Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 130


__ADS_3

Hari-hari berlalu begitu saja dengan kondisi Elang yang masih tetap sama. Belum bisa berjalan, meskipun sudah di lakukan teraphy beberapa kali. Hal itu membuat Elang benar-benar frustrasi, mungkin ia memang tidak akan pernah bisa berjalan lagi, pikiran yang selalu ada dalam kepalanya.


Setiap malam, diam-diam ia selalu memerhatikan wajah lelah Senja. Ya, ia tahu pasti istrinya itu lelah dengan semuanya, lelah mengurus ya dan bekerja. Sama seperti dia yang lelah berharap untuk bisa berjalan lagi.


Bahkan untuk urusan ranjang pun ia tak bisa memanjakan istrinya dengan baik. Tentu saja itu membuatnya semakin tak memiliki rasa percaya diri, lagi dan lagi. Terlebih lagi, kini istrinya itu tak pernah mengeluh soal apapun dengannya. Tak pernah mengatakan sedang ingin makan apa, ia lebih sering mencari apa yang ia ingin makan.


Bukannya Senja tak mau bicara dengan Elang, tapi ia tak ingin membuat suaminya semakin merasa stres dan rendah diri karena ngidamnya yang pasti akan menyulitkan Elang. Ke kantor saja, Elang tidak mau, apalagi ke tempat lain, Senja tak ingin membuat suaminya malu.


Tapi, di situlah masalahnya, karena sama-sama ingin menjaga perasaan masing-masing, justru membuat keduanya saling memendam salah paham. Senja yang mengira Elang menyalahkan Senja, karena Senja lah penyebab utama kelumpuhannya. Sementara Elang berpikir, jika Senja tak lagi membutuhkannya, istrinya itu bisa mandiri tanpanya. Atau setidaknya laki-laki normal seerti Ervanlah yang lebih pantas untuk mendampingi ya, bukan laki-laki cacat seperti dia.


Siang itu, Senja baru saja pulang dari kantor. Ia berjalan santai memasuki rumahnya. Dari lantai bawah, Senja mendengar teriakan Elang diiringi oleh suara benda-benda yang di lempar ke lantai. Ia bergegas menaiki anak tangga dengan berlari kecil menuju ke kamarnya.


Pintu kamar itu terbuka, terlihat dua orang yang baru saja melakukan teraphy tampk menunduk ketakutan melihat amarah Elang tanpa bisa berkata-kata.


"Keluar kalian!" titah Elang tanpa menoleh, ia membalakangi keduanya.


Mereka mengangguk, lalu memutar badan mereka, saat itu mereka berpapasan dengan Senja yang baru saja masuk. Senja mengangguk, tanda mempersilakan mereka untuk meninggalkan kamarnya.


Senja berjalan mendekati suaminya sambil mengembalikan barang-barang yang masih utuh ke tempatnya, dan menghindari vas bunga yang pecah dan berserakan di lantai supaya tidak melukai kakinya.


Senja berjongkok di depan Elang yang tampak sangat kacau, tanpa bertanya Senja sudah tahu jawabannya, pasti karena habis teraphy dan belum ada perkembangan yang berarti.


Senja bisa melihat betapa mata Elang itu menyimpan kekecewaan yang teramat. Elang melengos, berusaha menghindari tatapan sang istri.


"Tidak apa-apa, besok di coba lagi dan lagi. Bukankah semua butuh proses?" Senja mencoba menghibur suaminya.


"Sampai kapan? Kamu lihat sendiri kan? Percuma!" sahut Elang, ia melepas genggaman tangan Senja dan memutar kursi rodanya. Menjalankan kursi roda itu menuju ke balkon. Senja mengikutinya.


"Diantar Ervan lagi?" tanya Elang ketus.


Senja mengangguk pelan, "Tadi habis ninjau outlet baru di mall Permata, dan aku langsung pulang. Kirain bakal lama jadi aku minta pak Sapto balik ke kantor duluan, ternyata sebentar. Daripada nunggu pak Sapto lama, Ervan nawarin buat antar. Tadi antar Sarah juga balik ke kantor," jelas Senja.


Elang hanya terdiam, kini ia merasa kehilangan perannya sebagai suami dan di ganti kan oleh Ervan akhir-akhir ini.


Meliht ekspresi suaminya, Senja langsung merasa bersalah," Harusnya tadi aku nunggu pak Sapto aja buat jemput," ucapnya menyesal.


"Bukankah Ervan juga tak masalah mengantar jemput kamu, dia sepertinya sangat menikmati peran barunya menggantikan aku," ucap Elang.


Senja mengangkat kepalanya, tak percaya dengan ucapan menohok suaminya.


"Aku tidak masalah dengan itu, karena memang kenyataannya sekarang dia lebih sempurna, lebih bisa jagain kamu dan lebih bisa di harapkan tentunya, di lebih pantas untukmu," lanjut Elang.

__ADS_1


"Tidk seperti aku yang..."


"Cukup, Boo!" sergah Senja dengan cepat.


"Sampai kapan? Sampai kapan kamu akan terus seperti ini? Sampai kapan kamu akan terus merasa rendah diri dan tak berguna? Padahal jauh kenyataannya kamu itu masih sama buatku. Bagiku kamu itu tetap Elanh yang sama seperti sebelumnya, tak pernah berubah. Memangnya kenapa jika kamu tidak bisa berjalan? Aku bisa jadi kaki kamu! Saat melihatmu terbaring koma tida sadarkan diri di rumah sakit, apa kamu tahu apa harapanku saat itu? Aku hanya punya satu keinginan, yaitu melihatmu membuka mata. Tidak ada hal yang lebih aku inginkan dari itu... " ucap Senja, matanya mulai berkaca-kaca.


"Apa, sekalipun kamu tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan aku, El? Dengan sikap kamu yang selalu seperti ini justru buat aku sedih, aku bingung harus bersikap bagaimana sama kamu, bagaimana supaya kamu bisa tersenyum lagi," Rasa lelahnya, membuat Senja lebih sentimwntil. Ia tak bisa menahan diri seperti biasanya yang selalu sabar menghadapi suaminya.


" Sayang, tolong tinggalkan aku sendiri," ingin berdebat lebih panjang lagi, Elang emmibta Seja untuk pergi.


Senja menggelengkan, "Aku tidak mau, aku mau di sini nemenin kamu, jangan suruh aku pergi," ucapnya memohon. Pasalnya, setiap kali Elang merasa frustrasi, ia selalu menyuruh Senja meninggalkannya sendiri.


"Pergilah, biarkan aku sendiri!"


Senja tetap bergeming, kali ini ia tak ingin menuruti permintaan suaminya. Kenapa harus dia pergi, padahal berbagi keluh kesah dengannya tak akn menurunkan derajat Elang di matanya.


"Senja, ku mohon! Mengertilah! Setiap melihat kamu, aku selalu ingat dengan mereka yang udah buat aku seperti ini! Aku benar-benar merasa tidak berguna sekarang! Aku muak dengan diriku sendiri! Jadi aku mohon biarkan aku sendiri dulu, setidaknya untuk sekarang!" entah sadar atau tidak, benar-benar dari hatinya atau tidak Elang mengatakan hal itu, yang jelas kata-katanya terekam sangat jelas oleh Senja.


Senja terhenyak, ia berdiri dan mundur satu langkah, benar-benar tak menyangka Elang akan mengatakannya. Wajahnya sudah basah oleh air mata. Sementara Elang langsung terdiam, menyadari ucapannya yang salah.


"Senja, aku..."


Elang mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan rasa sakit di dadanya. Melihat istrinya menangis sungguh melukai hatinya.


" Aaarrrhhh!" umatnya frustrasi.


🌼 🌼 🌼


Senja menangis seorang diri di sebuah taman, ia benar-benar tak tahu harus kemana sekarang. Ia sama sekali tak menyalahkan suaminya, benar memang ia penyebab utama semuanya. Dari awal ia memang selalu menyusahkan suaminya, seperti itulah yang ia pikirkan saat ini.


Cukup lama merenung, Senja sadar mungkin inilah ujian cinta mereka yang sebenarnya. Selama ini mungkin ia terlalu takabur karena mendaat cinta yang begitu banyak.


Senja mengusap perutnya yang bergerak, usia kehamilannya yang memasuki bulan ke enam, pergerakan janinnya semakin terasa.


Senja berderai air mata sambil terus mengusap perutnya. Sungguh! Ia pun sebenarnya ia ingin di sayang dan dimanja seperti wanita hamil lainnya. Tapi apalah daya, keadaannya seperti ini. Ia tak ingin mengeluh. Ia selalu berusaha tetap berpikir positif. Tapi, kali ini ia merasa sangat sedih dan terluka tanpa bisa menyalahkan siapa-siapa.


🌼 🌼 🌼


Hari semakin etang dan Senja belum. Juga kembali, Elang sangat mengkhawatirkan istrinya yang tak kunjung pulang. Ia benar-benar merutuki ucapannya tadi.


Kursi roda yang ia duduk terus mondar mandi kesana kemari karena Senja belum juga pulang padahal hari sudah benar-benar gelap.

__ADS_1


Tak berselang lama, Elang menghela napas lega karena istrinya pulang.


Hening, tanpa ada yang bersuara, seperti itulah suasana kamar tersebut setidaknya hingga mereka kini sudah merebahkan diri di atas tempat tidur. Senja melirik suaminya. Ia tahu jika Elang belum tidur, tapi ia tak berniat untuk mengajaknya bicara. Ia tak ingin erdebatan tadi siang kembali terjadi. Jiwa raganya benar-benar lelah hari ini. Ia memutuskan untuk segera memejamkan mata.


🌼 🌼 🌼


Pagi hari, saat Elang membuka matanya. Ia sudah tak mendapati Senja di sampingnya. Ia pikir Mungkin Senja sedang berada di kamar mandi atau sedang menyiapkan sarapan untuknya. Tapi, saat ia menoleh ke nakas teat di sampingnya, di sana sudah tersaji makanan. Di bawah gelas ia menemukan sebuah surat. Diambilnya surat tersebut lalu di bukanya.


Dear, suamiku...


Maaf, aku pergi nggak pamit sama kamu secara langsung.


Sebenarnya jika kamu tidak mengijinkan aku pergi, aku tetap akan di sini. Tapi, sepertinya kepergian ku ini justru yang kamu harapkan, supaya kamu tidak lagi melihat mereka (yang mencelakamu) dalam diriku.


Mungkin dengan kepergianku ini, menjadi waktu yang tepat untuk kita saling merenung. Semoga setelah aku pergi, membuat kamu lebih semangat lagi untuk bisa sembuh. Sungguh, bukannya aku nggak mau menemani kamu buat berjuang, tapi jika karena dengan Melihat ku malah membuatmu semakin terluka, aku memilih untuk pergi.


Aku akan menjaga anak kita dengan baik....


Sekali lagi, aku minta maaf atas semuanya...


With love,


Senja


Elang langsung meremat kertas yang ia pegang tersebut, ia benar-benar tak menyangka kalau istrinya begitu terluka atas ucapannya kemarin sehingga pergi pun tanpa bicara, hanya meninggalkan sebuah surat.


Elang melempar kertas tersebut ia mengusap wajahnya kasar. Ia benar-benar menyesal. Kenapa harus mengatakan hal itu kemarin. Selama ini istrinya sudah dengan sabar mengurus dan menghadapinya. Tapi, apa yang ia lakukan.


Elang segera mengecek ponselnya karena ada notif pesan masuk. Ia berharap itu dari Senja.


Cepat sembuh! Jngan jadi pengecut, atau aku benar-benar akan menggantikan posisimu untuk istri dan calon anakmu...Ingat istri dan anakmu, berusahalah demi mereka... Kamu tahu harus menjemput mereka dimana... Berdoa saja semoga saat itu belum terlambat.


"Aaarrghhh!


Elang melempar ponselnya asal setelah membaca pesan dari Ervan. Ia benar-benar tidak rela jika Ervan menggantikan posisinya


🌼 🌼 🌼


💠💠 Jangan lupa like komen dan votenya,, terima kasih 🙏🏼 🙏🏼


Salam hangat author 🤗❤️❤️💠💠

__ADS_1


__ADS_2