
Satu bulan kemudian....
Kepergian Senja, seerti menjadibecut buat Elang untuk bisa berjalan lagi seperti semula. Bayangan rasa sakit dan kesedihan sang istri di tambah dengan isi chat dari Ervan yang mengatakan kalau dia siap menggantikan posisi ya, membuat hati Elang tergerak untuk semangat menjalani teraphy.
Meskipun Berkali-kali ia berusaha ia gagal. Tapi, kini usahanya sedikit membuahkan hasil. Meski belum bisa berjalan, namun setidaknya kini ia bisa berdiri sendiri dari kursi roda tanpa di bantu oleh orang lain.
"Kend, aku bisa berdiri!" seru Elang excited.
"Iya bos, ini sungguh sebuah kemajuan yang luar biasa, saya yakin bos pasti akan bisa berjalan lagi seperti biasa. Bos hanya perlu berusaha lebih lagi," sahut Kendra yang diam-diam sambil merekam bosnya tersebut.
Elang kembali duduk ke kursi roda, di bantu oleh petugas terapis," Sampai kapan Kend? Ini sudah satu bulan, tapi aku baru bisa berdiri saja, itupun nggak lama," raut wajah Elang langsung berubah seketika.
"Kau boleh keluar!" titah Elang kepada petugas terapis.
Kendra mendekati Elang setelah terapis meninggalkan ruangan.
"Sabar bos, semua butuh proses. Yang terpenting bos jangan patah semangat, demi nona dan calon anak kalian," ucap Kendra.
"Kau benar, aku harus sembuh. Aku sangat merindukan mereka," kata Elang optimis.
"Nona pasti menunggu Anda di sana," tukas Kendra meyakinkan.
"Semoga saja, aku belum terlambat," gumam Elang lirih. Bagaimana pun juga, ia sadar jika keadaan bisa berubah seiring berjalannya waktu. Sikap dan sifat seseorang pun begitu, waktu bisa merubah segalanya termasuk hati. Dan ia berharap, saat itu tiba, cinta sang istri masih tetap utuh untuknya.
🌼 🌼 🌼
Di belahan dunia yang lain, Senja tampak tersenyum melihat Video yang di kirimkan oleh Kendra siang tadi. Perasaan haru, bahagia dan juga sedih bercampur baut menjadi satu.
__ADS_1
Ia terharu dan bahagia karena melihat semangat sembuh dari suaminya dan juga ada kemajuan yang tentu saja itu merupakan sebuah keajaiban mengingat parahnya kelumpuhan yang di derita oleh suaminya. Namun, juga sedih karena Elang memang benar-benar tidak ingin melihat wajahnya. Buktinya, laki-laki itu kini tampak memiliki semangat yang tinggi meskipun tak ada Senja di sampingnya, yang membuat dadanya terasa nyeri. Itulah yang Senja pikirkan selama ini saat Kendra dengan rutin mengirimkan video-video teraphy yang di lakukan oleh Elang secara diam-diam.
"Jika memang keergianku ini bisa membuatmu sembuh, aku rela, Boo. Meskipun sejujurnya aku ingin menjadi penyemangatmu di sana. Apapun aku lakukan asala kamu sembuh," gumamnya dalam hati, masih mengamati video tersebut.
"Kak, kakak ipar kenapa menangis?" tanya Gisel yang baru saja kembali dari kuliahnya. Ia melihat Senja sedang duduk termenung sendiri di taman dengan mata berkaca-kaca dan sesekali menetes kan air mata.
"Ah tidak, aku hanya terlalu senang, lihatlah! El mulai bisa berdiri, Sel" Senja menunjukkan video itu kepada adik iparnya.
Gisel juga ikut merasa bahagia melihatnya, "Kakak pasti bisa sembuh, aku lihat semangatnya tinggi sekali. Pasti karena kakak nggak sabar pengin ketemu kakak ipar," ucap Gisel memeluk Senja.
"Aku ke dalam dulu ya? O ya, kak Sarah mana?"
"Lagi mandi dia," jawab Senja. Ia memang pergi ke Paris bersama dengan Sarah dan alasan utama mereka adalah pekerjaan sekalian Senja untuk menenangkan diri.
"Oh, yaudah. Aku ke dalam dulu, kak. Haus!" ucap Gisel lagi yang kini semakin dewasa.
Senja mengangguk seraya tersenyum, lalu kembali memandangi ponselnya. Rasanya ingin sekali dia menelepon Elang, rindu suaranya secara langsung. Tapi, untuk melakukan itu ia tak ada keberanian. Setip harinya, ia akan memantau keadaan suaminya tersebut melalui Kendra.
🌼 🌼 🌼
Waktu terus berlalu begitu saja tanpa bisa di cegah. Elang cukup terkejut saat melihat Ervan yang sedang membukakan pintu mobilnya untuk Bianca di area parkir sebuah restauran.
"Ervan, Bianca?" sapa Elang yang baru saja selesai meeting dengan kliennya.
Pun dengan Ervan dan Bianca yang tak kalah terkejutnya ketika melihat sosok yang kini berdiri tegap di hadapannya.
"El..."
__ADS_1
"Kakak..."
Ervan dan Bianca tampak melongo tak percaya jika kini Elang bisa berjalan seperti dulu lagi.
"Kau sudah bisa berjalan? Woow, luar biasa!" ucap Ervan dengan mata berbinar.
"Ya, seperti yabg kalian lihat. Kalian..." kalimat Elang menggantung di udara, ia menatap Ervan dan Bianca secara bergantian. Yang di tatap hanya tersenyum penuh arti dan mengangguk seakan mengerti aa yang ada di kepala Elang.
"Jika kalian, lalu Senja?" Elang pikir Ia sudah terlambat dan kini Ervan benar-benar membuktikan omongannya yang akan menggantikan posisi ya mengingat ini sudah cukup lama semenjak kepergian Senja.
"Ayolah, El. Kau menganggap serius omonganku waktu itu? Ya, emang sesekali aku menemui istrimu dan menggantikanmu menjaganya, tapi untuk benar-benar menjadi ayah dari anakmu... Tentu saja aku memilih untuk menjadi ayah untuk anakku sendiri nanti. Ya walaupun aku tidak keberatan menganggap anka kalian anakku juga sih," ucap Ervan.
" Astaga! Jangan bilang kau belum menemuinya? Kau tidak benar-benar berpikir aku merebutnya kan? Dengar! Senja hanya di takdirkan untuk Elang, jadi nggak mungkin aku merubahnya," imbuh Ervan saat melihat wajah bingung Elang.
" Aku pikir, dia benar-benar sudah melupakanku karena aku terlalu menyakitinya," ucap Elang, tersirat jelas penyesalan yang masih menghantuinya hingga kini.
Ervan mendengus," Dasar cumi, nggak berubah emang. Selama ini kamu kenal Senja apanya? Aku rasa kamu lebih tahu dia dari ada orang lain. Ayolah El, peka. Dia sedang menunggumu menjemputnya. Kau tahu, anakmu sebentar lagi lahir, jangan sampai kamu menyesal!"
"Iya kak, kasihan Senja. Cepatlah temui dia sebelum semuanya benar-benar terlambat," ucap Bianca.
"Ya udah, kita mau maka dulu di dalam. Kamu udah makan?" tanya Ervan.
"Hem," Elang mengangguk.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah, Elang merenung. Beberapa bulan terkahir ia benar-benar berusaha keras untuk sembuh dan kini ia benar-benar sudah bisa berjalan lagi. Tapi, komunikasi ya dengan sang istri masih terputus. Senja sengaja menonaktifkan nomornya dan mengganti dengan nomor yang baru, ia benar-benar ingin memberikan waktu untuk Elang sendiri. Dan Elang pikir, jika Senja sudah tak ingin lagi terhubung dengannya.
Sesampainya di rumah, ia langsung menuju kamarnya. Selalu sepi seperti biasa. Tak ada canda tawa ringan sang istri di sana. Kamar itu serasa tak berpenghuni cukup lama. Suasana rumah pun terasa sangat berbeda, hanya sesekali mommy dan daddy datang berkunjung untuk melihat putra sulung mereka tersebut.
__ADS_1
Elang mengambil photo pernikahannya dengan Senja yang terletak diatas nakas. Ia mengendurkan dasinya lalu duduk di tepi ranjang, "Sayang, aku sangat merindukan kamu dan anak kita. Apa kau juga merindukan aku?" diusapnya photo tersebut yang basah karena tetesan cairan bening dari sudut matanya.
🌼 🌼 🌼