama mereka tapi tetap saja, desiran aneh menggelenyar di tubuhnya.

__ADS_1


"Ini ciuman kita yang ke...satu, dua, tiga...Empat! Ya, yang keempat tapi kenapa kemampuanmu masih payah," ucap Elang, sembari mengingat dan menghitung berapa kali mereka sudah melakukan kontak fisik melalui bibir tersebut. Ia mengusap ujung hidung mancung Senja dengan punggung jari kelingkingnya.


Senja masih diam mematung, membuat elang semakin gemas.


"Ck, aku tak berpengalaman soal begitu, wajar kalau masih kaku," cebik Senja setelah tersadar dari lamunannya.


"Kau pikir aku berpengalaman? Aku hanya mengikuti naluri yang secara alamiah keluar begitu saja," batin Elang.


"Tak apa belum pengalaman, Aku akan membuatmu menjadi mahir dan berpengalaman," ucap Elang dengan nada sensual di telinga Senja, membuat bulu kuduk gadis tersebut berdiri semua.


Senja melanjutkan memasang dasi yang sempat tertunda tadi karena ulah jahil Elang.


"Selesai!" serunya tersenyum karena berhasil memasangkan dasi suaminya, tak sia-sia proses pembelajarannya waktu SMP dan SMA yang mengharuskan memakai dasi setiap hari, ternyata hal itu berguna juga buta hidupnya hari ini, pikir Senja.


Elang mendesah kesal, pasalnya jika hari ini tidak akan bertemu investor yang cukup penting akan berlangsungnya pembangunan Resort dan hotel miliknya, yang letaknya sekitar tiga puluh menit jika di tempuh dengan kecepatan standar menggunakan mobil dari hotel miliknya yang saat ini ia tempati tersebut, ia tak ingin meninggalkan Senja sendirian. Ia ingin menghabiskan setidaknya sedikit waktu untuk lebih mengenal secara dalam istrinya tersebut. Namun apa mau dikata, kedatangannya ke perusahaan cabang yang ada di kota tersebut memang hanya untuk urusan pekerjaan saja, untuk menemui klien-klien penting.


"El, sebenarnya apa hukuman yang akan kau berikan kepadaku? Tak cukupkah hanya dengan maaf dariku? Kalau ada yang lain cepat katakan, biar aku bisa segera menjalankannya dan kembali ke Jakarta. Aku bahkan tidak ijin absen bekerja, bisa-bisa aku kehilangan pekerjaanku. Kalau aku di pecat bagaimana nasibku El?" ucap Senja takut-takut.


Mendengarnya, Elang mendesah kasar. Ia mendekati Senja yang kini sedang membelakanginya, mengambil jas yang akan ia pakaikan kepada Elang.


Saat Senja berbalik badan, ia terkejut karena Elang sudah berdiri tepat di belakangnya.


"Apakah bagi kalian wanita, mengejar karir, cita-cita begitu sangat penting daripada perasaan pasangan kalian? Apa kalian tidak bisa percaya jika aku, sebagai laki-laki bisa menghidupi kalian, bahkan lebih dari layak!" ucap Elang penuh penekanan di setiap kata uang ia keluarkan, tak lupa ia menggertakkan giginya menahan sebuah amarah yang tiba-tiba menguar begitu saja ketika lagi-lagi ia mendengar sebuah alasan yaitu karir.


Bukannya ingin menyalahkan Senja, tapi hal itulah penyebab kandasnya hubungan masa lalunya dengan Bianca. Ia teringat kembali akan luka dalam hatinya yang kini perlahan menemukan obatnya. Ia tak ingin karir menjadi alasan akan adanya masalah apapun juga.


Senja tersentak mendengar Elang bicara dengan intonasi yang meninggi. Ia menyadari ada yang salah dengan tutur katanya barusan sehingga membuat suaminya tersebut tiba-tiba moodnya terjun bebas seperti itu.


"Maaf jika aku salah bicara, tapi aku hanya bertanya El. Kau tahu, setiap perusahaan memiliki kebijakannya masing-masing. Dan aku masih terikat kontrak dengan perusahaan tempatku bekerja sekarang. Aku tidak bisa bersikap arogan dan seenaknya, aku memiliki tanggung jawab atas pekerjaanku El. Aku tidak bisa main cuti seenaknya tanpa pemberitahuan ataupun alasan yang jelas. Aku bisa di tuntut," jelas Senja secara hati-hati supaya Elang tak semakin naik pitam.


Senja menunduk, tak mau menatap binar amarah dari mata laki-laki di depannya tersebut. Bukannya takut akan tetapi ia membenci tatapan amarah seperti itu. Dan ia tahu, jika ia ikut meninggikan suaranya, suasana akan semakin panas bukan membaik.


Meskipun ia tak bersalah dan tak tahu kenapa Elang bisa segitu marahnya hanya karena ucapannya yang menurutnya tak masuk akal jika Elang sampai sebegitu kesalnya. Kedua tangannya meremat jas hitam yang baru saja ia ambil dari atas tempat tidur untuk di pakaikan kepada suaminya.


"Maafkan aku," ucapnya menarik Senja ke dalam pelukannya.


"Maaf, tak seharusnya aku marah padamu," ucapnya lagi, nada bicaranya semakin merendah intonasinya.


"Kau tak perlu khawatir, tak akan ada yang berani menuntut istri Erlangga sekalipun kau mau bersikap arogant di sana. Tak akan ada yang berani menyinggung wanitaku, millikku," Elang mulai menunjukkan kekuasaannya. Ia mengusap rambut Senja lalu mengecup puncak kepalanya.


Senja hanya diam, ada rasa senang ketika laki-laki yang kini sedang mendekapnya tersebut mengatakan milikku, seolah ia mengakui kepemilikannya atas Senja sebagi istrinya.


Elang sedikit merenggangkan dekapannya, menangkup pipi Senja dengan kedua tangannya yang menemukan dua pasang mata milik mereka beradu.


Embusan napas Elang yang keluar dari hidungnya sangat terasa ketika menyapu wajah Senja, membuat darahnya berdesir, apalagi kini mata mereka yang saling bersitatap, menatap lekat bayangan wajah mereka yang tertangkap kornea masing-masing.


Deg deg! Deg deg! Lagi-lagi jantung keduanya berpacu dengan sangat cepat. Senja bisa mendengar detak jantung Elang dengan jelas. Ia sendiri tak berani mengoloknya, karena nyatanya jantungnya juga sama, bahkan mungkin lebih parah lagi.


"El, kau sudah terlambat, harus berangkat sekarang," ucap Senja pelan, wajahnya langsung menunduk menahan gejolak yang di salurkan melaku tatapan mendamba suaminya.


Elang tak menggubris ucapan Senja. Ia mengangkat dagu istrinya tersebut, merapatkan keningnya dengan kening Senja.


Elang memejamkan matanya sekejap, merasakan ritme jantungnya yang sedang berdisko ria tersebut. Rasa yang belum pernah ia rasakan selama menjalin asmara dengan Bianca.


Pun dengan Senja, ia merasakan hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


"Tadi kau menanyakan hukuman apa yang akan aku berikan? Aku akan menunjukkannya sekarang," ucap Elang dengan nada bergetar , menahan gejolak dalam dirinya. Deru napasnya ketika bicara, begitu terasa hangat menerpa wajah Senja.


Pelan tapi pasti, Elang mendaratkan bibirnya tepat di bibir Senja. Sesaat, ia hanya diam tanpa melakukan serangan. Namun detik kemudian, ia mulai memagut bibir Cherry milik istrinya tersebut. Menciumnya secara intens dan dalam. Naluri lelakinya langsung menyeruak begitu saja tanpa bisa ia cegah.


Senja hanya diam mematung, tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk membalas perlakuan Elang. Karena tegang, Senja sampai tanpa sadar menahan napasnya sendiri, rasanya susah untuk sekedar bernapas saja, serasa tercekat di dalam tenggorokannya.

__ADS_1


"Bernapaslah," titah Elang saat melepas pagutannya dan berpindah ke leher jenjang istrinya tersebut. Menyesap leher putih mukus tersebut sehingga meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana. Tangannya seperti mendapat mainan baru, yaitu dada istrinya. Dengan lembut ia memainkan tangannya di sana. Mendapat serangan bertubi dari Elang, membuat Senja merasakan gelenyar yang tak biasa dan menikmati setiap cumbuan suaminya.


"El, nanti bajumu lusuh, kau harus ke kantor," ucap Senja dengan nada tertahan.


Elang mendengus, sempat-sempatnya Senja memikirkan soal baju yang akan kusut di saat seperti ini. Persetan dengan urusan kantor, pikir Elang. Ia menggendong tubuh Senja dan membaringkannya di ranjang, mengukungnya di sisi kana dan kiri.


Elang kembali menurunkan wajahnya untuk mencium bibir istrinya yang terlihat begitu menggoda imannya.


Drrrt drrt drrt! Getaran ponsel miliknya yang ia letakkan di atas nakas membuat Senja menahan bibir Elang dengan telapak tangannya.


"Ponselmu bergetar," ucap Senja.


"Biarkan!" ucap Elang menyingkirkan telapak tangan Senja dari bibirnya. Meneruskan langkah kepalanya menuju ke bibir cherrynya.


Drrrt drrt drrt! Lagi-lagi ponselnya bergetar tanpa mau mengerti kondisi dan situasi yang ada saat ini.


"Angkat dulu, siapa tahu penting," ucap Senja lembut.


"Shit!" gumam Elang mengumpat, melepas kungkungannya dan merangkak turun dari ranjang. Mengernyit ketika menatap nama pemanggilnya.


"Sepertinya aku harus membelikanmu ladang untuk bercocok tanam sendiri, biar tidak mengganggu lahan orang lain!" umpatnya begitu mengangkat teleponnya.


"Iya iya aku akan segera berangkat," dengus Elang, langsung menutup teleponnya setelah mendengar orang yang berada di seberang telepon bicara.


Elang menoleh ke arah Senja lalu mendesah. Rasanya tak rela jika harus gagal acara hukum menghukum pagi ini. Apalagi adiknya yang sudah mpot-mpotan menahan gairah di bawah sana.


"Pergilah," ucap istrinya. Senja turun dan berdiri untuk kembali merapikan kemeja dan dasi Elang yang berantakan. Elang hanya diam menahan kesal kepada Kendra yang baru saja merusak momennya.


"Sudah sana berangkat," ucap Senja ketika selesai memakaikan jas di tubuh suaminya.


"Itu tadi baru nyicil hukumannya, siasanya tunggu aku pulang," Elang menarik pinggang Senja sehingga tak ada jarak diantara mereka.


"Cepatlah berangkat, atau Kend akan mengumpatiku karena berpikir aku menahanmu di sini," ucap senja.


"Kau tahu, hukuman paling penting apa?" lagi-lagi Elang tak mengindahkan ucapan Senja.


"Apa?"


"Mengutukmu jadi istri sholehah, biar tidak nakal lagi. Baru di tinggal dua hari sudah berulah. Apa yang kau cari, suamimu sudah tampan kaya, baik hati dan sedikit arogant, lalu mau cari yabg seperti apa?"


"El,,, aku sudah jelaskan, itu gara-gara Gisel, aku tak tahu jika akan di ajak ke sana, kau juga salah kenapa mengijinkannya mengajakku jalan," protes Senja manyun.


"Baiklah kalau begitu, kita sama-sama salah. Nanti kita menebus kesalahan kita bersama," sahut Elang dengan senyum menyeringai, membuat Senja menggedik.


Ponsel Elang kembali bergetar.


"Kendra sialan," batinnya kesal merutuki sahabatnya tersebut.


Sementara yang dirutuki masih memutar otaknya memikirkan apa maksud dari ucapan Elang tadi soal ladang.


"Apa bos akan menyuruhku berganti profesi menjadi seorang petani?" gumamnya sambil terus berusaha menghubungi Elang karena tadi Elang memutus panggilan begitu saja.


🌼🌼🌼


Hayo pada mikir apa? Hehehe segini aja cukup ya, kalau terlalu mantap takut kena razia πŸ˜…


Yang bilang sedikit, coba hitung ini lebih dari 2000 kata loh 🀭🀭


Setelah membaca, jangan lupa like, komen, tip dan votenya. terima kasih πŸ™πŸ™


salam hangat author πŸ€—β€οΈβ€οΈ

__ADS_1


Kendra : Thor jahat amat, habis ini pasti aku di bully sama emak-emak komplek karena menggagalkan acara tanam saham si bos πŸ™„πŸ™„


Othor : Tapi kamu itu pahlawan loh buat othor, biar nggak kebablasan buat mantap-mantapnya. Jadi nggak kena razia 🀭🀭


__ADS_2