
Senja masuk ke dalam perusahaan. Mitha dan beberapa temannya sudah menghadangnya.
"Oh jadi ini, anak emas kesayangan perusahaan. Yang bisa libur kerja seenaknya saja," cibir salah satu teman Mitha.
"Enak benar ya, seperti ini kantor punya nenek moyangnya saja, bebas nggak masuk kerja tanpa teguran," sambung yang lain. Sementara Mitha terlihat tersenyum mengejek, senang melihat Senja di bully oleh teman-temannya.
Senja hanya diam tak membantah, karena sejujurnya dia sendiri merasa aneh dan tidak enak hati. Memang benar dia merasa seperti diistimewakan di sana. Dan itu buat dia tidak enak hati.
"Ada apa ini?" tanya seorang laki-laki yang di percaya untuk memimpin perusahaan tersebut. Dia bukan pemilik kantor tersebut, tapi dia merupakan salah seorang kepercayaan Elang dan para dewan direksi mempercayainya untuk memimpin perusahaan tersebut karena pemiliknya fokus memegang perusahaan di Paris.
Laki-laki berusia di atas kepala tiga dan sudah berkeluarga tersebut salah satu teman Elang yang kemampuannya tidak di ragukan lagi. Elang sendiri menolak saat di minta untuk memimpin perusahaan tersebut karena mengurus perusahaannya sendiri saja sudah cukup menyita waktunya. Kemudian, Elang menunjuk laki-laki bernama Alan itu untuk memimpin perusahaan dimana Senja bekerja.
"Tuh kan, nggak cuma GM aja yang belain, Direktur juga," bisik mereka.
"Saya tanya kenapa?"
"Itu pak, Senja kenapa bisa seenaknya saja tidak masuk kerja, seakan ini kantor nenek moyangnya saja," jawab Mitha merasa tidak terima.
"Jika kalian mau protes, protes saja kepada pemegang saham terbesar untuk perusahaan ini," ucapnya lantang.
"Senja, lanjutkan bekerja. Dan kalian juga! jangan hanya bisa bergosip saja!" ucap Alan langsung pergi tanpa memberitahu siapa yang tadi ia maksud sebagai pemegang saham terbesar membuat mereka termasuk Senja bertanya-tanya.
"Mitha, apa yang kamu lakukan? Masuk ke ruangan kamu dan jangan cari masalah!" bentak Niko.
"Mas, siapa yang cari masalah. Wanita itu yang cari gara-gara," Mitha menunjuk Senja.
"Sudahlah, kalian bersahabat cukup lama, apa tidak bisa sedikit baikan," Niko menasehati Mitha.
"Mimpi!" ucap Mitha sewot dan langsung pergi diikuti teman-teman genk barunya meninggalkan Niko dan Senja.
"Senja, maafkan Mitha. Kamu baik-baik saja?" tanya Niko.
"Urus saja istrimu itu, jangan pedulikan aku yang sudah bahagia dengan suamiku!" ucap Senja penuh penekanan.
__ADS_1
"Senja, aku tahu kamu benci sama aku, tapi aku juga tahu kamu masih mencintaiku," dengan tidak tahu malunya Niko mengatakan hal itu.
"Ck, benar kata istrimu itu mas Niko. Mimpi! sebaiknya cepat bangun, takutnya mimpimu jadi buruk," Senja langsung pergi meninggalkan Niko.
"Kenapa kami berubah Senja, tidak seperti Senja yang aku kenal dulu," gumam Niko.
"Kenapa? Mereka bikin ulah lagi?" tanya Sarah yang baru saja datang.
"Biasalah, drama sepasang suami istri itu. Aaaargh aku benci kenapa harus berurusan dengan mereka," ucap Senja frustrasi sambil mendudukkan bobot tubuhnya ke kursi kerjanya.
Mitha tak terima tadi Niko seperti membela Senja, ia mendatangi ruangan manager yaitu ruangan Niko.
"Mas Niko! Kenapa tadi mas Niko belain perempuan itu? Mas Niko masih mencintainya?" Kesal Mitha.
"Mitha, sayang bukan begitu. Kamu tahu sendiri kan di sini banyak atasan yang mendukung Senja, jadi kamu harus lebih hati-hati sama sikap kamu. Jangan sampai karir kita terancam hanya karena ulah kamu," sahut Niko.
"Wanita ular seperti itu harus di kasih pelajaran mas, biar nggak ngelunjak. Enek tahu nggak lihat wajahnya yang sok polos itu," rengek Mitha.
"Udah lah Mith. Aku sudah memilih kamu, aku bertanggung jawab atas kehamilan kamu dan kita sudah menikah, apa lagi?"
πΌπΌπΌ
Elang memarkirkan mobilnya di kantor Parvis Group. Ia akan menemui David, ada hal yang ingin ia bicarakan dengan papa angkatnya tersebut.
Elang masuk ke perusahaan, semua orang yang melihatnya menunduk hormat kepada putra tertua keluarga Parvis tersebut. Elang langsung menuju ruangan David. Ia masuk setelah David mempersilakannya masuk. Ya, David masih setia mengabdi terhadap Parvis Group meskipun ia memiliki usaha sendiri yang bisa menjamin hidupnya. Tapi rasa cinta dan dedikasinya untuk Alex sangat tinggi. Ia akan pensiun jika Alex juga pensiun dari dunia bisnis dan mereka akan menikmati masa tua mereka bersama.
"Pa..." Sapa Elang seraya mencium punggung tangan pria yang juga masih tampan meski sudah berusia paruh baya tersebut.
"Kau datang El? Tapi sayang daddymu sedang ke Ausy, dia tidak ada di kantor," balas David tersenyum menyambut putra angkatnya.
"Iya pa, El tahu. Mommy menelepon kemarin. El kesini untuk menemui papa," wajah Elang tampak Serius.
"Ada masalah?" selidik David.
__ADS_1
"Ini soal Senja," jawab Elang.
"Kita bicara di ruang sebelah saja," ajak David. Ia mengajak Elang ke ruang yang lebih Privasi karena sepertinya apa yang ingin Elang bicarakan sangat serius, pikir David. Elang mengikutinya di belakang.
"Katakan!" pinta David setelah mereka duduk.
Elang pun mulai menjelaskan soal amanah kakek Senja untuk mengembalikan keadilan untu istrinya tersebut, ia juga menceritakan semua informasi yang di berikan oleh Kendra kepadanya.
"Mungkin papa tahu sesuatu tentang perusahaan Bailey?" tanya Elang di akhir ceritanya.
"Bailey? Bukankah kau pemegang saham terbesar di sana?"
"Ya, sepertinya masa lalu Senja ada hubungannya dengan perusahaan itu. Ini kalung milik Senja," Elang menyodorkan kalung milik Senja yang sudah di perbaiki.
David mengambil dan mengamati kalung tersebut.
"Akan aku selidiki, sepertinya akan mudah mendapat informasi. Papa mengenal logo dalam kalung ini, ini adalah logo BaileyTex pertama kali bukan?" tanya David.
"Hem, makanya El meminta bantuan papa, apa hubungan Senja dengan kalung ini," jelas Elang.
"Baiklah papa mengerti, secepatnya akan papa cari tahu," balas David.
Dan mereka melanjutkan ngobrol sebelum akhirnya Elang pamit. David mengantarnya sampai ke lobby perusahaan.
Setelah Elang tak nampak lagi bayangannya, David kembali ke ruangannya. Ia kembali mengamati kalung itu.
"Melihat kalung ini, aku ingat waktu itu Tuan dan nyonya Bailey di kabarkan meninggal dalam kecelakaan mobil. Sedangkan anak prempuan mereka di kabarkan menghilang, jangan-jangan..." gumamnya sambil berusaha mengingat sebuah kejadian di masa lalu. Sebagai pemilik mall yang besar, David waktu itu sangat mengenal perusahaan BaileyTex yang bergerak dalam bidang mode yang kala itu menjadi perusahaan fashion nomor satu setelah beberapa tahun didirikan.
"Lebih baik aku menyelidikinya dulu, sebelum mengambil kesimpulan, segala kemungkinan bisa terjadi sebelum semuanya jelas," gumamnya.
David segera mengambil ponselnya. Ia menelepon seseorang.
"Saya ada tugas buat kamu, datang ke kantor sekarang," ucapnya langsung menutup teleponnya.
__ADS_1