Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 134


__ADS_3

Kendra, Sarah dan Gisel, menghela napas lega secara bersamaan seerti di komando saat ketiganya mendengar tangisan melengking seorang bayi dari dalam ruang persalinan tersebut. Mereka seolah ikut mengejang dan merasa plong saat tangisan bayi itu terdengar sangat jelas.


"Ya, ampun udah lahir!" seru Sarah dengan mata berkaca-kaca karena senang.


"Iya, ponakanku udah lahir, mbak.lega rasanya," timpal Gisel.


"Apa kita boleh masuk sekarang? Aku tidak sabar ingin melihat hasil cocok tanam ya si bos dan nona," ucap Kendra yang langsung di balas tatapan tajam dari Sarah dan Gisel, "Tidak boleh!" seru mereka bersamaan.


"Tunggu, sampai dokter mengijinkan, baru masuk!" jelas Sarah yang sebenarnya juga sudah tak sabar ingin melihat generasi ketiga keluarga daddy Alex tersebut.


🌼 🌼 🌼


Rasa lega bercampur haru yang Senja rasakan saat ini. Elang berkali kali mencium kening sang istri. Mengungkapkan betapa bahagia dan harunya dia saat ini. Tak henti-henti ya ia mengucapkan kata maaf dan terima kasih karena perjuangan Senja selama ini hingga baru saja putri cantik mereka lahir dengan selamat dan sempurna.


Elang terus bersyukur karena meskipun terlambat tak menemani dari awal, tapi ia bisa menemani detik-detik saat bayinya lahir ke dunia. Ia menepati janjinya kepada Senja untuk menemaninya lahiran.


"Aku berhasil, El. Aku berhasil melahirkan putri kita dengan selamat," ucap Senja yang masih terengah-engah mengatur napasnya kembali.


"Iya sayang, kamu hebat. Kamu luar biasa, terima kasih karena sudah berjuang untuk melahirkan putri kita yang sangat cantik seperti ibunya ," Elang kembali menitipkan air matanya. Ia sungguh sangat tak sabar ingin menyapa putri kecilnya yang baru saja lahir itu.


Setelah memotong tali pusar, dokter meminta Senja untuk membuka kancing baju bagian atasnya untuk melakukan inisiasi menyusui dini.


Setelah memastikan tubuh bayi mungil itu kering kecuali tangan yang di biarkan basah. Aroma dari air ketuban (amnion) pada tangan bayi akan membantu mengarahkannya untuk mencari putng payu dara ibu yang memiliki aroma serupa.


Bayi mungil itu di letakkan tengkurap di atas erut Senja. Beberapa menit kemudian, ia mulai bergerak mencari sesuatu, yaitu sumber kehidupannya selanjutnya.


Setelah berusaha sangat keras, tanpa di bantu, akhirnya bibir mungil bayi perempuan tersebut berhasil mengecap puncak dada Senja. Suara decak-decak dari bibir mungil itu membuat Senja dan Elang hanya bisa tersenyum penuh haru dengan mata berkaca-kaca, tanpa bisa berkata-kata. Mereka terlalu excited dengan keajaiban di depan mereka saat ini.


"Woow, putri kalian sangat pintar, lihatlah! Dia sudah pandai mengecap pu ting ibunya," ucap dokter Catherine tersenyum.


Senja mendekap putri kecil mereka dengan penuh cinta.


Elang sangat senang, ia terus memandang takjub kepada putri kecilnya yang kini mulai menggeser posisinya sebagai pengecap dada istrinya sambil terus mencium puncak kepala Senja.


"Boo,..." panggil Senja.


"Hem," sahut Elang tanpa mengalihkan pandangannya dari bibir mungil putrinya yang sedang mengeluarkan suara decak decak.


"Terima kasih, karen sudah datang tepat waktu," ucap Senja.


Elang mengangguk dan kembali mencium puncak kepala Senja, "Maaf karena hnya bisa menemani kamu di waktu-waktu terakhir melahirkan. Untung saja, Kendra mau buka mulut kemarin. Kalau tidak, aku pasti akan sangat menyesal," ucap Elang.


Beberapa menit kemudian, bertepatan dengan di lepasnya pu tiing itu dari bibir sang bayi, Senja kembali merasakan kontraksi, tapi tak separah tadi, dan sesuatu terdorong untuk keluar kembali dari dalam. Ternyata itu adalah reaksi untuk mengeluarkan plasenta.


Dokter mengambil bayi perempuan tersebut lalu menyerahkan kepada suster untuk di lakukan tindakan selanjutnya. Sementara dokter menyelesaikan proses persalinan pada Senja.


🌼 🌼 🌼


"Apa kamu lelah, sayang?" tanya Elang setelah proses panjang melahirkan berhasil Senja lalui.

__ADS_1


Senja langsung di pindahkan ke ruang rawat yang sudah ia pesan jauh-jauh hari sebelum melahirkan buah hatinya di rumah sakit tersebut.


Senja menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. Rasa lelahnya mengandung sembilan buka plus saat proses melahirkan si kecil, hilang begitu saja ketika mendengar suara tangisan bayi putri mereka untuk pertama kali tadi.


Elang tak kuasa kembali menitikkan air matanya ketika ia mengadzani putri kecilnya setelah di bersihkan oleh suster.


Dan kini mereka sedang menunggu untuk bertemu dengan putri mereka kembali. Ia terus menggenggam erat tangan Senja, seolah tak ingin sedetikpun mereka berpisah kembali. Ia tak akan sanggup.


Ceklek!


Suara pintu di buka seiring dengan langkah kaki suster memasuki ruangan tersebut yang membawa bayi dalam balutan selimut kecil.


Senja dan Elang menyambut putri kecil mereka dengan senyum hangat Elang langsung berdiri untuk mengambil alih bayinya yang menggeliat di dalam buntalan selimut bayi tersebut.


Dengan sangat hati-hati, Elang menggendong putri kecilnya mendekati Senja, "Sini, aku pengin gendong," Senja mengulurkan kedua tangannya.


Elang pun tak kuasa menolaknya, meskipun ia juga masih sangat ingin menggendong anaknya.


Naluri keibuan Senja langsung terpancar, ia langsung membuka dua kancing bajunya untuk memberikan asi kepada bayinya yang lidahnya terus bergerak keluar masuk di bibir mungil nya, sangat menggemaskan sekali.


Elang tak berhenti mengagumi sosok wanita yang kini tak hanya menyandang status sebagai istrinya saja, namun juga ibu dari putri kecilnya yang sangat cantik. Ia bersumpah, tak akan pernah menyakiti hati istrinya yang telah berjuang antara hidup dan mati demi putri kesayangannya.


"Anak daddy, jadikan daddy sebagai cinta ertama mu ya, sayang," Elang mengusap lembut pipi bayinya.


"Jangan cepet gede ya, biar daddy nggak pusing mikirin kamu yang mulai jatuh cinta nanti," imbuhnya.


Senja mencubit lengan Elang, "Baru juga lahir anaknya, udah ngomongin pacar, cinta," oemlnya seraya tersenyum.


"Bos, apa kami boleh masuk sekarang?" tanya Kendra yang menyembulkan sedikit kepalanya di celah pintu.


Refleks, Elang langsung berdiri di depan Senja yang sedang memberikan asi untuk putri mereka.


"Tidak boleh!" seru Elang tegas. Ia benar-benar tidak ikhlas jika ada orang lain yang melihat isi dalam bra sang istri, meskipun hanya sedikit dan tak sengaja.


"Kakak! Ayolah, aku juga ingin melihat keponakan aku," protes Gisel yang sudah membuka pintu selebar-lebarnya.


"Ck, dasar kalian ini! Tidak sabaran!" ucap Elang.


Senja menggelengkan kepalanya, sikap posesif berlebihan namun ia rindukan itu kini kembali.


"Biarkan mereka masuk, boo. Aku udahan kok," ucap Senja. Dengan cepat Elang membantu mengancingkan kembali dua kancing atas baju Senja.


"Kalian boleh masuk sekarang!" ujar Elang. Ia menggendong putrinya lalu meletakkan di box bayi yang ada di samping ranjang supaya ketiga orang itu bisa melihat wajah putrinya.


Kendra, Sarah dan Gisel langsung berlomba masuk ke dalam dan mendekati box bayi. Mereka tak menatap bayi yang belum ada dua jam lahir ke dunia tersebut dengan mulut menganga takjub.


"Cantik sekali!" ucap Gisel kagum.


"Iya, nggak heran sih. Pabrikannya aja kualitas unggul semua," tambah Sarah.

__ADS_1


"Nggak nyangka, bos bisa punya baby yang cantik begini. Pasti karena gen nona Senja lebih besar ini," ucap Kendra.


"Heh, nggak lihat, dari hidung, mata sama bibir mirip siapa? Bapaknya!" protes Elang tak terima ucapan Kendra.


Kendra menoleh lalu mencebik," Mirip sih memang. Kasihan nona, cuma kebagian mengandung doang. Yang susah - susah nona, bos yang panen. Ck, nggak adil!" ucapan Kendra seakan menonjok hati Elang. Meski terdengar menyebalkan, tapi Elang membenarkan ucapan asistennya tersebut.


"Tapi cantiknya kayak ibunya, ibunya tetap yang nomor satu," ucap Elang. Senja tersenyum mendengarnya, "Dia anak kita, jadi mirip kita berdua," ucapnya. Elang mengangguk setuju lalu mencium puncak kepala sang istri. Memang istrinya itu paling bisa menenangkan hatinya. Bodoh sekli ia hampir saja kehilangannya.


"Bos baik-baik saja kan? Maaf tadi saya tidak keburu menyusul," Kendra tiba-tiba ingat jika tadi bosnya berlari menuju ke rumah sakit. Padahal kakinya belum sembuh secara sempurna, masih perlu teraphy beberapa kali lagi.


"Ya, aku tidak apa-apa," jawab Elang berbohong, ia mengabaikan rasa sakit yang sebenarnya mendera kakinya demi rasa bahagia yang sedang ia rasakan.


"Apa maksudnya?Boo, kamu kenapa? Kalian tidak datang bersama" tanya Senja.


"Bos tadi memaksa berlari ke sini nona, karen jalan sangat macet, mobil sangat lambat sekali bergerak, bahkan bis di bilang tak bergerak sama sekali," jelas Kendra yang langsung mendapat tatapan tajam dari bosnya.


"Boo, kenapa kamu melakukannya. Kalau kaki kamu kenapa-kenapa lagi bagaimana?" ucap Senja khawatir. Matanya kembali berkaca-kaca.


"Sssst, sayang dengar. Aku baik-baik saja. Aku udah sembuh, cuma berlari saja hal kecil. Apalagi putri kita mengirim kekuatan yang begitu luar biasa untukku. Jngan nangis, aku nggak kenapa-kenapa," Elang memeluk Senja. Ia menoleh dan mencibir Kendra.


Kendra langsung mengatup kan bibirnya rapat.


" Ngomong-ngomong, bayi cantik menggemaskan ini di kasih nama siapa?"tanya sarah memecah ketegangan yang baru saja terjadi.


" Iya kak, siapa namanya?" Gisel ikut bertanya.


Elang mengurai pelukannya, ia menatap Senja, mengisyaratkan agar sang istri yang menjawab.


"Namanya, Zea Manika Eleanor Erlangga," JAWAB Senja.


Elang mengangguk setuju, nama Zea Manika Eleanor sudah mereka siapkan dulu saat tahu Senja hamil. Mereka menyiapkan dua nama laki-laki dan perempuan. Mereka sepakat tidak akan menggunakan nama Parvis maupun Bailey biar adil.


Elang tak menyangka jika Senja menambahkan namanya di belakang nama sang putri.


"Bagus sekali namanya, kakak ipar. Artinya apa?" tanya Gisel.


"Artinya cahaya batu permata yang bersinar terang, putri tuan Erlangga," jawab Senja. Ya, putri kecilnya tersebut adalah cahaya dan permata buat dia dan Elang.


Elang menatap curiga dengan air muka Kendra, "Kenapa begitu? Nggak bagus namanya?" tanyanya sebal.


"Bagus bos, bagus banget. Cuma..."


"Cuma apa?"


"Kenapa huruf awalnya Z sih, nanti kalau sekolah abesennya paling akhir,"


"Nggak masalah, yang penting IQ dna EQnya nomor satu!" balas Elang yang tak habis pikir, Kendra langsung yang kepikiran soal urutan absensi.


🌼 🌼 🌼

__ADS_1


πŸ’ πŸ’ Jangan lupa like, komen dan hadiahnya untuk baby Zia ya Onty syantik. Votenya becok juga buat baby Zia dong Onty onlen yang baik hati πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ’ πŸ’ πŸ’ 



__ADS_2