Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 125


__ADS_3

Elang yang di peluk momminya tersenyum. Melihat ke arah pintu, "Bie..."


"Bie... Bisa nggak geser sedikit. Aku mau lihat wajah yang terus nangisin aku, katanya matanya sampai bengkak, nggak doyan makan sama minum..." ucap Elang dengan suara lemah.


Bianca tersenyum, ia lalu sedikit menggeser tubuhnya, memperlihatkan wanita yang kini sedang menunduk dan sudah terisak sejak di depan pintu tadi karena mendengar suara suaminya.


Suasana hening, hanya suara isak Senja yang terdengar, perempuan itu merasa semua orang kini sedang memperhatikannya. Pelan-pelan, ia mengangkat kepalanya, memberanikan diri menatap suaminya, ia takut kalau ini hanya mimpinya di siang bolong.


Tapi, senyum itu nyata. Ya, senyum hangat yang ia rindukan itu kini terlihat sangat nyata, air matanya semakin membanjiri wajah ayunya.


"Cengeng! Sini peluk!" ucap Elang tersenyum. Wajah pucatnya tak menghilangkan ketampanannya.


"Nggak mau, kalau cuma mimpi aku nggak mau hiks," Senja masih berpikir ini hanya imajinansinya. Ia terlalu senang hingga terlalu takut kalau semua ini hanya mimpi. Pasalnya, dokter sendiri yang bilang hanya sebuah keajaiban yang bisa membuat Elang sadar kembali. Nyawanya sudah di ujung tanduk. Dokter juga sudah mewanti-wanti mereka harus siap untuk kemungkinan terburuk.


"Ya coba sini rasakan, beneran atau cuma mimpi. Sini, cepat!" ucap Elang tak sabar.


Senja menoleh ke semua orang, dan semuanya menganggukkan kepala kepadanya dengan wajah mereka yang terlihat lega.


"My Cherry!" Elang sedikit meninggikan suaranya karena kesal, meskipun tetap saja masih terdengar sangat lemah, namanya juga baru berperang melawan maut. Apa salahnya sih tinggal peluk saja, emangnya cuma dia doang yang rindu, yang baru sadar dari koma juga kali, pikirnya.


Senja sedikit berjengit lalu ia langsung berlari menubruk tubuh suaminya. Tak bicara apapun, hanya bisa memeluknya erat dengan derai air mata bahagia. Elang tersenyum, ia mengusap punggung Senja dengan sisa tenaga yang ia miliki. Pelan, namun bisa Senja rasakan usapan tersebut hingga ia meyakini ini nyata.


"Maaf, sudah buat kamu khawatir," ucap Elang.


Senja menggeleng, "Enggak gitu, harusnya aku yang berterima kasih. Makasih karena udah kembali. Makasih karena tidak meninggalkan aku dan anak kita. Makasih, boo...makasih," ucap Senja tanpa mau melepas pelukannya.


Pemandangan tersebut, membuat mereka yang berada di ruangan tersebut tak bisa menahan haru, ia bisa merasakan bagaimana leganya perasaan Senja saat ini.


"Mana mungkin aku tega meninggalkan istri yang cengeng ini, udah berapa banyak air mata yang kamu keluarkan? Jangan menangis lagi, aku benci melihatnya, masa suami bangun malah disuguhi ingus begini," ucap Elang persis dengan yang di ucapkan Kendra kemarin kepada Sarah.


Senja tak menghiraukannya, ia terus saja menangis, melupakan kelegaan dan kebahagiaannya. Dalam hati, ia tak henti-henti ya bersyukur karena Tuhan begitu baik kepadanya. Satu-satunya yabg ia miliki tak jadi diambil kembali olehNYA.


"Sayang, aku nggak bisa bernapas kalau kamu meluknya makin kencang begini, bisa kenduri sedikit nggak? Aku nggak akan kemana-mana, sayang," ucap Elang yang merasa kesulitan bernapas karena Senja terlalu erat memeluknya, sebagian luka di tubuhnya yang mulai mengering juga terasa tertekan dan perih.


" Maaf, maaf," Senja segera melepas pelukannya.


"kok di lepas? Peluk lagi boleh, sini!" Elang berusaha menggerakkan badannya supaya posisinya lebih enak untuk memeluk sang istri. Namun, sesuatu yang aneh ia rasakan yang membuatnya tercengang lalu mengernyit. Ia sama sekali tak bisa merasakan apa-apa di kedua kakinya.


Elang berusaha menggerakkan tubuhnya lagi, tapi sia-sia. Ia tetap tak bisa menggerakkan kakinya. Senja yang menyadari perubahan air muka suaminya langsung bertanya, "Ada apa, Boo?"

__ADS_1


"Sayang, kaki aku... Kaki aku nggak bisa bergerak, apa yang terjadi dengan kakiku?" Elang tampak frustrasi, ia terus berusaha menggerakkan kakinya namun tak membuahkan hasil.


Semua yang ada di sana langsung mengalihkan fokus neraka kepada Elang yang tampak sangat berusaha menggerakkan anggota badannya bagian bawah.


"Mungkin karena kamu tidur terlalu lama, coba lagi, boo. Pasti bisa," ucap Senja menghibur namun dalam hati ia juga was-was.


"Sayang, coba pukul kaki aku," ucap Elang. Senja melakukan apa yang suaminya minta, ia bahkan memberikan sedikit cubitan untuk Elang dan hasilnya nihil.


"Arrrghhh!!!" Elang berteriak frustrasi, karena bagian bawah tubuhnya benar-benar mati rasa.


"El tenang dulu, biar daddy panggilkan dokter," ucap daddy Alex. Elang tak menghiraukan ucapan daddinya, ia terus memukul-mukul pahanya penuh amarah.


"Boo, tenanglah, semua akan baik-baik saja," ucap Senja.


Tak berselang lama, dokter yang tadi memeriksa Elang kembali masuk ke ruangan tersebut dengan seorang dokter spesialis saraf, karena daddy Alex sudah menceritakan apa yang terjadi.


"Dok, kenapa kaki saya tidak bisa bergerak? Apa saya lumpuh dok?" antara bertanya dan putus asa Elang bicara.


Dokter saraf tersebut memeriksa Elang.


"Bagaimana dok? Putra saya baik-baik saja, kan?" tanya daddy Alex.


"Mak...sud dokter, saya lumpuh?" tembak Elang langsung, ia tak ingin mendengar penjelasan bertele-tele dari dokter, ia hanya ingin sebuah kepastian soal kondisinya sekarang.


Dokter mengangguk lemah, "Otak dan sum sum tulang belakang, keduanya saling bekerja sama dalam menerima impuls sensorik dan mengirimkan impuls motorik. Karena itu, jika salah satunya tidak berfungsi dengan seharusnya, sinyal yang seharusnya di terima dan dikirim dapat melemah atau bahkan tidak ada... "


Semua yang mendengar tercengang, tak terkecuali Senja yang tampak syok, ia menutup mulutnya tak percaya. Semua terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.


"Tapi, masih bisa di sembuhkan kan dok?" tanya Daddy Alex penuh harap.


"Dalam kasus beberapa orang dapat sembuh dengan spontan, tapi ada juga yang tidak mengalami perubahan meskipun telah menjalani terapi, tergantung derajat gangguan saraf yang terjadi. Untuk lebih jelasnya, saya akan melakukan pemeriksaan neuromuskular lengkap dan serangkaian tes lainnya," ujar dokter.


Elang sudah tak menghiraukan penjelasan dokter, ia hanya menangkap intinya, bahwa dia lumpuh.


Ia tak bisa berkata apa-apa lagi, pandangannya langsung menerawang, dunianya serasa runtuh, gelap tak ada cahaya sedikitpun. Semuanya terasa gelap dalam sekejap, semua impian ya seakan menguap begitu saja.


Setelah dokter meninggalkan ruangan tersebut, Senja langsung memeluk suaminya yang sama sekali bergeming, pandangannya lurus ke depan tanpa bicara satu kata pun.


"Arrgggghhhh!!!" teriak Elang frustrasi, ia kembali memukul-mukul kedua pahanya, sangat keras.

__ADS_1


"Tenang Boo, semuanya akan baik-baik saja, kamu akan sembuh," ucap Senja yang sudah berderai air mata sambil memeluk Elang, tak tega melihat suaminya yang sangat putus asa.


"Aku cacat, aku lumpuh, sayang, aku lumpuh!" Elang terus meraung dalam dekapan Senja. Hancur, ia merasa hancur sehancur-hancurnya.


"Tidak, jangan berkata seperti itu, kamu pasti sembuh, aku yakin," ucap Senja.


"Daddy akan melakukan apapun untuk kesembuhan kamu, El," ucap daddy Alex yang tak kalah frustrasinya dengan sang putra, namun ia tak menunjukkan rasa sedihnya di depan Elang.


"Mom, El cacat mom, El tidak akan bisa berjalan," Elang tampak mengadu kepada mommy Anes yang sejak tadi sudah sesenggukan. Hati seorang ibu mana yang tak sakit melihat putranya yang dulu begitu gagah, berjalan dengan tegasnya kini lumpuh.


Mommy Anes menggeleng, ia mendekat dan memeluk Elang dari sisi kanan. Elang tampak frustrasi dalam pelukan dua wanita yang sangat ia cintai.


Bianca yang juga tak kuasa menahan air matanya, hanya mampu terdiam sambil sesenggukan. Karena tak kuasa melihat Elang yang begitu menderita, ia memilih keluar dari ruangan. Ervan yang sejak tadi tak mampu berkata apapun karena terlalu syok, segera menyusul Bianca.


"Biarkan aku sendiri, kalian tolong keluar!" ucap Elang di tengah isakan mommy dan istrinya sambil mengurai pelukan dua wanita tersebut.


"Tidak, boo. Aku mau tetap di sini," Senja menggelang.


"Iya, mommy juga mau tetap di sini,"


"Aku bilang, aku mau sendiri! Jadi tolong kalian keluar!" ucapnya lagi dengan mata menerawang.


"El..." Daddy Alex juga tak setuju.


"Keluar!" Elang meninggikan suaranya.


Daddy Alex membujuk mommy Anes dan Senja untuk keluar dan membiarkan Elang sendiri terlebih dahulu.


"Tapi, mas,"


"Sayang, ayolah. Biarkan El sendiri dulu menenangkan diri. Kita tahu putra kita seperti apa, ayo," ucap daddy Alex lembut.


"Boo, aku mau tetap di sini," ucap Senja lirih.


"Sayang, aku mohon. Biarkan aku sendiri! Keluar lah!" pinta Elang tanpa bisa di bantah.


Dengan berat hati, mereka meninggalkan Elang sendiri dalam ruangannya. Saat di depan pintu, Senja menoleh demi melihat suaminya, namun Elang melengos, menyembunyikan rasa sesak yang begitu menghujam di dadanya.


🌼 🌼 🌼

__ADS_1


💠💠Hayoloh, siapa yang sejak kemarin suudzon sama othor? Sini sungkem sama bawa kopi 🤭🤭Sampai kuping othor panas loh 🤣🤣 💠💠


__ADS_2