
Suasana dalam mobil terasa sepi, para penumpangnya tengah asyik berjibaku dengan pikiran mereka masing-masing. Sesekali Kendra yang duduk di belakang kemudi mobil melirik kaca untuk melihat bosnyabyang kini duduk di jok belakang bersama Senja. Kendra mendesah seraya terus mengemudikan mobilnya membelah kota Paris malam itu.
Sejak keluar dari tempat acara tadi, tak ada yang berbicara. Senja lebih memilih diam dan menatap luar jendela mobil. Ia masih tak percaya dengan isi wasiat yang menurutnya konyol tersebut. Kalau soal perjodohan masih bisa di terima nalar, tapi jika itu di jadikan syarat untuk mewarisi BaileyTex ia merasa itu berlebihan, kenapa harus di sangkut pautkan begitu.Terbesit sedikit penyeaalan dalam dirinya, kenapa harus menemukan kembali jati dirinya jika hanya untuk mengusi kehidupannya kini yang sudah bahagia. Kalau bisa memilih, ia hanya ingin cukup tahu saja asal usulnya tanpa harus terjebak dalam situasi yang rumit seerti ini.
Berkali-kali Senja menghela napasnya untuk mengatur emosinya supaya tidak menngis, ia melirik ke samping kananya dimana Elang juga tengah sibuk dengan lamunannya sendiri. Tangan laki-laki itu tak pernah melepaskan genggamannya dari tangan Senja. Senja tahu, meski diam namun suaminya tersebut sangat terusik hatinya.
Senja takut, takut jika Elang akan melepaskannya. Takut jika setelah semua yang sudah suaminya tersebut lakukan, ia akan mendorong Senja dari hidupnya, seperti yang pernah Elang katakan jika ia akan melepaskan Senja saat perempuan tersebut menemukan jati diri dan haknya. Sungguh, ia tak ibgin itu semua jika bukan Elang. Ia tak peduli usaha Elang selama ini untuk mendapatkan haknya sia-sia, asal mereka tetap bisa bersama.
Namun, bagaimana jika Elang benar-benar tak ingin usahanya sia-sia dan lebih memilih meleoaskan Senja dengan alasan kebahagiaannya, tidak! Justru Senja tidak akan bahagia dengan semua itu. Kebahagiaannya hanya ada pada Elang. Senja benar-benar takut menunggu keputusan suaminya.
Demikian dengan Elang, laki-laki itu penuh sekali pikiran dalam kepalanya, yang membuat kepalanya terasa pusing. Ia takut, bagaimana jika Senja lebih memilih meninggalkannya demi BaileyTex. Bagaimanapun itu adalah haknya, hasil dari jerih payah kedua orang tuanya dan tujuan awak Elang menikahi Senja adalah untuk itu. Lalu sekarang haruskah ia kehilangan istri yang begitu ia cintai tersebut? Siapkah ia jika Senja mempertanyakan kembali kata-katanya dulu untuk melepaskannya jika ia telah menemukan kebahagiannya.
Keduanya menghela napas secara bersamaan. Senja menatap lekat suaminya dari samping. Detik kemudian, Elang ikut menoleh. Ia tersenyum samar lalu menarik Senja ke dalam pelukannya.
"Boo...," panggil Senja lirih.
"Hem..." sahut Elang.
"Jangan lepaskan aku...," suara Senja terdengar berat. Elang tak menjawab, ia hanya mencium puncak kepala sang istri.
Tak ada jawaban, membuat Senja semakin berpikir kalau Elang benar-benar akan mendorongnya kepada Ervan.
"Kend, berhenti!" perintah Elang saat mobil mereka melintasi menara Eiffell. Ia ingat sudah menyiapkan sureprise untuk Senja di hotel malam ini. Jika mereka langsung kembali, pasti akan membuat suasana yang seharusnya bahagia menjadi canggung. Untuk itu, ia harus menetralkan suasana hati sang istri terlebih dahulu.
Kendra memilih menunggu di dalam mobil, dari pada ikut Elang dan Senja untuk menjadi obat nyamuk. Setidaknya di dalam mobil , ia bisa tidur meskipun sebentar. Masalah bisnya membuatnya ikut merasa pusing dan lelah. Belum lagi masalah pribadinya sendiri yang masih setia jadi oengagum rahasianya Gisell.
__ADS_1
Ah, ngomong-ngomong soal Gisell, kendra jadi ingat gadia itu, sedang apa gadis itu sekarang, ah palingan juga lagi jalan sama teman-temannya. Atau lagi ngejar-ngejar cintanya dokter Rega? Mendadak Kendra merasa lemas, jika memikirkan hal itu. Di sini ada yang bucin setengah hidup kepada Gisell, eh Gisellnya sibuk nunjukin bucinnya pada pria lain. Kendra mengambil ponselnya, ia mengirim pesan kepada Gisell sekedar bertanya kabar.
Elang mengajak Senja duduk di sebuah kursi dengan pemandangan menara Eiffell yang menjulang tinggi dengan lampu kerlap-kerlip yang menyala, menambah suasana semakin romantis di sana.
Ekang menengok istrinya masih diam, ia kembali meraih kepala istrinya tersebut suoaya bersandar ke dadanya.
"Jangan dorong aku boo, jangan lepaskan aku," ucap senja lagi, kali ini di sertai cairan kristal yang jatuh dari sudut matanya.
"Aku tidak butuh semua itu, kita keaskan saja, lupakan saja semuanya," imbuhnya cepat.
"Hei, sayang. Dengarkan aku, aku Erlangga tidak akan pernah melepaskan istrinya yang menggemaskan ini," Elang menangkup pipi Senja dengan kedua tangannya. Manik mata berwarna cokelat itu mengisyaratkan kekhawatiran akan kehilangan.
"Benarkah? Kau janji?" tanya Senja matanya mengerjap-ngerjap, membuat Elang tak tahan untuk tidak mengecupnya.
"Tentu saja sayang, bagaimana aku bisa melepaskan hidupku kepada si kampret itu," Elang medekapnya erat, sangat erat hingga tak menyisakan ruang untuk bergerak. Ia mengangkat satu sudut bibirnya, seharusnya dia yang takut kehilangan istrinya, harusnya ia yang minta Senja untuk tidak meninggalkannya demi BaileyTex. Tapi yang terjadi Justru malah sebaliknya, ia merasa sangat di cintai oleh istrinya tersebut.
"Jangan dipaksakan, jika memang tidak bisa, aku tak butuh semua itu, aku hanya ingin bersamamu boo," ucap Senja.
"Hem aku tahu, pesona ku memang tiada duanya. Tak heran jika kamu cinta mati kepadaku," ucap Elang tersenyum.
"Narsis," Senja mencolek pinggang Elang seraya tersenyum.
"Itu fakta utama sayang," sahut Elang.
Senja tersenyum, ia akui memang yang dikatakan oleh suaminya tersebut adalah fakta. Bahkan ia jatuh cinta bertubi-tubi kepada pria yang kini sedang memeluknya tersebut.
__ADS_1
Elang merasa lega karena sepertinya suasana hati sang istei mulai membaik, itu artinya ia bisa segera mengajaknya kembali ke hotel.
Senja menghela napasnya lega, ia menikmati keindahan menara Eiffell malam itu.
"Apa mau naik ke atas?" tawar Elang.
Senja menggeleng, "Mau kembali ke hotel saja," ucapnya.
Yes! Ini yang elang tunggu-tunggu, cepat-cepat kembali ke hotel, ngasih sureprise, Senja terharu dan.... Berakhir dengan kegiatan panas di atas tempat tidur. Ia sudah tidak bisa lagi jika harus menahannya, bahkan sekalipun mereka belum pernah melakukannya di Paris. Meskipun masih ada masalah yang harus di selesaikan, proses tanah saham harus tetap berjalan demi kelangsungan hidup si ujang dan kelangsungan keturunan keluarga Parvis.
"Sayang..." panggil Elang. Senja menoleh dan bibirnya langsung bertemu dengan bibir Elang. Elang langsung mencium bibir itu dengan rakus, Senja yabg merasa kewalahan tetap berusahan membalas pagutan suaminya. Mereka berciuman di bawah menara Eiffell. Setidaknya harus ada kenang-kenangan di san meskipun hanya sebuah ciuman mesra.
"Aduh gimana ini," ucap elang setelah mereka ciuman mereka berakhir.
"Kenapa?" tanya Senja.
"Nggak kuat lagi, ayo!" Elang bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya.
"Nggak kuat apa? Booboo kenapa?" tanya Senja polos.
"Pengin cepat buka pabrik," jawab Elang sambil berjalan menggandeng tangan Senja.
"Pabrik apa?" tanyanya heran, apa suaminya itu berencana membangun pabrik.
"Pabrik pembuatan Elang junior," jawab Elang tersenyum. Senja langsung mengatupkan bibirnya, mengerti apa yang di inginkan suaminya. Ia juga merindukan si ujang mengobrak abrik pabriknya.
__ADS_1
🌼 🌼 🌼