
"Sayang bangun," ucap Elang di telinga Senja, membuat wanita tersebut menggeliat dan perlahan membuka kedua matanya.
"Jam berapa ini Boo?" tanya Senja yang masih malas-malas membuka matanya.
"Jam lima sayang," jawab Elang.
"Astaga udah pagi, kenapa tidak membangunkan aku dari tadi, aku kan tidak enak sama mommy kalau bangunnya telat," Senja langsung merubah posisinya menjadi duduk dengan tubuh masih berbalut selimut.
"Tidak apa-apa, mereka pasti mengerti kesibukan kita, mereka juga pernah muda," sahut Elang.
"Boo-boo sih, bilangnya mau sebentar, tapi tetap aja sampe subuh, aku sampai lelah. Badan serasa remuk semua ini, mau jalan aja rasanya kayak enggak kuat," keluh Senja.
"Jangan khawatir, suamimu ini masih kuat untuk menggendongmu kemana-mana kalau kamu enggak kuat jalan," goda Elang. Senja hanya mampu mencebikkan bibirnya sebagai tanggapan ucapan suaminya tersebut.
"Mandi gih, nanti agak siangan aku ajak ke suatu tempat," Elang mengacak-acak rambut Senja.
"Kemana?" tanya Senja penasaran.
"Ada, nanti kamu juga tahu," sahut Elang.
"Tapi aku harus berkerja,"
"Ini weekend sayang, kamu mau bekerja sendiri weekend begini?"
"Astaga, aku lupa kalau ini weekend Boo," Dengan malas, Senja menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan berjalan menuju kamar mandi.
"Butuh bantuan? Mau di gendong?" tawar Elang.
"Tidak, aku bisa sendiri," jawab Senja tanpa menoleh.
Setelah Senja masuk ke kamar mandi, Elang memunguti pakaian miliknya dan Senja yang menyebar kemana-mana karena semalam ia melempar mereka asal.
"El, apa kau sudah bangun Nak? Ini sudah jam li..." suara Anes terhenti ketika ia membuka pintu kamar Elang dan melihat apa yang kini sedang putra sulungnya itu lakukan, memungut pakaian dalam penutup dada milik Senja yang terlempar hingga ke atas sofa. Elang menoleh ke sumber suara sambil memegang BH tersebut.
"Oopps sorry! Mommy lupa jika kamu sudah menikah sayang," Anes menutup bibirnya sendiri karena sudah lancang masuk karena pintu kamar itu sudah tidak di kunci. Ia hanya berkeliling kamar seperti biasa untuk membangunkan anak-anaknya di pagi hari. Ia baru saja lupa jika Elang sudah berisitri.
"Ada apa mom?" tanya Elang kemudian.
__ADS_1
"Ah tidak, mommy hanya mengecek seperti biasa, maaf ya. Silahkan di lanjutkan," ucap Anes. Ia mengedarkan pandangannya, ia melihat pakaian yang berserakan dimana-mana, bahkan CD Senja kini masih nangkring diatas lampu tidur. Anes menahan senyumnya, ternyata semalam bukan hanya dia dan Alex yang melakukannya, tapi sepertinya sang putra sulung juga. Ini pertama kalinya ia melihat kamar itu berantakan, bahkan sprei yang selalu rapi itu, kini tampak acak-acakan dan kusut dan... Itu membuatnya senang sekali.
"Like father, like son," batin Anes.
Elang mengernyit, melihat ibunya yang tak kunjung pergi.
"Mommy pernah muda kan, mommy juga pernah merasa dimana semua tempat bisa menjadi tempat bulan madu waktu masih menjadi pengantin Baru bukan?" ucap Elang.
"Ah iya, mommy keliling kamar twins dulu, kau bisa melanjutkan membereskannya, itu CDnya ada di atas lampu," ucap Anes tersenyum tipis lalu pergi meninggalkan sang putra.
"Semoga cepat jadi Elang juniornya ya," seru Anes sebelum menutup pintu.
Elang hanya bisa mengusap wajahnya kasar, sepertinya memilih untuk tinggal berdua saja sehabis menikah dulu menjadi pilihan paling tepat untuknya dan Senja. Dimana di sana tidak ada gangguan kalau mereka mau jungkir balik sekalipun, tidak ada yang berani komentar apalagi meledek.
Mengingat kata Elang junior, memhuat Elang menghembuskan napasnya dalam. Sampai detik ini masih ada kesepakatan diantara ia dan Senja yaitu dimana waktu itu Senja bilang belum ingin memiliki anak, sehingga selama ini mereka melakukannya secara 'aman'.
Elang berjalan mendekati lampu kamar dengan tetap memegang penutup dada istrinya lalu ia mengambil pasangannya di atas lampu tidur. Ia tersenyum sendiri mengingat kenapa bisa kamarnya seberantakan itu.
"Ada apa? Sepertinya tadi mommy kesini," tanya Senja yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Oh itu, mommy membangunkan kita," ucap Elang menoleh ke arahbistrinya yang kini sudah memakai betahrobe.
"Itu memang kebiasaan mommy setiap pagi , hanya untuk mengecek semuanya baik-baik saja, jangan di pikirkan," ucap Elang. Ia tak mengatakan kalau tadi Anes mendapati kamarnya berantakan dengan pakaian bercecer disana sini. Kalau bilang, sudah di pastikan istrinya tersebut lebih memilih mengurung diri di kamar setelah ini, tak berani keluar memperlihatkan wajah malunya. Dan pada akhirnya, pasti Elang yang kena omel Senja.
🌼 🌼 🌼
"Kenapa ke rumah sakit Boo? Siapa yang sakit?" tanya Senja bingung. Pasalnya kini mereka sudah berada di parkiran rumah sakit.
"Aku hanya ingin menuntaskan kesalah pahaman kamu kemarin. Biar semuanya jelas sebelum kita melangkah lebih jauh ke depan. Kita akan jenguk Bianca," ucap Elang. Ya, dia ingin Senja tahu, jika seorang Erlangga sudah berkomitmen dengan sebuah hubungan, ia tidak akan main-main dengan hubungan itu.
Senja hanya diam dan menurut saja, tidak ada salahanya juga ia menjenguk Bianca yang sedang sakit, pikirnya. Meskipun ada sedikit rasa cemburu di dadanya, tapi ia mencoba berpikir positif kepada suaminya.
Sampai di ruang rawat Bianca, Elang membuka pintu ruangan VVIP tersebut.
"Kak Elang," ucap Bianca begitu melihat siapa yang membuka pintu. Elang menoleh ke belakang dimana sang istri masih terdiam di depan pintu. Di genggamnya tangan Senja dengan erat dan posesif.
"Ayo," ucap Elang.
__ADS_1
Melihat Elang datang bersama Senja, Bianca sedikit tercengang, namun langsung bisa mengusai diri bersikap biasa. Ia tersenyum ke arah keduanya.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Elang tanpa basa basi.
"Udah baikan kak, besok juga sudah boleh pulang. Makasih ya kak, kemarin udah nolongin Bie, kalau kakak tidak datang tepat waktu, Bie tidak tahu lagi bakal seperti apa, mungkin Bie tidak akan bisa bernapas lagi sekarang. Makasih karena kakak masih peduli sama Bie, walaupun kita sudah putus," ucap Bianca dengan mata berbinar, tangannya meraih tangan kiri Elang yang menggantung bebas, sejenak ia lupa jika yang ada di samping Elang adalah istrinya.
Elang langsung melepaskan tangannya dari gengganman Bianca, tangan kanannya kembali menggenggam tangan Senja yang baru saja dilepaskan oleh istrinya tersebut ketika ia meletakkan buah-buahan di yang di bawanya di atas meja.
"Maaf ya kakak ipar, kelepasan. Aku cuma mau ngucapin terima kasih sama kak El," ucap Bianca kepada Senja, ia mengerti raut wajah Senjanyang kurang nyaman.
"Tidak apa-apa, aku mengerti. Panggil saja aku Senja," sahut Senja tersenyum ramah.
"Baiklah, kita bisa menjadi teman kedepannya Senja," ucap bianca juga tersenyum.
Tiba-tiba, ponsel Elang berdering.
"Aku angkat telepon sebentar," ucapnya keada Senja.
"Hem," sahut Senja mengangguk. Elang keluar ruangan meninggalkan mantan kekasih dan istrinya berdua.
"Em, kau mau buah? Biar aku kupaskan," tawar Senja pada Bianca.
"Boleh, jika tidak merepotkan," sahut Bianca.
"Tentu saja tidak," sahut Senja. Ia memilih-milih buah aa yang akan ia kupas untuk Bianca mengingat Bianca habis operasi usus buntu, ia tidak tahu apa yang boleh dimakan atau tidak.
"Pir saja Senja," ucap Bianca yang melihat kebingungan di wajah Senja. Senja tersenyum dan mengambil buah pir. Ia menarik kursi dan duduk di samping Bianca sambil mengupaskan buah pir tersebut.
Mereka mengobrol, dan tak di sangka cepat sekali mereka akrab.
"Kak El beruntung bisa menikah dengan wanita sepertimu Senja," ucap Bianca.
"Dia memilih wanita yang tepat untuk menemaninya seumur hidup. Setidaknya bisa sedikit berkurang rasa bersalahku kepadanya karena kini dia menemukan kebahagiannya sendiri,"
Senja melihat ada penyesalan di wajah Bianca yang kini berubah menjadi sendu. Ia bisa melihat sebenarnya masih ada cinta untuk suaminya tersebut meskipun itu sedikit. Atau... hanya rasa sayang karena terbiasa bersama sejak kecil. Entahlah, Senja tak bisa membaca ekspresi Bianca saat ini.
"Jika boleh jujur aku masih cinta atau enggak dengan kakak, jawabannya sepertinya rasa itu masih ada..."
__ADS_1
Elang yang baru saja selesai dengan urusn teleponnya dan hendak masuk, mengurungkan niatnya. Ia berhenti tepat di depan pintu saat mendengar ucapan Bianca.
🌼 🌼 🌼