
Makan malam masih berlanjut. Suasana ruang makan malam ini begitu ceria. Senja merasa senang sekaligus lega karena semua urusannya berjalan lancar. Semua seerti mimpi bagi Senja, suami yang begitu mencintainya, keluarga yang begitu hangat dan baik, dan kini ada calon buah cintanya dengan Elang dalam perutnya.
Ia yang dulunya bukan apa-apa, kini menjelma menjadi seorang pewaris perusahaan besar.
Ia terlalu bahagia hingga takut jika semua itu hanya fatamorgana yang membuatnya terlena, ia takut jika semua keajaiban ini hanya sesaat. Serakahkah dia jika ia menginginkan kebahagiaan dan kesempurnaan dalam hidupnya tersebut untuk selamanya?
"Sayang, kok melamun?" lambaian tangan Elang membuyarkan lamunan Senja. Ia langsung tergagap, "Eh, iya. Kenapa?" tanya Senja.
"Di tanyain mommy tuh, kamu udah ada ngidam belum," ucap Elang.
"Sejauh ini, nggak ada yang ngidam aneh-aneh sih mom, ya sayang," meminta dukungan Elang atas ucapannya.
"Iya sih, Tapi, sebelum pulang, Senja minta jalan-jalan tengah malam tapi di gendong sama El, nggak mau jalan sendiri. sampai naik ke puncak Eiffell juga minta di gendong," ucap sambil melirik demi melihat ekspresi wajah Senja yang malu karena ketahuan pernah menyiksa suaminya waktu itu.
" Ya ampun, ponakanku! Masih di dalam perut pintar banget sih, udah bisa ngerjain daddinya," ucap Gisell tergelak.
Senja hanya bisa meringis.
"Ini baru awal El, jangan sedih. Nanti bisa lebih ekstr lagi ngidamnya, nikmat pokoknya menghadapi wanita ngidam," seloroh Alex.
"Selama El mampu, apapun akan El lakukan, dad.
"Kalau mommy dulu, waktu hamil suka ngidam yang aneh-aneh tidak?" tanya Senja yang penasaran setelah mendengar ucapan Alex.
"Ada sih beberapa ngidam yang aneh. Daddy juga ikut ngidam. Daddy nggak bisa cium keringat ya sendiri. Pengin pakai kutek mommy, sampai di ketawain karyawan karena lupa bersihinnnya. ya mas?"
Alex mengangguk, mengingat momen pengalaman pertama kali waktu otw jadi seorang ayah.
" O ya, ada lagi, daddy pengin cendol dawet, eh sama papa David di beliin cendol dawet beneran, di beliin kaset cd sama di undangin Nela kharisma buat nyanyi cendol dawet. Di buatin mini konser coba sama papa," imbuh Anes cepat yang langsungemdapat respon tercengang oleh semua yang mendengarkan.
" Serius, dad? "tanya Gavin terkekeh geli.
"Ya ampun Daddy!! Segitunya. Untung anaknya jadinya perfect kayak kakak. Coba kalau enggak, sayang tuh udah ngadain konser segala," ucap Gisell tergelak.
Sementara Elang tampak berpikir dan berdoa dalam hati, semoga dirinya tidak sebegitu memalukannya jika dirinya ikut ngidam.
Senja juga tak bisa menahan tawanya," Mommy sendiri, ngidam nggak? "tanyanya penasaran. Pengalaman dari senior sngat penting buatnya.
" Mommy sih lebih ke makanan kayaknya ngidamnya. Pengin rujak mangga muda yang daddy petik sendiri,"
__ADS_1
"Tengah malam daddy sama papa David mantengin phon mangga rumah orang. Awalnya mau nyolonh, eh ketahuan. Alhasil. Di ajak ngopi sampai pagi sama yang punya," ucap Alex.
"Astaga!" Gisell semakin tergelak.
"Untung nggak di gebukin, dad," ucap Gavin.
"Nyolong? Nggak modal!" cebik Elang yang langsung mendapat cubitan mesra dari Senja.
"Heh modal ya, daddy nggak di gebukin karena mangganya per biji daddy bayar lima juta! Terus hasilnya apa? Di rujak sama mommy tapi yang di suruh makan David, mommy cuma mau lihat mukanya David waktu makan mangga masam itu coba. Yassalamm," Sahut Alex yang geli sendiri jika ingat hal itu.
Semua yang mendengar kembali tergelak.
"Ya ampun, dad. Ada lagi ngidamnya mom?" Senja masih saja penasaran. Mendengar cerita mertuanya ia jadi tak begitu merasa bersalah waktu itu minta gendong sepanjang jalan. Ternyata ada yang lebih menyiksa, pikirnya senang.
"Apa ya..." Anes tampak mengingat-ingat.
"Ah, iya. Mommy lihat di televisi acara kuliner kalau nggak salah, mommy pengin tuh gudeg dan harus beli langsung dijogja. Daddy sama Papa berangkat ke jogja. Eh sampai sam warungnya tutup. Ya ampun, kalau ingat antara pengin nangis sama ketawa jadinya. Benar-benar ya, mau ada kamu tuh perjuangan banget El. Mana daat ya lama lagi, udah hampir setahun mommy baru hamil, " Anes hampir menitipkan air matanya saat mengingat semua itu.
"Iya, bahkan daddy yang ikutan mules waktu mommy mau lahiran kamu El," imbuh Alex.
"O ya? El baru tahu tentang itu," ucap Elang terkekeh.
" Terima kasih mom, dad. Atas perjuangan kalian yang luar biasa," ucap Elang tulus.
"Sayang, ngidamnya jangan aneh-aneh ya? Please, save my face!" ucap Elang kepada Senja.
"Siap-siap aja sih kak, kan buah tidak akan jauh dari pohonnya," ujar Gisel.
Obrolan antara mommy Anes, Senja dan Gisell masih berlanjut namun berpindah ke ruang keluarga. Perempuan jika sudah berkumpul, tak akan pernah kehabisan topik untuk di ghibahkan, dan itu sepertinya berlaku juga untuk mereka bertiga.
Daddy Alex pamit untuk mengecek beberapa pekerjaan di rung kerjanya. Sementara Elang berniat untuk menghirup udara segar di taman belakang saat ia melihat Gavin tampak duduk sendirian sambil menatap langit malam.
"Lagi bayangin siapa di langit itu?" ucap Elang seraya duduk di samping Gavin. Gavin menoleh, "Nggak ngebayanhin siapa-siapa," sahut Gavin kemudian.
"Oh, kirain. Mau cerita sesuatu?" pancing Elang. Sejak kedatangannya di rumah tadi, ia tahu jika adiknya itu sedang ada masalah.
"Cerita apa?" Gavin justru balik bertanya.
"Anything," sahut Elang.
__ADS_1
Gavin tampak diam sejenak, sebelum akhirnya kembali bersuara, "Kak, apa yang salah dengan kita yang terlahir kaya?" tanyanya.
"Kenapa? Apa kau menyesal lahir dari rahim mommy?" tembak Elang langsung.
"Tentu saja tidak. Aku justru bersyukur karena mereka yang ajdi orang tuaku. Tapi, kenapa bagi sebagian orang, orang kaya itu menyebalkan, jahat, sombong, hingga mereka benci karena kita kaya. Memangnya kenapa kalau kita lahir dari keluarga berada,"
"Seorang wanita?" tebak Elang langsung.
Gavin mengangguk.
"Pacar?" tanya Elang lagi.
"Teman," jawab Gavin.
"Teman dekat?" tanya Elang lagi.
"Cukup dekat, tapi setelah dia tahu siapa Aku sebenarnya, dia marah dan benci," jawab Gavin datar, tatapannya menerawang.
"Selama ini, kamu nggak jujur sama dia?"
Gavin menggeleng, "Dia benci orang kaya, makanya aku pura-pura jadi orang biasa," ucap Gavin.
Elang mengembuskan napasnya dalam, "Harusnya dari awal kamu jujur saja. Kamu udah tanya alasan dia benci sama orang kaya?"
"Nggak sempat, dia udah marah duluan dan pergi. Dia merasa di bohong dan makin benci sama aku," jawab Gavin. Dari ekspresi yang Gavin tunjukkan, Elang bis mengambil kesimpulan jika perempuan itu spesial buat adiknya tersebut. Mengingat sikap Gavin yang selam ini dingin dan cuek sama perempuan.
"Biarkan dia nenangin diri dulu, beri dia waktu. Coba cari waktu yang baik untuk menjelaskan dan minta maaf sama dia, pasti dia memiliki alasan sampai merasa antipati dengan orang seperti kita. Soal kebohongan kamu, itu salah, minta maaf. Kakak percaya, kamu udah dewasa untuk mengambil sebuah keputusan. Lakukan apa yang menurut kamu terbaik," Elang menepuk bahu Gavin.
" Hem, " sahut Gavin mengangguk," Jangan bilang siapa-siapa. Terutama Gisell. Aku nggak mau di berisik," lanjutnya.
" Boo, mau pulang sekarang atau nanti? Udah jam sebelas," ucap Senja yang membuat keduanya menoleh bersamaan.
Gavin merasa canggung dan malu, ia takut kakak iparnya mendengarkan curhatan singkatnya barusan.
Elang bangun dari duduknya," Kakak percaya, kamu nggak akan mengecewakan semua orang. Terutama mommy dan daddy," sekali lagi Elang menepuk bahu Gavin sebelum akhirnya berjalan mendekati Senja yang berdiri beberapa meter dari mereka duduk.
Ia sedikit khawatir, jika Gavin akan melakukan hal yang 'bodoh' karena ini kali pertama adiknya tersebut mengenal yang namanya patah hati. Ia berharap Gavin bisa menyikapi semuanya dengan dewasa dan menyadari kalau ini bukanlah akhir dari segalanya. Ia masih terlalu muda dan perjalanan masih panjang.
"Ayo, pamit sama mommy dan daddy!" ajak Elang merangkul bahu Senja.
__ADS_1
🌼 🌼 🌼